
Tania mendekat ke ranjang. Dia amati setiap jengkal tubuh Arka terutama bagian kaki.
Terlihat di sana sebuah bekas luka operasi yang panjang kurang lebih dua puluh centi.
Tania tak berusaha mengatakan apapun. Dia benahi posisi Arka. Dia selimuti badan Arka yang sangat nyenyak dalam tidurnya.
"Sepertinya dia baru bisa tidur" gumam Tania.
Tania keluar menyusul nenek Gemmy di dapur.
"Mana Arka?" tanya nenek saat Tania kembali sendirian.
"Masih tidur nek. Biarin aja, ini juga masih pagi" tukas Tania tanpa menjelaskan apapun keadaan Arka.
"Nek, apa nih yang bisa kubantu?" tanya Tania.
"Nggak usah, duduk aja. Tuh ada minuman hangat di meja buat kamu" beritahu nenek.
"Wah, jadi nggak enak dong nek" imbuh Tania.
"Nanti aja, kalau sudah menikah kuajari menu-menu kesukaan Arka" Nenek Gemmy menimpali.
"Beneran Nek, tapi jangan yang susah-susah ya" harap Tania sambil ngeles.
Nenek hanya tersenyum simpul menanggapi calon cucu menantunya itu.
"Tumben loh Arka jam segini belum bangun. Biasanya dia sudah berada di ruang gym sepagi ini" kata nenek heran.
"Iya nek?" sela Tania menegaskan ucapan nenek.
"Tapi tadi masih pules banget nek, aku nggak tega ngebangunin" ulas Tania.
"Pagi semua..." sapa Arka yang sudah rapi dengan pasien casual untuk olahraga.
"Mau ngegym?" tawar Arka ke Tania.
"Boleh" Tania mengikuti langkah Arka.
"Tapi abis ini nggak boleh ada yang ngeluh badan pegal semua ya?" timpal Arka.
"Gini-gini aku juga pemegang sabuk hitam taekwondo loh" beritahu Tania.
"Berapa strip yang kamu punya?" sambung Arka.
Tania hanya garuk kepala, karena dia tahu tingkatan Arka lebih dari yang dia punya.
"He...he...polos sih" imbuh Tania.
"Kenapa nggak dilanjutin?" tanya Arka.
"Kerja" jawab singkat Tania membuat Arka gemas dengan tingkahnya.
'Apa dia lupa dengan rasa sakitnya ya? Kok biasa saja sih?' batin Tania. Arka sedang mempersiapkan alat gym yang akan dipakai Tania.
"Harus mulai biasa dengan pola hidup sehat. Karena sehat sangat mahal" terang Arka.
"Siap dokter" kata siap Tania, tapi tidak sinkron dengan polah nya yang masih terlihat malas untuk bergerak.
"Mau kucium? Atau langsung olahraga?" goda Arka.
Tania langsung bergerak cepat ke alat jogging yang sudah siap.
__ADS_1
"Nih minumnya" sodor Arka ke Tania yang mulai menikmati jogging.
"Heemmmm" tukas Tania.
Sementara Arka beringsut ke samping Tania, dan mulai melatih beban untuk kakinya.
Tania menoleh sambil tetap melakukan gerakannya.
'Apa tak sakit?' pikir Tania.
"Kalau jalan jangan melamun aja. Tambahin tuh kecepatannya" suruh Arka yang sudah mulai berkeringat.
Tania menoleh. Pipinya bersemu merah melihat Arka dengan lumuran keringat di pipi. 'Issshhh, seksinya dia' puji Tania dalam hati.
Arka yang merasa diperhatikan, "Ada yang aneh ya?" tanyanya.
Tania buru-buru mengalihkan pandangan, malu karena ketahuan.
Arka tersenyum simpul melihat Tania yang sepertinya salah tingkah. Imutnya, batin Arka.
"Sayang, nanti langsung kantor?" tanya Arka.
"Mampir ke rumah dulu dong. Apa kata dunia kalau baju yang kemarin kupake lagi" tukas Tania.
"Banyak makan waktu ntar. Kan nggak sejalan. Nanti mampir butik aja sekalian jalan" beritahu Arka.
"Boros" sungut Tania.
"Bolak balik kan juga boros BBM?" kata Arka sengit.
"Ya sudah, ngikut aja dech" ucap Tania menimpali.
Mereka berdua telah bersiap berangkat setelah membersihkan diri pasca ngegym barusan.
Sampai sekarang pipi Tania masih saja nampak kemerahan di antara kulitnya yang putih karena olahraga.
"Arka, nenek pesan sekaligus kasih nasehat. Jangan hiraukan wanita-wanita di luar sana yang berusaha ngedeketin kamu. Nenek jamin pasti mereka ada maunya. Apalagi setelah kau diumumkan sebagai seorang penerus Rahardjo Grub" kata nenek.
"Pasti akan banyak wanita yang akan mendekat" imbuh nenek.
"Ada yang curhat nih?" sela Arka. Arka mengira Tania telah curhat ke nenek Gemmy.
"Nggak ada. Tania juga nggak bilang apa-apa ke nenek. Ya kan Tania?" nenek menoleh ke arah Tania.
Tania mengangguk tak menjawab karena mulutnya sedang mengunyah makanan.
Tania dan Arka ke pamitan ke nenek untuk berangkat kerja.
Seperti yang dijanjikan Arka, diajaknya Tania mampir ke sebuah butik untuk membeli sebuah baju setelan kerja.
"Sudah selesai?" tanya Arka saat dilihatnya Tania memakai baju yang sudah berubah daripada sebelumnya.
"Heemmm" angguk Tania.
"Padat jadwalmu hari ini sayang?" tanya Tania.
"Mayan sih, aku mau ketemu sama Benzema untuk menanyakan proyek yang dia pegang" jelas Arka.
"Ooooooo....." Tania hanya menjawab dengan satu huruf yang diucapkan berulang sehingga nampak panjang didengar oleh Arka.
"Ada apa?" telisik Arka.
__ADS_1
"Nggak jadi aja deh" ucap ragu Tania.
"Yank, boleh nggak siang nanti aku ke tempat Arga?" tanya Tania.
"Untuk?" toleh Arka.
"Minta tolong benahin mobilku. Capek aku bolak balik keluar bengkel" beritahu Tania. Padahal dia hanya beralasan karena ingin menanyakan sesuatu ke Arga.
"Yakin nggak ada yang lain?" tandas Arka dan dijawab gelengan cepat Tania. Arka sudah bisa menebak sebenarnya, dia pasti akan menanyakan tentang bekas luka yang ada di kaki.
Arka tahu kalau tadi pagi Tania sudah memergoki dirinya saat dalam kondisi tak seksi.
Dia pura-pura masih tidur, karena terlanjur ketahuan oleh Tania.
Biar aja dia tanya ke Arga. Lagian Arga pasti akan menceritakan semua dengan jujur. Aku sendiri akan sangat malu kalau cerita langsung sama dia.
Nenek Gemmy aja tak tahu akan semua itu.
Untungnya tadi pagi juga bukan nenek Gemmy yang tahu. Kalau sampai nenek tahu, auto heboh seisi mansion dan Arka akan langsung disuruh berangkat ke Amerika.
Dan Tania sangat cerdas untuk tidak memberitahukan ke nenek. Padahal Tania juga tak sengaja melakukan itu semua.
"Oh ya sayang, Minggu depan aku akan terbang ke Amerika. Ada kerjaan" beritahu Arka.
"Kok mendadak? Nggak ditunda setelah kita nikah aja" seloroh Tania.
"Nggak bisa, karena rekanan minta aku hadir langsung. Paling cuman tiga hari" ijin Arka.
"Nggak capek bolak balik? Belum lagi jetlag" Tania sampai ngeri ngebayangin.
"Kan di pesawat bisa tiduran" terang Arka.
"Terserah aja dech" jawab Tania yang selalu sama saat dia sudah tak bisa mendebat Arka. Padahal dalam hati dia mengkhawatirkan Arka. Tiga hari di Amerika sama saja dengan perjalanan pulang pergi. Kapan dia istirahatnya. Gumam Tania.
"Jangan kuatir, kalau sekiranya belum selesai aku akan nambah hari di sana" lanjut Arka seakan tahu kecemasan yang Tania rasa.
"Oke"
Tania hendak turun saat mobil sudah berada di kantor Hadinoto, "Sayang" panggil Arka menunjuk pipinya.
Tania berbalik. Sekarang mulai terbiasa dengan permintaan Arka yang masih dianggap aneh oleh Tania.
Tanpa Tania duga, Arka telah menyatukan bib*r keduanya.
"Makasih" kata Arka setelah selesai.
Hanya sungut Tania yang menjawab. "Besok diulang lagi" kata Arka dan mobil mulai bergerak meninggalkan Tania yang masih tertegun di tempat.
Tania memegangi bib*rnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
__ADS_1
💝
Salam sehat buat semua 🤗