
Mansion utama keluarga Elle (Kakak pertama kandung Nyonya BII).
Jakarta.
Tuan Zuu tidak bicara lagi sepanjang perjalanan setelah apa yang diucapkan oleh istrinya, dia memilih bungkam dan terus fokus pada setir mobilnya hingga akhirnya begitu mereka tiba di mansion khusus salah satu anggota keluarga besar Azzurra.
Laki-laki tersebut langsung turun dari dalam mobilnya tanpa bicara sama sekali ke arah istrinya, meskipun begitu tidak mengabaikan nyonya Bii,masih dengan setia dia membuka pintu mobil dan membiarkan perempuan yang dia cintai tersebut turun dari posisi nya, menutup pintu kemudian laki-laki tersebut bergerak lebih dulu meninggalkan istrinya dan masuk ke dalam mansion kediaman keluarga besar Azzurra begitu saja.
Nyonya Bii ikut diam, masih bisa dia lihat dimana kemarahan suaminya Masih tersisa namun dia tahu Zuu tetaplah Zuu, dia laki-laki yang bukan berkepala batu, semarah-marah nya Zuu, laki-laki tersebut akan mendingin dengan sendiri nya.
perempuan itu tahu, saat ini suaminya pasti membutuhkan waktu untuk sendiri, tidak mudah untuk seorang Zuu langsung menerima sebuah kenyataan dan membuat keputusan setuju atau tidak dengan apa yang terjadi pada ruang lingkup kehidupan nya.
begitu Zuu masuk ke dalam bangunan megah tersebut, Bii ikut bergerak masuk dimana didalam sana sudah ada seseorang yang begitu dia kenal berdiri menunggu mereka dengan khawatir.
Itu adalah kakak perempuan nyonya BII.
Wanita yang lebih tua beberapa tahun dari nya itu terlihat menatap Zuu yang mengabaikan diri nya, berjalan melewati wanita itu tanpa menoleh dan berlalu begitu saja.
"Apa yang terjadi?"
Begitu nyonya Bii masuk kedalam, wanita tersebut bertanya dengan cepat.
"Apakah semua buruk? dimana keponakan ku?"
Itu adalah Nyonya Elle, dia bertanya panik pada adiknya.
Nyonya BII menggelengkan kepalanya secara perlahan.
__ADS_1
"Ini baik-baik saja, tapi tidak terlalu, Zuu hanya butuh waktu sendiri"
Nyonya Bii menjawab pelan sembari membiarkan Elle kini memeluk dirinya.
"Aku pikir ini akan berat, aku takut ini akan semakin rumit"
Dia bicara, memeluk adiknya dengan erat, nyonya Elle memejamkan sejenak bola matanya.
begitu pelukan mereka terlepas dengan perasaan kacau bola mata mereka menatap ke arah tuan Zuu yang kini tengah berjalan menaiki tangga secara perlahan tanpa mengeluarkan sedikitpun suaranya dan mengabaikan mereka berdua.
Nyonya Bii diam, mencoba menghela pelan Nafas nya.
"Yah ini tidak akan semudah yang direncanakan"
ucap nyonya Bii pelan sembari melangkah ke depan, dia memilih untuk duduk di kursi sofa di ruangan tengah diikuti oleh kakak perempuannya tersebut.
"mood nya jelas dalam keadaan tidak baik, mungkin dia butuh teman bicara, aku akan minta Zain untuk bicara dengan kakak ipar di waktu yang tepat'
ucap wanita tersebut dengan suara pelan, memilih untuk ikut menduduki dirinya ke atas salah satu kursi sofa tempat di samping Nyonya Bii.
adiknya itu mencoba untuk bersandar di kursi siapa yang mereka dudukin sembari perlahan mencoba meminjamkan matanya.
keheningan sejenak terjadi di antara mereka, bisa dilihat nyonya Bii berusaha untuk memijat-mijat kepala nya beberapa waktu, tidak tahu kenapa tapi rasanya ada ribuan batu yang menghantam kepalanya saat ini.
"Hayat kembali bersama Ahem, aku bisa melihat dia menangis dan kecewa, ingin sekali aku merangkul dan memeluk nya tadi namun aku sama sekali tidak memiliki daya upaya karena di dua sisi berbeda semua orang merupakan orang lain penting untukku, di satu sisi dia putriku di sisi lain Zuu adalah suamiku"
wanita itu mulai bercerita, sama sekali belum membuka bola matanya.
__ADS_1
"karena aku pikir ada Ahem di samping Hayat, aku mencoba untuk mengejar langkah Zuu, tapi apa kakak tahu bagaimana perasaan seseorang ibu? rupanya aku tetaplah perempuan lemah yang menganggap semua orang penting di dalam hidupku, aku takut ini tidak akan berjalan dengan Sesuai rencana"
setelah berkata seperti itu dia memijat kedua kelopak bola matanya, peserta didik perempuan itu mencoba untuk menahan tangisannya.
rasanya semua terlalu berat dan perjuangan ini dia pikir pasti akan sangat panjang sekali.
"Kamu tahu Bii? setelah hujan pasti ada pelangi, setiap orang memiliki perjuangan mereka masing-masing dalam hidup, jangan mengkhawatirkan soal apapun, aku yakin Allah SWT selalu memiliki rencana indah untuk kita, nikmati saja dan jalani juga terus berusaha, terus setelah hari ini percayalah akan ada mentari yang bersinar diantara langit gelap"
Nyonya Elle bicara dengan cepat sembari meyakinkan adik perempuan nya tersebut, menguatkan Nyonya Bii tentang segala sesuatu soal kehidupan.
semua orang jelas memiliki ujiannya dan tidak ada kehidupan indah sebelum kesulitan, tidak ada orang kaya sebelum merasakan rasa miskin, tidak ada orang sukses yang tidak memulai segala sesuatu dari bawah, tidak ada orang berjaya tanpa melewati berbagai macam ujian yang menghantam mereka.
semua orang melewatinya tanpa terkecuali bahkan dirinya dan juga orang-orang di sekitarnya, semua orang hanya butuh waktu dan perjuangan untuk sampai pada sebuah titik kebahagiaan.
"tetap nikmati prosesnya dan jalankan semuanya seolah-olah kita akan mendapatkan kepuasan hari esok selama kita masih hidup"
wanita tersebut bicara sembari menggenggam erat telapak tangan adiknya, menatap nyonya Bii yang membuka bola matanya secara perlahan.
"kamu tahu BII, ada kami yang selalu menguatkan kamu, kamu tidak sendiri juga tidak berjuang sendiri, semua orang akan membantu untuk merukunkan dua kubu dan doa keluarga yang terus bermusuhan selama berabad-abad, percayalah kakak iparku tidak akan sekeras kepala itu, dia adalah Zuu, laki-laki keras kepala namun memiliki hati yang begitu lembut, dia mencintai Hayat, dan aku yakin dia mana sanggup membuang putri nya sendiri hanya karena rasa egois nya yang mendalam"
"Saat ini kakak ipar hanya butuh waktu untuk berpikir, dan dia hanya butuh teman untuk berbagi beban, tunggulah untuk beberapa waktu karena aku yakin api yang menyala itu akan meredup dan padam dengan sendirinya, jangan khawatir soal apapun, Zain pasti akan berada di Garda terdepan membantu membuat situasi mendingin"
ucapkan lagi sambil berusaha mengembangkan senyumannya sembari meyakinkan adiknya, dia tahu suaminya adalah air untuk kakak iparnya, bukan sejenak suaminya mendampingi kakak iparnya, jauh sebelum dia menikah dengan suaminya kedua orang tersebut saling menggantungkan diri antara satu dengan yang lainnya.
dan wanita itu yakin akan ada masa kakak iparnya meredam kemarahan nya.
mendengar apa yang diucapkan oleh kakak perempuannya membuat Nyonya Bii tampak menatap balik ke arah Nyonya Elle untuk waktu yang cukup lama, meskipun berbagai macam ketakutan mengantar dirinya namun apa yang dikatakan oleh kakak perempuannya itu membuat dia mengganggukan kepalanya.
__ADS_1
Yah dia tahu suaminya hanya butuh waktu untuk berpikir saat ini.