Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Iri Dengki


__ADS_3

Arga masih mengikuti alur yang dibuat oleh pak Agus sekarang.


"Angkat kedua tanganmu tuan!" suruh pak Agus.


Arga juga masih melakukan hal yang diperintah olehnya.


"Mana ponselku" rebut paksa pak Agus ke ponsel yang dibawa oleh Arga.


Dia langsung cek panggilan keluar dan segera menghapusnya.


"Gampang tuan, sekarang anda tak punya bukti lagi...ha...ha..." kilah Agus sembari terbahak.


Arga berdecih, "Dasar penjahat amatiran" olok Arga membuat Agus berdecak.


"Anda sudah terjepit tuan, sebaiknya menyerah saja. Daridapa daging kamu akan aku buat menjadi santapan buaya di belakang rumah ini" hardik Agus.


"Ha...ha...apa jabatanmu di Panapion? Hingga kamu berani-beraninya mengancamku" celetuk Arga.


"Hah? Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menekanku. Kau di bawah kendaliku sekarang" tegas Agus dengan mata yang memicing tajam ke arah Arga. Waspada dengan semua pergerakan Arga.


.


Sementara itu Arka yang sedang membaca semua pesan istrinya, langsung membuka pesan Arga saat ada notif pesan.


Dahi Arka berkerut. "Kesengajaan?" telisiknya.


"Siapa lagi orangnya?" tanyanya dalam hati.


Arka menghela nafas panjang.


Hampir saja nyawanya menjadi taruhan, hanya karena iri dengki musuh-musuhnya.


Padahal Arka juga punya keinginan hidup tenang, bahagia bersama keluarga kecilnya.


Menjalani program kehamilan dengan sang istri adalah tujuan di waktu dekat ini.


Tapi semua menjadi kacau karena insiden ini.


Bahkan sekarang dirinya harus rela terpisah jarak dan perbedaan waktu dengan Tania sang istri.


Arka juga dengan sengaja belum membalas semua pesan dari Tania dan juga yang lain.


Pesan dari Pandu dan Arga juga terabaikan.


Demikian halnya Sebastian yang mengingatkan untuk datang ke acaranya juga tak terbalaskan.


Arka ingin fokus dengan operasi yang akan dijalaninya dengan dokter Jack keesokan hari.


Dengan retak yang dialami sekarang, pasti kaki kanannya akan terpasang banyak aksesoris plat lagi. Belum hilang benar rasa trauma nyeri yang dia alami, Arka harus menyiapkan batin untuk mengulangi rasa yang pernah terjadi di waktu dirinya kecil itu.


Lagi-lagi pesan dari Tania masuk saat dirinya sedang melamun.


"Sayang, aku sedang ngantri di dokter kandungan sama nenek Gemmy dan juga mama Rosa. Mereka aneh nggak sih, maksa-maksain diriku periksa. Bisa jadi aku hamil katanya. Aneh nggak sih? Telat aja belum" ketik Tania di pesannya.


Arka mengulum senyum sendirian.


Kadang tingkah konyol Tania lah yang menjadi pengobat kekalutan pikiran yang mendera.


Tak ingin membalas, tapi Arka masih menunggu pesan berikutnya.


"Malah ini langsung di ajak ke prof. Abraham, katanya nenek kenal baik, karena prof. Abraham adalah ayah dari dokter Maya yang waktu itu mengoperasiku" ketik Tania berikutnya.


"Enaknya kukabarin hasil nggak ya suamiku ini????" tanya Tania dalam pesannya.


"Nggak lah. Dia aja ngegantung aku tanpa kepastian. Hiks" di akhir kalimatnya bahkan ditambahkan orang yang berkaca-kaca.


Arka kembali menaikkan sudut bibirnya.


"Tapi siapa lagi yang akan kuberitahu. Masak sih harus Sebastian, Dewa, Pandu atau Arga????" sengaja Tania menggoda supaya sang suami jengah.


Tapi Arka tetap tak merespon.


"Ya sudahlah, karena sudah tiba giliran aku masuk sekarang. Awas saja kau!!!" ancamnya masih dengan bahasa ketikan. Bahkan Tania juga tak lupa menambahkan emoji orang dengan muka merah dan mata melotot itu.


Hampir setengah jam Arka tak lagi mendapat pesan dari sang istri.


"Nenek Gemmy sama Mama Rosa aneh-aneh saja sih. Belum apa-apa sudah main periksa aja. Nggak tau apa musuhnya Tania sedang terkapar di sini. Menunggu giliran operasi" gumam Arka bermonolog.

__ADS_1


"Pasti istriku tak bisa menolak paksaan kedua orang itu" ucap Arka terkekeh.


.


Sebelum berangkat ke tampat prof. Abraham, Tania mendapatkan pesan dari Arga.


"Tania, aku sedang menyusuri orang-orang yang terlibat saat malam kejadian. Aku barusan dari TKP, ada beberapa saksi yang sangat dipercaya" tulis Arga tanpa memberitahu siapa saja orang-orangnya.


"Kejadian yang menimpa Arka sepertinya sabotase. Dan aku akan mengejar orang itu sampai ke kolong semut pun" beritahunya lagi.


Tania pun menelpon Pandu untuk memastikannya.


"Halo Pandu, apa kau mendapat kabar dari tuan muda kamu itu???" tanya Tania.


"Tidak ada sama sekali nona eh nyonya muda" jawab Pandu.


"Bahkan dia juga tak memberi kabar istri keduanya" kata Tania jengah.


"Hah? Istri kedua? Emang tuan muda punya istri kedua?" tukas Pandu tak mengerti.


"Punya!!! Kamu lah istri keduanya" tegas Tania.


"Sudahlah, tak bilangin pasti kau tak mengerti juga" imbuh Tania.


"Aku cuman mau nanya, kamu sudah dihubungin Arga?" telisik Tania.


"Sudah, tapi tuan Arga hanya nanyain pak Agus yang bekerja di divisi nya tuan David. Ini tadi barusan nelpon nanyain alasan pak Agus cuti hari ini?" jelas Pandu.


"Oh ya? Apa kau tahu keberadaan Arga sekarang?" imbuh Tania.


"Enggak nyonya. Sepertinya tuan Arga penasaran dengan pak Agus. Kenapa ya?" tanya Pandu.


"Kamu ini gimana sich, ditanya malah balik nanya" tukas Tania.


"Emang aku nggak ngerti maksudnya nyonya" tanggap Pandu.


"Begini saja, kau tanyakan Arga di mana posisi nya sekarang. Susulin. Kalau perlu bawa anak buah yang lain untuk bantu" suruh Tania.


"Lekaslah! Dan jangan banyak nanya" tandas Tania.


"Tania...Ayo berangkat sekarang!" ajak kedua wanita yang sekarang sangat disayangi Tania.


Tania sampai menepuk jidat saat teringat kedua wanita itu juga yang memaksanya untuk periksa.


Sampai di tempat prof. Abraham karena antrian yang lumayan panjang, Tania mengirimi pesan sang suami.


Meski tahu jika pesannya tak akan berbalas. Paling nggak dengan centang biru dua, Tania lega suaminya baik-baik saja.


Beraneka ragam kata dia kirimkan mulai dari rayuan, kata kangen, amarah dan juga umpatan tapi tetap saja suaminya tak bergeming.


Ya sudahlah, emang gue pikirin. Batin Tania. Kalau mau nulis ya nulis, kan tinggal kirim aja. Paling cuman ngisiin paketan data ajah. Seloroh Tania dalam benak.


"Nyonya Tania" panggil petugas pendaftar yang tadi banyak menanyakan identitas Tania.


"Wah sudah giliran kamu sayang" sela kedua wanita itu malah lebih antusias.


"Ini yang diperiksa aku atau nenek sama mama sih?" celetuk Tania.


"Ya kamulah" sanggah mereka berdua kompak.


"Silahkan masuk nyonya" kata petugas itu mempersilahkan masuk ke ruang pemeriksaan.


Prof. Abraham, laki-laki setengah baya dan nampak berkharisma.


"Hallo, bukannya ini nyonya Rahardjo???" sapanya menyalami nenek Gemmy.


"Begitulah prof" nenek menyambutnya.


Oooooo...ngajak ke sini, ternyata nenek memang sudah mengenal dokternya beneran. Pikir Tania.


"Iya prof. Nganterin cucu mau periksa nih" ucap nenek.


Ih, bukannya nenek sama mama yang maksain. Tania masih saja menggerutu.


"Apakah ini istrinya Arka? Arka di mana?" tukas prof. Abraham yang sepertinya sangat mengenal Arka juga.


"Oh dia di Amerika" jelas nenek.

__ADS_1


"Jangan bilang kalau dia masih kontrol ajah" kata prof. Abraham.


Nenek Gemmy hendak menceritakan kejadian Arka tapi urung karena keburu ditahan oleh Tania.


"Oh ya, apa keluhannya sekarang?" tengok Prof. Abraham.


"Tania Om" tukas Tania.


"Oh ya, keluhannya apa sekarang Tania?" tanyanya.


Tania pun menceritakan semua riwayat mulai dari operasi di luar kandungan sampai hasil pemeriksaan di Amerika.


Bahkan Tania juga cerita paksaan sang nenek dan juga mama Rosa yang memaksa karena semua keinginannya yang mendadak dianggap ngidam, padahal dia juga belum telat haid.


Prof. Abraham sampai terbahak mendengarnya.


"Jadi begitu ya ceritanya?" tukas nya.


"Begitulah Om" imbuh Tania dengan mulut mengerucut.


"Tingkahmu mengingatkanku pada putriku satu-satunya Tania" ucap prof. Abraham.


"Pasti dokter Maya ya Om" sela Tania.


Abraham mengangguk dan menyuruh Tania naik ke tempat pemeriksaan.


"Kalau lihat tanggal kamu terakhir haid, bukannya hari ini harusnya kamu haid?" tanya Abraham.


"Karena setelah kuevaluasi, siklusmu bagus loh. Rutin tanggalnya" kata Abraham.


"Iya..ya...bagaimana aku bisa lupa" ujar Tania menepuk jidat.


"Oke, aku periksa lewat USG ajah" kata Abraham sambil menyiapkan probe.


"Bismillah" kata nenek dan mama Rosa bersamaan.


"Beneran kamu belum telat Tania?" telisik Om Abraham dengan tetap tatapannya menjurus ke monitor.


"Kalau hari ini nggak datang, berarti telat sehari Om" tukas Tania.


"Heemmm...ini ada kantong loh" beritahu Abraham membuat ketiga wanita beda generasi itu penasaran.


"Kantong? Kantong ajaib?" sela Tania membuat lelucon. Lelucon garing tentunya, karena tak ada yang tertawa menyambut ucapannya.


"Di dalam rahim kan dokter?" kata mama Rosa yang sedari tadi terdiam.


"Iya...dalam rahim" tandas Abraham.


"Beneran Om, nggak sedang bohong kan?" tanya Tania seakan tak percaya.


Prof. Abraham mengangguk.


Ketiga wanita itu malah saling barangkulan di ruang periksa.


"Beneran aku mau dapat cicit" ucap nenek.


"Yeeeiii dapat cucu" timpal mama Rosa tak kalah semangat.


"Tapi ini masih terlalu kecil Tania. Baru jalan empat minggu umur kehamilannya. Jadi kau harus banyak bedrest di tempat tidur. Mengingat riwayat mu yang sebelumnya" saran prof. Abraham.


Tania bahkan masih syok mendengar berita bahagia ini. Tak tahu harus berkata apa.


"Allah masih mendengar doa-doaku" ucap Tania bersyukur.


"Sekarang kau harus menjaganya. Hati-hati. Akan aku resepkan obat penguat untuk kamu" imbuh prof Abraham.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


💝

__ADS_1


__ADS_2