
Tania dan Arka sudah berada di sebuah warteg pinggir jalan yang juga langganan Tania. Saat menunggu pesanan, ada seorang anak kecil menghampiri mereka.
Anak kecil dengan badan lusuh dan kumal. Tania dan Arka masih saling pandang setelah melihat anak itu. Kasihan tentu saja.
Dia gadis peminta-minta. "Tuan, Nyonya sedekahnya. Ibu saya sedang sakit di rumah. Adik saya belum makan" ucapnya lirih.
Dan Arka langsung saja memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk bocah itu. Bocah itu sampai menunduk berkali-kali untuk mengucapkan terima kasih dan tak lupa mendoakan mereka berdua.
"Kau ini, kok langsung saja kasih uang segitu banyak sih?" kata Tania.
"Emang kenapa? Kasihan sayang. Dia juga sudah mendoakan kita loh" sahut Arka.
"Itu memang bener. Tapi kita kan nggak tahu di belakang mereka ada siapa. Takutnya mereka malah tak dikasih apa-apa dan uangnya diminta oleh para preman yang berkedok tip keamanan" celoteh Tania.
"Sudahlah, nggak usah dipikirin. Yang penting niat kita ikhlas" seloroh Arka.
Tania masih termangu.
"Makan nggak nih?" ajak Arka karena makanan sudah ada di depan mata.
Arka yang notabene besar dari kalangan orang berada, nyatanya tak risih kala makan di sebuah warteg.
"Emang kamu biasa makan seperti ini?" heran juga Tania.
"Biasa aja, aku juga pernah makan di warteg sama Arga. Meski nggak sering sih" Arka mengulum senyum.
Mobil berhenti di sebuah perempatan karena lampu merah masih menyala.
"Uuhhhhh...kenyangnya" ucap Tania sambil mengelus perut. Arka sampai terkekeh melihatnya.
"Kok ketawa sih?"
"Mbayangin kalau kamu ntar hamil..." seloroh Arka.
"Hah?" Tania melongo.
"Iya...saat kamu ngelus perut kamu tadi. Tiba-tiba mbayangin kalau kamu hamil nanti gimana?" Arka malah tertawa.
"Idih, nggak lucu ah" balas Tania.
"Betewe, kalau sudah nikah pingin berapa?" telisik Arka.
"Heemmmmm..." Tania nampak berpikir.
"Kembar kayaknya lucu juga ya?" selorohnya.
"Sayang, ada yang ingin kukatakan" kata Arka.
"Heem..apa? Serius amat!" imbuh Tania.
"Kamu tahu kan, riwayat sakitku?" Arka kembali menoleh ke arah Tania saat mobilnya berhenti di kemacetan.
Tania mengangguk.
"Kamu kan juga tahu, kalau kemungkinan sakitku ini juga akan menurun ke anak-anak kita" ada ragu di perkataan Arka.
Tania menggenggam tangan kiri Arka.
"Sayang, takdir sudah ada yang ngatur. Sehat, sakit, hidup meninggal sudah diatur juga. Pasrahkan aja sama yang Maha Segalanya" tandas Tania.
"Kamu yakin???" tanya Arka menegaskan.
"Yakin. Dan aku harap kamu juga begitu" imbuhnya.
"Makasih" ulas singkat Arka.
"Sayang, boleh nanya nggak?" tanya Tania.
"Apa?"
"Heemmmm...nggak jadi dech" Tania terbahak karena berhasil ngerjai Arka yang masih tampak serius.
"Oh ya sayang, berangkat ke Amerika hari apa?" tanya Tania.
"Akhir Minggu ini" jawab Arka.
__ADS_1
"Kok maju? Katanya Minggu depan?"
"Ada undangan dari Maura dan Benzema" ucap Tania.
"Perginya abis dari nikahan mereka. Kita datang bentar aja" jelas Arka.
"Baiklah" imbuh Tania.
"Oh ya sayang, kerjasama dari Smith setelah kupertimbangkan akan kuterima" beritahu Arka.
"Lho kok?" heran Tania.
"Tapi aku minta tolong sama kamu untuk menjadi perantara di antara kami. Seperti yang dia minta dulu" ungkap Arka.
"Seperti analisa kamu sebelumnya, jika ada Arkan yang berada di balik semua ini" imbuh Arka.
"Kenapa Arkan?" tanyanya. Karena saat itu Tania hanya asal tebak saja.
"Semua masih ada kaitan dengan masa lalu" lanjut Arka.
"Kok bisa?" Tania masih belum mengerti maksud ucapan Arka.
Arka menceritakan kembali kejadian di mana ayah Bagus akhirnya sampai terkena tuduhan itu.
"Sampai sekarang Arkan masih menyimpan dendam itu?" tanya Tania akhirnya.
"Tepat. Dan yang menjadi sasarannya sekarang adalah mama Rosa dan kamu" kata Arka serius.
"Hah? Bagaimana bisa?" sela Tania.
"Yaaaahhh...pikiran orang kan kita tak bisa mengatur" Arka kembali melajukan mobil pelan saat kemacetan mulai terurai. Kemacetan yang ternyata disebabkan ada kecelakaan beruntun.
"Yank...bukannya itu gadis kecil tadi?" seloroh Tania ke arah pinggir mobil.
Terlihat gadis itu tergeletak dengan beberapa orang tenaga kesehatan di sampingnya.
"Takdir sayang" ucap lirih Arka.
Banyak pelajaran hidup hari ini yang diterima Tania.
"Pulang apa balik ke kantor?" tanya Arka.
"Barangkali aja" Arka pun ikutan tertawa.
.
Sesuai perkataan Arka sebelumnya. Mereka berdua menghadiri pernikahan Benzema dan Maura Hadinoto.
Perut Maura yang terlihat membuncit pun menjadi trending topic di antara para tamu undangan.
Tania yang bersama Arka tentu saja mendapat tempat di VVIP room.
Tuan Felix juga berada di sana.
"Hai Tania" panggilnya.
"Sayang, ada tuan Felix. Yuk kukenalin" ajak Tania menggandeng Arka.
"Selamat siang tuan Arka, senang berkenalan dengan anda" ucap tuan Felix menyalami seorang Arka Danendra.
"Sama-sama tuan Felix" Arka membalas ramah.
Kedatangan Tania tentu saja juga mendapat perhatian khusus dari orang tua Benzema.
Mereka berdua mendekat ke arah Tania.
"Hai Tania, apa kabar?" sapanya membuat Tania menaikkan sebelah alisnya.
"Siapa sayang?" tanya Arka.
Tania membisikkan sesuatu ke telinga Arka.
"Oooooooo...." hanya itu yang diucapkan oleh Arka.
"Selamat siang tuan Arka. Benzema seringkali menceritakan kebaikan-kebaikan anda loh" kata orang tua yang termasuk tipe-tipe penjilat itu.
__ADS_1
Arka hanya mengulum senyum.
"Oh ya tuan Arka. Benzema itu sangat rajin loh, dan juga loyal ke perusahaan anda" mulai dech kata-kata kompornya. Batin Tania.
Arka lagi-lagi hanya tersenyum.
"Maaf tuan, nyonya kita pamit dulu. Terima kasih jamuannya" kata Arka sengaja memotong ucapan mamanya Benzema.
Mama Benzema membisikkan sesuatu, "Pintar juga tangkapanmu. Setelah membuang anakku, kau dapatkan paus".
Tania menghentikan langkahnya dan tersenyum sinis ke arah wanita yang sudah berumur itu. "Keberuntunganku juga tidak jadi punya mertua seperti anda nyonya" balasnya.
Wanita itu membelalakkan mata, kaget dengan ucapan Tania.
"Awas kau!" katanya dengan menghentakkan kaki.
"Ayo sayang" Tania kembali menggandeng mesra Arka.
"Apa yang kau katakan hingga ekspresinya seperti itu?" tanya Arka.
"He...he...ada dech" celetuk Tania terkekeh.
"Pak, langsung bandara ya!" perintah Arka.
"Siap tuan muda" balasnya. Arka sengaja membawa sopir untuk mengantarkannya ke bandara.
"Selama aku pergi, hati-hati. Jaga diri dan jaga hati" pesan Arka.
"Pesan ini juga berlaku untukmu juga loh" Tania menimpali.
"He...he...pasti" tukas Arka.
"Pandu nggak ikut yank?" tanya Tania.
"Ikut lah. Dia sudah nunggu aku di bandara" ucap Arka.
"Pasti sepi kalau kau pergi" gumam Tania.
"Cuman tiga hari yank...nanti sampai sana ku video call dech" Arka tertawa melihat Tania yang manyun itu.
"Gimana kalau kamu sama mama nginap di rumah nenek aja? Biar nggak sepi" pinta Arka.
"Nenek kutelpon ya? Kuberitahu kalau kamu sama mama mau nginap" lanjut Arka.
"Jangan dulu. Ntar kalau mama nggak mau gimana" cegah Tania.
"Kalau nggak mau ya tinggal mbatalin aja. Hal gampang jangan dibuat susah" seloroh Arka.
.
Arka dan Pandu telah masuk ke bandara. Tania masih termangu di tempat. Hampir lima belas menit Tania masih berada di sana. Selama dekat dengan Arka baru kali ini Arka pergi untuk beberapa hari, jauh lagi.
"Non, tuan muda sudah terbang. Mari kita balik!" sopir yang tadi menghampiri Tania.
"Oh ya pak" Tania mengiyakan.
"Sudah lama pak, ikut keluarga Rahardjo?" tanya Tania saat mereka berada dalam mobil.
"Sudah Non, semenjak tuan muda belum lahir" jelas sopir yang memang kelihatan sudah berumur itu. Tapi kalau melihat gesture nya, dia masih kelihatan tegap.
Tiba-tiba mobil ada yang menyenggol dari belakang. Kaget? Tentu saja.
"Pegangan Non, sepertinya ada yang mau ngajak main-main" jelas sopir yang bernama Hamzah itu.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
__ADS_1
💝
Salam sehat buat semua 🤗