Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Masih Bersama Arkan


__ADS_3

"Tahu nggak sampai sekarang aku tuh belum yakin kalau kamu mau bertobat" ucap Tania di hadapan Arkan.


"Terus bagaimana cara buktiin buat kamu percaya nyonya Arka Danendra" jawab Arkan.


"Seorang manusia yang jahatnya luar biasa, bahkan setan pun akan takut sama loe. Iblis juga akan mengangguk dengan rasa hormat mengingat kejahatanmu yang lampau" terang Tania.


"Eh, sialan loe. Ngolok-ngolok gue lagi ternyata" balas Arkan.


"Entahlah, semenjak ketemu kamu langsung. Malah aku semakin tak ingin balas dendam lagi" ujar jujur Arkan.


"Jadi loe terpesona sama gue gitu?" seloroh Tania.


"Ha....ha...au ah gelap" tukas Arkan terbahak.


"Intinya, titik balik gue sesaat sebelum aku ditangkap. Aku mimpi suatu hal yang aneh. Ditambah dengan kehamilan Davina. Sebagai seorang calon papa, pasti aku ingin yang terbaik buat anakku. Apalagi yang terbaru, Davina menjadi pecandu karena ulahku juga" terang Arkan mulai serius.


"Ternyata tetap saja kamu orang yang egois. Ingin yang terbaik buat orang terdekatmu saja" tandas Tania.


"Apa aku salah mengharapkan itu? Tapi nasi sudah menjadi bubur sekarang. Aku akan kooperatif terhadap proses dakwaanku" lanjut Arkan.


"Bisa saja sebenarnya aku kabur dengan segala koneksiku selama ini. Tapi sudahlah, lelah juga menjadi manusia yang jahat" terang Arkan yang sepertinya sudah sadar sepenuhnya.


"Tolong bantu jagain Davina" pinta Arkan.


"Issshhhh, anak buah kamu masih bejibun. Bahkan di balik pagar penjara ini, semua anggota loe. Minta tolong aja sama mereka semua" imbuh Tania.


"Tahu aja loe" seloroh Arkan.


"Ha...ha....Tania gitu loh" ucap Tania balik menyombongkan diri.


"Dan alangkah baiknya, ajak mereka bertobat juga bersamamu" imbuh Tania.


"Pesantren akan penuh dong..." tandas Arkan.


"Betul juga apa kata kamu" sahut Tania.


Maura nelponin Tania saat masih berbincang dengan Arkan.


"Maura" kata Tania seakan memberi tahu Arkan dan Angel yang berada di sana.


"Halo Maura" sapa Tania.


"Mau laporan bos. Davina sudah tenang sekarang dan mulai bisa menerima keadaan. Sementara rehabilitasi akan diprogram untuk enam bulan ke depan" jelas Maura.


"Proses hukumnya sejauh mana?" sela Tania.


"Karena terbukti Davina hanya seorang pemakai dan bukan berperan sebagai pengedar, kurir atau produsen. Dan Davina juga bukan residivis dan barang bukti tidak ditemukan saat Davina ditangkap bersama Arkan maka rehabilitasi ini merupakan upaya hukum terbaik bagi Davina" kata Maura menjelaskan.


"Kamu sudah dengar sendiri kan? Bagaimana nasib Davina sekarang?" tatap Tania ke arah Arkan.


"Makasih" hanya itu yang keluar mulut Arkan.


"Bonus dari loe jangan lupa" ucap Tania sembari tertawa.


"Kamu ini pasti gitu loe, ngerusak suasana serius jadi nggak jelas" kata Arkan menimpali.


"Mau berapa loe?" imbuh Arkan.


"Ha...ha...kiraiin hanya gue yang matre. Loe juga perhitungan banget" seloroh Tania.


"Gue nggak ngerti nih. Cepetan loe bilang, sampai di mansion aku jamin uang yang kamu sebut sudah masuk ke rekeningmu" kata Arkan.


"Ha...ha...jangan menganggap uang bisa membeli segalanya Arkan. Bonus yang aku maksud dari loe itu adalah tetaplah menjadi orang baik. Dan jangan berubah menjadi manusia durjana lagi" terang Tania.


Deg, dirinya salah menilai Tania. Batin Arkan.


"Sori, gue salah" ucap Arkan tulus.

__ADS_1


"Sama-sama. Aku balik dulu. Lama juga ngobrol sama loe hari ini" kata Tania beringsut dari duduk nya yang lumayan lama.


"Makasih atas segala apa yang kamu upayakan buatku dan Davina. Hanya yang di atas yang akan membalas ketulusanmu Tania" tukas Arkan.


"Sama-sama" imbuh Tania.


.


Tania keluar dari ruangan diikuti Angel.


"Non, aneh juga ya. Korban penculikan malah menjadi kuasa hukum si penculik" sela Angel.


"Ha...ha...maksud loe nyindir author gitu kah?" Tania terbahak.


"Iya sih, karena hanya ada di novel ini ada cerita seperti itu" imbuh Angel.


"Ha...ha...othor mah bebas Angel. Nggak usah komplen daripada ntar cepetan ditamatin. Kita bakalan nggak bisa nongol lagi loh" ujar Tania terbahak. Angel menggaruk kepala yang tak gatal.


Tania menelpon rumah, menanyakan apakah Arditya rewel. Ternyata jawaban mama Rosa cukup melegakan. Arditya cukup tenang, dan hanya merengek bila haus dan popoknya penuh.


"Mah, aku ke kantor bentar buat nyiapin persidangan Arkan" terang Tania.


"Iya. Asal jangan sampai lupa aja jika kamu sudah ada Arditya. Kalau sudah selesai lekas pulang, jangan belok-belok" kata mama Rosa mengingatkan.


"Siap mama cantikku" tukas Tania.


.


Berhari-hari Tania disibukkan dengan semua hal yang berbau sidang Arkan.


Seperti pagi itu, bangun tidur pun dirinya langsung ke ruang kerja. Karena kalau malam hari, Tania fokus dengan Arditya. Dan tak mau meninggalkan sang putra, sebagai ganti siang yang terlalu sibuk.


Ponsel berdering mengagetkan Tania yang fokus melihat berkas yang baru diserahkan Angel kemarin.


"Halo Angel, apa ada tambahan berkas yang mau kamu kirim? Kalau iya nggak usah aja. Pagi ini aku mau ke kantor" kata Tania yang mengira kalau Angel yang sedang menelpon tanpa melihat terlebih dahulu.


"Angel, kok diam aja sih. Sengaja ya ngerjain gue" Tania menimpali.


"Kututup nih" ancam Tania masih saja tak bergeming dari berkas.


Karena tak ada suara, Tania hendak menekan tombol merah di ponsel nya yang menyala.


Alangkah kaget Tania, ternyata Arka lah yang menelponnya sedari tadi.


"Matih gue" gumam Tania.


"Untung aja aku nggak manggilin sayang tadi ke Angel, bisa panjang nih urusan" kata Tania masih dalam gumaman.


"Kok diam sekarang?" Arka mulai mengeluarkan suaranya.


"He...he...maaf dech. Kirain Angel" kata Tania seperti maling yang ketangkap, karena pagi-pagi Arka sudah tau kesibukannya.


"Yank, berapa kali musti aku bilang. Jangan ngoyo, slow aja" kata Arka.


"Oh ya, hari ini aku pulang. Jadwal penerbangan pagi dari sini. Sampai sana bisa sore, atau bahkan malam" beritahu Arka membuat Tania menatap sang suami tak percaya.


"Really yank. Kamu nggak PHP-in aku kan?" tanya Tania masih dengan rasa tak percayanya, karena baru sepuluh hari Arka berada di negara T.


"Dimajuin semua, karena ganti dengan rombongan relawan lain" beritahu Arka.


"Oke dech. Ntar sore aku jemput dech" imbuh Tania dengan bersemangat.


"Seneng nggak nih?" tanya Arka membercandai sang istri.


"Banget" tukas Tania bersorak.


"Idih, lebay kamu ah. Oh ya yank, mau tanya something about you" ujar Arka.

__ADS_1


"Tanya apaan?" timpal Tania.


"Sudah bisa di tes drive belum kamunya?" Arka menanggapi.


"Apaan sih yank? Emang gue mobil, pake tes drive segala" kata Tania menjawab apa yang ditanyakan Arka.


Arka hanya bisa menepuk jidat. Kalau hal beginian, pasti deh sang istri ini sedikit slowres.


"Apaan yank, beneran nih aku nggak paham?" celetuk Tania.


"Tes drive yank. Kan semenjak lahiran, belum pernah aku tes" kata Arka sekarang jujur apa adanya. Pakai bahasa kiasan lagi, Arka meyakini kalau sang istri nggak bakalan paham-paham.


"Oooooo....itu...ha....ha....kenapa telmi banget sih gue. Telat mikir" Tania malah terbahak, dan kembali membuat Arka mengulum senyum menahan tawa.


Sungguh istrinya amat sangatlah jujur dan tetap saja polos. Batin Arka.


"Gimana?" tandas Arka.


"Baru berapa hari yank Arditya nongol. Sebagai dokter bukannya kamu lebih tahu?" kata Tania masih saja tertawa. Tania senang sekali membuat Arka senewen.


"Tentu sebagai dokter aku paham. Tapi sebagai laki-laki aku tak tahan yank. Cenut-cenut nya sudah sampai ubun-ubun nih" canda Arka.


"Ha...ha...tahan...tahan...sampai nifas aku selesai" Tania semakin terbahak saja.


"Pokoknya aku datang, harus kamu bolehin ngincip. Sedikit ajaaaa.... Plisssss" ucap Arka memelas.


"Akan kupikirkan. Atau kalau nggak gitu, lihat aja entar gimana baiknya" tanggap Tania ambigu, antara mau dan tak mau membuat Arka sewot.


"Emang nggak bersiap yank? Kok masih santai-santai aja?" tanya Tania karena melihat Arka masih rebahan di atas ranjang.


"Sini masih dini hari yank, lagi enak-enaknya di bawah selimut" terang Arka.


"Oh iya ya, perbedaan waktunya lumayan. Tapi kok kamu nggak tidur? Malah nelponin aku" ucap Tania.


"Kangen sama kamu sama Arditya dan yang lain" jawab Arka.


"Yank, ntar ke kantor?" tanya Arka.


"Heemmmm" gumam Tania.


"Kalau ketemu Pandu bilangin suruh nyiapin laporan perusahaan selama aku pergi" kata Arka.


"Kenapa nggak kamu hubungin langsung aja sih yank" balas Tania.


"Sudah aku hubungin, tapi belum sambung" terang Arka.


"Oke, tapi kalau ketemu ya" tandas Tania.


"Oke makasih sayang, bye. Aku mau tidur lagi" kata Arka mulai menata selimut tebal yang dipakai olehnya.


Tania kembali fokus dengan berkas Arkan.


Jadwal sidang bahkan belum keluar. Penyidik pun masih dalam proses menyiapkan semua. Karena delik dakwaan belum dinyatakan P21 atau pemberitahuan hasil penyidikan sudah lengkap. Semua masih proses menuju ke sana.


Tania mengirimi pesan ke Angel, bahwa pagi ini dia akan ke kantor.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


πŸ’

__ADS_1


__ADS_2