
Hayat sejenak menatap kearah depan, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang sejak tadi, dia memilih untuk duduk di dalam mobilnya beberapa waktu sembari memikirkan apa yang diucapkan oleh sahabat baiknya tadi.
seperti ucapan Sera memang dia tidak seharusnya khawatir soal kehamilan dan juga anak-anak.
"jangan menundanya, kamu tahu di luar sana tidak sedikit para ibu yang tidak mendapatkan kesempatan untuk merasakan bagaimana rasanya hamil bahkan melahirkan, jika kamu memang diberikan kesempatan dan rezekinya kenapa harus menunda atau bahkan menolaknya?"
barisan kalimat terakhir yang Sera ucapan kepadanya langsung menyentil hatinya, seketika dia merasa malu dengan apa yang ada di dalam pikirannya, banyak orang yang tidak diberikan kesempatan tapi dia ingin membuang kesempatan.
"Kamu sangat buruk, Hayat"
perempuan tersebut membatin di dalam hatinya.
pada akhirnya perempuan itu memejamkan sejenak bola matanya, dia memijat-mijat kepalanya untuk beberapa waktu lantas secara perlahan Hayat membuka bola matanya, perempuan itu pikir sebaiknya dia segera pergi dari sana.
di mana saat ini dia masih berada di parkiran rumah sakit menatap ke arah depan dengan perasaannya bercampur aduk menjadi satu.
langsung mengajukan mobilnya keluar dari rumah sakit tersebut secara perlahan dan memilih untuk pulang.
*****
__ADS_1
Mansion utama Azzurra.
Meja makan.
"apakah Hayat belum pulang ke Palembang?"
Tuan Zuu bertanya kepada istrinya, dia terlihat gelisah karena belakangan putrinya lebih suka berada di Jakarta ketimbang di Palembang, dia padahal ingin Hayat fokus pada perusahaan tapi gadis tersebut selalu berkata dia ingin menikmati waktunya sementara sebelum benar-benar terjun pada kegiatan di perusahaan.
ditambah lagi dia pikir mungkin Hayat cukup terluka karena pembatalan pernikahan yang terjadi dari keluarga Alexander beberapa waktu ini.
Sepertinya putri kesayangannya cukup terluka dan putus cinta.
"biarkan Hayat menghabiskan waktunya untuk sementara waktu di sana, hatinya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja saat ini, sayang"
dia berusaha untuk mempengaruhi suaminya, takut jika suaminya meminta putrinya pulang secepatnya, dia tahu Hayat tidak mungkin pulang saat ini ke kediaman mereka dalam banyak pertimbangan.
Apalagi Hayat telah membina rumah tangga diam-diam dengan penerus Hillatop.
"Aku tahu hatinya tidak baik-baik saja sayang, hanya saja kamu tahu bukan? aku ini tidak terbiasa jauh dari putri ku, Bii"
__ADS_1
Laki-laki tersebut kembali mengeluh, bercerita apa adanya tentang perasaannya menjadi seorang ayah.
Dia seolah-olah memiliki ikatan yang begitu kuat dengan Hayat, ketimbang dekat dengan putra nya, dia jauh lebih dekat dengan putri nya, sejak bayi Hayat lebih dekat dengan dirinya ketimbang istrinya, tapi belakangan dia pikir Hayat terus bergerak lincah, menghindari nya sejak pertunangan yang di buat untuk Hayat dari kekuatan Alexander.
Entahlah apakah putri nya marah atau bagaimana dia tidak tahu, yang jelas Hayat saat ini terasa begitu berubah, tidak seperti biasanya.
"Apa sebaik nya aku menyusul Hayat dan memutuskan untuk tinggal di Jakarta saja?"
Dia pada akhirnya berusaha untuk bertanya pada istrinya.
Mendengar hal tersebut jelas saja membuat Nyonya Bii terkejut.
"jangan memikirkan hal yang tidak-tidak"
Istrinya protes dengan cepat.
"Aku benar-benar serius soal ini, Bii"
Lagi laki-laki tersebut berkata, menantap istrinya dengan seksama.
__ADS_1