
Tania menghampiri Arditya yang bersama nenek Gemmy dan mba Mirna di ruang tengah.
"Rewel nggak mba?" tanya Tania.
Arditya mencoba meraih tangan sang mama.
"Anak mama yang ganteng kangen ya sama mama" Tania meraih Arditya yang sering-seringnya ditinggalin oleh dia.
"Kangen tuh sama mamanya" olok nenek Gemmy.
"Hee...he...iya nek" Tania gendong Arditya dan Tania ajak ke kamar.
"Mana Arditya nek?" tanya Arka yang barusan masuk ke rumah lewat pintu samping.
"Diajak sama Tania barusan" terang nenek.
"Oke nek, aku masuk dulu" ujar Arka.
Saat masuk kamar, dilihatnya Tania tengah bermain dengan Arditya. Bahkan Arditya terlihat naik di perut mama nya yang membesar.
"Kok dibolehin sih yank?" Arka mangambil Arditya dari perut Tania yang tengah terbaring di ranjang dan menaruhnya di samping Tania.
"Nggak apa-apa yank, rasanya dah lama tak main sama Arditya" tukas Tania.
"Tapi kan nggak harus naruh di perut yank" imbuh Arka.
"Nggak mandi dulu" kata Arka
"Hhmmmm kok males ya yank, tadi di kantor juga nggak ngapa-ngapain kok" ulas Tania.
"Jadi nggak keringetan nggak mandi gitu...jorok ah" tukas Arka.
"Kusiapin air angetnya, mandi dulu" sambung Arka dan langsung ke kamar mandi buat nyiapin air hangat.
"Sudah tuh, mandi dulu gih" suruh Arka.
Saat Tania beranjak duduk, Arditya menangis berusaha menggapai sang mama.
"Yank, ajakin dulu" pinta Tania.
Arka gendong Arditya yang mulai posesif kepada mamanya.
"Aku ajak keluar dulu ya" ujar Arka.
"Heemmmm" Tania mengangguk.
.
Selepas berendam dan merilekskan tubuh di bath up.
"Aduh" Tania pegang perutnya. Dan kebetulan Arka masuk saat Tania meringis menahan sakit.
"Kenapa?" telisik Arka sembari mendekat.
"Nggak tahu, kok tiba-tiba aja nyeri nih perut" tutur Tania.
"Jangan-jangan kontraksi? Pakai baring aja dulu. Kalau nggak berkurang kita ke Om Abraham" jelas Arka.
"Kamu sih sekali-kali nurut apa kata suami napa. Suruh banyak istirahat aja susah amat" sambung Arka.
"Kok malah nyalahin sih" kata Tania sewot.
"Sekarang istirahat, jangan banyak alesan" tandas Arka.
Tania pun baring, nyeri perutnya masih kadang datang kadang hilang.
"Kok masih terasa aja ya?" gumam Tania.
"Kok basah?" Tania meraba area bawahnya.
Arka yang keluar setelah mengomelinya sampai sekarang belum masuk lagi.
Tania raih ponselnya di atas nakas, untuk mencari sang suami. Nyatanya ponsel Arka bersanding manis di samping ponsel Tania.
"Lah, kok malah di sini" gumam Tania.
"Aduuuuhhh kok malah bertambah sih nyerinya" ujar Tania sembari mengelus perut.
"Sayang....sayang... Kamu di mana? Nenek...tolongin" teriak Tania dari dalam kamar.
Arka yang tengah bermain bersama Arditya di ruang keluarga, sayup-sayup dengar suara sang istri.
"Arka, kenapa Tania? Sepertinya dia teriak" ujar nenek yang ikutan berdiri kala Arka berlalu ke kamar.
Tania menangis menahan nyeri yang tak tertahan.
"Kenapa? Masih kontraksi?" tanya Arka. Tania mengangguk sambil menahan sakit.
"Kita ke IGD aja" kata Arka tegas.
Urusan kesehatan, Arka pasti tak terbantah.
"Yank, tapi ini kok basah" ujar Tania menunjukkan area yang basah itu.
"Jangan-jangan ketuban? Jangan dipakai jalan. Kugendong aja" kata Arka dan dengan sigap menggendong sang istri menuju mobil.
"Nek, tolong jagain Arditya" kata Arka menuju garasi sambil menggendong Tania.
__ADS_1
"Tania kenapa?" tanya nenek yang mengikuti langkah kaki Arka.
"Kontraksi nek dan sepertinya ketubannya pecah. Aku ke IGD Suryo Husada dulu" imbuh Arka menjelaskan.
"Tolong jagain Arditya ya nek. Nanti aku hubungin mama Rosa juga biar ke sini" bilang Arka.
"Sudah...sudah... Kamu pikirin Tania aja, biar nenek saja yang hubungin Rosa" ujar nenek Gemmy menimpali.
Di mobil, Arka masih saja berpidato.
"Ini kamu terlalu lelah yank. Makanya jaga kondisi itu penting. Apalagi kondisi hamil begini. Apa kamu nggak kasihan sama baby yang di dalam?" kata Arka untuk membuat sang istri sadar.
"Hikssss....kok nyalahin terus sih yank. Aku kan juga nggak mau seperti ini" tukas Tania yang malah menangis.
"Eh..." Arka tertegun. Baru kali ini didapatinya Tania menangis kala dinasehatin. Biasanya dia akan membantah jika menurutnya itu benar.
"Sori...sori...bukan maksud aku nyalahin yank. Tapi meminta tolong sama kamu agar bisa jaga kondisi" jelas Arka malah membuat Tania semakin menangis.
Saat di traffict ligt, Arka kecup kening Tania yang masih sesenggukan.
Kok dia jadi cengeng sih? Tanya Arka dalam hati.
Arka meminta tolong penjaga yang ada di depan IGD untuk membantu membawakan kereta pasien untuk mendekat ke arah mobil terparkir.
"Pak, IGD kebidanan ya" terang Arka.
"Baik tuan" jawabnya.
Dan setelah diperiksa semua dan dilaporkan dokter penanggung jawab, Tania diwajibkan inap.
Bedrest, pasang infus dan terapi buat penghilang kontraksi didapat oleh Tania.
"Besok kita jadwalkan USG nyonya" jelas bidan jaga.
"Iya, makasih" tukas Tania.
Dengan dirinya yang musti rawat inap, Tania malah kepikiran dengan sidang putusan kasus Arkan.
"Bagaimana ini?" pikir Tania.
Arka yang barusan masuk lebih banyak diam. Daripada saran-saran yang dia ucapkan berujung tangisan sang istri.
"Yank, aku musti rawat inap ya?" tanya Tania untuk memastikan.
"Bukannya sudah dijelasin dokter jaga?" sela Arka.
"Sudah sih. Tapi...." Tania menjeda ucapannya.
"Tapi apa?" lanjut tanya Arka.
"Kita pikirkan nanti. Yang penting kondisi kamu baik dulu" ujar Arka yang tak mau berandai-andai.
"Yang penting kamu istirahat aja dulu. Kata dokter jaga, ketuban kamu juga sudah keluar" terang Arka.
"Apa nggak bahaya?" tanya Tania.
"Besok kita lihat waktu USG aja. Jangan banyak nanya dulu, pakai istirahat" suruh Arka.
"Iya...iya...tema kamu hari ini nyuruhin aku istirahat ya? He...he..." ujar Tania terkekeh.
"Suruh istirahat aja susah amat" tukas Arka sewot.
"He...he..." Tania terkekeh.
Tania telah dipindahkan di ruang rawat dengan infus menancap.
"Smoga aja besok sudah dibolehin pulang. Aamiin" gumam Tania berdoa saat dirinya pindah ke ranjang di kamar.
"Heemmm ngimpi" sela Arka membuat Tania bersungut.
Obat-obat yang diberikan selain untuk mengurangi kontraksi juga bisa berefek merilekskan tubuh.
Baru saja pindah bed, sudah terdengar aja dengkuran halus nafas Tania.
"Gitu kok bilangnya nggak capek" gumam Arka bermonolog.
Arka ikut merebahkan tubuhnya di bed untuk penunggu pasien. Aktivitas seharian juga menyebabkan badan terasa letih.
Dini hari Arka terkaget karena suara Tania.
"Ada apa?" Arka menghampiri sang istri.
"Yank, aku ingin ke toilet" bilang Tania.
"Tapi kamu harus bedrest lho. Aku ambilin tempat penampungnya dulu" ujar Arka.
"Apa harus di sini? Di ranjang?" kata Tania menegaskan.
"Yaappp" tukas Arka cepat.
"Aku nggak bisa yank" tolak Tania.
"Tapi kamu belum dibolehin jalan" larang Arka.
Dan dengan banyak drama sebelumnya, dan Arka menungguinya dengan sabar. Akhirnya Tania bisa juga mengeluarkan air seninya.
Sementara Arka ke toilet, Tania menyalakan tivi.
__ADS_1
Tania yang punya hobi baru pun, mencari saluran berita yang menjadi favoritnya.
"Kok nggak tidur lagi?" tanya Arka yang baru kembali dari toilet.
"Sudah nggak ngantuk" terang Tania.
Dan lagi sebuah berita mengejutkan tayang di tivi saat itu.
"Hah? Boy ketangkep?" gumam Tania mengernyitkan alis.
"Kok bisa? Apa masih ada kaitan dengan kasus Arkan yang melarikan diri?" telisik Tania.
"Eh, sepertinya bukan dech" Tania masih saja berkata sendirian.
"Boy dituduh terlibat dalam kasus kecelakaan yang mengakibatkan tewasnya Davina. Apa mungkin karena ini Arkan tak bilang Boy kemana dia melarikan diri" gumam Tania bermonolog.
"Kok bisa ya? Di akan asisten Arkan yang sangat setia" Tania heran juga akan hal itu.
"Loh...loh...banyak pejabat kena OTT juga" Tania sampai heran dengan berita-berita hari ini.
Tania masih saja bergumam sendirian, sementara Arka telah tidur lelap. Bahkan dengkurannya terdengar keras kali ini.
"Maafin ya yank, kamu pasti capek saat ini" tatap Tania ke arah sang suami yang tengah baring di bed penunggu pasien tanpa bisa Tania sentuh.
Tania kembali fokus dengan acara tivi yang sedang tayang, "Waaoooowwww pejabat tinggi sekelas pembantu presiden dan para pejabat daerah" kata Tania mengomentari berita yang sedang tayang.
Pagi hari Arka ikutan mendorong Tania untuk USG di ruang radiologi. Untuk memastikan bagaimana kondisi kehamilannya.
Saat dokter spesialis radiologi fokus dengan layar monitor USG, dan Arka pun demikian.
"Semua baik dokter Arka. Ketuban juga masih cukup, cuman memang agak berkurang. Kondisi janin juga sehat" kata dokter itu memberikan penjelasan kepada kelurga pasien yang juga sejawatnya sendiri itu.
"Boleh tahu kira-kira aku pulangnya kapan ya dok?" sela Tania dan dijawab oleh pelototan Arka.
"Kalau itu kita kembalikan ke dokter yang merawat anda di ruang rawat nyonya" terangnya, membuat Tania mencebikkan mulutnya.
Arka dibuat geleng oleh ulah sang istri.
Saat Arka menatap tajam Tania, "Yank, istirahat! Itu kan yang akan kamu katakan?" kata Tania membuat Arka tak jadi marah.
Ponsel Tania berdering kala dirinya pas masuk kamar rawat tempatnya dia dirawat.
"Aku ambilin" ujar Arka kala Tania menatapnya.
"Makasih sayang" seulas senyum nampak di bibir Tania kala Arka sudah tahu arti tatapan sang istri.
"Angel tuh" beritahu Arka.
"Halo Ngel" sapa Tania.
"Non, hari ini ke kantor nggak?" tanya Angel. Karena jam telah menunjukkan jam sembilan pagi, tapi Tania belum datang.
"Ada apa?" tanya Tania tanpa menjelaskan keberadaannya di rumah sakit.
"Biasalah ada pemberitahuan mendadak dari pengadilan" terang Angel.
"Oke, kamu fotoin aja. Dan kirim padaku" pinta Tania.
"Oke Non" jawab Angel dan menutup telponnya.
Tania segera membuka notif pesan Angel.
Sebuah pemberitahuan pengunduran jadwal sidang putusan Arkan. Tania menarik nafas lega.
"Sidangnya ditunda" beritahu Tania kala Arka masih menatapnya.
"Syukurlah, kamu bisa fokus buat istirahat" terang Arka.
"Heemmm" Tania mengangguk mengiyakan.
.
Beberapa hari Tania dirawat oleh dokter Anita.
"Kak, dengerin apa kata suami kamu tuh. Banyakin istirahat" kata dokter Anita kala mengijinkan Tania untuk pulang.
"Kamu dicurhatin juga sama suami aku?" kata Tania bercanda.
"Aku tuh nggak banyak aktivitas, hanya kadang-kadang aja" ujar Tania tersenyum simpul.
"Heemmmm, kata siapa. Itu kan menurut kamu. Setelah sidang putusan Arkan selesai, saatnya giliran kamu nurut sama aku" sela Arka yang barusan masuk karena masih ada urusan sama Pandu di depan tadi. Tania hanya bisa mencebikkan bibir mendengar kata sang suami.
"Lebih baik nurut apa kata suami kak. Ridho suami itu penting" sambung dokter Anita.
"Makasih sarannya dok" Tania menimpali sembari tertawa. Dokter yang satu ini laiknya ustadzah saja. Batin Tania.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
๐
__ADS_1