
Hampir malam mereka berdua sampai mansion.
"Kalian kemana aja?" todong mama Rosa yang melihat anak dan menantunya baru keluar dari garasi mobil.
"Hemmm, papa nya Arditya baru selesai operasi Mah" jelas Tania.
"Kan tadi sudah kirim pesan ke mama" lanjut Tania terus berjalan masuk menuju ruang tengah.
"Arditya mana?" tanya Tania.
"Bersihin badan dulu. Badan kamu pasti kotor. Abis nangkep penjahat juga bukan?" telisik mama Rosa.
"Eh, mama kok tahu?" ujar Tania menimpali sembari terkekeh.
"Tau lah. Mama kan selalu update sosmed terbaru" kata mama Rosa menjelaskan.
"Jangan bilang selalu update, tapi belum follow akun punyaku" tukas Tania.
"Akun kamu apa namanya?" tanya mama Rosa.
"Ya kan? Gitu kok bilangnya selalu update" tanggap Tania.
Tania masuk kamar dan Arka mengikuti di belakangnya.
"Aku apa kamu yang duluan yank?" kata Tania yang melihat Arka nampak lelah karena dihajar oleh jadwal operasi beruntun hari ini.
"Aku siapin air hangat dulu" ucap Tania.
Bagaimanapun kalau di rumah, dia tetaplah seorang istri. Semua kebutuhan Arka sang suami, sebisa mungkin dipegang oleh Tania sendiri.
Saat keluar dari kamar mandi untuk beritahu sang suami kalau air hangat telah siap, didapatinya Arka telah tertidur di sofa panjang kamar.
Tania lepas sepatu dan dia longgar ikat pinggang sang suami.
Tania masuk duluan ke kamar mandi, daripada air yang disiapkan keburu dingin karena ditinggalin Arka tidur.
Saat berendam, menikmati aroma terapi yang dinyalakan untuk merilekskan badan yang letih.
Tania kaget saat sebuah tangan menyentuh kedua aset berharganya.
"Ih, ngagetin aja sayang" yang ternyata Arka sudah berada di atasnya.
"Ini tadi seharian nggak kamu keluarin?" tanya Arka.
Gelengan didapat dari Tania.
"Apa nggak sakit?" dan tentu saja Tania mengangguk.
"Ini kalau nggak dikeluarin, bisa demam kamu yank" tukas Arka ngejelasin.
"Abis ini kan aku langsung ke Arditya" jawab Tania.
Memang benar apa yang dikatakan sang suami, rasa kedua aset kembarnya itu berasa kencang luar biasa dan sedikit nyeri bila ditekan.
"Arditya bisa kesedak jika langsung disedot olehnya" tukas Arka.
"Terus?" sambung Tania.
Tapi malah didapatnya senyum mesum sang suami.
"Pasti endingnya aku dimodusin" kata Tania terang-terangan.
"Ayolah yank, obat lelah nih" kata Arka.
Tanpa menunggu persetujuan sang istri sudah dilalapnya buah ceri itu bergantian.
"Tuh lihat" kata Arka saat cairan putih itu menetes lancar dari puncak semeru. Sudah seperti sebuah lagu saja...he...he...
"Heemmm...lumayan berkurang nyerinya" ujar Tania.
Membuat Arka meneruskan hobi baru. Sambil menyelam minum air susu. Dengan alasan membantu sang istri, malah dirinya sendiri kebablasan.
Dan berakhirlah mereka mandi bersama setelah merengkuh apa yang mereka inginkan bersama.
Tania keluar duluan, untuk melihat Arditya di kamarnya.
"Kamu sudah makan?" tanya mama menggendong Arditya yang telah tidur itu.
"Belum, bentar masih nungguin papa nya Arditya. Masih ganti baju" ulas Tania.
"Mbak suster nya mana Mah?" karena belum melihat keberadaan suster yang dipercaya pegang Arditya saat dirinya tak ada.
"Ada, barusan dia ke kamarnya" kata mama.
__ADS_1
"Oke lah Mah, malam ini Arditya biar bersama aku aja. Kan ada papa nya yang bantuin" ucap Tania.
Arka menyusul sang istri yang tengah ngobrol dengan mama.
"Makan lah dulu kalian. Biar Arditya sama mama dulu" suruh mama.
Saat makan, "Yank, besok aku diminta ke Blue Sky. Sebastian mau mengakuisisi sebuah perusahaan katanya" ujar Tania saat mereka sudah di meja makan.
"Heeemmmm, oke" jawab Arka singkat.
"Kok langsung oke aja? Biasanya juga panjang kalimatnya" imbuh Tania.
"Ya mau gimana lagi. Itu juga salah satu kerjaan yang sudah kamu tandatangani sebelum Arditya lahir kan? Mau tak mau harus kamu tepatin itu pada Sebastian" terang Arka.
Mereka menikmati makan dalam diam. Hanya suara sendok garpu saling bergelut di atas piring.
"Aku ke ruang kerja dulu" pamit Arka.
"Heemmm, aku ambil Arditya dulu. Mau ajak ke kamar aja" bilang Tania.
"Iya. Kalau tak rewel, istirahatlah" ucap Arka sebelum melangkahke ruang kerja.
.
Arka masuk kamar saat jam sudah nunjukin lewat tengah malam. Didapatinya sang istri yang sedang memberikan asi nya untuk sang buah hati.
Meski begitu, Arka merasa aneh juga saat melihat keduanya.
Arditya dengan netra bening membulat sempurna, sementara mama nya telah lelap. Arditya yang kadang mengenyot, kadang berhenti membuat Arka gemas sendiri.
"Hei, milik papa kamu apain itu Arditya?" canda Arka malam-malam.
Seakan dengar apa yang dikatakan papanya, bayi itu melepas milik mamanya dan sejurus kemudian dia carinya lagi. Karena tak kunjung menemukan, meledaklah tangisnya membuat Tania terlonjak.
Tapi didapatinya senyum smirk sang suami di dekat nya.
"Awas ya kalau macam-macam. Nangis tuh anak kamu" kata Tania berusaha menenangkan buah hatinya dengan memberikan buah ceri kesukaan Arka buat Arditya.
"Rasain. Biar papa kapok" kata Tania mengelus puncak kepala Arditya yang kembali terdiam setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Aku yang sebelahnya boleh?" canda Arka.
"Issshhhh...ngalah dikit kek ama anak" tukas Tania sewot.
Arka tertawa. Meski di luar sana istrinya terkenal dengan pengacara yang tak kenal rasa takut, suka slengekan. Tapi dia tetaplah ibu rumah tangga yang baik bagi Arka dan Arditya.
Sementara tangan Arka tetap tak bisa dikondisikan.
"Yank, bisa diam nggak sih" celetuk Tania sambil mencoba menghentikan tangan Arka yang berada di puncak sebelahnya.
"Ini kok malah suruh diam di sini sih" goda Arka. Karena tangannya malah seakan disuruh diam di sana. Tak hilang akal, Arka pilin tuh ceri. Gemas saja. Tapi reaksi Tania sungguh berbeda. Lolos begitu saja suara indah Tania.
Arditya yang telah nyenyak, oleh Arka dipindahin di box sebelah ranjang.
"Jangan ditutupin" larang Arka saat Tania mencoba membenarkan letak bajunya.
"Loh, tadi kan udah yank" kata Tania menimpali.
Tangan Tania dia tuntun ke sesuatu di pusat tubuhnya.
"Kamu itu apa nggak lelah sih yank?" tanya Tania. Gelengan Arka Tania dapat.
Dan tengah malam itu kembali terulang adegan dua insan saling menyatu.
"Yank, aku belum pakai alat kontrasepsi loh" kata Tania yang tiba-tiba saja teringat akan hal penting itu.
"Sudah terlanjur, mau gimana lagi" kata Arka seakan tak ada beban.
"Kalau positif lagi, itu tandanya yang di Atas ngasih lagi kepercayaan buat kita" kata Arka sembari memeluk Tania erat dengan badan hanya tertutup selimut.
"Makasih atas semua yang sudah kamu berikan padaku yank" Arka ciumin bahu Tania, tapi sudah tak ada respon. Hanya dengkuran halus Tania yang Arka dapat.
"Cepat sekali dia terbang ke alam mimpi" ucap Arka yang akhirnya juga nyusulin sang istri pergi ke mana.
.
Pagi-pagi Tania sudah nyusulin mama di dapur.
"Tumben sudah ke sini. Arditya belum bangun?" tanya mama yang selalu saja Arditya mulu yang ditanyain.
"Mama masak apa, kubantuin" ujar Tania.
Mama Rosa memegang kening Tania.
__ADS_1
"Apaan sih Mah?"
"Nggak panas, tapi kok aneh? Seorang Tania mau bantuin aku memasak?" mama Rosa malah terbengong di tempat.
"Biasa aja kali Mah. Aku kan juga ingin seperti mama yang pintar memasak. Jadi kalau Arditya sudah sekolah, mama nya ini bisa buatin bekal" alesan Tania.
"Memasak itu passion Tania. Jika kamu tak ada hati di sini, akan susah belajarnya" ujar mama.
"Heleh, masak ya masak aja Mah. Pakai passion segala. Ayo kubantuin. Mama mau memasak apa?" sahut mama Rosa.
"Kamu ambil sayur aja di kulkas" mama nyebutin sayuran yang akan di masak.
Tania pun menuju kulkas, "Kalau wortel aku tau, brokoli juga tau. Tapi tadi yang satu apa ya Mah?" meski sudah berada di depan kulkas yang terbuka, Tania masih saja bertanya ke mama.
"Kol?" sela mama dan dijawab anggukan Tania.
Mama Rosa pun akhirnya mendekati lemari pendingin juga.
"Nih namanya kol" terang mama Rosa sembari menunjukkan ke Tania.
"Oke, aku paham" ujar Tania tersenyum.
Nampak Arka yang sedang gendong Arditya yang sepertinya sudah bangun turun dari tangga.
Arka yang masih pake celana pendek dan kaos rumahan menyusul Tania yang berada di dapur.
"Yank, nampaknya Arditya haus nih" beritahu Arka.
"Sudah...sudah...pegang aja tuh Arditya. Nggak usah pake acara bantuin mama segala" larang mama.
"Emang mau ngapain ke sini yank?" tanya Arka.
"Bantuin mama memasak lah. Emang mau ngapain?" jawab Tania membuat Arka mengurai senyum.
"Sudah nggak usah merepotkan diri sendiri. Jika tak sempat, tinggal beli aja" tukas Arka yang memang tak ingin membebani Tania dengan tugas-tugas rumah tangga.
"Ayo balik kamar, tuh Arditya minta minum" kata Arka.
Tania gendong Arditya untuk balik ke kamar.
"Yank, tolong bawain air putih ya" pinta Tania.
Niat hati ingin belajar jadi ibu rumah tangga yang baik. Tapi kadang niat saja tak cukup. Perlu keseriusan yang luar biasa.
.
Setelah drama pagi tadi selesai, kembali Tania menitipkan Arditya untuk diawasin mama Rosa.
Karena beberapa kali Sebastian telah menelpon mengingatkan Tania tentang agenda hari ini di Blue Sky.
"Iya...iya...aku mau otewe nih" terang Tania saat Sebastian nelpon untuk yang kesekian kali.
Arka pun telah berangkat duluan, karena beda arah dengan tujuan Tania kali ini.
"Pak, langsung ke Blue Sky ya" pinta Tania ke sopir kepercayaan sang suami itu. Dan tak lupa mengirimi pesan ke Angel untuk langsung ke Blue Sky membawa berkas yang dia minta kemarin.
"Siap nyonya muda" jawabnya dan langsung melajukan arah mobil sesuai permintaan Tania.
Di tengah perjalanan Tania mendapat telpon dari Arkan, jika siang nanti dia mengharap kehadiran Tania di lapas. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Tania pun menyanggupi itu. Asal tidak lama. Karena Arkan menolak jika Tania menyuruh Maura dan Angel yang datang.
Cukup alot juga pertemuan Sebastian dengan perusahaan yang akan diakuisisi. Perusahaan itu banyak sekali permintaannya, padahal sudah mau bangkrut. Membuat Tania tak sabar dibuatnya.
"Begini saja tuan-tuan. Kalau kalian memang masih keberatan dengan syarat-syarat yang diajukan Blue Sky mending proses akuisisi ini batal" tegas Tania membuat perwakilan perusahaan itu bengong.
"Kalian ini berada dalam posisi tidak bisa menawar. Blue Sky memberikan penawaran itu, harusnya kalian bersyukur. Tidak malah meminta yang aneh-aneh" tandas Tania penuh penekanan.
"Bagaimana? Dilanjut? Kalau dilanjut silahkan tanda tangani berkas-berkas ini" kata Tania sembari menyodorkan berkas yang telah disiapkan sebagai tim legal perusahaan Sebastian.
Perwakilan dari perusahaan itupun menandatangani lembar demi lembar yang ditunjukin Tania.
Sebastian dan Dewa hanya bisa melongo karena ulah Tania.
"Nih...Beres" kata Tania menyerahkan berkas, satu bandel untuk Sebastian dan satu bandel lagi untuk perwakilan perusahaan yang akan diakuisisi Blue Sky.
Sebastian mengangkat kedua jempolnya untuk istri Arka Danendra itu.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
__ADS_1
Klik juga iklannya
π