
Beberapa hari ini Tania fokus dengan kasus nyonya Marsha. Tania menduga ada kejanggalan dalam kasus yang ditanganinya.
Melihat hasil laporan kejiwaan semua dinyatakan normal.
Beberapa kali Tania harus mondar mandir ke penjara di mana nyonya Marsha ditahan.
Gangguan dari Maura Hadinoto juga hanya dianggap angin lalu oleh Tania.
"Non, nih ada undangan" sodor Angel.
Tania yang sedang mempelajari berkas-berkas sekian detik mendongak untuk melihat undangan dari Angel.
"Pertunangan Maura dan Benzema?" telisik Tania.
Angel mengangguk.
"Males gue sebenarnya. Tapi sungkan juga dengan tuan Hadinoto" gumam Tania.
"Datang aja Non, ajak tuan Arka noh" seloroh Angel.
"Kayak nggak ada yang lain aja" cibir Tania.
"Emang nggak ada yang lain kan? Selama di sini aku nggak pernah lihat laki lain yang ndatangin Non kecuali tuan Arka. Tuan Benzema aja nggak pernah sama sekali datang ke sini" ledek Angel.
Ya, selama delapan tahun pacaran. Benzema memang tak pernah sekalipun diajak Tania ke kantor nya.
Selain kesibukan Zema, Tania juga tak mau merepotkan. Paling juga ketemunya di tempat makan favorit mereka berdua. Aneh kan??? Nggak aneh kok menurut othor...wkwkwkwkkk.
Tania bersungut mendengar ledekan Angel.
"Daripada sama dia, aku datang sendiri aja" gumam Tania.
"Jangan Non, nanti Maura semakin merasa menang" bisik Angel agar tak kedengaran dari luar.
"Angel, jadwal sidangku kapan?" tanya Tania mengalihkan topik bahasan.
"Besok Non. Agendanya pembacaan dakwaan dari kejaksaan" jelas Angel.
"Hemmmm...baiklah" tukas Tania.
"Sudah dapat bukti baru?" tatap Angel.
Tania mengangguk.
"Masih yakin nyonya Marsa tidak bersalah?" Angel bertanya.
"Kan aku pernah bilang, kita pake azas praduga tak bersalah buat klien kita sampai palu hakim diketuk" seloroh Tania.
"Tapi semua bukti mengarah kepada nyonya Marsha loh Non" imbuh Angel.
Tania menarik nafas berat. Memang semua bukti yang diserahkan penyidik memberatkan klien yang dibela Tania.
Bahkan saksi yang akan dihadirkan juga memberatkan pihak terdakwa.
Tapi semenjak menyelidiki tuan William secara diam-diam, seperti ada kejanggalan yang dirasa oleh Tania.
"Angel aku pergi dulu. Mungkin aku akan langsung pulang setelah menemukan keberadaan orang ini" jelas Tania.
Tania menyahut tas nya yang ada di atas meja. Dan berlalu meninggalkan Angel.
__ADS_1
"Datang tak diundang, tapi perginya pamitan" gumam Angel terkekeh. Bosnya itu memang susah ketebak.
Sepeninggal Tania, datanglah Maura Hadinoto menghampiri Angel.
"Mana bosmu?" kata Maura ketus.
"Keluar barusan" jawab Angel.
"Kerja kok seperti nggak ada aturan. Keluar semaunya sendiri" masih dengan nada ketus.
"Non Tania sedang ada keperluan untuk sidang besok" Angel berusaha menjelaskan.
"Alasan" sambung Maura.
"Oh ya, pastikan bosmu datang ke acara tunangan aku dan Benzema" ancam Maura.
"I...iya Nona" jawab Angel gugup.
Dasar, nenek lampir. Umpat Angel dalam hati.
"Ingat ya, tempatnya di ballroom hotel A" Maura menyebutkan nama hotel bintang lima di kota itu.
Pamer, gerutu Angel dalam hati. Tapi Angel tetap mengangguk mengiyakan ucapan Maura.
Maura melenggang pergi.
"Huh, pergi juga tuh si nenek lampir" Angel masih saja mengerutu tak jelas.
Semenjak Tania dikhianati oleh Benzema dan Maura, Angel juga ikut membencinya.
.
"Jangan patah semangat, pasrahkan semua sama Sang Pencipta" nasehat Tania menatap nyonya Marsha.
"Kalau anda tak semangat, aku pun akan bersikap demikian. Akan semaunya membela anda" bisik Tania.
Nyonya Marsha mengangguk menyetujui ucapan penasehat hukumnya saat ini. Tania Fahira.
Saat jaksa membacakan semua dakwaannya, dan menyilahkan para saksi maju ke depan. Semua saksi yang telah hadir memberatkan nyonya Marsha.
"Maaf yang mulia, bolehkah saya mengajukan saksi berikutnya?" ijin Tania berdiri dan mendekat ke hakim. Dia harus bisa menunjukkan alasan yang kuat untuk menghadirkan saksi tambahan ini. Bahkan jaksa pun ikut mendekat untuk mendengar alasan yang diberikan oleh Tania sebagai penasehat hukum.
Setelah melewati perdebatan yang lumayan sengit, saksi itu telah duduk di kursi depan majelis.
Beberapa argumen dan dakwaan sebelumnya seperti dipatahkan oleh saksi yang dihadirkan Tania ini.
Beberapa bukti baru juga diajukan oleh Tania.
Akhirnya sidang dilanjutkan minggu depan untuk pembacaan putusan.
Tania menghela nafas lega. Paling nggak kehadiran saksi dan bukti yang dihadirkan bisa meringankan putusan untuk nyonya Marsha.
"Makasih Nona Tania" ucap nyonya Marsha sebelum digelandang oleh petugas lapas.
"Fighting nyonya" tukas Tania menirukan adegan di drama Korea. Seulas senyum nampak di bibir nyonya Marsha.
.
Sabtu malam, Tania akhirnya memutuskan datang untuk memenuhi undangan Maura demi menghormati tuan Hadinoto selaku pimpinan di firma hukum.
__ADS_1
Tuan Hadinoto dengan bangga mengenalkan sosok Benzema sebagai kebanggaan keluarganya.
"Cih, mereka tak tau saja siapa mereka berdua" umpat Tania geram. Tania beranjak menuju meja minuman.
Keluarga Benzema lengkap hadir semua. Keluarga yang tak pernah menyetujui hubungan Tania-Benzema, karena masa lalu Tania yang merupakan anak terpidana pembunuhan.
"Wah, ternyata hadir juga wanita ini" celetuk salah satu kakak Benzema penuh kesombongan.
"Dasar wanita miskin" imbuh yang lain.
Tania menoleh, "Kalian bicara padaku???" kata Tania menunjuk ke dirinya sendiri.
"Miskin sombong lagi" sindir keluarga Benzema yang lain.
"Bukannya itu pas untuk kalian sendiri. Yang tega menjual adikmu itu ke wanita kaya...ha...ha..." jawab Tania telak.
"Meski miskin, tapi harga diriku tinggi loh. Eh kudengar calon adik iparmu tengah hamil. Yakin anak Benzema?" bisik Tania ke salah satunya.
Tania melenggang kembali ke tempat duduk.
Entah apa yang dirasakan Tania. Dia tak merasa sedih sama sekali saat Benzema dan Maura terlihat saling memasangkan cincin di depan sana, meski mereka telah bersama hampir delapan tahun lamanya.
Terdengar Benzema memberikan sambutan, dia yang sangat memuja wanita yang menjadi tunangannya itu.
"Terima kasih telah menemaniku selama dua tahun ini, semoga kita akan bersama sampai kita menua bersama" ucap Benzema disambut tepuk tangan bergemuruh di ruangan itu kecuali Tania.
"Oh, jadi mereka telah menikungku selama dua tahun ini. Bodohnya aku membuang-buang waktu" gumam Tania bermonolog.
Tania hendak pergi dari tempat itu sebelum acara selesai.
"Mau kemana kau nona?" tanya seorang laki-laki di belakang Tania.
Tania menghentikan langkah dan seseorang itu menghampiri Tania.
"Apa kabar?" ucapnya dan bersikap akan menyalami Tania.
"Tuan William?" kata Tania tak bergeming.
Tuan William menarik kembali tangan yang tak disambut oleh Tania.
"Ha...ha...ingatanmu tajam juga nona pengacara"
Di depan sana tuan Hadinoto bahkan menyebutkan rasa terima kasih mendalam akan hadirnya direktur keuangan Panapion Grub.
"Tuh tuan, anda dipanggil yang punya gawe" Tania pergi menjauh dari tuan William.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote yah supaya popularitas naik dan readers semakin banyak. Senin ditunggu vote nya.
Buat nambah imun othor, biar semangat nulis 😊😊😊
Iklan di bawah, di klik boleh loh
Jangan lupa follow IG aku juga dong
@moenaelsa_
__ADS_1
💝