Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Ngidamnya Pakmil


__ADS_3

Keesokan hari, sesuai jadwal yang diminta oleh dokter Beni. Kali ini Arka berangkat ke rumah sakit agak siangan.


Demikian juga Tania yang kosong jadwalnya.


Arka lebih banyak menghabiskan waktu pagi itu bersama dengan Arditya di kamar.


"Oke, berhubung papa di rumah. Khusus pagi ini Arditya akan mandi bersama papa" kata Arka. Dan bayi itupun tertawa melihat polah papanya.


Tania yang juga berada di kamar itu, menyiapkan baju ganti untuk sang putra.


"Hati-hati loh yank" kata Tania memperingatkan Arka. Karena baru pertama kali pegang untuk mandiin bayi yang mulai aktif itu.


Arditya digendong Arka dengan berbalut handuk keluar dari kamar mandi.


"Wah, wanginya" ujar Tania menyambut Arditya ke dalam gendongannya.


Dan dengan gemas, Tania ciumin pipi yang embul itu membuat Arditya tertawa geli.


"Yank, hari ini berangkat jam berapa?" tanya Tania.


"Jam sembilan an. Kenapa?" tanya Arka.


"Boleh nggak aku tidak ikut? Capek banget nih badan" kata Tania.


"Heemmm, akan kucoba" tukas Arka yang juga tak tega jika sang istri telah mengeluh seperti itu.


Tapi jawaban Arka berujung rasa tak tega pada sang suami.


Tania takut sang suami akan mengalami pusing dan mual saat operasi berjalan. Ntar yang ada malah kasihan sama pasiennya.


"Nggak jadi, aku ikutan aja. Tapi aku nungguin di mobil aja ya" kata Tania.


"Kenapa?" tanya Arka.


"Ntar kalau kamu mulai mual dan pusing, biar aku bisa cepat menghampiri" kata Tania sambil tangannya bergerak memakaikan baju untuk Arditya.


"Oke lah. Aku mau bersiap juga" tukas Arka beranjak keluar kamar setelah menciumi Arditya.


.


Dan pagi itu Tania pun menjadi miss parkiran lagi di basement rumah sakit Suryo Husada.


Arka pergi dengan memakai masker, yang didalamnya diberi kain kecil yang ada bau keringat Tania.


Untuk menghindari pusing kata Arka.


"Yank, ntar hubungin aku kalau pusing lagi" pinta Tania.


"Smoga aman saja aku pakai ini" tunjuk Arka ke arah masker yang dipakainya. Tania tersenyum simpul melihat tingkah aneh sang suami hari ini.


Dan ternyata yang dibilang oleh Arka benar adanya.


Arka tak merasakan pusing apalagi mual saat memakai kain dengan bau keringat sang istri.


Arka menyelesaikan operasi tepat dua jam selesai, dengan dua pasien yang dikerjakan olehnya.


Saat dia kembali ke mobil, didapatinya sang istri yang tengah tertidur dalam mobil.


"Mumpung jadwalku masih nanti siang di Panapion, apa sebaiknya aku ajak istriku ke Om Abraham saja ya" pikir Arka.


"Iya lah, aku ke sana saja. Masih ada waktu" gumam Arka sembari menengok ke arah jam tangan yang dipakai.


Arka melajukan mobil tanpa membangunkan Tania.


Saat sampai di depan klinik dokter Abraham, Arka baru membangunkan Tania.


"Sayang, ayo turun" ajak Arka saat Tania nyawanya belum terkumpul sempurna.


Tania mengucek kedua netranya.


"Loh, ini di mana? Bukannya tadi kita di rumah sakit? Yang mindahin kita siapa?" tanya Tania serius.


"Isshhhh, kamu ini kebanyakan nonton film horor yank. Ya jelas aku lah yang nyetir" jelas Arka.


"Kok nggak berasa ya? Operasi juga, sudah selesaikah?" tanya Tania, yang menurut perasaannya dia baru saja tertidur.


"Ayo turun. Kita di klinik om Abraham" terang Arka.


"Periksa lagi?" ujar Tania membego di tempat.


"Iya" jawab singkat Arka.

__ADS_1


"Ayo" ajak Arka kembali.


Kebetulan praktek sudah mau selesai, jadi pasiennya tinggal sedikit.


Baru saja selesai daftar, Tania sudah dipanggil aja oleh asisten sang dokter.


"Hai kalian. Apa kabar?" sapa dokter Abraham.


"Baik Om" jawab Arka.


"Ada apa? Mau pasang alat kontrasepsi kah? Bukan ke aku dong Arka" jawab konsulen fetomaternal itu.


Arka mengusap tengkuknya.


"Apanya yang mau dipasang dok, sudah terlanjur kena gol duluan" sela Tania.


"Ha...ha...kamu kebobolan?" dokter senior itu pun tertawa.


"Kecebong kamu tokcer juga Arka" masih saja dokter Abraham menertawakan Arka.


"Keburu tua Om" kata Arka beralesan.


"Karena sudah terlanjur gol, maka permainan harus dilanjut. Sekarang silahkan naik ke sana" tunjuk nya ke arah tempat tidur periksa.


"Siap Om" jawab Tania.


Karena pasien terakhir Arka dan Tania punya kesempatan untuk konsul agak santai. Tidak keburu pasien lain yang sudah terlewati tadi.


Dokter Abraham dengan serius menggerakkan probe.


"Semua normal kok" terangnya.


"Hari pertama haid terakhirnya kapan?" tanya sang dokter, yang pasti untuk mengkonfirmasi usia kehamilan Tania apakah sesuai antara haid dan hasil USG nya kali ini.


"Boro-boro. Semenjak selesai nifas aku belum haid Om. Eh langsung tancap" ucap Tania.


"Heemmmm, kesuburan kamu aku acungin jempol dech" kata dokter.


"Berapa usia kehamilannya Om?" sela Arka.


"Kalau menurut ukuran bayi, sudah dua puluh dua puluh satu minggu" terang dokter Abraham.


"Iya" " Tidak" suara Tania dan Arka bersamaan.


Tania mencebik mendengar kata tidak dari mulut sang suami.


"Aku ingin tahu yank. Nggak papa ya Om, yang penting ntar lahirnya sehat" kata Tania mencari pembenaran dari sang dokter.


Padahal Arka dengan melihat layar monitor yang di freeze oleh dokter Abraham juga tahu jenis kelamin bayi yang dikandung sang istri sekarang. Usil banget memang Arka Danendra.


"Gimana kasih tahu nggak nih?" tanya dokter Abraham.


Jawaban yang sama didapat sang dokter dari pasangan suami istri itu.


Dokter senior itupun hanya bisa membenarkan letak kacamatanya yang melorot.


"Ya sudah, intinya bayi kalian sehat. Letak semua normal. Untuk jenis kelamin silahkan kalian bicarakan sendiri ya" katanya mengakhiri sesi periksa.


"Oh ya Tania, jenis kelamin tanya saja Arka. Dia sudah tahu, makanya dia tak mau aku kasih tahu" bisik dokter Abraham. Tania pun mendelik tajam ke arah sang suami.


'Pasti Om Abraham memprovokasi nih' batin Arka.


Padahal sang dokter juga menulis di buku periksa jenis kelamin bayi Tania dan Arka dengan simbol yang jelas.


Ada-ada saja kalau mau ngerjain bumil.


"Oke, ini resep vitaminnya. Oh ya Arka kurangin juga gempuran kamu ke Tania. Takutnya bisa buat kontraksi" jelas dokter Abraham.


Tania tersenyum, "Saatnya balas dendam Om" ujar Tania membuat Arka manyun.


Dokter Abraham terbahak mendengar kata-kata suami istri yang absurd itu.


"Oke Om, makasih ya. Kapan aku harus kontrol kembali?" tanya Tania saat menerima kertas resep yang barusan ditulis oleh dokter Abraham.


"Seperti biasa lah sebulan sekali atau sewaktu-waktu jika ada keluhan" jelasnya.


"Oke. Makasih sekali lagi" Tania beringsut dari kursi duduknya. Arka pun mengikuti untuk pamitan.


"Langsung pulang aja ya" pinta Tania.


"Wah, bisa dipecat aku sama Pandu" terang Arka.

__ADS_1


Tania manyun mendengarnya.


Arka mengarahkan mobil langsung menuju Panapion.


"Eh bentar. Itu ada yang jualan es buah" kata Tania tiba-tiba.


"Kepingin?" tanya Arka dan Tania pun mengangguk.


Arka menepikan mobil yang dibawanya.


Dan Tania langsung memesan es buah tepi jalan itu.


"Pak, sepuluh bungkus" pesan Tania.


"Banyak amat yank?" heran Arka.


"Buat aku, kamu, Pandu, papa sama yang lain juga. Kamu ada rapat kan selepas ini?" tanya Tania.


"Iya sih, tapi masa iya menunya es buah?" Arka mengacak rambut yang sudah rapi itu.


"Sekali-kali lah" imbuh Tania.


Arka menyetujui saja, daripada bumil marah-marah.


Arka memimpin rapat dan dengan santainya Tania membagikan es buah kepada staf yang mengikuti rapat.


Semua malah nggak fokus dengan penyampaian Arka karena Tania.


Pandu pun demikian, merasa aneh dengan ulah sang nyonya bos.


"Untuk mengembalikan konsentrasi, silahkan dinikmati dulu es buahnya" ujar Arka.


Karena Arka pun ingin makan, setelah melihat sang istri yang duduk dengan tenang di belakang menikmati es buah yang dibelinya.


Sementara yang lain menikmati es buah, Arka menghampiri Tania.


"Yank suapin" pinta Arka. Tania mendongak.


"Ini punya kamu" Tania menyodorkan es buah yang tinggal segelas itu.


"Nggak mau, aku mau disuapin kamu" rengek Arka.


"Di sini? Di ruang rapat?" Tania menegaskan.


Arka pun mengangguk.


"Ntar wibawa kamu hilang loh Yank" bisik Tania.


"Bodo amat" tukas Arka.


Sementara yang lain pura-pura tak melihat ulah sang bos. Dan tentu saja tak berani menegur.


"Manja banget sih Arka" olok papa yang juga berada di sana.


"Kan nggak papa Pah. Sama istri sendiri" Arka beralesan.


"Itu mah modus kamu aja" sambung papa mengolok Arka.


"Dilanjutin nggak nih rapatnya?" sela Pandu.


"Kamu aja yang pimpin, aku dengerin" suruh Arka ke Pandu.


Meski menggerutu Pandu tetap saja melakukan apa yang menjadi perintah Arka.


Hampir dua jam mereka berada di ruangan itu.


Tania telah tidur pulas kala rapat ditutup oleh Arka dengan duduk bersandar di kursi.


Mana Tania peduli akan hal itu.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


๐Ÿ’

__ADS_1


__ADS_2