Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Misi Penyelamatan Tania


__ADS_3

"Aku juga pernah berada di situasi seperti ini" kata Sebastian.


"Kita harus berpikir jernih untuk segera menemukan istri kamu" imbuh Bara.


"Apa ada yang sekiranya bisa dijadikan petunjuk untuk situasi ini" sela Dewa.


"Ponselnya tertinggal, aku nggak tahu harus mulai melacak darimana" terang Arka.


Mama Rosa seperti memikirkan sesuatu.


"Ada caranya Arka. Tapi aku nggak tahu apa alat itu masih berfungsi apa nggak" sela mama Rosa.


Pandangan semua yang ada di sana beralih ke mama Rosa.


"Maksudnya Mah?" tanya Arka.


"Sewaktu kejadian papa Tania dipenjara, papa Bagus pernah berpesan padaku untuk selalu memakaian anting yang diberikannya padaku saat itu" terang mama Rosa.


Arka masih bengong.


"Papa Bagus pernah berpesan padaku, jika Tania selalu memakainya maka hatinya tenang karena selalu tahu keberadaan sang putri" begitu ucapannya saat itu.


"Fix, dengan anting itu kita bisa melacaknya" ungkap Dewa yang memang senang dengan hal-hal berbau IT.


"Masalahnya, Tania sekarang sedang pakai anting itu nggak" kata Sebastian menyela.


"Benar juga sih" imbuh Dewa garuk kepala.


Ponsel Bara dan Sebastian berdering bersamaan.


"Halo" sapa mereka berdua bareng kepada orang yang masing-masing menelpon mereka.


Bara mengakhiri pangilannya.


"Orang-orangku mengidentifikasi kalau mobil yang membawa istrimu tengah bergerak ke arah barat kota" beritahu Bara.


"Aku sudah minta bantuan pihak berwajib untuk menyusuri mobil dengan plat nomor yang diduga membawa istri kamu" imbuh Sebastian.


Sungguh Arka sangat berterima kasih karena sudah bahu membahu untuk membantunya.


"Makasih" balas Arka.


Giliran Dewa bicara, "Nih ada laporan masuk, kalau mobil yang diduga membawa Tania diidentifikasi hanya mobil sewaan. Dan sekarang sudah dikembalikan. Parahnya lagi, yang punya mobil tak tahu nama penyewanya" terang Dewa.


"Kita lacak pemilik rental mobil itu. Nggak logis kalau dia memberikan sebuah mobil tapi tak tahu orangnya. Harga mobil berapa? Uang sewa berapa?" analisa Sebastian.


"Kak Bara, tolong kau kirim rekaman cctv saat kejadian" pinta Tian.


Bara pun melakukan apa yang diminta oleh Sebastian.


"Bang, apa nggak sebaiknya si kecil kamu antar pulang dulu sama mama Rosa. Kita koordinasikan bersama by phone. Kita harus secepatnya bergerak" usul Sebastian. Dia yang beberapa kali mengalami kejadian seperti ini, terlihat lebih tanggap. Tanpa memgesampingkan Arka, Bara dan juga Dewa.


Mereka akhirnya bergerak dengan tujuan masing-masing.

__ADS_1


Sebastian dan Dewa ke tempat rental mobil. Sementara Bara menggerakkan orang-orangnya untuk meneliti kembali rekaman cctv barangkali ada yang terlewat.


Pergerakan penculik ini sangat rapi sekali.


Sementara Arka mengantar sang putra dan mama Rosa ke mansion nenek Gemmy.


Acara kejutan buat sang istri yang telah dirancang sedemikan rupa olehnya dibantu Pandu dan Angel akhirnya gagal total.


"Arka, jangan panik. Pikiranmu harus jernih untuk misi penyelamatan istrimu kali ini" nasehat mama Rosa saat dalam mobil.


"Iya Mah. Maafin Arka yang belum bisa menjaga Tania" kata Arka penuh sesal.


"Aku tak menyalahkan kamu. Kejadian ini memang di luar dugaan" imbuh mama bijaksana.


Arka mengangguk.


"Arka, apa kamu yakin Tania sedang tidak memakai anting pemberian papanya?" tanya ulang mama. Karena saat di rumah sakit, Arka mengatakan kalau Tania memang tak memakai anting itu.


"Iya Mah, seingatku Tania sedang memakai anting yang kuberikan" terang Arka.


"Apa kamu sudah tahu rupa anting pemberian papa?" telisik mama. Karena mama yakin, orang lain tak akan tahu. Hanya orang dekat saja yang tahu.


Arka menggeleng.


Tak dinyana, bahkan Tania belum menceritakan hal itu ke sang suami. Pikir mama Rosa.


"Arka, anting itu hanya sebelah. Dan bentuknya kecil seperti pin. Tania biasanya memakai di daun telinga belakang. Setahu mama, dia tak pernah melepasnya" beritahu mama.


"Iya kah Mah?" tatap Arka seakan menunjukkan ada harapan untuk menemukan sang istri.


"Apa yang Tania bilang Mah?" ujar Arka menanggapi.


"Sambil tertawa dia menjawab, ntar kalau ada yang menculikku kan tinggal mengetuk anting ini agar sinyalnya terpantau. Bahkan dia terbahak karena menganggap itu candaan belaka. Tapi nyatanya itu malah terjadi" ungkap mama Rosa.


"Dan berharap saja, semoga istri kamu ingat akan keberadaan anting itu" kata mama menarik nafas panjang.


Nenek Gemmy yang belum tahu kejadian di rumah sakit, selalu menanyakan keberadaan sang cucu menantu.


"Tania masih nungguin kunjungan dokter Anita nek. Daripada kelamaan bayinya kuajakin pulang dulu" jawab Arka.


"Jangan bohong kamu. Apa yang terjadi sebenarnya?" telisik nenek.


Arka tak mau menjelaskan. Biar menjadi urusan mama Rosa untuk menjelaskan semua yang terjadi ke nenek Gemmy.


Arka sedang berburu waktu untuk misi penyelamatan sang istri. Entah keberapa kalinya misi penyelamatan di lakukan. Bisa saja readers bosan karena judulnya misi penyelamatan terus.


Arka menghubungi Pandu, "Pandu tolong kamu lacak sinyal yang kukirim" perintah Arka.


"Frekuensi?" tanya Pandu.


"Kamu baca pesan yang kukirim. Cepatlah!!!" suruhnya.


"Baik tuan" jawab Pandu.

__ADS_1


Arga pun menghubungi, "Arka, aku sudah menemukan titik keberadaan istri kamu?" terangnya.


Arka menautkan alis, bagaimana Arga bisa lebih tahu. Padahal yang diberi perintah adalah Pandu. Itupun baru semenit yang lalu.


"Hei, kok malah diam sih. Aku kirim lokasi yang teridentifikasi tempat Tania berada sekarang" lanjut Arga.


"Oke, aku akan langsung ke sana" tukas Arka.


"Jangan gegabah. Kita belum tahu kekuatan lawan. Posisi kamu di mana? Akan kususul" kata Arga menambahi.


Arka menyebutkan lokasi dan menepikan laju mobil yang dikemudikannya sendirian. Saking kalutnya, dia tak berpikir membawa pengawal. Tapi para pengawal terlatih itu sudah dengan sigap mengikuti kemanapun laju mobil sang bos.


.


Sebastian dan Pandu mendatangi tempat rentalan mobil yang dicurigainya.


"Selamat siang pak, bisa ketemu dengan pemilik rental mobil ini?" tanya Dewa dengan ramah kepada laki-laki renta yang sedang membersihkan mobil.


"Iya tuan, ada keperluan apa ingin bertemu dengan bos saya?" tukasnya.


"Kebetulan saya ingin menyewa mobilnya tuan" ungkap Dewa.


"Ooooo...baiklah. Akan saya panggilkan tuan saya" laki-laki itu beranjak meninggalkan pekerjaannya.


Sebastian mengamati beberapa mobil yang terparkir, dan salah satunya teridentifikasi sebagai mobil yang dipakai membawa Tania.


"Selamat siang tuan-tuan. Silahkan dipilih mobil yang mana sekiranya yang diperlukan" kata sang pemilik rental.


Dewa sengaja memilih-milih mobil agar tak menimbulkan kecurigaan sang pemilik.


Sementara Sebastian sedang mencocokkan gambaran sang pemilik rental dengan sosok yang dikirimkan oleh Bara lewat rekaman cctv itu.


"Kalau yang ini? Sewa harian berapa tuan?" telisik Dewa. Saat itu dia berhenti di depan mobil yang sepertinya ada kaitan dengan penculikan Tania.


"Ooowwwhh maaf, kalau yang ini tidak disewakan. Lagian ini masih kotor tuan" elaknya.


"Nggak papa, aku tungguin aja. Aku nggak keburu kok. Pak tolong bersihin yang ini dulu, mau aku sewa" teriak Dewa ke arah laki-laki renta yang sepertinya pegawai di sana.


Laki-laki itu menatap sang pemilik untuk meminta persetujuan.


Luarnya aja pak, aku yakin bagian dalam nggak kotor" kata Dewa. Tentu saja Dewa tak ingin kehilangan sidik jari pelaku.


Sebastian dan Dewa saling pandang, mengerti akan bahasa tubuh masing-masing.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya

__ADS_1


๐Ÿ’


__ADS_2