
Setelah melewati malam panjang bersama, dengan perlahan Hayat bergerak menuju kearah kamar mandi, rasa perih menghantam dibawah sana, membuat nya benar-benar tersiksa, setelah sesi percintaan ternyata sangat menyiksa Membiarkan air membasahi dan membersihkan intinya.
Perempuan tersebut meringis.
"Ouhhhhh gila"
"Sakitkah?"
Ditengah rintisan nya suara ahem mengejutkan dirinya, membuat Hayat Terkejut setengah mati.
"Sunshine?"
agak terkejut karena tiba-tiba Ahem sudah berada tepat di belakangnya, laki-laki itu membalikkan tubuh Hayat agar perempuan tersebut menghadap kearah nya hingga pada akhirnya Ahem menggendong dan mengangkat tubuhnya dengan cepat, hal tersebut refleks dan sontak membuat hayat langsung melingkarkan tangannya di leher laki-laki tersebut.
"Sunshine?"
lagi dia memanggil Ahem, wajah Hayat agak memerah karena tiba-tiba laki-laki tersebut meletakkan nya di wastafel kamar mandi kemudian menurut dalam bola mata perempuan tersebut untuk beberapa waktu.
"mereka bilang salap ini bisa mengurangi rasa sakit"
laki-laki itu bicara dengan cepat memperlihatkan sesuatu di tangan kanannya.
"Aiyooooo?!."
perempuan itu jelas terkejut dia pikir sejak kapan Ahem menyiapkan hal seperti itu, dia sama sekali tidak tahu.
"Rekomendasi dari seseorang"
Ahem melebarkan senyumannya, cukup malu mengatakan hal tersebut.
"Ahhh kamu sudah menyiapkan semuanya?"
__ADS_1
Tanya Hayat sambil memicingkan mata nya.
"Aku tidak mempersiapkan semuanya, tapi sebelum pergi seseorang sibuk meletakkan ini di kantong celanaku"
Ahem memegang tengkuknya karena malu.
Hayat terlihat terkekeh.
"Aku menebak ini kakak atau mommy Nadya?"
"aku sedikit takut membuka siapa pelakunya"
Seketika mereka tertawa kecil, menikmati moment bersama dengan perasaan bahagia.
"Aku akan mengolesnya secara perlahan"
laki-laki tersebut menawarkan.
"bisakah aku melakukannya sendiri?"
perempuan tersebut bertanya dengan canggung, memegang bahu Ahem secara perlahan.
"aku tidak yakin kamu bisa melakukannya sendiri sayang"
laki-laki tersebut menjawab dengan cepat, dia menggelengkan kepalanya.
"Kita akan terbiasa seperti ini setelah semua nya, tidak ada jarak yang terpangkas di antara kita pada akhirnya, itu adalah hubungan suami istri, karena kamu bagian daripada tulang rusuk ku"
Lanjut laki-laki itu lagi, kemudian secara perlahan dia menundukkan pandangannya, mencoba untuk mengolesi salap pada inti istrinya.
"maaf karena menyakitimu"
__ADS_1
Entah sudah berapa kali Ahem mengatakan maaf kepada dirinya, Hayat hanya bisa mengulum senyuman
"Kita akan terbiasa bukan? ini tidak menyakiti, sudah kewajiban yang harus dilakukan seorang istri, awalnya mungkin menyakitkan lama-lama karena kewajiban akan jadi satu keberkahan dalam menambah cinta didalam pernikahan"
Ucap Hayat sambil menyentuh lembut kepala Ahem.
"Maaf masih belum terbiasa"
Dia balik meminta maaf sembari perempuan tersebut berusaha untuk memejamkan bola matanya saat dia merasa sesuatu yang dingin mengenai bagian sisi sensitifnya.
cukup adem dan membuatnya menjadi sedikit nyaman dan tidak perih.
"Kamu tidak salah sama sekali"
Ahem menjawab cepat.
"bagaimana rasanya?"
Laki-laki tersebut bertanya perlahan kemudian dia meletakkan salap yang ada di tangannya ke atas meja wastafel di sisi kiri Hayat, menatap bola mata istri nya untuk beberapa waktu.
"cukup bagus, bisa mengurangi rasa perih dan nyeri"
jawab perempuan tersebut dengan cepat sambil mencoba menarik nafasnya perlahan.
"Biar aku yang menyelesaikan membersihkan tubuh kami"
"Aihh"
"Sstttt"
Ahem kemudian mengangkat tubuh perempuan tersebut dengan cepat.
__ADS_1