Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Arkan Yang Viral


__ADS_3

Arkan tak menyadari jika semua yang dilakukannya saat ini ada yang merekam. Sosok tak dikenal yang tak ada di kubu Arkan ataupun kubu Arka Danendra.


Dia berada di balik tempat persembunyiannya.


Arkan masih saja teriak-teriak untuk meluapkan rasa kecewa. Anak buahnya bahkan tak ada yang berani mendekat satupun.


"Tuan, maaf ada yang menelpon anda" beritahu salah satu anak buah dengan muka takut-takut.


"Dari siapa?" ucap Arkan.


"Dari kota A tuan" jawab sang anak buah yang menyebutkan nama kota di propinsi paling ujung negara ini.


Arkan meminta ponsel yang dipegang anak buahnya itu untuk menerima telpon. Teriakannya terhenti untuk sejenak.


"Halo, Tuan Anderson selamat malam" sapa Arkan yang tahu pasti ternyata yang menelpon adalah relasi bisnis haramnya.


"Malam tuan Arkan" jawab orang yang dipanggil tuan Anderson itu.


"Ada apa tuan? Tumben?" Arkan merespon ucapan tuan Anderson.


"Ada yang ingin kuberitahukan. Kalau pengiriman senjata akan aku pending sampai batas waktu yang tak kutentukan" jelasnya.


"Bagaimana bisa? Apa kerjasama kita akan putus begitu saja" Arkan menanggapi.


"Bisa saja" jawab singkat dari penelpon.


"Apa alasannya tuan?" kejar Arkan karena belum mendapat jawaban yang dia mau.


"Your reputation is bad. You know it" jawab tuan Anderson.


"What???? It's not argumen" Arkan mencoba menyela.


"Apa kamu sudah melihat semua berita tentang kamu sore ini?" tanya si penelpon.


Hari ini Arkan disibukkan dengan acara jumpa pers bersama Davina, terus urusan dengan Tania. Yang disela oleh segerembolan orang yang mengerubutinya hampir tiga jam. Mana sempat dia melihat berita apalagi sosmed.


"Tuan Anderson, tolong pertimbangkan lagi. Belum pernah aku buat kecewa anda, selama kita bekerja sama" Arkan masih mencoba negosiasi dengan sang bos senjata itu.


Kalau sampai terputus kontrak kerjasama, perusahaan Arkan yang resmi dan legal bisa-bisa kolaps karena tidak ada dukungan dari tuan Anderson.


Jual beli senjata ilegal, adalah salah satu bisnis haram Arkan selain obat-obatan terlarang.


Makanya dia punya beberapa tempat tinggal mewah, meski itu tak ditampakkan saat dirinya ikut sang mama yang notabene menikah dengan tuan Rendra papanya Arka.


"Sorry tuan Arkan, kali ini aku yakin dengan keputusan yang aku buat. Entah besok atau lusa" panggilan itu diputus begitu saja oleh tuan Anderson.


Arkan membanting ponsel yang diserahkan oleh anak buahnya barusan.


"Sial...sialan kalian" teriaknya lagi.


Arkan duduk lemas, karena kejadian hari ini banyak menyita waktunya.


Bahkan belum selesai masalah yang satu, timbul masalah yang lain.


Anak buah yang lain melaporkan bahwasanya, pengiriman obat-obat terlarang ke kota S dicekal pihak berwajib di kota K.

__ADS_1


"Beruntun sekali masalah ini???" gumam Arkan.


Arkan terus saja mengumpat karena kesal sambil mangacak-ngacak rambut.


Belum lagi beberapa notifikasi masuk ke ponsel yang ada di saku.


Notif M-Banking atas pembelanjaan barang-barang mewah.


"Huh, belum jadi istri saja sudah begini borosnya" Arkan mengumpati Davina.


Tanpa pulang, Arkan tertidur di markas itu tanpa ada anak buah yang berani membangunkannya.


Arkan menggeliat karena badannya terasa pegal.


Dia terbangun karena panggilan Davina.


"Sayang, aku di apartemen kamu nih. Kamu ke mana kok sepi sekali?" suara Davina terdengar di ujung telpon.


"Heemm bentar lagi balik. Tunggu!!!" jawab Arkan. Arkan berpikir, saat ini hanya Davina yang bisa meredam emosinya.


Maka dia buru-buru beranjak pergi dari markas di tepian kota itu.


Sampai apartemen, Arkan langsung saja menyerang Davina dengan cium4n bertubi-tubi.


Hasr4t yang sudah sampai ubun-ubun harus segera dilampiaskan. Arkan tak memberi kesempatan Davina untuk menjeda mengambil nafas.


"Sayang, ada masalah apa?" sela Davina saat Arkan sudah menjelajahi leher jenjangnya.


Davina paham betul, pasti ada masalah besar yang sedang dihadapi tunangannya itu.


Arkan terjatuh di samping Davina setelah melakukan pelepasan yang ke sekian kali. Dan langsung tertidur.


Davina meringis menahan sakit. "Dia selalu saja main kasar" gerutu Davina.


"Untung kamu banyak uang, kalau nggak sudah kutinggalin sedari dulu" gumam Davina.


Davina beranjak untuk membersihkan diri. Dia selimutin tubuh Arkan yang polos, dan membereskan baju-baju yang berserakan.


Sambil menikmati kopi panas, dia sulut sigaret yang di bawanya.


Ponsel Davina berdering, yang ternyata dari sang manager.


"Kemana loe pagi-pagi begini? Ada jadwal pemotretan. Jangan bilang loe lupa lagi" omel sang manager.


"Ha...ha...nggak kok. Tapi baru menyelesaikan sesuatu yang tertunda" Davina terbahak saat menjawab panggilan managernya.


"Hamil duluan nyahok loe" olok sang penelpon.


"Gue udah tunangan, tinggal selangkah lagi nikah. Nggak masalah dong, kalau gue hamil" jawab Davina enteng.


"Heh, ingat ya. Loe masih ada kontrak sama produk kecantikan yang enggak ngebolehin loe hamil. Bisa kena pinalti loe" sang manager mengingatkan.


"Terserah lah...kena pinalti tinggal minta suami gue uangnya" sambung Davina menimpali.


"Sombong, cepetan berangkat. Kutunggu di basement apartemen" seru manager Davina.

__ADS_1


Davina menyaut tas yang tergeletak di meja dekat Arkan tertidur.


"Mayan lah, dapat vitamin pagi-pagi" gumam Davina menatap wajah Arkan.


"Sayang, aku pergi dulu. Ada pemotretan" Davina mencium pipi Arkan. Arkan hanya menggeliat tanpa membuka mata.


Davina melenggang keluar pintu apartemen untuk menemui sang manager yang menunggunya di bawah.


Siang hari Arkan terkaget dengan ponselnya berdering keras.


"Sialan, buat kaget saja" gerutunya dengan tubuh yang hanya tertutup selimut.


"Bos, sudah lihat berita belum?" tanya Boy yang juga tangan kanannya itu.


"Berita apa?" Arkan langsung saja membuka mata.


"Berita anda yang mengamuk semalam di markas. Ada seseorang yang sengaja merekamnya tuan" beritahu Boy.


"Hah? Siapa yang berani melakukannya????" kilatan mata marah nampak sekali di sana.


"Akun yang menyebarkan sudah tidak bisa dilacak tuan. Berita sudah kita redam, tapi video anda sudah terlanjur tersebar" terang Boy melanjutkan.


Arkan mambanting semua benda-benda yang ada di dekatnya.


"Kurang ajar, siapa yang berani main-main denganku" umpat Arkan.


"Aku nelpon Smith aja" ucap Arkan yang baru teringat akan sepupunya itu.


Smith yang nyatanya masih di bawah kendali Arka dan Sebastian.


Beberapa kali Arkan menekan nomor Smith, beberapa kali pula hanya jawaban dari operator yang didapat. Umpatan Arkan pun terus berlanjut.


Ponsel Arkan malah berbunyi lagi karena ada pangilan masuk.


"Siapa lagi sih???"


Davina calling.


"Sayang, ada apa denganmu? Semua kontrak aku dibatalin karena ulah kamu" semprot Davina.


"Aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus ganti rugi" imbuh Davina.


Arkan langsung menutup panggilan dari Davina, malas untuk menjawab.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


πŸ’

__ADS_1


__ADS_2