Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Suami Siaga (2)


__ADS_3

Tania naik ke meja periksa untuk persiapan dilakukan pemeriksaan.


Dokter Abraham meletakkan probe di perut Tania.


"Gimana Om?" sela Arka.


"Sabar dong, baru aja mulai" ungkap om Abraham.


"Nih, plasenta sudah geser. Bisa diupayakan spontan dulu proses lahirnya" jelasnya.


"Heemmmm...bisa dipakai dong Om?" celetuk Arka bercanda.


"Boleh...boleh...Puas-puasin" tukas Om Abraham dengan tawanya. Maklum dengan laki-laki muda di depannya.


"Semua hasil normal, kondisi bayi bagus demikian juga calon mama nya" jelas Om Abraham.


"Vitaminnya jangan sampai terlupa" imbuhnya.


"Baik Om" Tania pun bangun dari meja periksa.


"Oh ya, umur kehamilan sekarang tiga puluh minggu" lanjut Om Abraham menjelaskan.


"Oke Om" tukas Arka.


Setelah mengucapkan terima kasih mereka keluar dari ruang periksa berpapasan dengan Bara dan Elis.


"Kita duluan" kata Arka.


"Jangan lupa, kutunggu gabung di Suryo Husada" ucap Bara.


Arka hanya mengangkat jempol untuk menyetujui.


"Langsung apartemen apa kemana dulu?" Arka menawari.


"Kuliner dulu dong" jawab Tania seperti biasa.


Dalam hati, Arka berjanji. Saatnya menyenangkan istri dan calon bayinya.


Bahagia mereka bahagia Arka juga. Meski ada kerikil-kerikil yang musti dilalui, tak membuat Arka patah semangat. (Author lebay)


Perut yang membuncit tak menghalangi Tania untuk bergerak. Kadang-kadang membuat Arka kuatir, karena seolah-olah Tania lupa kalau sedang hamil.


"Yank , gimana kalau kita ke alun-alun pusat kota" usul Tania.


"Ngapain?" sela Arka.


"Kulineran lah, di sana pusatnya jajanan lho" beritahu Tania.


"Kesana? Dengan pakaian begini?" tukas Arka yang masih memakai jas lengkap dengan dasi.


"He...he...kan bisa dilepas yank, ninggal kemejanya aja" Tania terkekeh karena dia sendiri juga masih pakai baju kantoran.


Arka mencari tempat parkir yang sekiranya kosong.


"Issshhhh...penuh semua. Seperti week end aja suasananya" gerutu Arka yang belum dapat juga tempat parkir.


"Ramai sekali" kata Tania.


"Jadi nih?" telisik Arka.


"Ya jadilah" imbuh Tania dengan sangat yakin.


Akhirnya setelah hampir mengitari alun-alun kota, dapat juga Arka tempat parkir setelah ada mobil yang mau keluar dari sana.


"Alhamdulillah, dapat juga" ujar Arka.


Tania dan Arka turun. Dengan kemeja melipat sampai siku, menambah aura tampan seorang Arka Danendra.


Tapi hal itu tak berbanding lurus dengan alas kaki yang dipakai oleh mereka berdua.


Karena Tania selalu memaksa sang suami untuk memakai sandal jepit saat di luar jam kantor.


"Yank, yakin mau beli makanan di sini?" bisik Arka. Arka ragu, karena setiap penjual makanan tak ada yang tak antri.


"Pasti ragu kehigienisannya ya?" sela Tania.


"Heemmmmm" gumam Arka.


"Sekali-kali nggak papa lah yank, kangen aku dengan makanan beginian" tutur Tania.


"Di sini pedagangnya juga nggak rusuh juga kok, suka kebersihan. Lihat tuh di sana" tunjuk Tania ke padagang gado-gado.


"Kenapa?" tanya Arka karena hanya melihat antrian yang mengular panjang tak ada pandangan lainnya.


"He...he...maksudnya aku ingin gado-gado itu" terang Tania.


"Apa namanya? Gado-gado?" tanya Arka yang asing dengan nama makanan yang disebutin Tania.


"Iya...gado-gado. Kalau orang Barat mah bilangnya salad sayur" imbuh Tania.

__ADS_1


"Oooooo..." timpal Arka.


"Kamu mau?" ujar Tania menawari.


"Boleh dech" jawab Arka dan ingin mencoba makanan yang dibilang istrinya barusan.


Kali ini Tania nggak mau diantrikan oleh Arka. Dia ingin merasakan sensasi mengantri di tengah kerumunan orang, apalagi saat sedang hamil begini. Aneh memang keinginan bumil.


Arka duduk sambil mengawasi sang istri.


Ternyata hamil itu juga membawa keberuntungan.


Melihat perut besar Tania, orang-orang malah menyilahkan dirinya untuk maju melewati satu demi satu antrian di depannya. Hingga hanya tinggal dua orang di depan yang bersisa, karena sudah terlayani oleh penjual.


"Bang, dua porsi" pesan Tania ke abang penjual.


"Minumnya?" tanya yang satunya.


"Air putih kemasan aja" tukas Tania.


Tania kembali menghampiri sang suami.


"Enak ya jadi wanita hamil, tak harus mengantri lama" canda Arka.


"Kamu mau hamil?" kata Tania menanggapi.


"He...he...kalau aku mau jadi yang menghamili saja dech" Arka terbahak. Cubitan Tania pun mendarat di lengannya.


Pedagang gado-gado menghampiri mereka mengantarkan pesanan.


"Silahkan kak" katanya ramah. Dan bergegas balik mengambilkan pesanan minuman untuk Tania dan Arka.


Arka mulai mencoba menyuapkan sesendok gado-gado ke dalam mulut.


"Bumbu kacangnya gurih" katanya.


"Enak?" tanya Tania.


Arka pun mengangguk.


"Porsinya emang jumbo begini?" tanya Arka.


"Emang segitu porsinya sayang" jelas Tania.


"Berasa kuli saja" gurau Arka.


Habis loh gado-gado di depan Tania.


Ponsel Arka berdering, yang berasal dari nenek Gemmy.


"Halo nek" sapa Arka.


"Kalian di mana?" tanya nenek.


"Ini nek, sedang ngikutin bumil kulineran di alun-alun kota" terang Arka.


"Nggak mampir kah? Nih mama Rosa juga sedang di sini. Nenek buatin menu kesukaan Tania loh" bilang nenek.


"Apa nek?" Tania ikut menimpali.


"Nggak mampir, nenek masakin rendang loh" tukas nenek.


"Boleh nek" Tania menerima tawaran nenek.


"Yank, perut kamu nggak begah? Kekenyangan?" tanya Arka heran.


Baru saja menandaskan sepiring gado-gado, masih saja menginginkan rendang.


"Ke mansion nenek kan perlu waktu yank. Jadinya laper lagi" tukas Tania terkekeh.


Nafsu makan bumil sungguh wowwwww.


"Sayang, apa kamu nggak ingin belanja apa gitu?" tanya Arka saat mereka sudah berada dalam mobil menuju mansion nenek.


"Belanja apa? Semua sudah ada di apartemen" jawab Tania.


Arka heran, black card yang diberikan kepada istrinya nyatanya belum kepake sampe sakarang.


"Atau nggesek kartu yang kuberikan sesudah kita menikah?" sambung Arka.


"Kenapa sich yank, maksa banget dech?" balas Tania sewot.


"Nggak maksain kok"


"Atau kapan-kapan kita belanja keperluan bayi aja gimana?" tanya Tania yang baru terlintas idenya.


"Heemmmmm oke" tukas Arka antusias.


.

__ADS_1


Hampir jam delapan malam mereka sampai mansion nenek.


"Kalian ini darimana aja sih?" sambut nenek di ruang tengah.


"Hawa-hawa belum mandi tuh" tukas mama Rosa menghampiri.


"Mama" panggil Tania seraya hendak memeluk mama.


"Ogah, mandi dulu sana" ulas mama.


"Ha...ha...kasihan bumilku. Sini peluk papanya saja" ujar Arka.


"Idih ogah, aku mau mandi aja" kata Tania seraya berjalan ke kamar.


"Ikutttttt" Arka mengekori sang istri yang masuk kamar.


"Mandi dulu nek, mah" ucap Arka meninggalkan kedua wanita yang kompak geleng kepala itu.


Tania terkaget, saat berendam air hangat tiba-tiba saja ada yang menyentuhnya.


"Oooowwwhhh kukira siapa yang tangannya nakal ni" kata Tania.


"Kubersihin punggung kamu" bilang Arka.


"Bersihin beneran? Apa hanya modus?" singgung Tania.


"Dua-duanya" Arka terkekeh. Dan benar saja, tangan Arka mulai tak terkondisikan setelah menit ketiga.


Niat awal untuk ngebersihin punggung, jadi menjalar ke mana-mana.


Akhirnya suara indah yang ditunggu Arka pun lolos juga, membuatnya semakin bersemangat.


Kali ini aku harus sukses ketemu tempat ternyaman dari tongkat ajaibku. Tempat yang telah lama tak disambangi olehnya. Batin Arka.


Karena kasihan sang istri yang tak nyaman berada di bath up. Diangkatlah tubuh polos itu masuk kembali ke dalam kamar. Menuntaskan hasrat yang mungkin sudah sampai ubun-ubun.


Tentunya Arka mengunci pintu terlebih dahulu. Agar tidak kepergok oleh dua wanita yang tadi.


Arka bermain hati-hati agar Tania nyaman. Bagi Arka perut Tania yang membesar menambah keseksiannya.


Arka lumayan terkejut, saat menghisap buah ceri kesukaannya ternyata telah keluar cairan bening. Cairan yang sangat disukai bayi nantinya.


Semua sudah siap, bahkan tongkat itu telah menemukan tempat ternyaman. Sebuah lenguh4n lolos dari mulut Tania dan berbarengan dengan ketukan pintu. Dan sedetik kemudian memanggil mereka berdua untuk makan.


Arka tak berhenti, malah menggerakkan pinggul maju mundur membuat Tania mengeluarkan suara indahnya lagi.


Nenek di luar hanya bisa menggerutu, karena mendengar suara Tania barusan.


Semakin lama semakin cepat tempo yang dimainkan oleh Arka sampai keduanya mengeluarkan suara indah bersamaan.


Sementara sudah tidak ada lagi suara ketukan pintu terdengar.


"Makasih sayang, akhirnya plong juga rasanya" kata Arka sambil mengecup kening sang istri.


Tania malah memejamkan mata.


"Yank, rendang masih setia menunggumu loh" kata Arka untuk menggoda sang istri.


Tania menggeleng, "Ngantuk" jawabnya.


Arka beranjak dari tempat tidur setelah menyelimuti sang istri yang masih polos.


Setelah membersihkan diri, Arka keluar kamar.


"Tania mana???" serang kedua wanita itu dengan menatap tajam Arka.


"Tidur" jawab Arka, terus berlalu ke dapur untuk mengambil minum.


Nenek Gemmy dan mama Rosa hanya bisa ngedumel menghadapi tingkah Arka.


Arka kembali sambil menerima panggilan dari Pandu.


"Iya, kamu kirimin aja semua ke emailku. Ntar malam kuperiksa" suruh Arka.


Nenek Gemmy dan mama Rosa saat ini hanya berperan sebagai pengamat saja.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


πŸ’


Salam angin-anginan πŸ˜ŠπŸ™

__ADS_1


__ADS_2