Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Team Davina?


__ADS_3

Tania mendatangi tempat di mana Davina berada.


"Selamat siang Nona? Apa kabar?" sapa penyidik yang kebetulan kenal dengan Tania.


Penyidik yang waktu itu menangani kasus tuan Felix dengan Tania.


"Baik tuan" imbuh Tania.


"Oh ya, bisakah saya bertemu dengan klienku?" tanya Tania.


"Klien?" tanya heran penyidik.


"Nona Davina" tandas Tania.


"Ooooohhhhh...apa anda yang menjadi kuasa hukum wanita itu?" tukas penyidik.


"He...he...kalau dia menyetujuinya" tukas Tania.


"Baiklah, tunggu saja di sini. Akan kupanggilkan Nona Davina. Silahkan duduk" orang itu menyilahkan Tania dan juga Angel.


"Penyidiknya cakep bener Non?" puji Angel dengan pandangan tak beralih dari penyidik yang melangkah pergi.


"Nona kelihatan akrab sekali dengannya?" lanjut Angel.


"He...he...kan pekerjaan seperti ini pasti sering berinteraksi dengan penyidik Angel" jelas Tania.


Davina datang dengan diantar oleh seorang petugas wanita.


"Ingat Nona, ada batas waktu anda menemui tamu" jelas petugas itu.


Davina tersenyum sinis, "Untuk apa kau ke sini? Mau mengejekku" katanya ketus.


"Ha...ha...andai tuan David tak mendatangiku mana mungkin aku berada di sini sekarang" tukas Tania.


"Tuan David meminta aku menjadi kuasa hukum kamu. Itupun kalau kau setuju. Kalau nggak, ya aku balik" kata Tania enteng.


Davina terdiam. Dalam benaknya berontak, kenapa wanita ini yang musti menjadi pembelanya.


Tuan David datang di antara mereka.


"Davina, kau sudah membuat malu papa. Jadi terima saja, Nona Tania yang akan menjadi kuasa hukum kamu" paksa tuan David.


"Tapi aku dijebak Pah" Davina membela diri.


"Tunggu, apa aku harus menyetujui? Bisakah aku memilih pengacara yang lain" sahut Davina cepat.


"Kalau begitu aku undur diri Tuan, sepertinya Nona Davina keberatan jika aku menjadi kuasa hukumnya" ulas Tania.


"Davina" panggil Tuan David dengan nada keras.


"Baik...baik...terserah papa saja" tukas Davina.


"Ceritakan kronologi kejadiannya, agar aku bisa menyimpulkan dari sudut pandang kamu" kata Tania.


"Pastikan dulu aku bisa bebas kali ini" tandas Davina.


Tania sampai sebal mendengarnya.


"Aku nggak bisa memastikan. Tapi akan kulakukan yang terbaik asal bukti yang mendukung berpihak kepadamu" ulas Tania.


Tania harus berposisi netral, tetap berpegang pada asas praduga tak bersalah. Meski dalam hati dirinya tak seyakin itu, melihat sepak terjang Davina selama ini.


"Kalau kau nggak bisa mastikan penangguhan penahananku, mendingan kau mundur saja" ucap Davina pongah.

__ADS_1


"Davina" bentak tuan David lagi.


Davina menunduk seakan tak mampu membalas tatapan tajam papanya.


"Ini kali terakhir kau membuat ulah" tukas tuan David mulai memelankan nada suara.


Tania mulai paham situasi. Melihat interaksi bapak dengan anak ini, bisa jadi Davina telah beberapa kali melakukan kesalahan.


Davina mulai menceritakan kejadian sampai dirinya terciduk pihak berwajib.


"Alibimu seperti itu?" kata Tania.


"Di mana aku bisa temui orang-orang yang kau sebutkan tadi?" sela Tania.


"Aku harus memastikan semua, sebelum mengajukan penangguhan penahanan buat kamu" kata Tania.


Davina mengikuti apa yang diminta oleh Tania.


"Jadi semalam kau bersama Arkan juga?" pungkas Tania.


"Heemmmm, jelas saja. Dia kan kekasihku" kata Davina masih penuh kesombongan.


"Kalau dia kekasihmu, kemana dia kala kau susah begini?" sahut Tania.


Davina mencebik.


"Dia mengurus bisnis nya lah" ucap Davina seperti menyembunyikan sesuatu.


.


Tania akan menemui orang-orang yang disebutkan Davina, untuk menguatkan keterangan yang diberikannya tadi.


Ponsel Tania berdering, ternyata suaminya yang menelpon.


"Aku di kantor kamu. Ke mana saja?" tanya Arka.


"Kau ambil juga kasus itu?" bilang Arka.


"Sepertinya begitu" jawab Tania.


"Kalau menurutku sebaiknya kau lepas saja. Kasus itu tak akan berhenti di Davina. Banyak orang yang pastinya terlibat" seru Arka.


"Kok gitu? Ini kasus pertama ku dengan kantor yang baru yank" sanggah Tania.


"Apa kau mau nama kamu terkenal dengan kasus seperti itu? Masih banyak orang yang butuh bantuan kamu selain Davina" tandas Arka.


"Orang-orang tak mampu yang terkena masalah hukum, sementara mereka tak tahu harus meminta bantuan ke mana. Itulah yang harusnya kau turun tangan sayang" kata Arka.


Tania merenungi kata-kata suaminya. Memang ada benarnya.


"Apa aku harus mundur di kasus ini?" batinnya.


Angel menengok ke Tania yang sedang fokus menyetir.


"Apa ada yang kau pikirkan Non?" tanya Angel.


"Heemmmmm, suamiku tak membolehkan kita ambil kasusnya Davina" terang Tania.


"Ini kasus pertama kita loh Non" sela Angel.


"Benar juga, tapi melihat kata-kata tuan David tadi. Sepertinya Davina sudah sering berbuat ulah" ulas Tania.


"Terus?" ucap Angel.

__ADS_1


"Aku akan mengikuti apa kata suami saja" jawab Tania.


Tania menelpon Barry, asisten tuan David. Karena permintaan Barry lah dia menerima kasus ini.


"Halo Nona Tania" sapa Barry di ujung telpon.


"Tuan Barry, sepertinya aku tidak bisa menerima menjadi pembela kasus nona Davina" terang Tania.


"Bisa disebutkan alasannya Nona. Biar saya bisa menyampaikan ke tuan David?" jawab Barry.


"Aku lupa, kalau Minggu depan saya akan keluar negeri" terang Tania. Tak mungkin dia menyampaikan larangan Arka untuk menolak kasus Davina. Biar saja mereka menilai aku tak profesional. Aku tak perduli. Kilah Tania dalam benak.


"Coba kau hubungi Maura Hadinoto saja tuan Barry, istrinya tuan Benzema Abimanyu" lanjut Tania.


"Maaf Nona, sepertinya tuan David menghendaki anda karena sangat yakin dengan anda" terang Barry.


Tapi kata-kata Barry barusan sangat berbanding terbalik dengan kata tuan David dan Davina yang bisa saja memanfaatkan keadaan dirinya yang memang sedang berusaha mencari klien untuk biro hukumnya yang baru.


"Maafkan saya tuan David, sepertinya saya memang tak bisa meneruskan" ucap Tania menegaskan.


"Baiklah Nona. Akan kusampaikan kepada tuan David" jawab Barry mengakhiri obrolan.


Sampai di kantor, terlihat Arka sedang ngobrol dengan Mang Mamat.


"Yank, kopi buatan Mang Mamat enak juga" puji Arka.


"Sejak kapan kau ngopi yank?" sela Tania.


"Barusan. Abis kepulan asap kopi buatan Mang Mamat lumayan menggoda iman" seloroh Arka dan membuat Mang Mamat tertawa.


Arka menyusul Tania yang masuk ke ruangannya.


"Sudah kau batalin kasus itu?" sela Arka.


"Seperti yang kau bilang. Aku melepas kasus pertamaku di sini" jawab Tania.


"Sudahlah, pasti akan ada yang lain yang lebih membutuhkan kamu" jelas Arka.


"Tapi.....????" ragu Tania.


"Untuk apa kau bela orang seperti Davina?" ujar Arka.


"Kita tak boleh menjudge orang, sebelum palu hakim diketuk yank" terang Tania.


"Aku tahu. Tapi tetap saja aku melarang kamu membela dia" tandas Arka.


"Kenapa nggak bilang dari sebelum aku berangkat ke sana sih. Ntar orang-orang menilai aku tak profesional dong" imbuh Tania.


.


Dan benar saja, sore hari muncul berita pengunduran diri Tania untuk menjadi kuasa hukum seorang selebgram terkenal yang terjerat kasus prostitusi online.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


#Ayo datang ke pasar baru, jangan lupa beli baju biru #Selamat datang tahun baru, sambutlah dengan inspirasi baru 😊


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya

__ADS_1


💝


Salam sehat buat semua 🤗


__ADS_2