Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Permintaan Suami


__ADS_3

Pandu keluar ruangan CEO untuk melaksanakan perintah sang bos.


Dia lanjut ke ruang rapat, dan memberitahu bawahannya untuk segera menyiapkan semua.


Agenda hari ini adalah untuk mengevaluasi kinerja masing-masing bagian dan program apa saja yang mereka siapkan untuk tahun depan.


Selama Arka menjabat menjadi CEO, meski terjeda karena kejadian kecelakaan dan berujung operasi Arka tak pernah melewatkan sedikitpun laporan dari Pandu saben hari nya. Laporan yang disampaikan para pengawal yang dengan setia menungguinya selama terapi.


Arka tak ingin terulang kejadian Tuan William dan tuan David yang tentunya mempengaruhi kinerja semuanya. Khususnya di internal Panapion sendiri.


Dipegang oleh Arka, sebagian besar proyek telah berjalan sebagaimana mestinya.


Hampir dua jam mereka di ruang rapat. Sementara Tania ijin keluar duluan karena merasakan tak nyaman di perut.


Arka meminta sekretarisnya untuk mengantarkan sang istri untuk istirahat. Dia tetap melanjutkan memimpin rapat direksi sampai selesai.


"Sayang, gimana perut kamu?" tanya Arka yang telah menemukan sang istri sedang istirahat baring.


"Lumayan lah sedikit berkurang" jelas Tania.


"Kalau masih sakit, kita ke om Abraham aja" saran Arka.


"Ini udah mendingan kok. Tapi aku ingin rujak buah" ucap Tania. Dia masih saja ingat keinginannya tadi pagi.


"Apa nggak nambah sakit perut kamu nantinya?" Arka menanggapi.


"Bukan sakit yank, tapi berasa tak nyaman aja" Tania beralasan.


"Oke, aku telponin Pandu aja untuk membeli" ujar Arka.


"Nggak usah. Aku tadi udah minta tolong sekretaris kamu untuk membelikan...he...he..." ucap Tania.


"Ya udah buat istirahat. Kalau ada sesuatu aku di ruang sebelah ya" kata Arka.


Pandu menghampiri ruang sang bos kembali setelah membereskan acara rapat.


"Sudah selesai?" tanya Arka yang melihat Pandu barusan masuk ruangan.


"Sudah. Barusan kututup rapatnya. Oh ya tuan, beberapa laporan dan program kerja yang sudah dikoreksi barusan kukirim by email" terang Pandu.


"Oke, nanti kulihat"


Pandu juga menyerahkan beberapa berkas tambahan dan diserahkan kepada Arka.


"Ini apa lagi?" Arka menyambung tanya.


"Beberapa laporan tambahan, termasuk laporan tahunan" kata Pandu.


"Neraca nya?"


"Ada di situ tuan. Kukirim ke email juga" tukas Pandu.


Arka melihat lembar demi lembar berkas yang dibawa Pandu barusan.


"Kenapa masih di sini? Enggak ada kerjaan?" tanya Arka yang melihat Pandu belum beranjak dari hadapannya.


"Bukan begitu tuan" terang Pandu.


"Terus?"


"Aku hanya penasaran, kenapa tuan nggak ambil tindakan aja sih???? Libas Arkan. Daripada membahayakan nyonya muda" kata Pandu yang gemas karena sang tuan belum bergerak juga.


"Ha...ha....kenapa kamu ikutan geregetan sih?" Arka malah terbahak.

__ADS_1


"Habisnya, sudah lama loh tuan mereka mengusik " timpal Pandu.


"Ya biarin aja. Kenapa kita repot-repot ngotorin tangan sementara sudah ada yang mengurus mereka. Ntar kamu juga akan tahu" jawab Arka santuy.


"Maksud tuan?" Pandu masih saja penasaran.


"Kepo aja kamu. Balik sana kerja!!!" suruh Arka dan membuat Pandu sewot karena rasa penasarannya belum terjawab.


Siapa yang tak ingin keluarga bahagia, aman, sejahtera. Itu pasti harapan semua orang, termasuk juga Arka Danendra.


Memang masalah utama baginya sekarang adalah keberadaan Arkan.


Arkan juga pandai, tidak terlalu menampakkan kejahatannya dan tak terang-terangan mengusik Panapion dan juga Tania. Dia selalu mengutus orang lain untuk berhadapan dengan Panapion.


Ada William, David, Smith, tuan Anton yang terbaru. Arka sebenarnya yakin, ada campur tangan Arkan dibaliknya. Tapi semua bukti belum bisa menyatakan keterlibatan seorang Arkan secara langsung. Hingga penyelidikan terhenti ke orang-orang itu. Tidak termasuk Smith dan tuan Anton yang sampai sekarang masih melenggang dengan bebas.


Arka tersenyum sendirian, memikirkan apa saja yang telah dilakukan untuk menyabotase pergerakan Arkan.


Arka bergerak dalam diam.


Siapa yang tahu, hanya Arka sendiri (Author termasuk sih...he...he...).


Semua orang sependapat dengan Pandu, yang menilai bahwa Arka tak ada tindakan sama sekali terhadap Arkan yang nyata-nyata beberapa kali membahayakan dirinya dan juga Tania.


Arka menghela nafas panjang, "Ya biarlah orang dengan penilaiannya masing-masing" ucapnya bermonolog.


Arka beranjak hendak menyusul sang istri yang sedang istirahat, tapi niat itu diurungkan karena sekretarisnya masuk untuk mengantar pesanan sang istri.


"Maaf tuan, mau mengantarkan pesanan nyonya" bilangnya.


"Oke, taruh aja di meja" suruh Arka.


"Makasih Willen" ucap Arka.


"Baiklah"


Arka membawa pesanan sang istri ke ruang sebelah, tempat Tania istirahat.


Saat masuk didapatinya sang istri yang sepertinya sedang menerima telpon dari seseorang.


"Iya Maura?" jawab Tania.


Hmmm, sepertinya dia sedang berbicara dengan Maura Hadinoto. Batin Arka.


Arka mendekat dan membuka bungkusan rujak buah.


Tania yang menengok, melihat rujak buah yang disiapin sang suami dengan mata berbinar.


Meski masih menelpon, Arka dengan sengaja menyuapi sang istri.


"Jadi aku mulai kapan bisa kerja? Tapi sebelumnya makasih Tania. Sudah kamu berikan kesempatan kepadaku" jawab Maura yang terdengar juga oleh Arka.


Tania sengaja meloudspeaker panggilan saat dirinya menerima suapan rujak buah tadi.


"Sama-sama Maura. Tapi gajinya nggak sebesar di tempat tuan Hadinoto loh" terang Tania.


"Nggak apa-apa. Yang penting kerja. Seumpama besok aku datang?" tanya Maura.


"Datang aja. Mengenai kerjaan di kantor tanya aja Angel. Ntar Angel kukasih tau" jawab Tania.


"Baiklah. Makasih" tukas Maura. Panggilan itupun berakhir.


Melihat tingkah Tania barusan, membuat Arka bangga. Sang istri yang berbesar hati memaafkan Maura Hadinoto yang jelas-jelas merundungnya dari jaman sekolah dan tega merebut kekasihnya saat itu.

__ADS_1


"Kok menatapku segitunya yank? Ada sesuatu kah?" tanya Tania sambil mengusap wajahnya. Takutnya ada makanan yang nyasar di muka.


"He...he....bumilku tambah cantik aja" kata Arka plus rayuan.


"Heemmmmm, jangan mulai dech" kata Tania menanggapi.


Arka terbahak, "Gimana kalau kita ulang yang semalam?" bisik Arka nakal.


Tania melotot.


"Kubilangin Om Abraham ntar" jawab Tania penuh ancaman.


"Ha...ha...jangan bawa-bawa dokter Abraham dech. Aku sudah konsul duluan, sebelum melakukan" terang Arka.


Arka meraih ponsel di saku, dan menunjukkan pesan yang dikirim ke Om Abraham.


"Nih..." Arka menyodorkan ke Tania.


"Kurang bukti bu pengacara????" Arka terbahak melihat sang istri yang serius membaca pesan om Abraham.


"Karena bukti dan saksi kuat, maka permintaan diterima" jawab Tania tegas.


Arka dengan penuh semangat mendekati sang istri yang sudah bagai candu baginya.


Arka memulai pekerjaan yang tertunda beberapa bulan sebelumnya karena operasi dan masa pemulihan.


Desah4n dan des4han terdengar sayup di ruangan sebelah, dan tak sengaja Arga dengar karena datang ke ruangan Arka.


"Sialan, aku datang di waktu yang tidak tepat" umpat Arga kembali keluar dari sana dan memutuskan untuk mendatangi ruangan Pandu saja.


Sementara Arka telah terbaring di samping sang istri dengan wajah puas.


"Makasih sayang" kecup Arka di kening sang istri.


"Semoga waktu kontrol nanti, plasenta nya sudah bergeser" harap Arka.


"Idih maunya" tukas Tania.


"Itu doa sayang. Harusnya kamu aminkan" bilang Arka.


"Aamiin" Tania menjawab.


"Nah gitu dong" Arka tergelak melihat sang istri yang hanya berbalut selimut.


"Hei, apa yang kamu lakukan?" Tania terlonjak, karena dengan santainya kepala sang suami masuk ke balik selimut.


"Nengok Arka yunior dong" tukas Arka yang sepertinya tak pernah puas menciumi perut sang istri.


"Woww...dia nendang sayang" kata Arka.


"Iya, aku juga kerasa. Dia demo kali, merasa digangguin papa" gurau Tania.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


πŸ’

__ADS_1


__ADS_2