Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Mutia Bakery


__ADS_3

Saat Pandu masuk ruangan, Arka pun menghentikan lari. Alhasil Tania sukses menubruk badan kekar di depan nya.


"Duh, jidatku" keluh Tania.


Arka pun berbalik arah, "Maaf, sakit ya?" tanya Arka serius.


"Sudah tahu sakit, pake nanya lagi?" ujar Tania mencelos.


Sementara Pandu hanya bisa menatap penuh iri atas kemesraan sang bos dengan Nona Tania.


"Ada apa kau Pandu? Masuk nggak pake ketuk pintu" hardik Arka.


"Maaf tuan, saya lupa kalau ada Non Tania" jawabnya sok polos.


"Tuan, semua proyek ini bagaimana? Ada beberapa vendor yang menanyakan kelanjutannya. Kalau dihentikan semua kita akan rugi waktu dan kerugian yang tak sedikit" beritahu Pandu.


"Heemmmm, sudah kupikirkan semua akan resiko nya. Proyek yang berjalan lancar tentu saja teruskan. Kalau yang kesendat, akan aku pegang sendiri untuk sementara waktu" Arka memberi mandat kepada Pandu.


"Baik Tuan" pamit Pandu berbalik arah hendak keluar.


"Oh ya Pandu, jika sewaktu-waktu wanita tadi datang, jangan pernah sekalipun kau hadapkan padaku" ucap Arka untuk dipatuhi oleh Pandu.


"Baik Tuan. Terus untuk tuan William bagaimana?" ulas Pandu.


"Biarkan seperti ini dulu, meski menjadi direktur keuangan kendali semua keuangan perusahaan ada padaku langsung" tandas Arka.


"Siap tuan" balas Pandu.


"Apa masih ada sekiranya yang perlu aku tanda tangani. Aku ingin pulang cepat hari ini" tandas Arka.


"Tidak ada tuan" kata Pandu menjawab Arka.


"Sayang kau ingin pesan gaun di butik mana?" tanya Arka saat Pandu telah keluar ruangan.


"Jangan tanya hal begituan, mana aku tahu butik yang recomended" ulas Tania.


Arka terkekeh, baru ingat siapa wanita di hadapannya. Seorang wanita yang tak mau ribet akan penampilan, yang penting dia nyaman maka akan dipakai olehnya.


"Kenapa kau nggak nanya nenek Gemmy atau istri Sebastian aja?" saran Arka.


"Eh, tapi jangan nenek dech. Pasti recomen nya gaya-gaya jadul" sela Arka dan terbahak.


"Ke Mutia aja" tukas Tania.


"Kita mampir ke Bakery nya aja yuk!" ajak Tania.


"Emang sudah dibolehin dia sama suami nya bekerja?" telisik Arka.


"Hemmmm benar juga. Mana ada suami posesif itu ngijinin istrinya bekerja" tandas Tania mengingat Sebastian yang sangat mencintai Mutia.


"Kutelpon Mutia aja dulu" seloroh Tania meraih ponsel.


"Halo kak, tumben?" sapa Mutia.


"Apa kabar?" tanya Tania.


"Baik kok kak. Kakak?" tukas Mutia.


"Alhamdulillah baik. Aku tuh sebenarnya mau nanya, butik yang recomended untuk buat gaun di mana sih?" seloroh Tania.


"Gaun apa dulu, kalau gaun pernikahan aku anterin aja dech" sambung Mutia.


"Ntar suami posesifmu ngelarang?" tukas Tania.


"Hari ini aku lowong kak, ini juga lagi di Mutia Bakery lihat-lihat laporan" jelas Mutia.

__ADS_1


"Oke, aku otewe ke sana? Beneran nggak ganggu kan?" tandas Tania.


"Oke, kutungguin" balas Mutia menutup panggilan.


"Gimana?" sela Arka yang menatap Tania.


"Kita ke Mutia Bakery sekarang" ajak Tania.


"Betewe, Mutia Bakery itu murni usahanya Mutia istri Sebastian ya?" tanya Arka saat mereka sudah berada dalam mobil.


"Heemmmm...panjang cerita mereka" ucap Tania.


"Untuk menjadi bahagia seperti sekarang, banyak liku-liku yang musti mereka lewati" imbuh Tania.


Dan untuk lebih jelasnya, ikutin cerita 'Wanita Itu Ibu Anakku' pesan othor...he...he...


"Semoga kita juga ikutan bahagia seperti mereka" imbuh Arka menimpali.


"Aamiin" tukas Tania.


"Oh ya sayang, untuk kue-kue buatan Mutia sangat recomended loh" lanjut Tania.


"Emang kau dibayar berapa? Ikutan promote" jawab Arka.


"Ha...ha...tapi emang benar-benar enak kok. Mutia itu sangat menjaga mutu bahan-bahan kuenya. Lewat tangannya terciptalah kue premium yang super enak" kata Tania lugas.


"Iya...iya...aku percaya. Gimana kalau untuk acara nanti kita pesan aja dari Mutia Bakery?" tanya Arka.


"Setuju" Tania menyahut cepat.


"Urusan makan aja, cepat kali responnya" ujar Arka.


"He...he...." Tania hanya terkekeh.


Dena kebetulan berada di lobi saat Tania dan Arka datang.


"Eh kak, tumben mampir ke sini?" tanya Dena menghampiri.


"Iya, mau ketemu Mutia. Ada?" tanya balik Tania.


"Ada kok Kak, malah tuan Sebastian juga ada di sini. Barusan datang" beritahu Dena.


"Kalau ada Sebastian, pacar kamu juga pasti ada dong. Mereka kan sepaket" timpal Tania.


"Ha...ha...kakak tau aja" seloroh Dena menanggapi.


"Yuuk kak, kuantar ke ruangannya kak Mutia" ajak Dena.


Tania dan Arka mengikuti langkah Dena menuju ruang Mutia.


"Halo cantin, tumben bisa mampir? Yang satu sibuk nelusurin kasus lama, yang satunya repot nyelesaikan proyek" sapa Sebastian.


"Cantin?" bengong Tania.


"Bang Arka, jangan lupa kau kasih makan tuh calon istrimu. Kalau lapar dia suka lemot" ledek Sebastian.


"Cantin...Calon Pengantin" sela Dewa yang barusan masuk ke ruangan Mutia.


"Oooooo..." Tania ber'o' ria.


"Kak, sini aja. Jangan dengerin papa nya Langit" kata Mutia menengahi ketiga sahabat somplak itu.


Dan menjadi kebiasaan jika ketiga laki-laki itu bersua pasti obrolan bisnis jadi topik utama.


"Bang, gimana? Sudah selesai semua masalahnya?" tanya Tian.

__ADS_1


"Mayan sih, akhirnya sebagian proyek ada yang harus kuhandling sendiri" beritahu Arka.


"Itu lebih baik sih. Terus mau ambil tindakan apa?" kembali Tian bertanya.


"Inginnya sih sekali mengayuh dayung dua tiga pulau terlampui" ucap Arka.


"Bener...bener...biar nggak capek kerja" Dewa ikutan menimpali.


"Tian, kudengar kau punya proyek RS di kota A?" ganti Arka yang bertanya.


"Iya sih, tapi baru delapan puluh persen lah prosesnya" tandas Tian.


"Boleh dong daftar sebagai dokter di rumah sakit kamu" seloroh Arka.


"Kesibukanmu sebagai CEO apa masih kurang bang?" ledek Sebastian.


"Ya nggak biar nggak lupa ilmunya. Sebenarnya menjadi CEO bukanlah passion ku" ulas Arka.


"Kepaksa gitu ceritanya?" ucap Dewa.


"Yaaahhhhhhhh bisa dibilang begitu. Tapi karena itu amanat, terpaksa kujalani aja" sambung Arka.


"Maka baru sekarang Abang mau terima amanat itu, padahal sedari dulu tuan Rendra mau nyerahin ke abang kan?" Tian menimpali.


"Ha...ha...selama bisa menolak dulu, kenapa harus langsung diterima" canda Arka.


"Apa Tania juga menolakmu dulu bang?" telisik Dewa.


"Wah, kalau itu lain cerita. Mana bisa dia menolak pesonaku" Arka terbahak.


"Benar juga. Dia kan waktu itu lagi galau ditinggalin laki-laki brengsek itu" sahut Tian.


"Heh, kalian bertiga sedang nggosip ya?" sela Tania yang sudah selesai ngobrol dengan Mutia.


"Iya" jawab ketiganya.


"Nggosipin kamu" lanjut Tian.


"Udah selesai belum urusannya?" tanya Arka.


"Sudah. Kita pamit aja, bisa kurus aku dibully sama mereka berdua" sergah Tania.


Arka beranjak dari duduk.


"Nggak seru kalian, kita makan malam dulu yukk barengan" usul Tian.


Arka menengok jam tangannya, "Masih sore untuk makan malam. Kapan-kapan aku janji dech" tolak halus Arka karena dia ada janji dengan papa Rendra.


"Oke, kutunggu janjinya" sambut Sebastian.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Vote...vote...vote...


Klik juga dong iklannya


💝


Salam sehat buat semua 🤗

__ADS_1


__ADS_2