
Dan percayalah seketika situasi menjadi tidak baik-baik saja dan sedikit mencekam, Nadya hanya mampu menelan salivanya sembari menatap suaminya yang terlihat dipenuhi dengan api amarah, dia tidak tahu harus memulainya dari mana juga dia tidak tahu harus berkata apa.
"All aku.."
Suara Nadya seolah-olah menghilang dan tidak mampu keluar untuk saat ini, dia bergerak mendekati suaminya dan mencoba untuk menyentuh laki-laki tersebut tapi alih-alih dia bisa menyentuh All Zigra, laki-laki itu meraih tangannya dan menggenggamnya dengan cepat.
"kamu sedang berusaha mengelabui suamimu sendiri, Nadya?"
api kemarahan terlihat dengan jelas di balik bola mata laki-laki tua tersebut, Nadia menggigit bibir bawahnya secara perlahan, dia berusaha untuk menggenggam erat telapak tangannya, ingin sekali dia berkata maaf karena terpaksa membohongi laki-laki tersebut.
"aku terpaksa melakukannya, All"
wanita tersebut bicara dengan cepat.
"Terpaksa? aku pikir kamu tahu betul apa yang terjadi di antara dua keluarga?"
laki-laki itu jelas menaikkan ujung alisnya bertanya kepada istrinya seolah-olah dia berpikir bagaimana bisa Nadya bisa melupakan berbagai macam kejadian di masa lalu.
"tapi anak-anak tidak bersalah"
__ADS_1
Nadia melayangkan protes menatap suami begitu dalam, seolah-olah berkata permusuhan ini jangan melibatkan anak-anak yang tidak tahu apa-apa.
All Zigra mendengus.
"kau tahu bagaimana luka hati keluarga Hillatop? bahkan beberapa proyek diambil oleh keluarga Azzurra dimasa lalu, seolah-olah keluarga itu memang menentang Hillatop sejak awal, kejadian di masa lalu di mana merenggut salah satu kakek buyut Hillatop, aku pikir itu bukan hal yang mampu dimaafkan"
laki-laki itu mengeram, dia mengeratkan rahangnya sembari mencoba untuk meminjamkan bola matanya.
"aku terus bertanya-tanya di dalam hatiku kenapa aku tidak bisa mendapatkan informasi soal gadis itu, bahkan mengandalkan Enrico benar-benar tidak bisa diharapkan, kemudian tinggal satu kecurigaan jangan-jangan ada yang bermain di belakangku dan"
seketika suaminya membuka bola matanya hal tersebut membuat Nadya meremang.
dan didetik berikutnya satu hal mengejutkan terjadi, tiba-tiba saja pintu terbuka dan dua orang membawa Enrico tepat di hadapan mereka.
"Ohhhh"
seketika Nadya menjerit kecil, dia menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya.
laki-laki berkacamata tersebut didudukan dengan paksa tepat dihadapan mereka.
__ADS_1
"aku benci melakukan ini, tapi sebenarnya kau bekerja untuk siapa saja? aku, istri ku atau Ahem putra ku?"
seketika bola mata laki-laki itu menatap tajam ke arah Enrico yang kini menjongkok di hadapan mereka berdua, Nadya jelas aja panik dia langsung menyambar tubuh Enrico.
"No..."
dia tahu saat kemarin suaminya membuncah laki-laki tersebut bisa melakukan apapun, iya pernah berjanji pada Enrico saat All zigra mengetahui persekongkolan mereka Maka Nadya harus bertanggung jawab pada kehidupan laki-laki tersebut.
"Sekali saja kau menyakitinya All, jangan sebut namaku jika aku tidak pergi dari rumah dan meninggalkanmu"
dia melontarkan kalimat ancaman yang paling tidak disukai suaminya.
"kamu mengancam ku hanya demi bocah laki-laki ini?"
sang suaminya bertanya sembari mengeratkan rahangnya, kemarahan bercampur kecemburuan berbaur menjadi satu saat ini di balik wajah laki-laki tersebut, seolah-olah sejak dulu Nadya begitu menyayangi Enrico.
wanita itu selalu memperlakukan sekretarisnya dengan cara yang begitu spesial, terkadang dia merasa risih dan juga sangat kesal.
"Yah, aku yang membawa dan menyeretnya untuk bekerja sama denganku agar kamu tidak bisa mendapatkan informasi soal Ahem dan gadis itu, aku yang memaksanya untuk melakukan semua itu dan menghianati dirimu"
__ADS_1
Nadya bicara dengan lantang menatap suaminya tanpa rasa takut sedikitpun, dia tahu saat dia takut dan gentar maka laki-laki di hadapannya itu bisa saja menghajar Enrico dengan caranya yang luar biasa.