
Mendengar pertanyaan ya dilontarkan oleh kakak laki-lakinya tersebut seketika membuat Nadine memicingkan sebelah bola matanya.
"aku rasa pertanyaan kakak sedikit mengejutkan dan ini membuatku sedikit curiga dengan keadaan"
ucap Nadine sembari menatap tajam ke arah kakak laki-lakinya tersebut, dia pikir tumben-tumben laki-laki itu bertanya sama sahabatnya, sebab sejauh dia mengenal Ahem, laki-laki itu tidak pernah peduli dengan para sahabatnya meskipun tidak dipungkiri ahem begitu sangat memperhatikan dirinya dan sangat memotivasi teman laki-lakinya.
sahabat perempuannya jelas tidak pernah menjadi konsumsi pertanyaan laki-laki tersebut, mengingat bagaimana cueknya laki-laki itu soal perempuan.
dia tahu kakak laki-laki yang tidak pernah dekat dengan perempuan manapun bahkan tidak pernah memperkenalkan satu kenalannya pun kepada mereka semua terutama orang tuanya, laki-laki itu sejak dulu terlalu cuek soal perempuan, Ahem fokus pada studinya sekolahnya kuliahnya bahkan pada pekerjaan dan perusahaan setelah kakaknya tersebut menyelesaikan S2 nya.
jadi tidak pernah sekalipun laki-laki itu membicarakan seorang perempuan di dalam hidupnya, kecuali ada di sisi berkata jika kak akhirnya sedang menunggu dan mencari seseorang di masa lalunya.
karena Nadine bukan tipe orang yang terlalu usil ingin bertanya secara mendetail soal para saudaranya, pada akhirnya dia sama sekali tidak tahu soal bagaimana dan siapa sosok gadis cinta pertama kakak laki-lakinya tersebut di masa lalu.
"jangan terlalu curiga karena itu tidak baik, kakaknya ingin tahu soal sahabat baikmu, apakah ada banyak atau hanya beberapa orang saja?"
kali ini Ahem menjawab pertanyaan dari Nadine dengan begitu tenang, laki-laki tersebut nyaris tidak menampilkan ekspresinya sama sekali, seperti biasa begitu dingin dan datar namun terlihat begitu hangat untuk adik-adiknya.
"yang paling dekat hanya beberapa orang, kakak tahu sendiri aku tidak memiliki terlalu banyak teman dekat karena perpindahan sekolah dari Indonesia hingga ke Paris,jadi agak sulit untuk aku menemukan teman terbaik"
__ADS_1
Nadine mulai bicara.
"Di SMA ada Karla, tapi di masa kuliah ada Hayat, sebenarnya dengan ayah juga cukup lama berteman karena dulu beberapa kali gadis itu dibawa oleh Untie Bii di dalam bisnis yang dilakukan oleh mommy dan mommy Hayat sendiri, karena itu aku jadi begitu dekat dengannya, kemudian ada dua orang lagi tapi belakangan sedikit terpangkas jarak karena kesibukan kami masing-masing"
Lanjut gadis itu kembali.
"Monalisa dan Zehrat"
Dia menyebutkan dua nama teman terakhir nya.
"Apakah ada di antara mereka yang kakak kenal atau memiliki sedikit persoalan di perusahaan?"
Ahem terlihat berpikir, laki-laki itu belum menjawab pertanyaan dari tadi perempuannya itu, dia kemudian mencoba mengeluarkan handphone nya, kemudian laki-laki itu menggeser beberapa gambar, dan dan di detik berikutnya laki-laki tersebut mencoba memperlihatkan foto kepada adik perempuan nya itu.
"katakan pada kakak apakah pernah melihat benda ini sebelumnya?"
tanya Ahem tiba-tiba.
Nadine masih dengan perasaan bingung mengambil handphone yang diberikan oleh ahem dan memperhatikan foto tersebut dengan seksama, dia meneliti gambar itu untuk beberapa waktu kemudian langsung beralih pandang menatap kembali wajah kakak laki-lakinya.
__ADS_1
"Apakah sang pemiliknya membuat masalah lagi kepada kakak?"
katanya gadis itu dengan nada penasaran.
mendengar kata lagi yang diucapkan oleh Nadine seketika membuat Ahem mengerutkan keningnya.
"Ya? Lagi?"
dia jelas tidak mengerti dari ucapan Nadine yang barusan dilontarkan oleh gadis tersebut, kata lagi seolah-olah menuju pada istilah jika sang pemilik barang yang ditunjuk sudah membuat kekacauan berkali-kali di dalam hidupnya.
mendapatkan pertanyaan dari kakak laki-lakinya seketika nabi menyadari soal ucapannya.
"Oh god"
gadis itu langsung menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya, dia pikir kenapa dia ceroboh sekali dengan ucapannya, tragedi semburan minum dari sahabat baik nya sudah cukup membuat kakaknya marah kini dia kembali bertanya pada laki-laki di sampingnya itu dengan polosnya dan menggunakan kata.
Lagi.
seolah-olah ucapannya benar-benar merujuk pada sahabatnya yang telah membuat kekacauan untuk kakaknya beberapa kali.
__ADS_1
Dia terjebak dengan ucapan nya saat ini.