
"Kutunggu keluarga kamu nak Arka" imbuh mama Rosa.
"Mama masuk dulu, ada yang musti mama kerjain" mama beranjak.
"Bilang aja mau ngebersihin penggorengan yang gosong tadi" sela Tania.
Mendengar perkataan putrinya, dengan cepat mama menutupi mulut Tania dengan telapak tangan. Tak lupa pelototan tajam ke arah putrinya itu. Membiarkan Tania terus bicara sama saja menjatuhkan wibawanya sebagai seorang mama.
"Apaan sih Mah?" sergah Tania ketika tangan mama Rosa berhasil dilepasnya.
"Bisa diam nggak?" pandangan mama Rosa masih saja tajam ke arah Tania.
"Tapi bener kan yang aku bilang tadi, kalau mama mau..." kata Tania tapi keburu dipotong oleh mama Rosa.
"Diam kau" ucap mama Rosa.
"Iya...iya...aku diem. Tapi Mah, nasib masakan gosong tadi gimana ya?" tanya Tania tanpa rasa bersalah.
"Taniaaaaaaaa..." teriak mama.
Sementara Arka hanya bisa menahan tawa. Takut durhaka sama mama Rosa.
Mama Rosa meninggalkan mereka berdua dengan bersungut karena ulah putrinya. Sementara Tania sendiri tak menyadari apa kesalahan yang membuat mama Rosa naik pitam.
"Nggak jelas banget mama" gumam Tania.
Arka terbahak, mengeluarkan tawa yang sedari tadi ditahan.
Tania semakin tak paham.
"Kau ini gimana sih? Terang aja mama malu denganku. Pakai kau bilang masakan mama gosong lagi. Jatuh dong wibawa mama Rosa" terang Arka tetap dengan tawanya.
"Ooohhhhh..." tukas Tania menggaruk kepala yang tak gatal.
"Tania, boleh nanya nggak?" kata Arka.
"Asal jangan soal rumus-rumus aja. Lelet gue" seloroh Tania membuat Arka menyentil keningnya.
"Kok hobi banget sih nganiaya gue?" ucap Tania lagi.
"Abis gemes banget sih" Arka kembali tertawa lepas.
"Mau nanya apaan?" imbuhTania.
"Beneran kamu mau tunangan denganku?" tanya Arka.
"Apa kita melakukan kesalahan dengan bertunangan?" tanya balik Tania.
"Menurutku nggak sih, dari segi usia kau pasti telah lewat" canda Arka.
"Jangan-jangan kau mau bilang kalau aku perawan tua?" hardik Tania.
"Heemmmm, kira-kira begitu" Arka kembali tertawa.
"Muka imut gini dibilang perawan tua. Kalau begitu nggak jadi aja dech kita tunangan. Gue bisa makan hati tiap hari mendengar ledekan kamu" tandas Tania. Jengah juga selalu kalah debat dengan lelaki di depannya ini.
"Kalau begitu, dua ribu dolar dibayar kontan detik ini juga" tukas Arka.
"Dasar rentenir" gerutu Tania.
"Ha...ha...ha....aku serius kali untuk melamar kamu" ucap Arka dan seketika menghentikan tawanya.
"Alasannya?" selidik Tania.
"Menyukai seseorang itu tak perlu alasan. Aku tertarik dengan cewek penendang batu semenjak kali pertama bertemu" lanjut Arka.
__ADS_1
"Idih, gombal" celetuk Tania.
"Dan keberuntungan benar-benar berpihak padaku. Saat aku tertarik dengannya, ternyata pas dia ditinggalin pacarnya...ha...ha..." ulas Arka.
"Terus...terus aja meledekku" sungut Tania.
Arka kemudian mengambil foto di atas nakas samping tempat duduk nya.
"Foto ini?" tatap serius Arka.
"Itu kan foto aku sama ayah" jelas Tania.
"Terus ayah kamu?" telisik Arka.
"Sudah meninggal saat di penjara" jawab Tania tanpa kebohongan.
"Karena?" Arka menimpali.
"Tuduhan pembunuhan" kata Tania.
"Kalau kau mau mundur, sekarang lah saat nya. Aku hanya putri seorang terpidana dengan kasus pembunuhan" tandas Tania.
"Meninggal karena sakit?" lanjut Arka tanpa memperdulikan ucapan Tania barusan.
"Iya...serangan jantung mendadak akibat komplikasi dari penyakit paru-paru menahun yang diidap ayah" jelas Tania.
Entah kenapa Tania nyaman sekali menceritakan semua hal tentang ayahnya kepada Arka yang notabene baru dikenal oleh Tania.
Meski baru kenal, malah dua minggu lagi akan resmi menjadi tunangannya.
"Kau tak menyesal mengenalku kan?" tanya Tania serius.
"Itu kan masa lalu kamu. Aku juga punya masa lalu sendiri" kata Arka.
Arka kembali memandang foto kecil Tania. Tapi semakin dia mengingat, jawaban itu belum juga didapatkan oleh Arka.
"Enggak kok, aku merasa mengenal gadis kecil ini. Tapi kok aku lupa...he...he..." Arka terkekeh.
"Terang aja kenal, kan dia ada di depanmu sekarang" kata Tania menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan itu maksudku. Dulu apa kita pernah bertemu?" imbuh Arka.
"Mana mungkin, kasta kita sungguh berbeda" jawab Tania terus terang dan sesuai kenyataan.
"Benar juga ya???" Arka kembali menggaruk kepala, tapi masih ragu dengan ucapan Tania.
"Arka, apa nenek Gemmy benar-benar yakin denganku?" tanya Tania bimbang.
"He...he...kamu nggak tahu siapa nenek Gemmy. Dia lebih tau dari apa yang kutahu tentang kamu" tegas Arka.
"Kok bisa?" Tania penasaran.
"Kalau longgar datanglah ke nenek. Nenek Gemmy pasti akan menceritakan semua" bilang Arka.
"Sudah malam, aku pulang dulu. Pamit kan ke mama Rosa" Arka beranjak.
"Oh ya Tania, mulai saat ini kita resmi pacaran. Dua minggu lagi kita tunangan" tatap serius Arka.
"Nggak romantis" cela Tania.
"Yang penting niatnya tulus" tukas Arka.
"Deal ya, kita pacaran?" kata Arka menautkan kelingkingnya ke kelingking Tania.
"Idih maksa banget" sungut Tania. Arka mengacak rambut Tania yang dikuncir kuda.
__ADS_1
"Besok pagi kujemput" ucap Arka saat melangkah menuju mobilnya yang terparkir.
Tania tersenyum-senyum sendiri sepeninggal Arka.
"Dih, yang sedang jatuh cinta" ledek mama Rosa yang barusan keluar.
"Arka mana?"
"Pulang" singkat Tania.
"Kenapa nggak diajakin makan?" tanya mama.
"Makan tempe gosong tadi?" cela Tania.
"Enak aja, mama sudah nyiapin yang lain tau" tukas mama Rosa mencelos.
"Kalau gitu buat Tania aja, mewakili Arka" Tania menuju meja makan.
"Nggak boleh, ini khusus untuk calon menantu mama" kata Mama Rosa dan benar-benar mengambil lauk yang disiapkan untuk Arka sebenarnya.
"Pelit amat" sungut Tania.
.
Tania pagi-pagi sudah rapi. Hari ini dia akan mendampingi nyonya Marsha untuk mendengar sidang putusan pengadilan.
Saksi terakhir yang dia ajukan saat sidang sebelumnya benar-benar membantu nyonya Marsha.
Saksi yang merupakan mantan ART di rumah nyonya Marsha. Bahkan sidang-sidang sebelumnya, dia bagai ditelan bumi. Dicari kemanapun tak ketemu. Tapi memang nasib baik masih berpihak kepada nyonya Marsha.
Sesuai janjinya Arka mengantar kepergian Tania.
"Kau ini memang benar-benar pengangguran ya? Gitu kok berani melamar aku. Mau dikasih makan apa anak-anak kita nanti" seloroh Tania saat mereka dalam perjalanan menuju pengadilan.
"Ha...ha...kan ada kamu bu pengacara" jawab Arka.
"Ogah gue" sahut Tania membuat Arka kembali tertawa. Menggoda Tania menjadi hobi baru Arka.
"Meski kau kaya, kalau kau tak kerja. Mendingan batalin aja tunangan kita" celetuk Tania.
"Bisa-bisa gue jadi istri berasa kuli" lanjut Tania.
Wanita ini benar-benar nggak tahu siapa aku. Batin Arka.
"Ntar sore sempatin ketemu nenek, biar kamu tahu siapa Arka Danendra" jelas Arka.
"Kenapa nggak kamu sendiri aja yang cerita" sela Tania.
"Takut kamu nggak percaya aja kalau aku punya segalanya" ucap Arka.
"Idih, sombong" tukas Tania.
"Tuh kan, nggak percaya duluan" sambung Arka.
Lama-lama dia kok mirip laki-laki kecil sombong dulu. Batin Tania.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan readers semakin banyak.
Buat nambah imun othor, biar semangat nulis 😊😊😊
Klik juga dong iklannya
__ADS_1
💝