
Kedatangan Tania bersamaan dengan mobil tahanan yang membawa nyonya Marsha.
Melihat Arka yang datang bersama Tania, nyonya Marsha membungkuk hormat.
Tania menoleh ke Arka, "Kau kenal dengan klienku?" telisik Tania.
Arka mengedikkan bahu tak menjawab pertanyaan Tania.
Pengunjung sidang tak seramai biasanya, meski bukan sidang tertutup.
Sebelummya sidang-sidang yang berkaitan dengan nyonya Marsha lumayan mengundang perhatian publik.
Setelah melewati proses sidang yang panjang dan menguras pikiran masing-masing pihak, maka tibalah pembacaan putusan oleh majelis hakim.
Tak hanya nyonya Marsha, Tania pun ikut deg-degan.
Dalam bacaan putusan, nyonya Marsha terbukti tidak bersalah dalam proses pembunuhan itu. Karena pelaku lain telah mengaku bersalah, yaitu mantan ART nyonya Marsha.
ART itu sengaja memberikan makanan yang mangandung zat berbahaya bagi anak kecil dalam jangka waktu lama dengan dalih karena merasa kesal melihat bocah itu rewel tak berkesudahan, sementara nyonya Marsha jarang pulang dan tak pernah memperhatikan anaknya. Hal itu juga diakui oleh nyonya Marsha.
Padahal dalam penyelidikan sebelumnya, semua bukti mengarah ke nyonya Marsha.
Dan akhirnya hakim memutus hukuman empat tahun penjara dipotong masa tahanan karena nyonya Marsha terbukti melakukan penelantaran, meski tuduhan pembunuhan tak terbukti.
Nyonya Marsha menarik nafas lega, tak henti-hentinya dia mengucapkan terima kasih kepada Tania yang telah bersedia membela meski dirinya tak mampu membayar mahal.
Tania berdiri mengantar nyonya Marsha kembali ke mobil khusus tahanan.
Nyonya Marsha kembali menghampiri, "Makasih atas segala usahamu Nona Tania, setidaknya waktu ku tak habis di bui...he...he..." nyonya Marsha mencoba bercanda, meski terasa garing di telinga Tania.
"Waktu tiga tahun sisa tahanan pasti akan berlalu cepat nyonya, semoga anda selalu sehat selalu" doa Tania mengiringi langkah nyonya Marsha.
"Apapun keputusannya, pasti itu yang terbaik. Tinggal bagaimana kita menyikapinya nona" jawab bijak nyonya Marsha sambil tersenyum.
Kadang beban hidup pun bisa merubah karakter seseorang. Pada dasarnya nyonya Marsha adalah wanita baik. Hanya keadaanlah yang memaksanya melakukan hal-hal yang telah disesalinya saat ini.
Dan kembali nyonya Marsha membungkuk ke arah Arka yang sudah berdiri di bèlakang Tania.
"Yakin nggak kenal dengan nyonya Marsha?" tanya Tania.
"Heemmmm" Arka menanggapi dengan gumaman.
.
Ponsel Tania berdering saat mereka berdua dalam perjalanan balik kantor. Angel sengaja diajak Tania bareng semobil dengan mobil Arka.
"Non, emang mobil non yang di bengkel belum jadi?" kata Angel.
Arka menoleh ke arah Tania.
"Nggak usah menatap sebegitunya" kata Tania.
"Mobilku emang di bengkel, nggak tahu rusak apanya. Bukan mobil baru sih, makanya punya hobi menginap di bengkel" imbuh Tania terkekeh.
"Udah belinya kreditan, punya hobi bobok manis di bengkel. Makanya nggak ku ambil, ngabisin biaya aja" kata Tania, tapi kedengaran seperti curhat.
"Ponsel kamu tuh" celetuk Arka.
__ADS_1
"He...he...sampai lupa" kata Tania menimpali.
Diraihnya ponsel yang berada dalam tas ransel.
Sebastian calling. Tania langsung menggeser icon hijau di ponselnya.
"Hai, Tania. Sahabat macam apa kau, istriku sudah melahirkan tak kau tengok juga" umpatan Sebastian terdengar juga oleh Arka, karena Tania menjauhkan ponsel dari telinga.
"Emang kau kasih tau aku sebelumnya?" balas Tania ngegas.
"Aku mau kado...bla...bla..." Sebastian menyebutkan macam-macam mainan cewek.
"Kau ini sudah jatuh miskin ya? Serah gue donk mau kasih kado apa" celetuk Tania.
"Mana Mutia? Alihkan video call" pinta Tania.
Sedetik kemudian, terlihat Mutia di layar ponsel Tania.
"Hai Kak" sapa Mutia dengan ramah. Beda seratus delapan puluh derajat dengan Sebastian yang sebelas dua belas dengan Tania.
"Hai, masih di rumah sakit kah? Betewe selamat ya atas kelahiran putrinya" tukas Tania.
"Makasih Kak Tania. Lagi otewe kah? Maafin papa nya Langit, ganggu kesibukan kakak" kata Mutia.
"Iya, abis sidang ni tadi. Kalau nggak seperti itu bukan suamimu Mutia...ha...ha..." lanjut Tania.
"Kapan boleh pulang?" imbuh Tania.
"Hari ini sudah boleh pulang kok" jelas Mutia.
"Jangan lupa kado yang kuminta" sela Sebastian di antara obrolan.
"Sahabat macam apaan loe" cela Sebastian.
"Serah gue" kata Tania mencelos.
Arka hanya mendengar interaksi di antara mereka bertiga.
Tania menutup telpon sambil menggerutu karena permintaan Sebastian.
"Dasar Sebastian somplak" gerutu Tania.
"Tuan Sebastian, itu kan CEO Blue Sky non???" sela Angel.
"Heemmmmm" gumam Tania.
"Yang pernah Non Tania bantu selesaikan kasus sebelum ini kan?" lanjut Angel.
"Iya, yang sering datang sama asisten yang sama-sama somplak tuh" kata Tania.
"Tapi mereka berdua baik Non, suka kasih roti...he...he..." Angel terkekeh.
"Makanan aja yang kau ingat" ledek Tania.
"Angel, abis ini kau balik kantor aja. Aku mau langsung ke rumah sakit" ujar Tania.
"Oke Non, aku turun halte depan aja. Biar bisa langsung naik busway" imbuh Angel.
__ADS_1
Tania meminta Arka mengantarnya ke rumah sakit.
"Kamu beneran nggak sibuk?" tanya ulang Tania.
"Kan pengangguran" seloroh Arka membuat Tania menoyor lengan Arka karena gemas.
"Hari ini berasa jadi tukang ojek online" lanjut Arka.
"Sapa suruh menawarkan diri" tukas Tania sengit.
"Beneran nih langsung ke rumah sakit. Nggak bawain apa gitu?" tanya Arka.
"Heemmm apa ya? Sebastian kan sudah punya segalanya" kata Tania sambil berpikir.
"Apapun yang kubawa pasti akan diolok olehnya" imbuh Tania.
"Yang penting kan sudah punya niat" sela Arka.
Benar juga sih.
Tania mengetuk pintu tempat Mutia dirawat, ternyata di sana sudah ada Dewa dan Dena juga.
Tania memeluk Mutia yang juga adik kelasnya itu.
"Selamat ya Mutia. Lengkap sudah ada putra dan putri" ucap Tania.
"Aku nggak dapat ucapan nih?" sela Sebastian.
"Selamat puasa panjang pak" ledek Tania. Tak lupa Tania juga menyalami Sebastian sang sahabat.
"Kapan kau nyusul? Tuh keburu keselip Dewa tuh" tandas Tian.
"Gimana kabar manager tuh?" Dewa pun nimbrung ikutan bicara.
"Kuhempas dan kubuang ke Samudera Hindia" jawab Tania percaya diri.
"Heleh, kau kan yang dihempaskan???" ejek Tian.
Arka yang mampir dulu ke kantin beli minuman, masuk ke ruangan Mutia untuk menyusul Tania. Tentu saja setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kenalin, Arka Danendra calon tunangan gue" ulas Tania memperkenalkan Arka.
Tatap tajam Sebastian ke arah Arka.
"Heh, bukannya kau dari keluarga Rahardjo???" telisik Sebastian yang memang punya ingatan tajam.
Arka menoleh.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan readers semakin banyak.
Buat nambah imun othor, biar semangat nulis πππ
Klik juga dong iklannya
__ADS_1
π
Yang kangen Mutia, nih coba othor hadirin π€