Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Bertemu Camer


__ADS_3

Arka mengajak Tania sore selepas pulang dari Panapion untuk mampir ke rumah papa Rendra.


Sebuah hunian mewah, tak kalah mewah dari rumah nenek Gemmy terlihat di depan mata.


"Kamu tahu nggak? Baru kali ini aku menapakkan kaki ke rumah papa" ujar Arka.


"Terus mama sambung kamu?" tukas Tania.


"Hanya sekedar tahu saja. Tak pernah bicara" jawab Arka.


"Ada alasan kenapa kau antipati terhadapnya?" telisik Tania.


"Nggak suka aja. Aku sampe sekarang masih heran kenapa papa mau menikahi wanita model begituan" sambung Arka.


"Hust...nggak boleh bilang begitu. Bagaimanapun itu mama sambung kamu yang berarti mama kamu juga" Tania menimpali.


"Ha...ha...kamu belum ketemu aja sama dia. Ntar kalau ketemu, barulah komen" ucap Arka.


"Heemmmmm...." gumam Tania.


Arka sengaja nggak bilang papa Rendra kalau mau tandang ke rumah.


Tentu saja kehadiran Arka membuat papa Rendra sangat senang. Tapi kebalikan dari papa Rendra, tanggapan tak senang kelihatan sekali dari mama sambungnya.


"Wah, akhirnya anak mu yang kau agungkan datang juga ke rumah papa nya" sindir mama Gaby.


Arka malas membalas ucapan wanita itu.


Dan kebetulan putra sambung papa Rendra yang bernama Arkan barusan datang juga.


"Wah...wah...kakak ku yang sekarang menjadi CEO datang juga ke sini" katanya bertepuk tangan.


"Mau pamer ya? Kalau sudah punya tunangan" imbuhnya.


Arka mengepalkan tangan dan hendak membalas ucapan tapi dihalangi Tania.


"Jaga ucapanmu Arkan?" hardik papa Rendra sengit.


Arkan yang merupakan anak bawaan dari nyonya Gaby. Jadi tidak ada hubungan saudara yang sebenarnya dengan Arka.


Melihat situasi panas sekarang, tak mungkin Tania menelusuri kejadian yang telah lama berlalu itu.


"Oh ya Arka, apa kau yakin akan menikahi anak pembunuh itu?" sindir mama Gaby.


"Namamu Tania kan? Putri dari Bagus Priyanto, terpidana kasus pembunuhan mendiang suamiku?" ujar mama Gaby.


"Bagaimana kau tau nyonya?" kata Tania.


Arka menatap tajam papa Rendra.

__ADS_1


Papa Rendra hanya mengedikkan bahu, "Aku hanya cerita kalau kau tunangan dengan Tania" jelas papa Rendra.


"Tak sulit bagiku menelusuri asal usulmu Tania" imbuh nyonya Gaby.


"Untuk apa kau selidiki asal usul Tania?" kata Arka sengit.


"Ya tentu saja agar kau tak salah pilih sayang. Apalagi kau pewaris tunggal Rahardjo Grub" kata nyonya Gaby seakan dia yang paling benar saat ini.


"Ha...ha...bukankah kata-kata itu sangat pas ditujukan kepada tuan Rendra yang terhormat" sarkas Arka.


Terlihat muka mama Gaby yang merah padam menahan amarah.


Arka sangat tahu bagaimana wanita itu memutarbalikkan fakta untuk menjebak papa Rendra.


Bahkan saat itu Arka masih kecil saja bisa tau trik murahan yang dipakai oleh wanita itu.


Hanya karena kebaikan nenek Gemmy saja yang membuat wanita itu masih melenggang bebas.


"Pah, tuh Arka menuduhku yang tidak-tidak" mulai dech rayuan gombal ke tuan Rendra.


Arka menatap jengah kelakuan wanita setengah tua yang tak tahu malu itu.


"Sayang, kita pergi aja. Sepertinya kita tak akan mendapatkan jawaban di sini" ucap Arka dan mengajak Tania untuk mengikutinya.


"Apa maksudmu Arka?" sela tuan Rendra.


"Ooooo...sopan juga ya cara memberitahu kami. Apalagi tunangan aja sengaja kau tak kasih kabar padaku" ucap nyonya Gaby sengit.


"Maaf nyonya, aku hanya memberitahu papa. Anda tidak datangpun juga tak ada ngaruhnya" Arka melenggang pergi meninggalkan ruang tamu mansion papa Rendra.


"Anakmu semakin ke sini semakin kurang ajar aja" sewot nyonya Gaby.


"Jangan ngatain anak semata wayangku. Aku cukup bersabar dengan kamu dan anak kamu itu selama ini" kata tuan Rendra dan berlalu ke ruang kerja dengan membanting pintu keras.


Nyonya Gaby hanya bisa menghentakkan kaki.


Cita-citanya untuk menjadikan Arkan sebagai petinggi di Panapion harus kandas karena mundurnya sang suami.


Sang suami yang telah rela menyerahkan jabatan CEO ke putra semata wayangnya, Arka Danendra.


Sementara Arka dalam perjalanan mengantar Tania pulang ke rumah.


"Sepertinya hubungan kamu dengan nyonya Gaby tak begitu baik?" seloroh Tania.


"Bukan tak begitu baik lagi, tapi amat sangat buruk" tandas Arka.


Arka menghela nafas panjang.


"Apa kau ingin cerita?" tanya Tania.

__ADS_1


"Apa kau ingin mendengar cerita tak bermutu dariku?" imbuh Arka.


"Kalau kau mau...pasti akan kudengarkan" jawab Tania.


Arka membelokkan arah mobil menuju danau yang biasa mereka berdua kunjungi.


.


Dengan duduk di tepian danau, mulailah Arka bercerita.


"Nyonya Gaby dulunya adalah sekretaris kakek ku di perusahaan. Otomatis dia juga kenal papa ku yang notabene menantu pemilik perusahaan. Awalnya dia lah yang menggoda papa tapi tak ada tanggapan dari papa. Karena papa fokus dengan kehamilan mama yang saat itu mengandung diriku" ucap Arka mengawali cerita.


"Terus bagaimana kau tau, padahal masa kecilmu aja kau lupa?" sahut Tania.


"Heemmmmm...beberapa hari lalu aku menemukan beberapa tulisan mama yang sepertinya bersambung. Lalu aku buka satu persatu" lanjut Arka.


"Aku tanyakan ke nenek, yang ternyata ceritanya hampir sama dengan tulisan mama" sambung Arka.


Tania masih mendengarkan dengan diam.


"Hingga akhirnya nyonya Gaby menikah dengan tuan Marco yang saat itu menjadi staf keuangan perusahaan sekantor dengan ayah kamu" lanjut papa.


"Dengan cara culas dan licik, dan juga bantuan nyonya Gaby akhirnya tuan Marco diangkat menjadi direktur keuangan di Panapion" Arka masih serius bercerita.


"Saat itu mama yang yang sudah bekerja kembali setelah melahirkan aku, akhirnya oleh kakek diangkat menjadi seorang CEO. Dalam masa tugasnya lah mama menemukan beberapa kejanggalan yang dibantu oleh ayah kamu. Tapi sampai mamaku meninggal, mama belum juga berhasil menemukan titik terang kasus itu" Arka kembali menarik nafas panjang.


"Apa mungkin kematian mama kamu dan juga kasus ayahku ada kaitannya?" tebak Tania.


"Terlalu dini kita menyimpulkan, aku akan fokus dulu untuk internal Panapion" tandas Arka.


"Baru beberapa hari aku di sana" lanjut Arka.


"Heemmm, aku tunggu kabar aja dari kamu" seloroh Tania.


"Itu lebih baik" Arka menarik Tania dalam dekapan. Ada rasa nyaman yang mengalir diantara keduanya.


Tertanam dalam benak masing-masing untuk segera menuntaskan masalah ini. Karena ternyata bukan hanya Tania yang ingin mengusut kasus yang menimpa sang ayah, Arka pun ingin menyelesaikan masalah di perusahaan yang belum sempat mama nya selesaikan.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Klik juga dong iklannya


💝

__ADS_1


__ADS_2