
Tania keluar ruang periksa dengan perasaan campur aduk. Rasa bahagia, takut dan berdebar.
"Beneran Mah, aku hamil?" rasanya masih tak percaya. Karena semua yang terjadi saat ini berbanding terbalik dengan pemeriksaan sebelumnya.
"Kalau Tuhan sudah berkehendak tak ada yang tak mungkin" terang nenek Gemmy.
"Kau hari ini ingin apa sayang? Biar nenek beliin" lanjut kata nenek.
"Aku ingin suamiku datang nek" kata Tania tiba-tiba membuat semua terdiam.
"Ada saatnya nanti kamu akan menyambut suami kamu sayang. Sekarang sama nenek dan juga mama Rosa dulu aja ya" hibur mama memeluk sang putri.
"Sudah kau kabarin Arka?" tanya nenek.
"Belum. Dia aja nggak pernah ngabarin aku" emosi bumil mulai berubah-ubah dech.
"Kabarin aja" sela mama Rosa menyuruh Tania.
Belum sempat Tania mengetik pesan ke sang suami, ponsel Tania berdering tanda panggilan masuk.
"Siapa? Arka?" tanya nenek.
"Bukan kok Nek. Pandu yang nelpon" beritahu Tania.
"Pandu????" nenek dan mama kompak menanggapi.
"Halo Pandu" sapa Tania seperti biasa.
"Nyonya muda, aku cari tuan Arga di kontrakan Agus nggak ketemu juga" beritahu Pandu.
"Cek alamat asli Agus di profil biodata perusahaan. Seperti yang kamu bilang tadi, dia kontrak kan di situ?" Tania menimpali.
"Oke Nyonya, aku akan segera menyusul tuan Arga" jawab Pandu.
"Kau hubungin Arga saja dulu" suruh Tania.
"Ponselnya di luar jangkauan" tukas Pandu.
"Kalau begitu cepatlah! Aku rasa ada yang nggak beres. Sekalian kamu ajak petugas berwenang" kata Tania yang bisa jadi perintah ke Pandu.
"Delapan enam Nyonya" ucap Pandu membalas tugas yang diberikan oleh sang nyonya bos.
Tania segera menutup ponsel.
"Apa yang terjadi?" telisik nenek Gemmy.
"He...he...nggak ada apa-apa kok nek" tukas Tania singkat.
"Kalau nggak ada apa-apa ngapain melibatkan petugas berwenang?" kejar nenek nggak percaya akan jawaban Tania barusan.
"Urusan anak muda nek. Yang ingin terpacu adrenalinnya" imbuh Tania masih saja belum mau cerita atas apa yang terjadi.
Nenek Gemmy hanya mencebik mendengar ucapan Tania.
Mereka bertiga keluar dari klinik tempat prof Abraham praktek setelah menebus resep yang didapat.
"Pak, tolong kursi rodanya" pinta nenek ke bapak-bapak penjaga depan.
"Untuk siapa nek?" tanya Tania.
__ADS_1
"Untuk kamu lah. Ingat pesan prof. Abraham kamu nggak boleh capek" tutur mama Rosa menyela.
"Tapi nggak harus pake kursi roda kali Mah" Tania berusaha menolak.
"Nggak ada tapi-tapian. Nenek sama Mama ingin yang terbaik buat kamu" timpal nenek Gemmy.
"Hilang keposesifan Arka untuk sementara. Datang dua keposesifan lain" gumam Tania sambil menepuk jidat.
Mama Rosa menyentil kening Tania, "Nggak usah bilang macem-macem. Bener tuh apa yang diomongin nenek. Apa salahnya sih, tinggal nurutin aja".
Tania mengusap tengkuk, tak tahu musti komen apa lagi.
Yaaachhhhh jadinya nurut aja kala disuruh naik kursi roda.
"Seperti pesakitan ajah Mah" kata Tania kala didorong oleh mama menuju mobil.
"Hussstttt diam" suruh mama Rosa.
"Sayangku Arka, kapan kau balik? Hiks? Nenek sama mama di sini memaksaku terus" ucap Tania seperti berharap.
"Iiisssshhhh lebay ah" timpal mama.
Tania banyak terdiam, dan hanya sesekali menimpali obrolan nenek dan mama.
Mereka berdua malah saling heboh kala bicara gender calon cicit dan cucunya.
'Aduh, jadi pusing gue dengerin nenek dan mama' batin Tania. Mendengar suara nenek dan mama yang masih saja berdebat di kursi belakang, malah membuai Tania. Bagai dininabobokan Tania malah terlelap.
"Tania, kok diam saja sih? Kau ingin cewek atau cowok?" tanya mama Rosa.
"Nyonya muda tidur nyonya" jawab pak sopir.
"Hah? Tidur?" tanggap nenek dan juga mama masih dengan kekompakan yang luar biasa.
.
Arga yang masih berada di bawah todongan senjata Agus berusaha mengulur waktu.
"Dengar pak Agus, bukti bahwa kamu ada kaitannya dengan kecelakaan bos besar sudah kukantongin" seloroh Arga.
"Ha...ha...dan bukti itu baru saja kuhilangin" jawab Agus terbahak.
"Kau ini bodoh atau bagaimana? Apa kau nggak tahu kalau nomer kamu pun telah aku sadap" tantang Arga.
"Aku nggak percaya" tukasnya dengan tetap posisi waspada.
"Boleh kutunjukin?" lanjut Arga dan merogoh saku untuk meraih ponsel.
"Jangan coba-coba kau membohongiku tuan" balas Agus.
Arga menyalakan layar ponsel dan menunjukkan ke Agus bahwa dia memang berhasil menyadap apa saja pesan yang masuk ke Agus.
Agus berusaha merebut ponsel yang dipegang oleh Arga.
"Eitssss, tak semudah itu. Kendali ada padaku sekarang" Arga berhasil mengelak dari serangan Agus.
"Turunkan senjata kamu, kalau kamu ingin aman" perintah Arga.
"Aku tak akan percaya begitu saja padamu tuan" ucap Agus dengan tetap menodongkan senjatanya.
__ADS_1
"Jangan menyesal atas apa yang kau putuskan sekarang. Aku masih memberi kesempatan padamu" beritahu Arga.
"Ha...ha....nggak akan tuan. Aku tak pernah menyesalinya. Uang yang aku dapat banyak untuk melakukan semua ini" ucap Agus pongah.
"Oh ya?" kata Arga.
"Sudah lama aku dapat pundi-pundi uang dari Panapion. Tapi semenjak Panapion dipegang oleh CEO baru itu, tak ada celah sedikitpun bagiku meraup keuntungan. Terus apa salahnya jika aku menerima tawaran menggiurkan ini...ha...ha...." kata Agus terbahak.
Arga masih menunggu kata-kata Agus berikutnya agar tahu siapa dalang di balik kejadian semua ini.
"Apa kau tak ingin tahu tuan? Siapa yang berani membayar mahal semua ini?" tantang Agus sambil menatap tajam Arga.
Arga diam tak menimpali.
Tring...bunyi ponsel mereka bersamaan. Menandakan ada pesan yang masuk ke ponsel masing-masing.
Agus dan Arga berbarengan membuka ponsel.
Agus langsung saja menatap tajam Arga yang saat ini tersenyum sinis padanya.
"Aku rasa sudah tahu siapa yang menyuruhmu" ucap santai Arga.
Agus menarik pelatuk senjatanya dan bersiap mengarahkan ke Arga.
"Jangan gegabah pak Agus, aku rasa setelah kau menembakku. Orang-orangnya Arka tak akan tinggal diam" Arga terus saja bicara untuk memecah konsentrasi Agus.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" tiba-tiba saja istri Agus menyeruak di antara keduanya.
Arga tak tinggal diam, diraihnya tubuh wanita itu untuk menjadi tamengnya.
"Bilang ke suami kamu untuk menurunkan senjatanya" ancam Arga di belakang telinga wanita itu.
"Sayang, turunkan senjata kamu! Atau kau ingin aku mati" ucap wanita yang menjadi istri Agus.
Saat Agus hendak menurunkan senjata, dengan sekali tendang senjata itu terpental oleh Arga.
Perkelahian dengan tangan kosong tak terelakkan. Tapi sepertinya kemampuan bela diri Agus tak seberapa dibanding dengan Arga. Tak sampai seperempat jam, Agus berhasil dibekuk.
Penjaga depan barusan datang kala sang nyonya teriak-teriak histeris.
"Tuan, apa yang kau lakukan kepada majikan saya?" tanyanya sambil memasang kuda-kuda.
"Sudahlah pak, nggak usah ikut-ikut. Aku nggak mau melukai tubuh rentamu itu" ujar Arga menanggapi.
"Biar ini menjadi urusan saya dengan tuan kamu itu" beritahu Arga.
Pandu dan rombongan kebetulan datang.
"Haiissss, kemana saja kau. Lama amat" ledek Arga.
Petugas berwenang segera meringkus Agus yang telah dilumpuhkan oleh Arga.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
__ADS_1
Klik juga iklannya
π