
Tuan William melambaikan tangan pertanda dia menyambut apa yang diucapkan oleh tuan Hadinoto di mimbar.
Sedetik kemudian tuan William mencari keberadaan Tania yang menghilang dari pandangan mata.
"Sial" umpatnya.
Tidak ada yang berkesan di pesta pertunangan Maura dan Benzema bagi seorang Tania.
Tania membelokkan langkah kaki di sebuah kafe yang terletak tepat di depan hotel tempat acara pertunangan dihelat.
"Latte satu kak" kata Tania. Selanjutnya dia mencari tempat duduk kosong di pojok.
Dua pasang mata memperhatikan kedatangan Tania.
"Bukannya itu cewek yang kau ajak ke bengkel waktu itu?" tanya Arga yang duduk di depan Arka.
"Ha...ha...ingatanmu kuat juga" Arka terbahak.
"Sepertinya dia sendirian?" telisik Arga.
"Ya pasti aja sendiri. Pacarnya telah tunangan dengan cewek lain" jelas Arka.
"Kok tahu?" sahut Arga.
"Ya tahulah. Lihat mukanya sekarang, kucel begitu" kata Arka terkekeh.
"Heemmm, kau pasti sudah menyelidikinya. Mau kau mainkan lagi?" celetuk Arga.
"Eh, mana pernah aku main cewek. Aku hanya mencari seorang cewek tomboi yang menolongku waktu kecil dulu" tegas Arka.
"Lalu kenapa kau mendekatinya? Kasihan dia, kalau nasibnya seperti cewek-cewek sebelumnya. Kau dekati, lalu kau buang setelah kau yakin kalau itu bukanlah cewek yang kau cari" ejek Arga.
"Tapi Tania ini lain Ga" tandas Arka.
Dahi Arga mengkerut.
"Maksud loe?" telisik Arga.
"Nggak tau apa, tapi aku merasa ada something saat aku dekat dengannya" jelas Arka.
"Heleh...sudah seperti cerita sinetron aja kata-katamu" lanjut Arga.
"Arka, aku nginep di tempatmu ya malam ini" kata Arga.
"Aduh, nggak ada kamar kosong. Kalau mama mu maksa kamu buat nikah, tidur aja di bengkelmu itu" ucap Arka terus memperhatikan Tania yang sedang menyendiri.
"Dasar sahabat luknut" gerutu Arga yang tak didengar oleh Arka.
Meski dia wanita kuat, Arka yakin saat ini Tania sedang berada di titik terendah karena pengkhianatan sang mantan pacar.
Arga menyenggol Arka karena masih saja menatap ke arah Tania. "Makananmu tuh" celetuk nya.
__ADS_1
"Ha...ha...sampai lupa" Arka terbahak.
"Ka, tuh lihat. Ada yang ngehampirin dia" tunjuk Arga.
"Sialan, tuh kan William?" Arga menatap Arka.
"He...he...Kau tak lupa dengannya?" Arka terkekeh.
"Ha...ha...ingat lah. Dia kan adik kandung mama sambungmu" seloroh Arga.
"Kita awasi dari sini aja dulu" ucap Arka. Arga mengambil beberapa gambar William yang sedang menghampiri Tania.
Arka yakin Tania mampu mengatasi laki-laki buaya yang mendekat padanya.
.
Sementara itu Tania kelihatan gusar saat William ikutan duduk di meja saat dia asyik menikmati kopi latte.
Dia yang ingin menyendiri malah diganggu oleh kedatangan seorang yang bernama William.
"Boleh aku duduk nona pengacara?" kata William yang sudah duduk di depan Tania.
"Minta ijin, tapi sudah main duduk aja" sungut Tania.
"Kalau aku tak ngijinin apa tuan mau pindah?" ucap Tania jengah.
"Enggak. Mana mau aku melewatkan ngopi bersama wanita cantik" William tersenyum smirk.
Tania menyeruput kembali latte yang tinggal separuh. Tania kelihatan memijat mijat kepala. Dia terhuyung saat akan berjalan meninggalkan meja.
William yang akan menggandeng lengan Tania segera diserobot Arka.
"Cih, akal bulusmu mudah terbaca tuan William yang terhormat" sahut Arka dan menepis tangan Tuan William yang akan menahan Tania yang terhuyung.
Tuan William yang tak begitu dekat Arka, tentu saja tak mengenal sosok Arka.
Arka yang semenjak lulus sekolah menengah pertama, memilih melanjutkan pendidikannya di Amerika. Terlalu bersedih karena ditinggalkan oleh ibu kandung selama-lamanya. Apalagi papa nya juga telah menikah lagi dengan seorang janda beranak satu, anak laki-laki yang usianya jauh lebih muda dari seorang Arka. Semakin memantabkan tekad Arka untuk pergi sejauh-jauhnya dari keluarga.
Bagi Arka, hanya nenek satu-satunya yang dia anggap keluarga saat ini.
Arga yang melihat kesigapan Arka Danendra menyimpulkan, "Fix, dia sedang jatuh cinta dengan cewek itu" gumam Arga dan mengikuti langkah Arka mendekat ke meja Tania.
"Ha...ha...apa yang kau lakukan. Dia wanitaku" kata Tuan William mencoba menghalangi Arka.
"Arga, kamu tau kan yang harus kau lakukan?" toleh Arka.
"Siap bos" Arga bersiap melawan tuan William yang ternyata memanggil anak buahnya.
"Ha...ha...ternyata pengecut juga kalian. Hanya berani main keroyok" hardik Arga bersiap menerima serangan.
Tuan William memberi kode untuk menyerang Arga, sementara dia sendiri menyusul keberadaan Arka yang menolong Tania.
__ADS_1
Dengan bekal ilmu bela diri yang mumpuni, lawan saat ini tentunya bukanlah lawan yang sulit untuk seorang Arga. Kelima orang itu lari tunggang langgang meninggalkan Arga.
Pemilik kafe tentu saja tak terima dengan ulah mereka dan juga Arga. Dia segera menghampiri Arga dan minta ganti rugi.
"Nih kartu namaku. Hitung dulu kerugianmu, baru kau telpon aku" kata Arga.
Melihat nama Arga, pemilik kafe tentu saja percaya dengan laki-laki di depannya.
Sama hal dengan anak buahnya, tuan William dibuat tak berkutik oleh tendangan Arka.
Tania yang sudah didudukkan di samping kursi kemudi mengeluh sangat pusing, dan sejenak kemudian dia telah tertidur di sana alias pingsan.
Arka memasangkan self belt untuk Tania yang tak sadarkan diri. Arka rendahkan posisi kepala Tania, agar otak tercukupi oleh oksigen.
"Bagaimana ini? Mau kuantar ke rumahnya. Ntar aku ditanya macam-macam sama keluarganya" pikir Arka bingung. Mobilnya masih belum berjalan sampai terdengar ketukan dari luar.
Arka membuka kaca mobil, "Ajak ke apartemen kamu aja! Emang kau tau di mana alamatnya?" tanya Arga.
"Aku tau alamat Tania. Kartu identitasnya saja masih aku bawa. Tapi kalau ditanya keluarganya aku musti jawab apa dong?" kata Arka bimbang.
"Ha...ha...seoarang Arka Danendra galau. Catat!!!" Arga bahkan terbahak menanggapi perkataan Arka.
Sebuah tonjokan di lengan di dapat oleh Arga, Arga langsung menghentikan tawanya.
"Kan tinggal bilang kalau kau calon imamnya. Gitu aja bingung Arka" Arga masih saja bergurau.
"Kalau bapaknya galak, bisa-bisa aku dipaksa kawin besok" Arka bergidik ngeri.
"Kan enak, langsung kawin" Arga menahan tawa, tak ingin mendapat tonjok lagi dari Arka.
Tapi sedetik kemudian terdengar suara pruuttttttt dari belakang Arga.
"Idih, jorok. Kau kentut yaaa???" Arka menutup hidung dan kembali menutup kaca mobil meninggalkan Arga sendirian di parkiran kafe.
"Sialan, dia malah ninggalin aku. Semua gara-gara loe Arka. Aku menahan tawa akhirnya gas yang kuhemat keluar juga" umpat Arga.
Arka membawa Tania yang pingsan ke apartemen miliknya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote yah supaya popularitas naik dan readers semakin banyak. Senin ditunggu vote nya.
Buat nambah imun othor, biar semangat nulis 😊😊😊
Iklan di bawah, di klik boleh loh
Double Up buat kalian, untuk ganti yang kemarin.
Jangan lupa follow IG aku juga dong
__ADS_1
@moenaelsa_
💝