
Saat ini Arka dan Tania sudah berada di bengkel Arga.
Seperti yang diucapkan Arka tadi kalau di sana hanya ada minuman bersoda dingin.
"Perutmu nggak kembung? Kan masih kosong tuh perut" tegur Arka saat Tania meneguk minuman berwarna merah segar itu.
"Daripada nggak masuk apa-apa" celoteh Tania.
"Abisnya, sudah dipesenin main tinggal aja" gurau Arka membuat Tania sewot.
"Ada apa sih kalian?" tanya Arga yang barusan gabung. Biasa lah Arga baru keluar dari kolong favoritnya.
"Nggak kok" elak Tania.
"Biasa mode cemburu" ulas Arka.
"Tania, bisa cemburu?" tukas Arga merasa aneh.
"Main rasional aja, jangan main perasaan" saran Arga.
"Kalau main perasaan, hati kamu bisa abis kalau tiap hari ada wanita yang ndeketin Arka" lanjut Arga.
"Sok tahu" tukas Tania.
"Jangan lupa, aku lebih dulu tau Arka. Hanya kau wanita satu-satunya. Meski awalnya dia tak ingat siapa kamu...he...he..." ulas Arga sambil terkekeh.
"Sebenarnya kalian ke sini ada apa sih? Seperti pengangguran aja" telisik Arga.
"Eh Arga, sebelum ngomong serius boleh nggak pesen bakso di seberang itu" tunjuk Tania ke arah gerobak abang bakso yang parkir.
"Sayang, kau mau?" Tania menawari Arka.
Arka hanya garuk kepala. Hampir tak pernah dia makan makanan pinggir jalan. Tania sepertinya mengerti.
"Heemmmm, kamu nggak usah dech. Aku aja yang ke sana. Makan di sana aja" celoteh Tania.
Tania melenggang meninggalkan Arka dan juga Arga.
"Sungguh wanita langka" puji Arga.
"Apa maksud kamu?" Arka mencelos.
"Hanya memujinya. Mana ada wanita sekarang yang sederhana seperti dia, apa adanya" Arga masih saja memuji Tania.
Arka melotot ke Arga. "Bener kan yang aku ucapin?" Arga masih saja memanasi telinga Arka.
"Yang ada sekarang banyak wanita ulat bulu, yang menempel jika kita berduit. Betul nggak?" Arga meneruskan celotehnya.
Arka menyusul Tania tanpa memperdulikan celotehan Arga. Arga sampai dibuat terbahak oleh tingkah Arka barusan.
"Biasa saja om mode cemburunya" gumam Arga sendirian.
"Bang, aku beli baksonya semua" kata Arka yang berada di belakang Tania.
"Eh..." Tania berbalik karena keheranan.
"Beneran Tuan?" tanya abang tukang bakso.
"Heemmmm" jawab Arka sambil bersedekap tangan di dada.
"Beneran nih?" Tania masih saja heran.
"Cepetan bang, nggak ada pemesanan kedua. Buatkan juga buat semua yang ada di bengkel depan tuh" imbuh Arka.
"Pesenanku anter ke ruang bos Arga ya" pinta Arka.
"Siap tuan" jawab abang bakso sumringah. Bagai dapat durian runtuh. Baru berangkat jualan, sudah diborong aja.
__ADS_1
Arka kembali dengan menarik Tania.
"Makan di ruangnya Arga saja" bisik Arka.
"Wah, enakan di sini sayang. Kalau mau nambah tinggal minta" Tania masih saja menjawab.
"Bang, buat istriku ini tambah dua porsi lagi ya" pinta Arka.
"Siap bos tuan" jawabnya sambil bersikap layaknya sedang hormat kepada bendera.
Tania sampai terpingkal melihatnya.
"Bang, jangan lupa yang super pedes" imbuh Tania.
"Siap neng" jawab abang bakso.
Sambil makan bakso, mulailah mereka bicara serius. Serius menurut mereka bertiga tetap saja pasti ada candaan di selanya.
"Arga, tolong kau selidiki si Smith lagi. Aku curiga kalau ada Arkan dibaliknya" pinta Arka sambil menyuapkan bulatan bakso.
"Emang ada apaan? Apa ada kaitannya dengan drama penculikan tak jadi itu?" tukas Arga.
"Heemmmmm" Arka mengangguk.
"Ntar kukerjakan malam nanti. Siang ini aku masih sibuk benerin mobil. Sore ini mau diambil empunya" bilang Arga.
"Kau pasti tak mengira siapa yang punya mobil" lanjut Arga.
"Emang siapa?" tanya Tania ikutan penasaran.
"Arkan. Saudara tiri kamu itu" Arga sengaja meledek Arka.
"Kalau belok ke bengkel nih, pasti mobil mewah dong" celetuk Arka.
"Pasti lah" jelas Arga.
Arka meninju lengan Arga yang masih saja terbahak.
"Kontrakan mewah, mobil mewah. Apa benar dia parasit di rumah papa Rendra? Aneh nggak?" seloroh Tania.
Arka mengangguk tanda setuju ucapan Tania.
"Sudahlah kalian pergi saja, daripada gangguin aku kerja" hardik Arga setelah melihat mangkok Arka telah kosong.
"Oooo...anak buah lakn4t. Bisa-bisanya ngusir bos" hardik Arka.
Arga hanya terkekeh menanggapi. Tapi Arka dan Tania pun melakukan apa yang dikatakan oleh Arga.
Mereka meninggalkan Arga yang kembali sibuk dengan mobil-mobilnya.
"Aku antar ke kantor kamu atau ke mana?" tanya Arka saat keduanya sudah berada dalam mobil kembali.
"Ke nenek aja. Aku sudah bilang tadi pagi kalau mau ke sana" jelas Tania.
"Heemmm...baiklah tuan putri" gurau Arka.
"Mau curhat sama nenek" lanjut Tania.
"Ha...ha...curhat yang tadi?" Arka terbahak menimpali kata Tania.
Cubitan kembali mendarat di lengan Arka. "Sakit sayang. Cium aja" celetuk Arka.
"Maunya" tukas Tania tersenyum simpul.
Ponsel Arka berdering, nenek Gemmy calling.
"Tuh, nenek nelpon" celetuk Arka.
__ADS_1
"Kamu angkat aja" lanjut Arka.
"Hallo nenek" sapa Tania dengan senyum lebar.
"Kau sudah sama Arka? Cepetan ke sini. Nenek kangen. Kirain Arka belum jemput kamu" jawab nenek Gemmy.
"Siap nenek cantik" jawab Tania.
"Siapa sih yang cucunya?" sela Arka.
"Ha...ha...." Tania terbahak melihat wajah Arka.
.
Malam hari saat masih berada di kediaman nenek, di ruang kerja Arka mendapat panggilan dari Arga.
"Sudah dapat info?" tanya langsung Arka.
"Ish kau ini, nggak ada basa basinya sama sekali" sahut Arga jengah.
"Apa kabar Arga? Baik kan?" celoteh Arka membuat Arga semakin jengah.
"Katanya suruh basa basi" Arka terbahak.
"Aku sudah dapat semua infonya. Jangan lupa bonus nambah bos" ucap Arga.
"Jelasin sekarang!" perintah Arka.
"Siap bos" tukas Arga.
"Arkan Santoso nama lengkapnya. Dia anak kandung Nyonya Gaby. Semenjak ayahnya meninggal, dia menyimpan dendam yang teramat kepada keluarga Tania. Apalagi saat dia mendengar Tania tunangan dengan seorang Arka Danendra, CEO Panapion. Maka semakin menganak sungai dendamnya kepada Tania. Dia mulai dengan menjadikan Tania sebagai perantara kerjasama Smith dengan perusahaan kamu" jelas Arga panjang lebar.
"Apa hubungan dia dengan Smith?" sela Arka.
"Pastikan ruangan kamu tak ada yang menyadap. Agar aku bisa beritahu semuanya" ucap Arga meneruskan.
"Aku di rumah nenek ini. Di ruang kerja" beritahu Arka.
"Heemmm...aku kirim pesan aja" jawab Arga.
"Oke" tukas Arka menyetujui perkataan Arga.
"Darimana dia dapat seluruh uangnya?" ketik Arka karena penasaran.
"Bisnis ilegalnya begitu banyak. Sore tadi aku tak sengaja mendengar saat dia berbicara dengan kolega sewaktu dia berada di bengkel. Smith itu masih ada hubungan saudara dengan Arkan" balas Arga.
Arka mengirim emoji seperti orang berpikir.
"Penelusuranku belum sampai sana. Jadi aku belum bisa menjelaskan apa saja bisnis Arkan" ketik Arga dan langsung dibaca oleh Arka.
Arga berpikir mengirimi pesan ke Arka, karena dia yakin tak ada yang menyadap ponsel keduanya. Arga tahu akan hal itu. Meski dia seorang montir, dia juga ahli IT hebat. Meski semua didapat secara otodidak
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis πππ
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
π
Salam sehat buat semua π€
__ADS_1