
Kedatangan Tania disambut oleh pidato mama Rosa yang tidak ada koma dan titik.
"Mah, aku boleh ke kamar nggak? Obat tidurku sepertinya masih berefek" kata Tania sambil menguap berkali-kali.
Mama Rosa yang merasa kasihan kepada putri tunggalnya hanya bisa berucap, "Sarapan dulu dan jangan lupa paling lambat besok, dia harus sudah ada di depan mama" ulang mama Rosa.
"Iya...iya..." Tania melangkah ke meja makan. Mendengarkan orasi mama Rosa membuatnya lapar.
Tania makan dengan mata sayu dan menahan rasa kantuk yang kembali menyerang.
"Mah, aku tidur dulu ya" Tania meninggalkan makan yang masih ada separuh di piring.
"Nggak dihabisin?" sela mama.
Tania menggeleng.
.
Sementara itu di waktu yang sama di tempat yang berbeda.
Arka sedang menghadapi pidato nenek tercinta. Saat ini mereka juga berada di meja makan dan Arka sedang menikmati menu sarapan yang disukainya. Nenek sepertinya sengaja menyuruh bibi untuk menyiapkan menu favorit sang cucu.
"Arka, kamu tega ya. Batalin janji ke nenek, tapi malah berduaan dengan seorang cewek di apartemen kamu. Pokoknya nenek nggak mau tau ya, besok kamu harus ngajak tuh cewek menghadap nenek" tegas nenek.
"Nek, beneran aku nggak ada apa-apa dengan tuh cewek. Aku hanya menolongnya" Arka mencoba menjelaskan.
"Nggak ada penolakan. Pokoknya harus kamu ajak ke sini" tolak nenek.
Nenek Arka paham betul dengan karakter cucu nya. Nggak akan mungkin Arka mengajak seorang wanita, jika dia sendiri tak nyaman.
Karena selama ini, nenek tak pernah sekalipun tahu cucu nya itu mengajak seorang cewek. Apalagi sampe datang ke apartemennya.
Darimana nenek tahu, ya pasti orang suruhan lah yang selalu melaporkan padanya.
Arka hanya bisa mengacak-acak rambut, menanggapi permintaan nenek yang tak masuk akal itu.
"Siapa namanya?" telisik nenek.
"Tania....Tania Fahira" jawab Arka jujur.
"Tuh, nama lengkapnya aja kamu tahu" sahut nenek.
"Pekerjaan?" sambung nenek.
"Pengacara" Arka terus saja menjawab interogasi nenek.
Sudut bibir nenek sedikit terangkat.
"Punya firma hukum sendiri?" nenek terus saja mengejar.
"Nggak, masih magang. Tapi sudah mau selesai sepertinya" imbuh Arka.
"Bahkan kau sudah jelas tau tentang dia, tapi kenapa nggak kau kenalkan ke nenek" cerca nenek.
"Tau ah gelap" kata Arka karena tak bisa menyangkal kata-kata nenek. Nenek yang sangat dicintai oleh Arka.
__ADS_1
Papa nya telah sibuk dengan keluarga baru.
Semenjak kehilangan mama tercinta, Arka cenderung menutup diri. Bahkan tak mau membuka hati untuk kehadiran keluarga baru papa yang menurutnya seperti ular berbisa.
Arka sedang memikirkan cara mengajak pengacara galak itu untuk memenuhi permintaan tak masuk akal nenek. Nenek Gemmy Rahardjo.
"Nek, aku pergi dulu" kata Arka.
Bosan juga di rumah, batin Arka.
"Arka kapan kau akan berhenti main-main?" tanya nenek yang sedang berada di dapur.
"He...he...Arka kan juga kerja nek" sahut Arka.
"Kerja apa, mondar mandir sana sini" sela nenek.
Arka mencium tangan yang sudah keriput itu.
"Mau ke mana lagi?" tanya nenek.
"Mencari calon cucu menantu buat nenek...ha...ha..." canda Arka.
"Beneran?" nenek menengok serius ke Arka.
"Ha...ha....canda nek. Mau ke tempat Arga" Arka menyambar kunci mobil sport miliknya, melenggang menjauhi posisi nenek Gemmy.
Gerbang otomatis terbuka saat mobil Arka lewat.
Arka mencari keberadaan Arga setelah memarkirkan mobil.
"Ga...Arga..." panggil Arka.
"Ha...ha...mana anak buah loe?" tanya Arka dan terbahak melihat muka Arga belepotan oli.
"Beberapa ijin, jadi terpaksa dech gue turun sendiri" gerutu Arga.
"Mana hari Minggu pasti rame lagi" lanjutnya.
Arga memang teknisi handal, nasibnya aja yang tak mendukung. Meski hanya lulusan SMA, Arka akui tak ada teknisi hebat selain Arga.
Arga yang terbuang dari keluarga, bahkan ibunya tega meninggalkan Arga saat Arga masih orok di sebuah panti asuhan.
Arga mulai mengenal Arka saat dirinya dikeroyok oleh belasan preman, karena Arga dianggap menyabotase wilayah para preman itu. Meski jago karate, saat itu Arga kalah jumlah dengan para pengeroyoknya membuat dirinya terjepit. Hingga datanglah Arka yang menolong dan membantu Arga untuk melawan para preman. Mereka dibuat bertekuk lutut oleh Arga dan Arka. Semenjak itulah mereka berdua bersahabat.
Kini dengan bantuan Arka Danendra, Arga menjadi sosok yang bisa diandalkan.
Bahkan oleh dunia bawah, Arga sangat diakui keberadaannya.
Persahabatan tanpa memandang status, itulah hubungan mereka berdua. Maka dengan yakin Arka memberi modal Arga untuk membuka bengkel. Bengkel spesialis mobil mewah.
Bahkan anak buah yang lain selalu memanggil Arka dengan sebutan tuan muda.
"Tumben minggu-minggu ke sini? Mau bicarain showroom yang akan kau resmikan?" seloroh Arga masih meneruskan pekerjaannya di bawah mobil.
Arka duduk jongkok menunggui sang sahabat.
__ADS_1
"Galau gue" celetuk Arka.
"Ha...ha....Arka Danendra galau???" Arga malah terbahak.
"Jangan-jangan karena Tania Fahira?" Arga masih saja bercanda.
"Heemmm" Arka mengangguk.
"Ceritanya loe ke sini mau curhat???" Arga sampai keluar dari kolong mobil.
Arka mengangguk, "Bingung gue, nenek menyuruhku mengajak Tania ke rumah" kata Arka serius.
"What?" Arga mendelik kaget.
"Bagaimana nenek tau?" Arga heran.
"Semalam kan Tania kubawa ke apartemen, dan tadi pagi kebetulan mama dia telpon barengan sama nenek nelpon gue" cerita Arka.
"Akhirnya nenek mendengar suara Tania yang lagi ngobrol sama mamanya dari ponselku" lanjut Arka.
"Ha...ha....kamu ketahuan" gurau Arga menirukan sebuah judul lagu.
Arka melotot ke arah Arga, "Serius gue. Mana nenek minta ketemuannya besok sama Tania" Arka mengacak rambutnya kasar.
Arga menghentikan tawa mendengar ucapan Arka barusan. "Serius, nenek Gemmy minta ketemu dengan Tania?"
Arga mengangguk pasrah.
"Bisa pecah perang dunia lagi nih" Arga ikutan galau. Geger antara Arka dan Tania, Tom and Jerry versi manusia. Batin Arga. Arga sudah tau bagaimana celotehan Tania saat diajak Arka berkunjung ke bengkel waktu itu.
"Apa yang harus kulakukan Ga?" Arka minta saran.
"Kau hubungi Tania lah" sahut Arga.
"Itu aku juga tau Ga. Tapi aku musti bilang apa? Nggak mungkin kan aju bilang mau kuajak ketemu nenek. Bisa ditimpuk sepatu sneaker aku sama cewek itu" gumam Arka.
.
Di rumah, Tania juga galau memikirkan cara mengajak Arka bertemu dengan mama nya.
Tania yang barusan bangun, langsung teringat ancaman mama nya tadi.
"Apa kukirim pesan padanya saja ya?" gumam Tania.
"Idih, gengsi ah. Cewek kok ngajakin duluan" terjadi perang batin dalam diri Tania. Sampai perang batin segala, santuy aja Tania. Di sana Arka juga galau mau ngajakin kamu. Jadi tungguin aja chat dari Arka Danendra. Bisik othor...wkwkwkwkkkkkk....
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan readers semakin banyak.
Buat nambah imun othor, biar semangat nulis 😊😊😊
*Kegalauan Arka dan Tania dilanjut di part selanjutnya aja yaaahhhh
__ADS_1
Klik juga dong iklannya
Lope² bunga sekebon dech untuk kalian 🌺*