
Restoran xxxxxxx
pusat kota.
Tuan Zuu terlihat menepikan mobilnya secara perlahan, menatap kearah restoran yang ada di hadapannya untuk beberapa waktu, Sejenak laki-laki tersebut melirik kearah handphone nya, memastikan jika tempat ini benar merupakan tempat yang dikatakan istrinya.
Nyonya Bii berkata jika dia sudah pergi lebih dulu ketempat ini, ada beberapa hal yang harus dia lakukan dan meminta dirinya untuk menyusul nanti, meskipun agak berat pergi terpisah pada akhirnya laki-laki tersebut patuh dan menurut.
Dia mana pernah menolak kemauan istrinya, bukan dia merupakan suami-suami takut istri, tapi Zuu selalu berusaha menghargai permintaan istrinya tanpa mengedepankan ego nya, menjaga pernikahan mereka agar tidak terjadi perdebatan yang tidak diinginkan seperti kebanyakan pasangan yang mementingkan ego dan tidak ingin mengenal antara satu dengan yang lainnya.
bola mata laki-laki tersebut menelisik restoran yang ada di depannya, kemudian dia melangkah masuk dengan sedikit ragu-ragu.
__ADS_1
dua pelayan menyambutnya dengan ramah sembari mengembangkan senyuman mereka, kedua orang tersebut seolah-olah sudah tahu siapa dirinya sehingga langsung mempersilakannya untuk masuk ke dalam dan naik menuju ke lantai atas.
rasanya sedikit berlebihan karena masuk ke restoran tersebut dia disambung dengan begitu ramah bahkan tanpa dia harus menyebutkan kemana tujuannya, kedua orang tersebut mengantarkannya pada suatu ruangan tertutup yang ada di hadapannya kini.
"Silahkan tuan"
Kedua orang tersebut bicara sambil menundukkan kepala mereka sembari menggeser secara perlahan pintu restoran ala Jepang yang ada di hadapan tuan Zuu tersebut, laki-laki itu mencoba untuk mengintip siapa yang ada di dalam sana, pandangan pertamanya tertuju jelas kepada istrinya wanita yang begitu dia cintai selama bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun dengan setia dan tanpa pernah berpikir untuk berpaling tersebut berdiri sembari mengembangkan senyumannya kepada tuan Zuu.
sang pemilik Azzura tersebut sedikit terkejut saat dia menyadari sosok laki-laki muda yang duduk di sisi kanan di mana dia berada saat ini, seketika tuan Zuu jelas langsung mengerutkan keningnya sembari menaikkan ujung alisnya, dia menatap ke arah istrinya kemudian kembali menoleh kehela laki-laki muda tersebut.
"sayang apakah dia orang yang kita kenal? wajahnya sedikit terasa tidak asing untukku"
__ADS_1
laki-laki itu bertanya sembari menatap ke arah istrinya kemudian kembali menatap ke arah sosok laki-laki muda yang kini berdiri sembari mengembangkan senyumannya ke arah tuan Zuu, laki-laki tersebut maju beberapa langkah kemudian menundukkan tubuhnya secara perlahan memberikan salam hormatnya kepada laki-laki tua tersebut dengan gaya yang begitu tenang namun tatapan yang begitu datar yang dingin yang mengingatkannya pada satu sosok laki-laki yang sudah sangat lama sekali tidak pernah dia temui lagi.
Kepalanya saat ini dihantam dengan berbagai macam tanda tanya, mungkinkah laki-laki dihadapan nya tersebut adalah kekasih putrinya?.
mendengar pertanyaan dari suaminya seketika membuat nyonya Bii diam, dia masih belum mau mengeluarkan suaranya sama sekali membiarkan suaminya untuk mencerna keadaan.
Dia meminta suaminya untuk duduk terlebih dahulu dan mencoba untuk menetralisir perasaan yang mungkin tidak baik-baik saja saat ini.
"Kita bisa duduk dan menikmati kopi juga teh hangat bersama lebih dulu, sayang"
Nyonya Bii bicara sambil berusaha mengembangkan senyuman nya, membawa suaminya agar duduk di satu posisi terbaik tepat berhadapan dengan Ahem Zigaz Hillatop yang tak lain menantu mereka sendiri.
__ADS_1
Dia tahu hari ini mungkin akan menjadi hari paling mencekam untuk mereka, tapi seperti kata Ahem, kapan pun mereka menundanya pada akhirnya hari seperti hari ini tidak mungkin tidak akan datang di Antara mereka.