
Dia membiarkan Perempuan tersebut terus menangis di dalam pelukannya untuk waktu yang cukup lama, tidak peduli bagaimana perempuan muda itu terisak seolah-olah ingin mengadu tentang kesulitan yang dialaminya.
hingga pada akhirnya bisa dia dengar tangisan itu mereda juga, dan dalam beberapa waktu kemudian secara perlahan perempuan itu melepaskan pelukannya kemudian buru-buru langsung menghapus sisa air matanya.
Seolah-olah setelah menangis panjang bisa All zigra lihat jika perempuan muda itu sampai pada satu titik kelegaan nya, Hayat terlihat mencoba menarik nafasnya lega untuk beberapa waktu,seketika dia melebarkan senyumannya, menatap malu pada laki-laki tua dihadapan nya itu.
"Maafkan aku karena mengadu"
Ucap perempuan itu pelan.
Mendengar ucapan perempuan didepannya membuat All zigra buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Kenapa harus minta maaf? tentu saja tidak masalah, kamu bisa mengadu jika mau"
ucap laki-laki tersebut cepat kepada Hayat.
"setiap kali melihat kamu aku jadi ingat kedua Putri ku"
All zigra langsung bicara cepat, memilih untuk duduk tepat di samping Hayat, membiarkan pantat nya berada di lantai root roof atap tersebut, mereka duduk berdampingan, menatap ke arah langit yang terlihat begitu cerah untuk beberapa waktu.
__ADS_1
Hayat terlihat membenahi duduknya, membiarkan dirinya ikut berkelana menatap kearah hamparan langit luas yang ada di hadapan mereka.
"Apakah ada masalah serius yang menerpa? kamu tidak seperti biasanya?"
laki-laki itu kembali bertanya ke arah Hayat tanpa menoleh sedikitpun ke arah perempuan di sampingnya itu.
yang ditanya terlihat diam sama sekali belum membuka suaranya, seolah-olah masih menimbang dan ragu untuk bicara tentang persoalan yang menghantam dirinya.
"Apa kamu bertengkar dengan suamimu? apa suamimu berbuat yang tidak-tidak? mengabaikan mu foto bahkan mungkin menyakiti dirimu? kamu bisa bicara pada paman dan mengadu, agar kamu pastikan untuk menghajar suamimu jika dia berani macam-macam"
pertanyaan demi pertanyaan terus melesat dari bibir All Zigra, tidak tahu kenapa tapi tiba-tiba jutaan khawatiran menghantam dirinya, mungkin ini hanya respon refleks yang diberikan oleh dirinya karena di tahun niaga perempuan yang ada di sampingnya itu persis seperti putrinya sendiri.
Hayat yang mendengar laki-laki yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri tersebut sejenak diam dan dia belum mengeluarkan suaranya, membiarkan bola matanya terus menatap kearah langit.
cukup merasa senang laki-laki asing yang tidak dikenal berusaha untuk menghibur dan menenangkan dirinya, seolah-olah sosok laki-laki itu mengingatkan kepada papa Zuu nya.
"suamiku tidak pernah mengajakku bertengkar, dia sangat dewasa dan selalu berusaha untuk memahami diriku"
pada akhirnya perempuan itu mulai membuka suaranya, dia sama sekali tidak menoleh ke arah All zigra.
__ADS_1
"Namun ada beberapa beban yang menyiksaka ku hingga hari ini di tengah pernikahan kami"
perempuan itu mulai bercerita kepada All Zigra.
"Paman ingat dengan apa yang aku katakan pada pertemuan kita sebelumnya?"
Hayat kemudian menoleh ke arah All zigra, menatap boleh mata laki-laki itu yang kini menatap ke arahnya juga untuk beberapa waktu.
laki-laki tersebut langsung menganggukkan kepalanya ingat dengan percakapan terakhir mereka di mana perempuan muda yang ada di sampingnya itu berkata jika pernikahan nya dan suaminya begitu kompleks.
"sangat sulit sekali minta izin pernikahan kami, aku baru saja dicoret dari daftar keluarga besar kami dan aku di buang menjadi anak oleh papa ku"
Ucap Hayat perlahan kemudian dia membuang pandangannya, lagi air mata perempuan tersebut tumpah.
All Zigra yang mendengar cerita tersebut seketika membulatkan bola matanya.
"Ya?"
Dia bertanya terkejut sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1