
Masih di parkiran rumah sakit, Arga segera melakukan hal yang dirasa bisa dilakukan secepatnya.
Dalam mobil, dia keluarkan laptop andalan untuk segera mencari kepemilikan nopol yang diberikan oleh pak Hamzah.
"Shiiitttttt...nomor bodong yang dipakai" umpatnya.
"Kalau gitu, aku harus bica curi data dari kamera mobil. Bisa jadi itu sekarang juga sudah jadi barang bukti" gumam Arga.
"Apalagi mereka anggap itu kecelakaan tunggal" Arga masih saja bergumam sendirian.
"Ah, apa sebaiknya aku retas cctv bandara aja ya?" Arga masih belum menjalankan mobil. Malah dengan cekatan tangannya bergerak kembali di atas laptopnya.
Dengan menjentikkan kedua jari, "Akhirnya ketemu juga" ucap Arga.
"Hhhmmm, sepertinya ini bukan orang-orangnya Smith dan Arkan. Aku tak pernah kenal wajah mereka" kata Arga dengan mengezoom gambar yang ada di layar laptopnya.
"Tak mungkin Arkan akan mempercayakan tugas mereka ke orang baru, jika seandainya mereka benar orangnya dia" Arga mengetukkan jari ke kening.
"Musuhmu siapa lagi Arka?" tanya Arga bermonolog.
Tepat saat melamun, ponselnya berbunyi.
"Heemmmm, sudah nelpon aja dia" ucap Arga dengan tangan mengusap layar ponsel.
"Halo, kau pakai pintu doraemon ya? Cepat sekali kau sampai" sambut Arga mengawali pembicaraan.
"Sampai mana? Sudah kau temukan titik keberadaan Tania?" berondong Arka dengan segala pertanyaan.
"Isshh kau ini. Menemukan Tania sekarang bagai mencari jarum di tumpukan jerami" sergah Arga.
"Kususul kau ke bandara" lanjut Arga.
"Bukannya tinggal cari titik keberadaan Arkan dan Smith, pantau pergerakan mereka!" tandas Arka.
"Bukannya anak buah kamu sudah melakukannya? Apa hasilnya?" tanya balik Arga.
"Terus kau sendiri apa yang kau lakukan selama aku dalam perjalanan?" telisik Arka.
"Ongkang kaki. Puas???" jawab Arga jengah.
"Intinya tunggu aku di bandara, ntar kujelasin" imbuh Arga.
"Ketemu di apartemen aku aja" tukas Arka di seberang.
"Siap bos" jawab Arga menutup panggilan.
Pembicaraan serius diantara Arka, Arga dan juga Pandu saat sudah berada di apartemen Arka.
Arga masih berpegang pada analisa nya. Kalau yang melakukan ini bukanlah Arkan dan Smith.
"Apa ada yang dicurigai selain mereka?" tanya Arka.
"Coba kau ingat lagi, kira-kira Tania punya musuh yang lain atau nggak?" sela Arga.
"Tuan ingat nggak, saat Non Tania pergi naik ojek online itu? Yang berakhir di kantor polisi?" tanya Pandu.
"Pasti lah aku ingat. Saat itu kan dalangnya juga si Arkan sialan itu" ucap Arka menimpali.
"Bukannya waktu itu Non Tania merasa aneh dengan salah seorang rekan kerjanya yang tiba-tiba sangat baik padanya" ulas Pandu.
"Maksud kamu tuan Felix?" tukas Arka.
"Heemmmm, itu yang aku maksud" jawab Pandu.
__ADS_1
"Sepertinya aku sendiri di sini yang tak paham" sela Arga.
"Sebaiknya kau kerahkan anggota kita untuk mengikuti Felix. Barangkali analisamu benar" perintah Arka.
"Baik tuan" jawab Pandu sambil beranjak untuk menelpon seseorang seperti yang diperintahkan Arka.
Arga pun menunjukkan hasil temuan gambar yang tadi. "Jelas mereka bukan orangnya Arkan dan Smith" tunjuk Arga ke arah gambar.
Mata Arka memicing untuk melihat gambar yang terlihat sedikit buram karena dizooming oleh Arga.
"Sepertinya aku pernah melihat wajah ini" kata Arka sambil mengingat sesuatu.
"Aaahhaaaaa...aku ingat. Dia orang yang juga datang di pernikahan anak buahku. Benzema" imbuh Arka.
"Lekas kau hubungi dia!" ujar Arga.
Arka melakukan panggilan dengan Benzema. Sementara Benzema yang sedang menikmati manisnya bulan madu kaget karena sang bos besar sedang menelpon.
"Siapa sih, gangguin orang aja. Nggak tahu apa kalau kita sedang honeymoon" omel Maura. Sementara Benzema menempelkan jari telunjuk pertanda supaya Maura diam.
"Selamat siang tuan Arka, ada yang bisa dibantu?" tanya Benzema membuat Maura terkicep. Karena baru tahu siapa yang menelpon.
"Aku kirim kau sebuah foto seseorang. Apa kau mengenalnya?" tanya Arka.
"Baik tuan , saya lihat dulu. Nanti aku kabari kembali" jawab Benzema sopan dan segan. Segan karena Arka sudah begitu baik padanya, yang jelas-jelas telah melakukan kesalahan yang besar untuk perusahaan.
"Nelpon cuma untuk mengenali orang yang dia kirim? Aneh" sela Maura.
"Diam dulu. Apa kau mau aku dipecat gara-gara tak menuruti perintah?" balas Benzema yang membuat Maura manyun.
Benzema membuka notif pesan dari Arka sang bos.
"Kok aku tak mengenalnya ya?" gumam Benzema.
"Siapa sih?" Maura ikutan nimbrung karena penasaran dengan celetukan Benzema.
"Kok kamu lupa sih sayang? Dia kan datang ke pesta kita waktu itu. Dia Beno, pengawal pribadi tuan Felix" jelas Maura gamblang.
"Tapi kenapa tuan Arka menanyakan dia ya?" Benzema garuk kepala.
"Lekas kau beritahu tuan Arka, daripada pekerjaan kamu yang beresiko" suruh Maura.
Benzema mengirim pesan ke Arka, memberitahukan bahwa orang yang dimaksud adalah Beno. Pengawal pribadi tuan Felix.
Arka menunjukkan pesan yang dikirimkan oleh Benzema.
"Tuh kan, benar yang aku bilang. Kali ini tak ada kaitan dengan Arkan dan juga Smith" imbuh Arga dan dijawab anggukan Arka.
"Kalau benar dia? Motifnya?" sela Arka.
"Bisa saja laki-laki berumur itu naksir calon istri kamu" jawab Arga ngasal, membuat Arka sewot.
Pandu menghampiri Arka dan Arga. "Anggota kita sudah menemukan keberadaan tuan Felix tuan" beritahunya.
"Sasar juga semua kemungkinan tempat yang dua hari terakhir dia berada" saran Arga.
"Siap tuan, semua juga sudah berpencar seperti yang anda bilang" tukas Pandu.
"Asisten kamu sudah bisa diandalkan. Sepertinya tenaga ku nggak begitu dibutuhkan lagi" sempat-sempatnya Arga bercanda di tengah kegalauan Arka.
Tinju Arka mendarat di lengan Arga.
Arka terus mengikuti titik lokasi keberadaan tuan Felix lewat kiriman salah seorang anggotanya.
__ADS_1
"Heh, bukannya itu ke arah kawasan wisata gunung itu" sela Arga.
"Di sana banyak vila mewah. Pandu, suruh anak buah kamu menyisir duluan, barangkali ada vila atas nama Felix ataupun Hadinoto" ujar Arga.
"Kita bisa langsung ke sana tanpa menunggu dia sampai" Arga masih meneruskan kata-katanya.
"Butuh waktu empat jam lewat perjalanan darat kalau kita mau menyusul ke sana" lanjut Arga.
"Pandu, siapkan heli!!!" perintah Arka.
"Sultan mah bebaaasssss" Arga menimpali perintah Arka barusan dengan candaan khas Arga.
"Ini hanya asumsiku loh Arka, bisa saja Tania tak berada di sana" imbuhnya lagi.
"Tapi aku yakin Tania ada di sana" sela Arka.
Pandu kembali melaporkan apa yang diperintahkan Arka.
"Tuan, heli sudah siap. Mengenai kepemilikan vila. Milik tuan Hadinoto diinfokan sekarang sedang dipakai sendiri oleh keluarganya. Tak jauh dari situ, tuan Felix memang punya sendiri" jelas Pandu.
"Anak buah kita suruh meluncur ke sana duluan. Yang di sana suruh bersiaga. Arga kita berangkat!" suruh Arka.
"Siap bos" Arga berdiri mengikuti langkah Arka.
Pandu pun mengiringi mereka berdua.
Saat ini mereka bertiga telah berada di atas awan lagi. Arka dan Pandu yang belum sempat istirahat sangat nampak gurat kelelahan di wajah keduanya.
Semua terdiam dengan pikiran masing-masing.
.
Sementara Tania dihampiri oleh wanita bernama Winda karena kepergok telah bangun dari efek bius.
"Pintar juga kau menipu kami Nona Tania" ucapnya sinis.
"Kau juga pintar" sanggah Tania.
"Apa maksud kamu Nona?" hardik Winda.
"Pintar memutarbalikkan fakta. Bukannya kau yang menipu dengan menculikku. Malah aku yang dituduh menipu" ulas Tania.
"Ha...ha...ternyata anda juga pandai bicara Nona. Apa karena mulut besar kamu itu, hingga tuan sangat terobsesi denganmu" imbuhnya.
"Apa peduliku" kata Tania sengit.
"Apa kau tak penasaran dengan siapa yang memerintahkan kami? Jika kau tau pasti kau akan pingsan" ledek wanita yang bernama Winda.
"Winda, kau ngobrol sama siapa?" tanya seorang laki-laki dari balik pintu.
Tania terperangah melihat wajah laki-laki itu. Wajah yang lumayan familiar, tapi Tania tak mengenal namanya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
__ADS_1
💝
Salam sehat buat semua 🤗