Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Keberhasilan Arga


__ADS_3

Petugas berwenang segera meringkus Agus yang telah dilumpuhkan oleh Arga.


"Pak, semua bukti kalau tuan Agus terlibat ada di ponsel ini" beritahu Arga dengan menyerahkan ponsel Agus yang sempat tertinggal.


"Baik tuan. Terima kasih atas kerjasamanya" tukas para petugas. Dan salah satunya menggelandang Agus dengan tangan terikat borgol di belakang punggung.


Wanita yang diakuinya sebagai istri itu berteriak histeris.


"Paling dia histeris karena hilang ATMnya" ucap Arga dengan sinis sengaja menyindir wanita itu.


"Ayo Pandu. Aku nebeng kamu aja. Mobilku suruh bawa anak buah kamu. Capek sekali ni badan" seloroh Arga dan minta bantuan Pandu.


Pandu menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengemudikan mobil Arga, "Nih kuncinya" lemparnya ke anak buah yang paling dekat dengannya.


"Oh ya Pandu, bagus juga inisiatif kamu nyusulin aku. Bawa petugas lagi" kata Arga dengan niat memuji Pandu.


"Aku disuruh oleh Nyonya Tania tadi. Bahkan aku juga dapat bentakannya karena tak kunjung menemukan posisi tuan Arga...he...he..." kekeh Pandu menjawab Arga.


Arga hanya bisa menepuk jidat mendengar penuturan Pandu.


"Untung Arka sabar banget ngadepin kamu" ucap Arga menimpali.


"Dan untung bos ku bukan tuan Arga" celetuk Pandu.


"Hemmm sudahlah. Capek aku debat dengan kamu. Aku tidur aja" tukas Arga. Jengkel dengan ucapan Pandu.


"Mimpiin aku ya tuan" canda Pandu.


"Idih...ogah gue" Arga memposisikan diri untuk mencoba memejamkan mata yang mulai diserang kantuk.


"Tuan, kabarin tuan Arka dulu. Abis itu baru tidur" cegah Pandu karena melihat Arga mulai memajamkan mata.


"Kamu kan juga bisa Pandu" sabut Arga.


"Aku kan sedang menyetir tuan, mana bisa ngabarin tuan Arka" tutur Pandu.


"Aduuhhhh...intinya ntar kabarin bos loe. Aku mau tidur!!!!!" tandas Arga.


Arga beneran tidur saat disopirin Pandu.


"Berasa sopir nih gue" gumam Pandu.


"Nggak usah ngedumel, kalau sampai bengkel bangunin aku" suruh Arga.


.


"Sayang, ayo turun! Sudah sampai rumah ini" beritahu nenek dan mama yang sama-sama berusaha ngebangunin Tania yang nyenyak dalam mobil.

__ADS_1


Sudah hampir setengah jam, mereka berdua belum berhasil membangunkan Tania.


"Kebakaran...kebakaran...." teriak mama Rosa tiba-tiba. Tania tergagap dan segera bangun.


"Apa? Kebakaran?" Tania langsung saja membuka mata.


"Iya kan nek? Mudah saja ngebangunin dia" mama Rosa tertawa yang melihat Tania mengaruk kepala yang tak gatal.


"Ayo turun! Dan lekas naik sini" perintah nenek Gemmy dan membuka kembali kursi roda yang terlipat semenjak dari toko tadi. Sebuah kursi roda baru.


Iya saat Tania tertidur dalam mobil, kedua orang calon Oma dan calon uyut itu membeli kursi roda baru untuk Tania.


Tania menepuk jidat, pasti tak boleh menolak keinginan nenek.


Tania duduk saja di sana tanpa disuruh lagi.


"Anak pintar" puji nenek.


"Tuh, tekan tombol merah di pegangan tangan kanan kamu. Biar mama atau nenek nggak repot mendorong lagi" kata mama Rosa.


"Ini dipakai jalan, harusnya aku sudah sampai kamar loh Mah" cela Tania.


"Eitssss...nggak ada penolakan" imbuh nenek Gemmy.


"Oh ya Tania, jangan lupa ngabarin Arka" ucap nenek.


"Oke" timpal nenek.


Setelah badan segar, Tania bersiap untuk mengabari Arka sang suami.


Ada notif pesan masuk saat Tania menjangkau ponsel yang ada di atas nakas.


Tania membuka pesan yang ternyata berasal dari Pandu.


Pandu menginfo kalau tuan Arga telah berhasil meringkus tuan Agus sendirian.


"Sendiri?" gumam Tania.


"Oke, si Agus sekarang di mana? Di kantor penyidik?" balas Tania.


Dan Pandu memberitahu bahwa Agus sudah digelandang oleh pihak berwajib.


Lega rasanya, satu masalah teratasi. Yang belum adalah siapa yang menyuruh Agus. Karena tak mungkin orang ini adalah tokoh utama di balik kecelakaan yang menimpa suaminya.


Tania mengambil print out hasil pemeriksaan tadi siang. Dia foto dari beberapa macam sisi.


Dan langsung dia kirim ke Arka tanpa caption apapun.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa lama, pesan yang dikirim tak kunjung centang biru. Akhirnya Tania keluar kamar untuk mengambil minum di dapur.


"Eh sayang, mau ke mana?" tanya mama Rosa dan nenek Gemmy yang sedang duduk berdua di ruang tengah. Seperti stanby menungguin Tania, menggantikan Arka menjadi nenek dan mama siaga.


"Ambil minum Mah. Hauss banget" jawab Tania.


"Mama aja yang ngambil. Kamu duduk sini ajah sama nenek" suruh mama Rosa.


"Mah, aku juga ingin gerak. Badan ini kaku semua Mah" kata Tania dengan tujuan untuk menolak permintaan mama Rosa dan nenek.


'Baru sehari aja sudah begini. Bahkan kadar keposesifan mereka sudah mencapai seratus persen lebih' kata Tania dalam hati.


.


Sementara nan jauh di sana. Kedua netra Arka barusan saja membuka.


Karena menunggu pesan-pesan yang dikirim Tania tak kunjung datang, sampai Arka ketiduran.


"Wah jam berapa ini? Kok sampai ketiduran" kata Arka.


Segera dia raih ponsel untuk melihat jam.


"Hah? Sudah petang rupanya" gumam Arka. Ruang kamar yang luas, bahkan luasnya melebihi rumah type tiga enam terasa sepi bagi Arka. Pengawal yang jaga di depan pintu kamar perawatan Arka hanya sesekali masuk saat ada panggilan dari bos nya.


Arka tersenyum lega saat melihat pesan Tania.


Terima kasih Tuhan. Ucap syukur Arka.


Saat itu juga, Arka melanggar janjinya sendiri untuk tak menelpon atau membalas pesan Tania.


"Tut....tut....tut..." Arka mencoba menghubungi Tania. Senang sekali atas gambar yang dikirimkan Tania.


Sekali...dua kali...tiga kali...belum juga tersambung dengan Tania.


Seseorang masuk dengan baju dokter, "Maaf tuan Arka, saya dokter Nicko yang akan membantu operasi dokter Jack besok" beritahunya. Dan Arka mengangguk setuju.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


πŸ’

__ADS_1


__ADS_2