
Karena Arka sedang berada di luar negeri dengan Bara, sedikit banyak mengurangi kesibukan Tania di pagi hari.
"Tania, sudah kasih kabar ke Arka belum?" tanya mama Rosa yang sibuk memandikan Arditya.
"Bukannya kebalik Mah, harusnya Arka yang kasih kabar ke aku" ujar Tania balik nanya.
"Isshhh kamu ini. Siapa yang longgar segera kasih kabar lah" ulas mama Rosa.
"Emang mama sama ayah dulu juga begitu?" pertanyaan Tania membuat mama Rosa tepuk jidat.
"Hadechhhh kamu ini" kata mama Rosa.
"Loh, aku kan cuman nanya Mah" canda Tania.
"Kalau sekarang mah enak, kangen tinggal video call aja. Kalau dulu mana ada begitu. Punya telpon rumah aja sudah luar biasa" terang mama.
"Yang penting sudah nggak pake merpati lagi buat kirim surat" kata Tania menimpali ucapan mama.
"Suka-suka kamu lah Tania, yang penting kamu bahagia" kata mama Rosa menyerah kalah bila debat dengan putrinya itu.
"Hari ini mau ke mana lagi? Kok sudah rapi?" tanggap mama Rosa.
"Ngunjungin Davina" balas Tania.
"Ke penjara lagi? Hobi banget sih?" seloroh mama untuk mengolok Tania.
"Ha...ha...ingat Mah. Anakmu ini dapat uangnya karena hobi itu" tukas Tania.
"Sekarang kan ada Arka, nggak usah terlalu capek. Arditya juga butuh perhatian kamu" kata mama Rosa menasehati.
"Iya Mah, aku juga nggak pegang banyak kasus" Tania masih saja ngeles akan nasehat mama.
"Beneran nggak nelpon Arka nih?" tanya ulang mama Rosa.
Sejenak Tania melihat jam yang nempel di dinding.
"Di sana masih dini hari Mah, ntar agak siangan aja aku hubungin" jelas Tania.
Tania terima Arditya yang barusan mandi dan tentu saja sangat wangi.
"Gantengnya anak mama, sini peluk" ujar Tania gemas.
"Kasih ASI nya atuh, sudah waktunya kan?" dijawab anggukan Tania.
"Mah, stok ASI masih kan?" tanya Tania.
"Aman, untung saja pabrik kamu melimpah ruah. Jadi nggak usah nambah susu kemasan" bilang mama.
"Iya dong Mah, kalau bisa anak kita ya dikasih produk kita sendiri" terang Tania tersenyum simpul.
Tania fokus memberikan susu buat Arditya. Karena kenyang Arditya langsung saja pulas tidurnya. Apalagi badan berasa nyaman karena habis mandi.
Tania meraih ponsel setelah meletakkan Arditya dalam box.
Dirinya keluar kamar Arditya dan hendak menelpon Angel.
"Pagi Non" terdengar suara Angel di seberang.
"Angel, sudah kamu siapkan semua belum berkas yang aku suruh kemarin?" tanya Tania.
"Siap, semua sudah disiapkan Maura" terang Angel.
"Jangan lupa, agak siangan dikit kita ke lapas" beritahu Tania.
"Oke Non, ntar aku aja yang ke rumah sekalian bawa berkas-berkasnya" tukas Angel menjelaskan.
"Baiklah" tukasTania menutup panggilannya.
"Tania, mana Arditya ku?" sapa nenek Gemmy yang kebetulan juga baru datang.
"Sekarang aja yang ditanyain cicit mulu" tanggap Tania.
"Ha...ha...cicit aku anak kamu loh Tania" ujar nenek tertawa lepas.
"Barusan tidur nek, tuh di kamar" beritahu Tania.
Nenek Gemmy menyusul keberadaan Arditya di kamar.
Sekarang Tania merasa menjadi nomor sekian dech, karena semua orang yang dicari pasti Arditya.
Kembali ponsel Tania berdering, "Siapa lagi nih?" gumam Tania sebelum melihat layar ponsel.
"Heemmmm...ternyata sudah nelpon duluan" gumam Tania sembari menyunggingkan senyum.
"Pagi sayang" sapa Tania ceria.
__ADS_1
"Pagi cintaku, sayangku, belahan jiwaku" tukas Arka sembari tertawa.
"Rasanya kok aneh banget kamu bilang begitu. Berasa sedikit lebay gitu" olok Tania.
"Issshhh jangan kau rusak deh momen romantisnya" sungut Arka di sana.
"Mana Arditya???" tanya Arka membuat sewot Tania.
"Semua yang dicari pasti Arditya dech. Pagi sekali mama Rosa, barusan nenek Gemmy dan sekarang kamu yank" terang Tania.
"Ha...ha...anak sendiri masih kamu cemburuin? Is...is...tak layak" kata Arka menirukan logat serial kartun anak yang tayang hampir tiap sore itu.
"Apaan sih? Nggak lucu" imbuh Tania.
"Arditya bobok sayang. Barusan mandi dia" jelas Tania.
"Oke lah kalau begitu. Ingat jangan sibuk-sibuk. Tetap prioritaskan Arditya" pesan Arka.
"Siap bos. Oh ya, hari ini aku ijin mau ngunjungin Davina" beritahu Tania.
"Lagi...? Ke lapas? Padahal baru aja kuingetin tuk prioritaskan Arditya" sela Arka dan dijawab anggukan Tania.
"Boleh. Tapi ingat tak lama-lama berada di sana" Arka memperingatkan.
"Siap tuan bos" Tania menimpali.
"Aku juga mau operasi darurat pagi ini" cerita Arka.
"Darurat?" telisik Tania.
"Heemmmm, operasi darurat di tenda yang disulap jadi ruang operasi. Disini juga hanya bisa pake sinyal satelit. Jaringan komunikasi masih dalam tahap pembenahan" beritahu Arka.
"Jadi kalau ponsel aku nggak bisa dihubungin jangan marah sayang" lanjut Arka.
"Begitu dapat sinyal aku aja yang akan kabarin kamu" bilang Arka.
Tania teringat akan kejadian beberapa bulan yang lalu, yang sama-sama sulit menghubungi Arka. Ada saja aral yang menghalangi komunikasi mereka saat berjauhan.
"Oke sayang. Aku ditungguin Bara nih. Sudah dulu ya. Bye. Love you My Tania" ucap Arka.
"Love you too my husband" tukas Tania. Panggilan diakhiri oleh Arka.
Baru saja telpon mati, Angel datang menghampiri.
"Kok sudah sampai aja kamu?" tanya Tania.
"Tungguin bentar, aku pamitan ke Arditya, nenek sama mama Rosa dulu" jawab Tania.
Angel duduk di ruang tengah nungguin sang bos pamitan.
.
Dan mereka berdua sudah berada dalam mobil melaju menuju lapas perempuan tempat Davina dititipkan oleh penyidik.
"Non, kok mau saja sih dikontrak oleh mereka yang jelas-jelas menjadi musuh sebelumnya?" tanya Angel penasaran.
"Ha...ha...Aku ingin mereka seperti Maura. Musuh yang menjadi karib kita" jelas Tania yang terlihat seperti bercanda.
"Idih, aku serius non nanyanya" kata Angel menimpali.
"Aku ini juga serius jawabnya. Gimana sih?" tukas Tania terbahak.
.
Seorang petugas lapas mengantar Davina untuk menemui Tania dan Angel.
Davina menatap tajam ke arah Tania.
"Untuk apa kamu ke sini? Mau mengejekku kah?" suara Davina ketus.
"Pasti kamu senang dan bahagia aku berada di sini" imbuh Davina masih dengan keketusannya.
Tania dan Angel masih diam belum berkomentar.
"Pergi saja, kalau tujuan kalian ke sini untuk itu. Bikin mual saja" imbuh Davina.
"Duduklah" suruh Tania.
"Untuk apa?" sergah Davina.
"Duduklah dulu, baru aku ceritakan" tukas Tania menimpali.
Davina duduk dengan terpaksa.
"Aku ke sini karena disuruh oleh Arkan" kata Tania dengan jelas.
__ADS_1
"Hah? Aku tak salah dengar?" telisik Davina.
Tania mengangguk.
"Mana mungkin Arkan menyuruh kamu. Dia saja sudah bangkrut sekarang" tukas Davina.
"Darimana kamu tahu kalau Arkan bangkrut? Aku baru bertemu kemarin dengannya. Dan dia menitipkan ini untuk kamu" bilang Tania sambil menyerahkan sebuah paper bag untuk Davina.
Davina hanya melihatnya sekilas tanpa mau menyentuh barang yang diserahkan oleh Tania barusan.
"Arkan menyuruhku untuk menjadi pengacara buat mu. Dan aku akan mendampingi kamu selama proses hukum berjalan" terang Tania.
Davina mulai percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tania.
"Aku tak punya uang untuk membayar kamu. Semua uangku dibawa kabur oleh mantan manager aku" tukas Davina.
"Arkan pun sudah cerita hal itu" imbuh Tania.
"Bahkan Arkan juga sudah cerita kalau kamu sedang hamil anaknya" lanjut Tania.
"Lantas?"
"Dia akan bertanggung jawab akan hal itu" jelas Tania.
"Bagaimana mau bertanggung jawab? Dia saja berada di balik bui sekarang" kata Davina sesuai fakta yang ada.
"Benar, dan Arkan pun tak mengelak akan hal itu. Makanya beri kesempatan Arkan untuk menebus kesalahannya padamu dengan menyetujui aku menjadi pembela kamu saat persidangan nanti" terang Tania panjang lebar.
"Lantas, apa yang harus aku lakukan?" tanya Davina berikutnya.
"Tanda tanganilah berkas ini. Dengan ini kamu memberi kuasa padaku untuk membela kamu nantinya" jelas Tania.
"Mana?" Davina meminta berkas kerjasama itu didekatkan padanya untuk ditanda tangani.
"Oke, aku pergi dulu. Jangan lupa bukalah kiriman dari Arkan itu" ucap Tania sembari beranjak dari duduk diikuti oleh Angel.
"Makasih" kata Davina singkat.
Davina meraih paper bag yang dibawain Tania dan membukanya.
Sebuah buku tentang kehamilan, beberapa vitamin dan juga sebuah tulisan pesan yang ditulis langsung oleh Arkan.
Davina masih saja duduk dan termenung di sana.
.
"Angel sekalian mampir ke Arkan, siapkan semua berkas yang dibutuhkan" suruh Tania.
"Beneran ini Non?" Angel meyakinkan dirinya sendiri atas keputusan Tania sang bos.
"Heemmmmm..." jawab Tania.
"Setelah ini akan aku dalami kasus yang dituduhkan pada Arkan" lanjut Tania.
"Apa pada kasus ini azas praduga tak bersalah tetap digunakan?" celetuk Angel.
"Masih, sebelum palu hakim diketuk...he...he..." ujar Tania terkekeh.
"Heleh, aslinya non juga tahu kan. Kalaulah Arkan adalah penjahatnya penjahat" terang Angel.
"Hemmm..." angguk Tania.
"Pak, kita ke lapas yang kemarin ya" suruh Tania ke sopir yang telah ditunjuk oleh Arka untuk mengantar sang istri ke manapun perginya.
"Enak ya Non, kemana-mana tinggal merintah aja" sela Angel.
"Tinggal gimana kita menyikapinya saja" ulas Tania.
"Tahu nggak, pak sopir di depan itu pasti laporan ke bos nya. Hari ini mengantar aku ke mana saja. Begitu kan pak?" kata Tania ditujukan ke pak sopir di depan.
"He...he...iya nyonya muda" jawab pak sopir menyengir kuda.
"Ha...ha...jadi berasa dimata-matai yaaa" kali ini Angel tertawa dengan lebarnya.
Sebuah roti tepat mendarat di mulut yang sedang tertawa lebar. Ulah siapa lagi kalau bukan ulah Tania.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
π