
Pandu melajukan mobil ke tempat yang telah disepakati bersama dengan Tania yang telah tertidur di belakang.
"Aman tuan. Tiga puluh menit lagi sampai" kirim pesan Pandu saat berhenti di sebuah perempatan.
Pandu mencoba membangunkan Tania yang masih saja lelap setelah sampai tujuan.
"Bagaimana ini? Kenapa nyonya muda tak bangun-bangun juga" keluh Pandu sambil menggaruk kepala nya yang tak gatal.
"Nyonya muda, kita sudah sampai" beritahu Pandu mengulangi untuk membangunkan Tania.
Sedetik, dua detik...tik...tok...tik...tok...sampai semenit. Belum bangun juga.
"Kebakaran...kebakaran..." teriak Pandu membuat Tania terkaget dan terbangun.
"Di mana? Di sini aman kan?" sela Tania membuat Pandu terbahak.
"Kok malah ketawa sih?" sungut Tania.
"Abisnya nyonya muda tidurnya lelap banget, makanya aku teriak kebakaran supaya nyonya bangun" tukas Pandu.
"Kita di mana ini?" tanya Tania.
"Kita sudah sampai di tempat rapat nyonya" beritahu Pandu.
"Bukannya ini vila? Ngapain rapat di vila? Pemborosan ini namanya" bilang Tania.
Pandu hanya bisa menepuk jidat. Urusan hemat menghemat, nyonya muda paling jago di sini.
"Berapa kau sewa vila ini?" tanya Tania masih saja membahas.
Pandu bingung harus menjawab bagaimana. Karena vila ini milik pribadi tuan Arka.
Tania melihat sekeliling. Tak sengaja dia melihat sekelebat tubuh Arka, tapi segera ditepis dari otaknya. Ah halusinasiku muncul lagi. Tania geleng kepala untuk mengusir bayang-bayang Arka.
"Silahkan nyonya muda, ruangannya di sana" lanjut Pandu mengarahkan tangan ke ruangan yang dimaksud.
Saat masuk, ruangan masih sepi. Tak ada siapapun.
"Pandu, kok sepi? Kamu lagi nggak bohongin aku kan?" tengok Tania ke arah Pandu.
"Beneran nyonya muda. Ini tempatnya" kata Pandu penuh keyakinan.
"Ah kau pasti ngeprang dech" kata Tania tak percaya.
Tania berbalik dan hendak keluar ruangan.
"Kejutaaaaannnnnn!!!!!!!" ucap mama Rosa.
"Eh..kok?" Tania masih tertegun.
"Kejutan dalam rangka apa ini? Barusan juga ulang tahunku lewat" kilah Tania.
"Nggak dalam rangka apa-apa sih. Pingin aja" tukas mama Rosa.
"Nggak nak, kita cuman mau bikin syukuran kecil-kecilan atas kehamilan kamu yang hampir empat bulan ini" sela nenek Gemmy.
"Semoga sehat selalu, ibu dan bayi sehat. Kehamilan dan persalinan dilancarkan. Aamiin" doa nenek Gemmy dan semua yang hadir di sana.
Nampak juga papa Rendra dan beberapa direktur Panapion di sana.
Tumpeng besar di bawa masuk.
Nenek Gemmy ternyata juga mengundang seorang ustadz untuk memberikan tausiyah di acara itu.
Tania kembali melihat sekelebat bayangan Arka.
__ADS_1
"Ada apa aku ini?" batin Tania bermonolog.
"Sehari ini sudah berapa kali bayangmu hadir. Apa sebegitu kangennya diriku padamu" tanya Tania pada hatinya.
Tania beranjak hendak mengambil air minum di ruang sebelah.
"Mau ke mana?" bisik mama yang tak ingin berisik karena yang lain sedang mendengar tausiyah.
"Ambil minum dingin Mah" bilang Tania.
"Oke, baiklah" imbuh mama.
Di pintu Tania tertegun, dilihatnya Arka berdiri dengan menyandar di pintu lemari pendingin dan tersenyum ke arahnya.
"Kenapa nampak nyata sekali?" gumam Tania.
Sedetik kemudian Tania menggeleng dan terus saja melangkah ke arah lemari pendingin itu.
Dia berjalan dengan menunduk karena tak ingin lagi melihat bayangan Arka yang selalu ada di mana-mana.
Saat sampai di dekat kulkas, tak sengaja Tania menubruk badan seseorang.
Bruuukkkkkk....
"Awh..." Tania menepuk jidat.
Matanya membelalak. Apa benar real orang yang ada di depannya sekarang? Pikir Tania.
Dia toel pipi orang itu. Dan nyata.
"Apa yang kau lakukan? Tak inginkah kau memelukku?" katanya barusan.
Tania menangis. Rasa haru karena sangat bahagia dirasa.
"Kau jahat" kata Tania memukul pelan dada bidang itu.
"Suami datang bukannya dipeluk, malah dipukulin" kata Arka sambil merengkuh pundak sang istri untuk ditaruh di dadanya.
Tania memeluk erat Arka, tapi tetap dengan tangisannya.
"Kenapa ibu hamilku mellow sekali?" canda Arka.
"Kau jahat. Hiks" Tania belum bisa membendung air mata bahagia itu.
"Apa tak ada kata yang lain selain jahat?" gurau Arka.
Arka menghapus air mata sang istri.
"Tuh, sudah ditungguin para tamu undangan. Yuuuk kita ke sana" dia gandeng lengan sang istri.
"Nih, si bintang utama sudah gabung lagi. Kita mulai doa nya ustadz" celetuk nenek kepada ustadz Fikri.
Acara berlangsung lancar hingga akhir.
"Tania, gimana kejutannya? Kaget nggak?" ucap Arga kala tamu sudah banyak yang berpamitan.
"Biasa ajah" tukas Tania.
"Heemmm, tadi ada yang ngira kalau aku hanya bayangan loh" gurau Arka di antara keluarga.
Cubitan Tania pun mendarat di lengannya.
"Heeiiii...KDRT nih namanya. Belum cukup kah kau bilang aku jahat?" kata Arka sok pasrah.
Asa itu kembali muncul dengan sekembalinya Arka Danendra.
__ADS_1
Tania amati Arka dari atas ke bawah. Sampai bawah dia ulang lagi ke atas.
"Ada apaan?" tanya Arka penasaran.
"Kau masih utuh kan? Nggak kurang suatu apapun?" tanya Tania mengundang gelak tawa yang lain.
"Non, emang kalau ada yang nggak utuh mau kau tolak gitu? Kasihkan aku aja" sela Angel yang juga hadir dan dijawab cibiran oleh Tania.
"Eh tuan Arka, giliran anda sekarang jaga Nona baik-baik" kata Angel.
"Cukuplah tiga bulan kemarin aku dan yang lain direpotkan. Jangan buat nona menangis lagi" imbuhnya.
"Emang istriku sering nangis?" tukas Arka.
"Heemmmm bukan sering lagi. Kapanpun teringat anda, pasti tuh pipi jadi air terjun dadakan" gurau Angel.
"Idih, jangan lebay ah" tukas Tania karena malu dengan kata-kata Angel yang banyak benarnya itu.
"Jadi kau nangisin aku yank?" tatap mesra Arka ke sang istri.
Sengaja dia rahasiakan kepulangannya dari sang istri.
Tapi Nenek, mama Rosa dan papa Rendra serta Arga tak terkecuali Pandu semua sudah tahu akan kepulangannya.
Sehingga tercetuslah ide nenek untuk mengadakan acara syukuran sekalian menyambut kedatangan Arka yang telah sembuh dari masa rehap medik penyembuhan kaki nya.
"Coba kau gerakin kaki kamu" pinta Tania.
Arka melakukan apa yang diminta oleh sang istri.
"Normal" celetuk Tania dan dihadiahi sentilan jari di dahinya oleh mama Rosa.
"Kalau ngomong jangan asal. Bilang alhamdulillah karena suami kamu sudah pulih seperti sedia kala" kata mama.
"Alhamdulillah" Tania mengikuti apa yang mama minta.
"Nah, gitu kan lebih baik" balas mama Rosa.
Malam ini, keluarga yang hadir semua diminta Arka untuk menginap di vila pribadinya ini. Tak terkecuali Arga dan juga Angel.
Banyak kamar tersedia di sana. Lagian besok juga week end.
Pas lah timingnya.
Genggaman tangan Tania tak lepas sedikitpun dari lengan Arka.
"Sayang, mau kuambilin nasi kuning di sana" kata Arka menawari.
"Mau, tapi bukan kamu yang ngambilin. Kamu di sini aja" rengek Tania.
"Hanya ambil nasi sayang" Tania menggeleng cepat.
"Mama aja dech yang ambilin. Selamat menikmati drama bumil Arka" ledek mama Rosa sambil tertawa lepas.
"Suapin" pinta Tania saat nasi sudah terpegang oleh Arka.
Arka lumayan kaget juga, Tania yang berubah manja karena kehamilan. Tapi dalam hati bersyukur juga, karena ke bar-bar an sang istri sedikit mulai berkurang. Sedikit loh ya, bukan banyak...he...he...
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
__ADS_1
Klik juga iklannya
π