Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Misi Kemanusiaan


__ADS_3

"Apa hasilnya?" todong Arka, padahal Tania baru juga masuk mobil.


"Isshhhh nggak sabar amat sih" seru Tania menimpali.


"Iya lah. Apalagi ada kaitannya dengan Arkan" imbuh Arka.


"Aku nunggu ijin kamu secara pribadi sayang. Kalau yang kasus yang lain mah, aku nggak bakalan ijin" tandas Tania terkekeh.


"Gitu ya sekarang" tanggap Arka dengan bergurau.


"Lagian yank, dengan menjadi pembela Arkan. Nama aku akan langsung terangkat karena kasus ini viral...he...he..." kata Tania. Padahal tujuannya untuk memprovokasi sang suami agar mengijinkannya menjadi pembela Arkan dan Davina.


"Uang yang aku beri masih kurang? Sampai ingin banyak kasus yang ditangani" kata Arka untuk menolak halus keinginan sang suami.


"Ingat yank, dunia hukum itu passion nya Tania Fahira. Menjadi nyonya Arka adalah prioritas. Tapi tetep, ijinin aku menjadi kuasa hukum Arkan dan Davina. Ya...ya...sayangku paling tampan sedunia" kata Tania dengan segala bujuk rayu.


"Akan kupikirkan" tukas Arka menirukan Tania saat menjawab.


"Issshhhh kamu ini" ujar Tania sewot.


Arka menyalakan kembali mobil dan menjalankan keluar area lapas.


Ponsel Arka berdering.


"Kok dari rumah sakit? Besok kan baru jadwalku" gumam Arka.


"Angkat aja barangkali penting" ujar Tania memberi masukan.


"Halo, dengan dokter Arka" sapanya untuk memulai obrolan.


"Ijin dokter, ada pesan dari direktur untuk anda" kata sang penelpon.


"Silahkan disampaikan" tukas Arka.


"Begini dok, yayasan rumah sakit akan mengirimkan bantuan ketenagaan ke negara yang sedang mengalami gempa" beritahunya.


"Apa diwajibkan?" tanya Arka.


"Tidak dok. Ini sifatnya hanya pemberitahuan. Kalau dokter berminat bisa mendaftar di posko layanan darurat yang dibangun di depan IGD rumah sakit" terangnya kembali.


"Misi kemanusiaan kah?" tanya Arka.


"Ya dokter. Itu maksudnya" kata penelpon membenarkan.


"Baiklah akan kupikirkan kembali" kata Arka mengakhiri panggilan.


"Negara 'T' itukah? Yang sekarang ada musibah guncangan gempa?" tanya Tania kala Arka hendak menaruh ponsel di dasboard mobil.


"Sepertinya begitu. Enaknya aku ikut nggak ya yank?" tanya Arka pura-pura galau.


"Berapa lama?"


"Ya nggak tentu, tergantung jumlah korban yang perlu ditangani juga" terang Arka.


"Bisa lama dong" tandas Tania.


"Begitulah" jawab Arka. Padahal Arka hanya berniat untuk mencandai sang istri. Pergi dalam rangka misi kemanusiaan biasanya bisa diatur dengan tim yang lain. Cuman Arka belum tahu koordinasi di Surya Husada seperti apa.


Musibah gempa, pasti tenaga nya sebagai spesialis bedah tulang tentu akan sangat banyak dibutuhkan.


"Akan kupikirkan besok aja, lihat hasil koordinasi besok" ulas Arka berikutnya.


"Mendingan cari makan dulu aja" usul Tania.


"Benar juga, perut ku juga sudah demo nih" tukas Arka menimpali.


Belum juga mendapat resto yang cocok ponsel Tania berdering. Panggilan dari mama Rosa.


"Sepertinya Arditya rewel dech yank. Nih mama nelponin" terang Tania.


"Angkat aja dulu" bilang Arka.


"Halo Mah" sapa Tania.


"Arditya nangis terus nih. Kamu udah sampai mana?" tanya mama Rosa.

__ADS_1


"Nih sudah di jalan kok Mah, otewe pulang" terang Tania.


"Oke, cepatlah" imbuh mama Rosa.


Dan benar adanya, saat sampai rumah, Arditya Putra Danendra Rahardjo rewel dan tak mau turun dari gendongan.


"Cuci tangan kamu dulu" suruh mama.


"Iya...aku tahu oma cantik" seru Tania.


"Sini sayang, digendong mama yuk" Tania meraih putranya yang berada dalam gendongan mama Rosa.


"Haus dech sepertinya. Sedari tadi dia nggak mau minum susu yang dari botol" terang mama Rosa.


"Oke Mah, aku kasih langsung aja. Arditya mungkin belum terbiasa aku tinggalin lama" kata Tania menambahkan.


"Harusnya kamu tuh yang masih di rumah terus Tania. Baru berapa hari kamu melahirkan sudah beredar kemana-mana" ledek mama Rosa.


"Biarin Mah. Kalau nggak penting aku juga nggak bakalan keluar" kata Tania menimpali.


"Issshhhh kamu ini" imbuh mama Rosa merasa gemas sendiri akan ulah Tania.


Arka yang barusan menyusul masuk, "Kenapa Arditya Mah?" tanyanya.


"Biasa, nggak mau minum susu lewat botol" jelas mama Rosa.


Arka masih mengobrol dengan mama, sementara Tania sudah memeluk baby A sambil baring. Asyik sendiri mereka berdua.


Seakan tahu mama nya datang dan lelah dengan kerewelannya, Arditya langsung aja bobok sambil melahap gudang makanan utamanya.


Bahkan Tania sendiri sudah terdengar dengkuran halus nya.


"Eh, malah tiduran semua" celetuk Arka.


Karena sudah nggak ada gawe, Arka isengin tuh anak dan istrinya.


Arditya hanya menggeliat tanpa mau melepas sesuatu yang ada di mulutnya. Malah semakin kuat aja dia menghisap.


"Eh, itu punya papa sayang. Gantian dong" Arka terus saja mengganggu putranya itu.


.


Malam hari Arka menghubungi Pandu, menanyakan kesibukannya dua minggu ke depan.


"Ada apa tuan? Tumben? Biasanya pagi-pagi baru nanya untuk jadwal hari ini" tukas Pandu menjawab tanya sang bos.


"Kalau longgar dan bisa ditunda, aku mau ikut misi rumah sakit" terang Arka.


"Apa?" tanggap Pandu.


"Bantu korban gempa di negara 'T'" lanjut Arka.


"Berapa lama?" tanya Pandu.


"Ya tergantung tim yang berangkat, bisa dua mingguan" imbuh Arka.


"Oke tuan, akan ku cross cek dulu jadwalnya. Besok pagi aku kabarin" Pandu mengakhiri panggilan dari Arka.


Sebuah notif pesan masuk yang ternyata berasal dari Bara, dia ngabarin kalau akan berangkat ikut misi kemanusiaan itu.


Bara juga ngejelasin kalau di sana kekurangan dokter orthopedi dan anesthesi, dan banyak perawat.


Arka pun menelpon Bara.


"Dirgantara loe tinggalin apa kabarnya?" tanya Arka, saat panggilan berlangsung.


"He...he...ada kak Mayong dan papa Suryo yang back up. Kan kamu juga ada Om Rendra tuh" ucap Bara.


"Anggap aja dua minggu ini healing yang berfaedah. Gimana?" tanya Bara menunggu keputusan Arka.


"Istri loe???" Arka menimpali.


"Ngijinin kok dia, dan biasa selama aku pergi mereka semua ngungsi ke rumah papa...ha...ha.." jelas Bara.


"Apa aku sebaiknya begitu juga ya?" Arka nampak masih berpikir.

__ADS_1


"Kalau nggak yakin mendingan nggak usah dech" imbuh Bara.


"Kubicarain sama Tania dulu ya bro, besok kukabarin. Pandu juga belum kasih tau scedule ku dua minggu ke depan" beritahu Arka.


Arka keluar ruang kerja, dan balik ke kamar. Ternyata dua orang yang sangat dicintainya sama-sama terjaga.


"Belum tidur yank?" Arka menghampiri keduanya.


"Tuh lihat, bening sekali tuh mata Arditya" jawab Tania.


"He...he...banyakan tidur tadi siang kali" tukas Arka.


Arka pun menciumi baby A dengan gemas.


"Cepat besar ya nak, ntar jadi pengusaha aja ya. Biar lekas bisa gantiin papa. Papa mau fokus jadi dokter aja" celoteh Arka.


"Apaan sih yank, baru juga berapa hari Arditya menikmati udara dunia. Sudah mau kau setir aja tuh masa depannya" tukas Tania sewot.


"Itu kalau dia mau" imbuh Tania.


"Ha...ha...gurau yank. Serius amat sih" Arka terbahak menanggapi.


"Yank, semisal aku berangkat ke negara 'T' kamu ijinin nggak?" tanya Arka dengan tangan masih usil gangguin Arditya.


"Jadi relawan?" tanya Tania.


"Heemmmmmm"


"Bara juga berangkat loh yank. Dan sudah diijinin tuh sama istrinya" imbuh Arka.


"Kalian pasti sudah janjian duluan kan?" sela Tania menanggapi.


Arka hanya garuk kepala, tapi memang itu kenyataannya. Istrinya ini kalau menebak kenapa selalu benar sih. Batin Arka.


"Heemmmm gimana ya????" Tania seakan berpikir dan berat melepaskan Arka. Padahal tujuan Arka baik.


Arka diam menunggu jawaban sang istri. Sebenarnya kalau lah Tania tak membolehkan, dia juga tak akan pergi.


"Boleh yank, tapi ada syaratnya?" kata Tania pada akhirnya.


"Apa?" tanggap Arka.


"Bolehin aku jadi pengacaranya Arkan dan Davina" Tania menyampaikan syarat yang dimaksud.


Gantian Arka yang berpikir. "Syaratnya berat banget yank" Arka kembali mengacak rambutnya kasar.


"Kalau berangkat ya itu syaratnya" tandas Tania.


"Kalau aku nggak jadi berangkat, apa kamu mau ngebatalin niat kamu jadi pengacara Arkan?" tatap serius Arka ke sang istri.


Tania geleng kepala.


"Yaacchhhh itu sama aja omong kosong sayang" sewot Arka.


Tania memang berniat tetap menjadi tim kuasa hukum Arkan. Selain karena kasusnya yang trending, Tania berniat meluruskan salah paham selama ini antara Arkan dan keluarganya dengan caranya sendiri.


Tania tak mau dendam itu tetap berlanjut terus. Karena dia ingin anak-anaknya akan tumbuh dalam suasana damai, tanpa ada percikan dendam yang muncul dari masa lampau. Seperti dirinya hidup selama ini.


Hampir menjelang dini hari Tania dan Arka masih saja ngobrolin antara setuju dan tidak setuju. Mereka berdua masih kekeuh dengan pendapatnya masing-masing. Dokter dengan analisanya, demikan juga pengacara dengan rasionalitasnya.


Mereka menjadi kompak saat Arditya menangis, Arka mengganti diapers yang penuh dan Tania bersiap untuk memberikan sumber makanan Arditya.


Sementara Arka hanya bisa meneguk ludahnya sendiri melihat semua yang terpapar di depannya.


Jam tiga pagi barulah mereka berdua gencatan senjata dan saling memeluk saat tidur dan belum menghasilkan keputusan apapun.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya

__ADS_1


๐Ÿ’


__ADS_2