Tuan Dingin Jatuh Cinta With Miss Somplak

Tuan Dingin Jatuh Cinta With Miss Somplak
Tidak goyah atas peringatan nya


__ADS_3

Bisa Ahem lihat kemarahan tampak di balik bola mata ayah mertuanya, situasi seolah-olah mulai memanas di mana laki-laki tua di hadapannya tersebut meletakkan gelas yang retak karena genggamannya, tangan ayah mertuanya terlihat tidak baik-baik saja ada goresan luka di sana sehingga menimbulkan darah.


"Sayang"


nyonya Bii mendekati suaminya dan berusaha untuk meraih tangan laki-laki tersebut, namun alih-alih bisa mendapatkannya tuan Zuu lebih memilih untuk menyingkirkan tangan.


"kau punya nyali yang begitu besar untuk menemuiku di sini dengan nama yang berbeda"


laki-laki itu bicara dengan sangat dingin dan datar, tatapan wajahnya menandakan ketidaksukaan pada Ahem, bola matanya memancarkan satu kemarahan yang mendalam, mungkin benar dia bukan All zigra, masih berusaha untuk menetralisir kemarahannya, meskipun sebenarnya jantungnya saat ini bergemuruh dan tangannya bergetar ingin sekali melempar gelas yang ada di hadapannya pada wajah Ahem.


realitanya Ahem sama sekali tidak gentar dan takut, bukan berarti dia memiliki perlawanan pada ayah mertuanya, tapi dia menyatakan jika dia merupakan seorang menantu yang bisa menjaga Putri laki-laki di hadapannya meskipun nyawanya terancam sekalipun.


"Ahem bukan namaku yang berbeda juga bukan nama samaran, itu adalah nama depanku yang digunakan oleh semua orang untuk memanggilku"


laki-laki tersebut mencoba untuk menjelaskan kesalahpahaman yang mungkin ada di kepala tuan Zuu.


"aku bukan memiliki nyali besar untuk menantang tapi aku melakukannya karena aku ingin memperbaiki hubungan dua keluarga melewati hubungan kami"

__ADS_1


laki-laki tersebut menjabarkan niatnya.


mendengarkan ucapan laki-laki di hadapannya itu seketika membuat tuan Zuu mendengus.


"Kau tahu hubungan kalian sampai mati pun tidak akan pernah terjadi, aku dan ayah mu telah membuat satu perjanjian mutlak untuk tidak akan pernah mendamaikan dua kubu dalam keadaan apapun"


dia bicara sambil mengeram, mencoba mengingatkan Ahem atas berbagai macam perjanjian yang mereka buat di masa lalu.


"aku masih melonggarkan hati pada masa itu, bahkan ketika putriku menyelamatkanmu meskipun aku ingin menyalahkanmu aku masih berusaha untuk berkata semua baik-baik saja dan ini hanya urusan anak-anak, tapi ayahmu dengan lantang menantangku dan berkata jika putriku pemicu semua persoalan yang terjadi di masa lalu yang nyaris merenggut nyawa semua orang, laki-laki keras kepala itu bahkan ingin membunuh putri kesayangan ku dibalik ke sekaratan mu"


bayangkan bagaimana perasaan tuan Zuu saat dia mengatakan soal itu pada Ahem.


Setelah berkata begitu tuan Zuu berusaha untuk menetralisir perasaannya, dia kemudian kembali melanjutkan ucapannya.


"Aku tidak harus menggunakan kekerasan untuk mendapatkan pemahaman dari mu, kau sudah cukup dewasa untuk paham apa yang akan aku ucapkan selanjutnya, berhenti menemui Hayat dan jangan meneruskan hubungan yang sia-sia, sebab sampai matipun aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian, pulanglah dan jangan coba-coba menoleh kebelakang, soal putri ku, aku yang akan memberikan penjelasan pada nya"


"Dan mulai hari ini anggap kita tidak pernah bertemu, jika kita bertemu kembali di pertemuan berikutnya dan kau masih nekat menemui Hayat kami, aku tidak akan segan untuk menggunakan senjata menyatakan peperangan di antara kita"

__ADS_1


Kata-kata terakhir Zuu jelas adalah penyataan perang, dia memperingati Ahem dalam banyak kalimat tekanan, Ahem menatap ayah mertuanya tanpa pergerakan, dia masih terlihat begitu tenang dan mematikan.


Nyonya Zuu menggenggam lengan suaminya, berharap laki-laki tersebut sejenak mendingin.


"Aku pikir aku dan Hayat tidak mungkin berpisah, karena kami sudah menikah lebih kurang 3 bulan yang lalu dan kini Hayat sedang mengandung cucu anda, dad"


Mantap terdengar ucapan Ahem, laki-laki tersebut bicara dengan tatapan lurusnya, tidak menampilkan ekspresi sama sekali, penuh keyakinan dan ambisi di balik bola mata teduh dan tenang nya.


"Apa?"


Tuan Zuu seketika tercekat Mendengar ucapan laki-laki dihadapan nya.


"Kau bilang apa?"


Nada suara laki-laki tersebut meninggi.


"Sayang"

__ADS_1


Demi apapun nyonya Zuu berusaha untuk menahan dada suaminya sambil memejamkan bola matanya.


__ADS_2