
Kembali ke rumah sakit xxxxxxx
Pusat kota
Hayat jelas kenal betul dengan wanita yang duduk di ujung sana, bisa dilihat wanita tersebut menatap ke arah depan dengan tatapan kosong nya.
"Mama Nayla...?'
Hayat bicara kemudian berlarian menuju kearah wanita yang dia panggil Mama, itu adalah Adik kandung daddy nya, bibi muda Hayat, si bungsu dari keluarga Azzurra, putri kakek azzur nya.
wanita yang dipanggil mama oleh Hayat seketika langsung menoleh, dia membulatkan bola matanya saat dia melihat kehadiran sang keponakan kesayangannya tersebut, tanpa berpikir dua tiga kali wanita tersebut kemudian berkata.
"Oh god, Hayat"
dan dalam hitungan detik wanita itu buru-buru berdiri dari posisi duduk nya, menunggu Hayat yang berlarian mendekati dirinya dan memeluknya.
"Apa paman baik-baik saja, mama Nayla?"
gadis tersebut bertanya dengan panik sembari tidak berani melepaskan pelukannya dari wanita di hadapannya itu.
__ADS_1
"Entahlah, mama sama tidak berani menebaknya"
Jawab wanita paruh baya tersebut sembari memejamkan sejenak bola matanya, menikmati pelukan Hayat untuk beberapa waktu.
"dia tiba-tiba saja jatuh dan membuat terkejut semua orang, padahal papa aland mu jelas baik-baik saja sebelumnya"
Mama Nayla bicara dengan cepat sembari mencoba untuk menghela panjang nafas nya, dia mengingat bagaimana moment laki-laki tersebut jatuh tadi.
Secara tiba-tiba ambruk begitu saja saat mereka mengobrol bersama didalam rumah.
"Semua pasti baik-baik saja ma, percayalah"
Hayat berusaha menghibur Wanita tersebut, meskipun sebenarnya dia tidak yakin apakah semua akan baik-baik saja, tapi dia mencoba meyakinkan diri jika tidak ada hal yang buruk yang akan terjadi.
Lanjut gadis tersebut lagi kemudian sambil melepaskan pelukannya.
Bibi nya seketika menganggukkan kepalanya, dia kemudian berkata.
"Mamafkan kami karena terpaksa menyulitkan semua orang"
__ADS_1
Ucap wanita tersebut dengan wajah penuh penyesalan, dan bisa Hayat lihat bola mata wanita dihadapan nya tersebut tampak berkaca-kaca.
"tentu saja tidak Bibi kita adalah keluarga, tidak ada yang merasa disulitkan sama sekali"
gadis tersebut menggelengkan kepalanya dengan cepat, cukup tidak setuju dengan ucapan dari sang bibinya, baginya dalam keluarga tidak ada yang saling menyulitkan atau merepotkan.
saling menerima dikala sulit dan susah, dan saling menikmati di kala senang dan bahagia, itu adalah simbol pengencangan para keluarga agar menjadi satu tanpa terpecah belah.
Pada akhirnya kedua orang tersebut memilih untuk duduk kembali sembari menentang ke arah ruang unit gawat darurat yang ada di hadapan mereka.
Begitu juga dengan Murat, Tampak memilih duduk di salah satu kursi yang ada di samping mereka, laki-laki tersebut memilih untuk tidak mengeluarkan suaranya dan membiarkan kedua orang yang dia sayangi tersebut saling melepaskan rindu dan berbicara dalam kesedihan masing-masing.
laki-laki tersebut sama sekali tidak berani mengeluarkan suaranya,keadaan ini terasa tidak baik-baik saja untuk keluarga mereka.
entah berapa lama waktu berlalu mereka menunggu di sana untuk waktu yang jelas sudah cukup lama, berputar dengan kekhawatiran yang menghantam di dalam diri masing-masing sembari membiarkan jarum jam yang ada di dinding rumah sakit tersebut tepat di sisi kiri mereka terus berdetak dan bergerak secara perlahan sedikit demi sedikit melangkah waktu.
hingga pada akhirnya pintu ruang kaca unit gawat darurat yang ada di hadapan mereka secara perlahan terbuka.
ketiga orang tersebut buru-buru langsung berdiri dari posisi duduk mereka, bergerak melangkah mendekati satu dokter yang mulai keluar dari pintu kaca tersebut.
__ADS_1
"Dok?"
Nyonya Nayla buru-buru bertanya, mengeluarkan ekspresi maning dan juga wajah cemas yang sembari menatap laki-laki tua yang ada di hadapannya.