
"Pandu, kau kenal nggak dengan wanita di resto tadi?" tanya Tania saat mereka dalam perjalanan menuju ke mansion nenek.
"Davina, putri tuan David" celetuk Pandu.
"Cowok yang bersamanya?" imbuh Tania.
"Nggak kenal Nona" jawab Pandu lugas.
"Kirain kenal" sebut Tania.
"Davina itu wanita seperti apa sih?" tanya Tania lagi.
"Yang pasti dia nggak sebanding dengan anda Nona" sahut Pandu.
"Issshhhh kau apaan sih. Ojo dibanding-bandingke" seloroh Tania sambil menyanyikan lagu.
"Ah Nona tau aja lagu yang lagi viral tuh...he...he...." seloroh Arka terkekeh.
"Lha gimana, saben hari muncul di beranda. Jadi tau dech. Sering didengerin, ternyata enak juga lagunya" Tania menimpali.
"Kau belum jelasin loh, gimana si Davina itu" kata Tania yang masih ingat dengan pertanyaannya ke Pandu.
"He...he...apanya yang dijelasin Nona. Gosipnya sih dia bukan wanita baik-baik" imbuh Pandu.
"Oooooo...." kata Tania ber 'O' lagi.
Sebuah notif pesan masuk ke ponsel Tania.
"Sudah di rumah nenek belum?" bunyi pesan yang ternyata dari dang suami.
"Otewe nih" balas Tania.
"Oke, ntar kususul ke sana. Ni lagi sidak proyek sama papa" bilang Arka dalam ketikan.
"Oke" balas Tania menambahkan emoji love dalam akhir ketikan.
Sampailah Tania di mansion nenek.
"Siang nek" sapa Tania saat melihat nenek Gemmy sedang berada di taman depan mansion.
"Siang-siang kok panas-panasan Nek?" Tania gabung dengan nenek yang sedang berkecimpung di kebun bunga.
"Kan ada pohon yang naungi, jadi nggak berasa panas" jelas nenek. Tania juga merasakan angin sepoi di bawah pohon rindang itu.
"Berhubung kamu sudah datang, ayo masuk aja" ajak nenek Gemmy setelah mencuci tangan.
Tania merangkul nenek dengan rasa sayang.
"Idih, manjanya cucu nenek" nenek Gemmy merasa senang dengan sikap manja Tania. Karena nenek tak pernah merasakan manjanya Arka sang cucu.
"Arka mana?"
"Masih sidak proyek bilangnya tadi" jelas Tania.
"Dia memang pekerja keras. Kamu tahu nggak, sebenarnya dia itu tanpa Panapion sudah berdiri tegak" terang nenek.
"Maksudnya nek?"
"Kamu tahu bengkel yang dikelola Arga?" dan Tania pun mengangguk.
"Itu salah satu usaha cucu nenek, tanpa bantuan dari Rahardjo grub" imbuh nenek.
"Masih banyak yang lain. Apa Arka nggak cerita?" kata nenek.
__ADS_1
"Cerita sih. Tapi hanya sekilas sekilas" tukas Tania.
"Malah Arka pernah bilang, kalau ingin secepatnya mempunyai anak untuk menjadi penerusnya di Rahardjo grub. Agar dia secepatnya pensiun dini dari CEO. Aneh nggak sih nek?" kata Tania tertawa.
"Dasar si Arka" Nenek ikutan tertawa menanggapi.
Mereka berdua duduk di ruang keluarga. Ngobrolin hal-hal konyol.
Kehadiran Tania dalam keluarga Rahardjo menjadi penyejuk tersendiri bagi nenek Gemmy. Telah lama orang tua itu kehilangan teman ngobrol, semenjak mama Arka berpulang. Rasa sepi itu ditambah lagi dengan kepergian kakek Rahardjo.
"Sering-sering ke sini. Temani nenek ngobrol" minta nenek.
"Oh ya, apa kamu masih kerja di biro hukumnya Hadinoto?" tanya nenek.
"Iya nek" jawab jujur Tania.
"Masih ada klien yang mau mampir ke sana?"
"He...he...klien lama nek. Kalau yang baru mana mau mampir. Yang punya kantor aja kena kasus" bilang Tania.
"Apa yang kamu cari di sana?" kata nenek penasaran.
"Bukannya apa yang kau tuju sudah dapat. Sekarang Gaby, Hadinoto dan juga William telah mendapatkan apa yang harus mereka dapatkan" terang nenek.
"Arka juga bilang begitu nek" timpal Tania.
"Buka biro hukum sendiri saja. Sudah punya ijin apa belum?" saran nenek.
"Ijin advokat nek? Ya pasti punya lah. Untung saja sudah aku urus saat selesai masa magang kemarin, sebelum tuan Hadinoto keciduk" jelas Tania.
"Bilang Arka" tambah nenek.
"Aku nggak mau ketergantungan dengan suami nek" ucap Tania.
"Sudah menjadi kewajiban Arka untuk membantu mewujudkan impian kamu" sela nenek.
"Iya nek. Aku juga ingat kok kalau Arka Danendra itu suami dari Tania Fahira...he...he..." jawab Tania terkekeh. Nenek tersenyum menanggapi ucapan Tania.
"Kalau nenek boleh kasih saran, buka biro hukum sendiri atau fokus saja sama keluarga yang baru kau bina sama cucu nenek" ucap serius nenek.
"Fokus buat cicit ya nek" suara Arka terdengar dari pintu depan.
Tania ikutan malu mendengar perkataan Arka.
"Nah, tumben kau benar Arka" tukas nenek.
"Ha...ha..." Arka terbahak.
"Yank, mulai besok kau ambil cuti aja. Fokus buat pesta pernikahan yang tinggal menghitung hari" ucap Arka.
"Heemmmm" Tania nampak berpikir.
"Betul apa yang dikatakan suami kamu. Nenek juga ikutan setuju" imbuh nenek.
"Persiapannya nek?" Arka menimpali.
"Nggak usah kau pikirkan. Nenek sudah ada tim tersendiri buat nyiapin" bilang nenek.
"Sombongnya...nenek siapa sih?" gurau Arka.
Tania hanya ikutan tertawa menanggapi candaan Arka.
"Yank, gimana pertemuan tadi?" Arka menengok ke arah Tania.
__ADS_1
"Bukannya Pandu sudah laporan sama kamu?" Tania balik bertanya.
"Sudah sih" tukas Arka.
Nenek beringsut dari duduk. Memberi kesempatan Tania dan Arka untuk melanjutkan obrolan.
"Nenek mau ke mana?" tanya Tania.
"Kedua cucu nenek sudah datang, nenek musti nyiapin sesuatu buat kalian" kata nenek.
"Nggak usah repot nek, kasih aja bunga" gurau Arka.
"Bunga....?" bengong nenek.
"Bunga Bank" jawab Arka semakin terbahak melihat ekspresi nenek yang bingung.
"Dasar!!!!" umpat nenek Gemmy.
Sepeninggal nenek.
"Nenek tahu aja apa yang aku mau" kata Arka dengan arah mata menunjuk sesuatu yang menonjol di balik baju atasan sang istri.
"Ih, mesum" tukas Tania.
"Bukan mesum sayang, tapi aku kecanduan" gaya Arka sudah menirukan orang sedang mabuk.
Membuat Tania pun menertawakan gaya bicara Arka.
"Sayang, kau pasti tak mengira aku ketemu Davina di resto yang ditunjuk tuan Smith" celoteh Tania.
"Biasa saja" kata Arka.
"Makanya dengerin dulu. Aku belum selesai cerita" sungut Tania.
Arka memandang Tania.
"Davina tadi menggandeng mesra si Arkan" jelas Tania.
"Bahkan si Davina tadi manggil sayang ke Arkan" imbuh Tania.
"Wah, ada yang nggak benar ini" seloroh Arka.
"Kenapa?" tanya Tania.
"Davina mendekat ke arah aku, Arkan dan Smith mendekat ke kamu. Jangan-jangan ini hanya trik agar misi mereka segera selesai" gumam Arka bermonolog.
"Misi apa?" kejar Tania.
"Misi untuk mengancurkan kita berdua.
"Tania, Arka?" panggil nenek kepada kedua cucunya untuk makan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
__ADS_1
💝
Salam sehat buat semua 🤗