
Disisi lain
Mansion utama Ahem dan Hayat.
di waktu yang sama.
malam.
Sepasang suami istri tersebut terlihat bercanda bersama, tidur di atas kasur mendominasi berwarna putih milik mereka sambil sesekali tertawa cekikikan, Ahem terus mengajak istrinya bercanda bersama membicarakan tentang beberapa hal dan juga membuat candaan yang membuat istrinya terkadang tidak bisa menahan tawanya.
hal tersebut sengaja dilakukan untuk mengalihkan pemikiran istrinya tentang hal-hal yang sedih, dia hanya ingin membuat Hayat melupakan segala persoalan dan bahagia dalam pernikahan mereka.
"Sunshine itu geli"
Perempuan tersebut tertawa terkekeh saat suaminya mencoba menggoda, Ahem beberapa kali memainkan jemarinya di beberapa bagian tubuh Hayat.
"Sunshine... akhhh..."
Perempuan itu tertawa Kemudian mencoba untuk berguling ke arah berbeda, dia mencoba meraih tangan Ahem dan berusaha menggigit nya.
"Ohh Sayang...no..."
Ahem seketika langsung berusaha menarik jari tangan nya, ikut tertawa terbahak-bahak sambil mencoba menyelamatkan jari telunjuknya.
alih-alih selamat yang ada malah Hayat benar-benar berhasil menggigit jari telunjuk nya.
"Awhh baby ini sakit"
"Ahhhh digelitik lebih menyiksa"
Hayat memunyungkan bibirnya, dia tertawa terkekeh merasa senang berhasil menggigit jari telunjuk suaminya, sebenarnya tidak benar-benar kuat, tapi cukup membuat kaget Ahem atas aksinya.
Ahem tertawa, kemudian dengan cepat meraih tubuh istrinya.
"Kemarilah"
Pada akhirnya dia mengembang kan senyuman nya, meraih tubuh istrinya dengan cepat, Hayat menurut, dia mendekatkan diri nya pada suaminya, biarkan laki-laki tersebut meraih tubuhnya dan memeluknya dengan cara yang begitu hangat dan erat.
__ADS_1
"Hmmmmm rasanya benar-benar nyaman"
Laki-laki tersebut bicara sambil menepuk-nepuk lembut punggung istrinya.
"Apa ada sesuatu yang tidak nyaman selama kehamilan?"
Ahem bertanya secara perlahan sembari menggesek-gesekkan dagunya di puncak kepala istrinya.
mendengar pertanyaan dan laki-laki yang tengah memeluknya tersebut, Hayat tampak berpikir sejenak.
"aku pikir tidak terjadi banyak keluhan, baby nya cukup pengertian dengan mommy nya"
Hayat menjawab pelan, dia membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan Ahem, bicara apa adanya soal kehamilan dirinya, dia pikir tidak terjadi banyak keluhan pada masa kehamilannya ini, hanya di awal-awal saja di mana dia merasa tidak nyaman pada masa penyesuaian pertama kehamilan, mungkin dia memang mengalami mual dan juga hal-hal selayaknya ibu hamil pada umumnya di bulan pertama, tapi syukurnya tidak ada keluhan yang begitu signifikan atau hal-hal yang membuat dia menangis dan lain sebagainya karena ulah baby yang mungkin sedikit keterlaluan.
Bagi Hayat calon bayi mereka terlihat sangat pengertian, tidak membuat ayam kesulitan saat menerima kehamilannya, bahkan dia pun nyaris tidak tahu jika dia hamil dan belum datang bukan di bulan pertama.
karena itu rasanya dia selalu bersyukur dikaruniai rezeki di mana Rizki itu seolah-olah mampu menempatkanmu sesuai pada situasinya.
Mendengar ucapan istrinya seketika Ahem melepaskan pelukannya secara perlahan, laki-laki tersebut kemudian mencoba untuk menurunkan dirinya menuju ke arah perut istrinya, membiarkan wajahnya menempel di perut Hayat secara perlahan.
"Halo sayang"
"sehat-sehat di sana? jangan nakal dan tetap jadi anak yang pengertian hmmm"
lagi laki-laki tersebut berucap sembari membiarkan dirinya memejamkan bola matanya, menikmati apa yang ada di dalam perut Hayat meskipun dia tahu dia belum bisa merasakan apapun saat ini karena perut tersebut masih terlalu datar dan belum memberikan pergerakan apapun hingga ke trimester kedua.
melihat apa yang dilakukan oleh Ahem, perempuan tersebut mengulum senyumannya, dia menyentuh lembut rambut suaminya dan mengelusnya dengan gerakan yang begitu hangat.
"dia anak yang sangat pengertian"
Hayat kembali bicara sembari mengelus lembut rambut suaminya.
"karena dia sayang pada mommy nya, dia akan menjadi anak yang patuh dan taat kepada orang tuanya, selalu tahu dan mampu membaca situasi, tidak ingin merepotkan orang lain"
Ahem bicara pelan, terus mengelus lembut perut istrinya.
Mereka berkata ucapan adalah doa untuk anak-anak, maka sebagai orang tua alangkah baiknya ucapan dengan baik agar menjadi sebuah doa untuk anak-anak mereka, meskipun segala sesuatu telah digariskan dan ditakdirkan oleh Allah SWT, tapi realita dan pada dasarnya segala sesuatu itu juga terjadi pada anak-anak kelak atas lisan yang dibawa oleh orang tua.
Dia masih belajar, karena pada dasarnya Ahem sama seperti Gao Belum memiliki keyakinan benar, sebelum menikah memiliki keyakinan mencoba menggali agama nya, dia tengah berusaha untuk Istiqomah di jalan Allah SWT, mengikuti jejak saudara laki-laki nya, mungkin tidak mudah tapi dia sedang berusaha.
__ADS_1
Dan dalam pembelajaran nya dikatakan, sebaik dan seburuk itu nya ucapan adalah doa.
Rasulullah SAW bersabda: "Yang dikatakan muslim itu adalah manusia yang selamat dari bahaya lidah dan tangannya."
Imam Ali r.a berkata:"Hati yang jahat terletak pada mulutnya, dan mulut yang baik, terletak pada hatinya".
Dan dia berusaha untuk selalu bicara baik agar apa yang dia ucapkan menjadi satu doa yang baik untuk anak-anak mereka dan kehidupan mereka.
"Dan dia akan menjadi kebanggaan kita dalam banyak hal dan menjadi pemimpin untuk banyak orang"
Lagi laki-laki tersebut berucap, membuat Hayat mengembangkan senyuman nya, berkata Amin ya rabbal alamin didalam hati nya.
Setelah berkata seperti itu Ahem langsung kembali naik ke atas mensejajarkan dirinya pada Hayat, dia kemudian menatap dalam wajah istrinya.
"Apa ada yang ingin dimakan? jika ada sesuatu yang kamu inginkan atau kamu ingin pergi ke mana katakan saja, aku akan berusaha untuk memenuhinya"
dia berucap sembari menelisik bola mata istrinya, menunggu jawaban dari perempuan yang ada di hadapan nya tersebut.
"Dan jangan lagi menangis didalam diam hmm"
tambah laki-laki itu kemudian.
Ucapan Ahem seketika membuat Hayat terkejut, dia menatap suaminya dengan bola mata yang tiba-tiba berkaca-kaca.
"Sunshine?"
Tiba-tiba saja dia jadi cukup mewek, memeluk suaminya dengan refleks.
"Jangan membohongi aku, karena aku selalu tahu kapan waktu kamu berbohong padaku, kamu tidak bisa menipuku sama sekali Hayat, sejak dulu pertama kali kita bertemu bahkan hingga hari ini"
laki-laki itu bicara dengan cepat sembari mengelus lembut rambut istrinya, dia berharap perempuan tersebut tidak menangis diam-diam lagi di belakangnya.
"aku hanya merasa sedikit bersedih"
Hayat pada akhirnya membuka suaranya namun dia memilih untuk menutup kedua bola matanya dan memeluk erat Ahem.
"ada yang bilang di dalam rumah tangga tidak semuanya berjalan, karena jika mulus maka semua orang pasti menginginkannya, masing-masing dari pasangan memiliki ujian mereka sendiri-sendiri, ada perihal harta, ada yang diuji dengan anak, ada yang diuji dengan penyakit c bahkan tidak sedikit diuji dengan persoalan keluarga lainnya seperti pada mertua, menantu ipar dan lain sebagainya yang tidak bisa dijabarkan satu persatu"
Ahem bicara seperti itu untuk mengingatkan istrinya, jika di dalam kehidupan berumah tangga semua tidak akan pernah lancar selancar jalan tol, biasanya di tahun pertama, kedua atau bahkan hingga tahun keenam semua orang diuji dengan cara mereka masing-masing, percayalah yang mampu melewati ujian itu adalah orang-orang luar biasa yang jelas begitu dicintai oleh Allah SWT.
__ADS_1
mendengar ucapan suaminya Hayat memilih untuk diam, dia tahu apa yang diucapkan oleh Ahem benar adanya.