
Arka melanjutkan semua proses pemeriksaan yang sempat terhenti karena makan siang.
"Kita lanjutin untuk pemeriksaan kekuatan massa otot kamu" bilang dokter Jack.
"Baiklah. Kapan kita mulai?" tukas Arka.
" Come on" ajak dokter Jack.
Ponsel Tania berdering dan didapatinya nenek Gemmy lah yang sedang menelpon.
"Halo nenek sayang" kata Tania menyapa.
"Lagi ngapain aja di Amerika. Oh iya Arka di mana?" telisik nenek.
"Bentar ya nek, cucu nenek yang paling cakep sedang di kamar mandi" Tania mencari alasan agar nenek Gemmy tak curiga kalau mereka sedang berada di rumah sakit sekarang.
"Siapa sayang?" sela Arka yang sedang terpasang berbagai macam alat di tubuh.
"Nenek" kata Tania berbisik.
"Sepertinya aku dengar suara Arka" kata nenek yang ternyata masih peka sekali pendengarannya.
"Bukan kok nek" kata Tania sembari menutup mulut, karena telah berbohong pada nenek Gemmy.
"Terus siapa tadi yang bicara? Putar kamera kamu sayang" pinta nenek kepada Tania.
'Matih gue' pikir Tania. Nenek Gemmy pake acara nggak percaya lagi.
"Eh nek, bentar ya. Aku mau ke toilet nih" seloroh Tania beralibi. Sungguh pintar pengacara satu ini berdalih.
"Oke, kalau selesai hubungin nenek. Aku mau bicara sama Arka" potong nenek kekeuh ingin berbicara dengan Arka.
Sampai sore Tania tak kunjung menghubungi nenek Gemmy sesuai permintaan.
Bahkan sampai Arka menyelesaikan semua proses pemeriksaan.
"Oke, kita tunggu dua tiga hari mendatang. Kalau hasil jadi kuhubungin dech" kata dokter Jack mengakhiri acara pemeriksaan hari ini terhadap diri Arka.
"Aku berharap, smoga semua baik-baik saja dok" kata Tania menimpali.
"Aamiin" Arka mengaminkan doa sang istri.
"Oh ya dok, apa punya rekom dokter obgyn?" sela Arka.
"What? Your wife pregnant?" tukas dokter Jack belum percaya.
"Belum dok. Doakan saja semoga perutku segera isi" imbuh Tania.
"Ha...ha...bukannya sudah terisi nasi waktu makan siang tadi" dokter Jack malah terbahak menanggapi kelucuan Tania.
"Aku mau konsultasi. Istriku baru selesai operasi dengan kehamilan tuba yang pecah" cerita Arka.
"Ektopic pregnant" sahut dokter Jack.
"Yes, it is" Arka menimpali.
"Dokter Robinson, dia sangat ahli di bidang itu" kata dokter Jack.
Dia membuka ponsel dan memberikan nomor dokter Robinson ke Arka.
"Bilang aja, kalau kau temanku" bilang dokter Jack.
"Oke" jawab Arka.
Arka dan Tania pamitan ke dokter Jack.
"See you three days a go doc" pamit Arka.
" Done come before i call you" beritahu dokter Jack.
__ADS_1
.
"Begini kok bilangnya mau pergi sebentar" kata Tania saat mereka baru saja masuk taksi.
"Rencananya cuman bentar yank. Semua pemeriksaan harusnya diagendakan besok. Berhubung kamu ikutan, ya sekalian aja. Besok kita bisa jalan-jalan" terang Arka.
"Wah, kita bisa ke menara Eiffel dong" sela Tania.
Arka memegang kening Tania, "Nggak demam?" celetuk Arka. "Nggak lagi ngigau juga" lanjut Arka.
"Apaan sih yank?" tukas Tania sambil menepis telapak tangan Arka yang sedang menempel di dahinya.
"Hei, ibu pengacara. Kita sekarang bukan di Paris, tapi di Amerika. Mana ada menara Eiffel di sini" terang Arka.
Tania yang baru teringat, malah terbahak.
"Bodoh...bodohnya aku...ha...ha..." tukas Tania sambil menepuk jidat beberapa kali.
"Yang ada di sini patung Liberty" terang Arka kemudian.
"Nah itu yang kumaksud, tapi aku lupa barusan" sahut Tania.
"Idih, bilang aja tak tahu. Pakai acara ngeles lagi" timpal Arka terkekeh.
"He...he..." Tania ikutan terkekeh.
"Yank, mumpung di sini. Kamu ada niatan ajak aku kemana gitu?" tanya Tania.
"Emang kamu mau ngajak ke mana?"
"Las Vegas. Katanya di sana pusat belanjanya Amerika. Banyak hiburan juga kan?" imbuh Tania.
"Asal jangan ngajak main ke kasino aja" gumam Arka.
"Kamu bilang apa yank?" telisik Tania.
"Tapi kalau mau ke sana jarak tempuhnya lumayan jauh loh" terang Arka.
"Berapa lama?" sela Tania.
"Bisa lima jam an lebih" terang Arka.
"Oòoooooo jauh juga ya...?" sahut Tania.
"Hemmm, nggak usah ke sana aja" terang Tania.
"Kok nggak jadi?" telisik Arka.
"Katanya jauh?" imbuh Tania.
.
Sambil menunggu hasil pemeriksaan yang masih beberapa hari, Arka mengajak Tania ke Las Vegas seperti yang diminta oleh sang istri.
Tentu saja Tania sangat senang menyambutnya.
"Yank, beneran boleh nih? Kugesek kartu ini beberapa kali?" tanya Tania meminta persetujuan.
"Itu sudah menjadi hak kamu. Yang penting kamu bisa bijak untuk memakainya" terang Arka.
Melihat tas yang sangat diingininya, Tania melototkan matanya dengan tajam.
"Ini beneran yank?" tatapannya masih tak beralih dari tas itu.
"Apanya?" sela Arka.
"Harganya?"
"Heemmmm" gumam Arka.
__ADS_1
"Nggak jadi dech. Mendingan buat beli unit apartemen aja uangnya" Tania beringsut menjauh dari barang itu.
Arka hanya tertawa menanggapi.
"Terus, kamu ngajak ke sini mau ngapain? Di sini surganya belanja loh" jelas Arka.
"Nggak ah. Mendingan ditabung aja" tolak Tania dan kembali memasukkan kartu saktinya.
'Dia memang langka' batin Arka.
Arka memberi kode ke orang yang membersamai mereka di toko itu untuk membungkus barang yang diingini oleh Tania. Dan minta dikirim ke tempat mereka menginap. Kalau saat ini dibawa pasti Tania akan tegas menolak.
Tania menggandeng Arka hanya untuk sekedar jalan.
"Secangkir kopi aja, aduh mahalnya" keluh Tania.
"Ha..ha...ini Amrik yank, bukan Indo" tukas Arka.
"Balik hotel aja yuk. Capeknyo" ulas Tania.
"Beneran balik, ntar nyesal" kata Arka penuh arti.
"Nggak kok, beneran" imbuh Tania.
Dengan semangat Arka menarik tangan Tania. Dia berharap untuk segera sampai di kamar hotel dan mengungkung sang istri di bawah selimut.
Sudah lumayan lama Arka bersolo...he...he...
.
Tak terasa dua hari mereka di Las Vegas, meski seharian terakhir banyak mereka habiskan di kamar hotel tanpa pergi kemanapun.
Arka tak membiarkan Tania beringsut dari pelukannya.
Rasa capek yang mendera, membuat Tania tak banyak kata dan mengikuti apa yang jadi kemauan sang suami.
"Yank, besok pagi kita ketemu dokter Jack" obrol Arka.
"Sudah jadi kah hasilnya?" tanya Tania dengan mata terpejam.
"Sepertinya begitu. Barusan dokter Jack mengirimiku pesan" tukas Arka tak henti-hentinya menciumi puncak kepala sang istri.
Tania masih saja betah di pelukan sang suami, tanpa mau mengurainya.
"Kamu nggak mandi? Atau mau kupelukin terus" imbuh Arka bercanda.
"Capek aku yank, badan ku rasanya lesu tak bertenaga" keluh Tania.
"Ntar dua ronde lagi ya?" kata Arka terus saja dengan candanya.
"Iiiihhhh lututku aja sudah nggak mampu menopang tubuhku nih. Masih dua ronde lagi?" seloroh Tania bersungut.
Arka terbahak. Tanpa diminta, diangkatnya tubuh sang istri.
"Mandilah biar seger. Air hangat nya sudah siap" suruh Arka dan menaruh tubuh sang istri di bath up.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
💝
Maafin othor, ngelag update. Nggak tahu kenapa, bayi-bayi pada suka lahir di awal tahun. Buat othor mojok dulu melihat mereka...he...he....
__ADS_1