Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
William, Felix dan Marsha


__ADS_3

Tania masih sibuk dengan berkas yang diberikan Pandu.


Tapi dalam hatinya, dia masih berpikir keras. Ada hubungan apa nyonya Marsha, William dan juga tuan Felix.


Perkiraan Tania selama ini, anak nyonya Marsha adalah anak dari tuan William.


Tapi bagaimana dengan gamblangnya penyidik tadi menyebutkan bahwa tuan Felix mempunyai anak dari nyonya Marsha.


Bahkan saat itu, Tuan Felix juga ikutan menjadi tim kuasa hukum dari nyonya Marsha untuk membantu Tania menyelesaikan sidang-sidangnya dengan nyonya Marsha.


"Yank, ada yang kau pikirin?" tanya Arka yang melihat Tania lebih banyak melamun.


"Heemmmm" Tania mengangguk.


"Apa?" sela Arka ingin tahu.


"Yank, boleh tahu kamu kenal nyonya Marsha di mana?" tanya Tania penasaran.


"Nyonya Marsha klien kamu?" tanya balik Arka.


Tania mengangguk-angguk.


"Kok balik lagi ke cerita dia?" kata Arka.


"Penasaran ajah. Yang kutahu anaknya yang meninggal adalah anak tuan William. Nyatanya kok malah anak tuan Felix" kata Tania menjelaskan.


"Tahu darimana?" ulas Arka.


"Penyidik tadi pagi" sahut Tania.


"Kok penyidiknya langsung tahu? Kamu pegang nyonya Marsha yang tahunan aja masih salah mengira" imbuh Arka.


"Makanya aku nanya kamu yank, kamu kenal nyonya Marsha di mana?" ucap Tania menunggu jawaban.


Arka gabung duduk dengan Tania. "Aku lupa kenal dengannya di mana. Waktu itu aku masih kecil, SMP. Tahu sendiri selepas SMP aku nggak di sini" cerita Arka.


"Tapi nyonya Marsha pernah bilang kalau kau orang yang baik yank" tandas Tania.


"Oh ya? Itu kan penilaian dia. Aku benar-benar lupa kenal dia di mana" Arka menimpali.


"Jadi kau tak tahu kalau nyonya Marsha kenal William dan juga tuan Felix?" kata Tania.


Arka menggeleng.


"Yaahhhhh, percuma juga aku cerita dari tadi sama kamu. Nyatanya kau tak tahu apapun" sungut Tania.


"Ha...ha...ngapain juga kita nggibahin orang lain. Nggak ada gunanya" seloroh Arka.


"Benar juga" Tania menyetujui ucapan sang suami.


Pandu masuk kembali untuk mengambil berkas yang diserahkan ke Tania.


"Nona, bisa kuambil kembali?" tanyanya.


"Baru juga separo yang kuteliti, sudah mau kau ambil ajah" celetuk Tania.


"Eh Pandu, apa kau tahu kalau nyonya Marsha pernah punya hubungan dengan tuan William?" Tania masih saja kepo. Sementara Arka hanya menggeleng sambil tersenyum.


Secara lama kerja, Pandu lebih lama berkutat di Panapion daripada Arka.


"Yang kutahu sih pernah ada gosip hubungan mereka" jelas Pandu.


"Nyonya Marsha kan pernah berkerja di sini Nona, walau sebentar" imbuhnya.

__ADS_1


"Oh ya?" sela Tania.


"Yang pasti saat tuan Arka belum gabung" jawab Pandu bercanda.


"Dan saat itu tuan William naksir berat padanya" sambung Pandu.


"Oooooo..." Tania ber 'O' ria.


"Dan tak tahu kenapa, nyonya Marsha tiba-tiba keluar dan tak kerja di sini lagi. Gosipnya sih waktu dulu, dia hamil di luar nikah" lanjut Pandu.


"Pandu" panggil Arka.


"Ya tuan" jawab Pandu.


"Ingat kamu kerja, bukan makan gaji buta. Kerja apa nggibah?" sela Arka.


Tania hanya bersungut mendengar kata Arka.


"Nona, sejam lagi aku ambil ya berkasnya?" ucap Pandu.


"Heemmmmm" Tania kembali berkutat ke arah berkas di hadapannya.


"Sayang, mau makan apa siang ini?" Arka mendongak dan menatap Tania.


"Kerja, jangan makan mulu yang dipikirin" imbuh Tania dan Arka hanya bisa menjawab dengan tawanya.


Sungguh menyenangkan ternyata hidup bersamanya, jadi lebih berwarna dan tak monoton.


Tania meregangkan kedua tangan tanda pekerjaannya telah selesai.


"Sudah selesai?" sela Arka.


"Heemmmm, kopi sepertinya enak nih" seloroh Tania yang terlihat menguap oleh kedua netra Arka.


Arka pun menghubungi Pandu untuk meminta tolong order makan siang.


"Mau makan apa yank?" tanya Arka sambil menelpon Pandu.


"Nasi Padang aja, lauk rendang" jawab Tania.


"Oke" Arka menyuruh Pandu untuk memesankan makan sesuai permintaan Tania.


Tania terdiam lagi.


Apa jangan-jangan nyonya Marsha keluar karena hamil anak tuan Felix ya? Rumit sekali sih hidup mereka. Pikir Tania.


Kalau memang benar, kenapa tuan Felix tak mau bertanggung jawab? Apa ada yang salah dengan kepribadiannya? Jangan-jangan yang dibilang penyidik tadi benar, kalau tuan Felix mengalami kelainan.


Tania geleng kepala, membayangkan seandainya Arka tak datang di waktu yang tepat saat kejadian waktu itu.


"Kok geleng-geleng? Apa lagi yang dipikirin?" celetuk Arka.


Tiba-tiba saja Tania mencium pipi Arka, "Makasih ya, kau selalu ada di waktu yang tepat" ucap Tania.


"Kau mau menggodaku sayang?" tanya Arka menimpali.


"Idih, ngeres sekali pikiran kamu sayang" seloroh Tania.


"Siapa yang ngeres sih. Aku kan nanya, kau mau menggodaku. Itu saja" bela Arka.


Pandu datang di saat yang tepat, untuk menghentikan debat antara keduanya.


"Makanan datang" kata Pandu saat membuka pintu.

__ADS_1


Sesuai pesanan Tania. Mereka berdua makan di ruangan Arka, sementara Pandu balik dengan membawa sebungkus nasi dan segelas minuman.


"Yank, beneran kamu nggak tahu siapa nyonya Marsha?" kata Tania masih saja membahas tentang kliennya.


"Haisss, kau ini" sela Arka.


"He...he...aku masih kepo" balas Tania.


"Nanti kalau aku sudah ingat, aku cerita dech. Janji" balas Arka.


"Yank, di berkas kerjasama yang kulihat tadi tidak ada berkas dari tuan Smith loh" beritahu Tania.


"Katanya mau kau setujui?" tanya Tania kepada Arka.


"Coba ku calling Pandu habis makan. Ntar kutanyain" kata Arka.


Tania makan dengan lahap makanan yang menjadi favoritnya.


"Yank, apa benar kau mau menemui tuan Smith?" tanya Arka.


"Kalau itu sebagian dari tugasku, tentu aku akan berangkat" tegas Tania.


"Oke, barengan aja. Aku, kamu dan juga Pandu. Kita datengin kantor pura-puranya" jelas Arka.


"Baiklah" jawab Tania sambil menyuapkan makanan ke mulut.


"Yank, hati-hati. Masih ada Arkan di belakang Smith" kata Arka.


"Bukannya kamu yang harus hati-hati? Panapion loh yang akan kerjasama dengan perusahaannya" Tania menimpali.


"Untuk kau ketahui sayang, sebenarnya target utama Arkan itu kamu" ucap Arka mengingatkan Tania.


"Kenapa?"


"Apa karena ketidak sengajaan ayahku?" ucap Tania.


"Kira-kira seperti itu" imbuh Arka.


"Seharusnya aku juga bersikap demikian terhadap mereka. Bukannya mereka malah dengan sengaja telah menghilangkan nyawa ayahku" suara Tania mulai sendu.


"Aku janji, akan menemukan bukti agar hukuman mereka semakin berat" kata Tania dengan mengepal erat.


"Kita jalani saja masa depan, seperti yang pernah mama Rosa bilang" tandas Arka yang tak ingin Tania berkutat dalam lubang dendam.


"Maaf aku malah mengingatkan kamu akan hal itu" lanjut Arka.


Tak mudah memang melupakan masa lalu yang menyakitkan, terutama kehilangan orang tersayang. Arka pun demikian.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Vote...vote...vote...


Klik juga iklannya


💝


Salam sehat buat semua 🤗

__ADS_1


__ADS_2