Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
ANC 2


__ADS_3

Seperti biasa, tangan dokter Abraham dengan lincah menggerakkan probe USG sehingga nampak jelas pergerakan di layar monitor.


"Tuh, hasil perbuatanmu Arka. Bergerak dengan lincah" jelasnya.


"Wah, kerasa geraknya loh Om" Tania merasa kaget dan terpukau.


"Aktif banget tuh geraknya. Lihatlah di monitor" suruh dokter Abraham.


"Sehat ya" lanjutnya.


"Diameter kepala dan ukuran yang lain semua normal" imbuhnya.


"Oh ya Om, dengan riwayat yang lalu. Apa tidak mempengaruhi kehamilan ini?" tanya Arka.


"Aku rasa tidak. Karena kalau lihat hasil pemeriksaan menunjukkan gangguan motilitas saluran telur yang sebelumnya. Tapi nyatanya kehamilan istri kamu saat ini baik-baik saja"


"Lihat saja, posisi janin sudah di dalam rahim. Cuman?" kata dokter Abraham sengaja menggantung ucapan.


"Cuman apa Om?" telisik Arka penasaran.


"Plasenta masih posisi di bawah ini. Nutupin jalan lahir" beritahu Om Abraham.


"Placenta Previa?" tanya Arka.


"Yap, dan kamu musti puasa dulu. Nggak boleh melakukan hubungan suami istri dulu" saran Om Abraham.


"Sampai kapan?" Arka mengusap tengkuknya kasar.


Om Abraham terkekeh, "Yaaa sampai plasenta bergeser dong" kata Om Abraham.


"Hah?" Tania pun melongo.


"Bener ini. Jangan dikira gurauan. Kalau kau tetap melakukan, maka resiko terjadi perdarahan sangat besar" ucap serius dokter senior itu.


Arka duduk bersender, pasrah. "Yang penting bayi dan mama nya sehat Om".


"Nah itu keputusan yang tepat Arka" tukas dokter Abraham dan tertawa melihat ekspresi Arka saat ini.


"Om, kasih obat saja biar plasenta nya bisa geser" sela Tania.


"Ya nggak bisa yank. Itu sudah dari sononya" kata Arka ikut menjelaskan.


"Semoga saja dengan bertambah usia kehamilanmu, plasenta bisa bergeser dengan sendirinya" imbuh sang dokter.


"Kalau nggak geser, bisa operasi dong Om?" tanya Arka lagi.


"Sudah jangan mikirkan itu dulu. Yang penting sekarang janin tetap sehat, ibu sehat. Dan untuk Tania, banyak istirahat. Oke?" tutur Om Abraham dengan cukup jelas kata-katanya.


"Baiklah Om, makasih ya. Kapan kontrol lagi nih?" ulas Arka.


"Bulan depan aja. Tapi kalau ada keluhan ya silahkan ke sini" tukas Om Abraham.


Setelah mendapatkan resep vitamin, Arka dan Tania pamitan.


.


"Ke rumah mama Rosa yukkk. Aku mau dibuatin ayam goreng sambel ijo" bilang Tania.


"Sudah beritahu mama?" tanya Arka.


"Belum sih"


"Malam gini iya kalau mama sedia ayam. Kalau nggak?" tutur Arka.


"He...he...benar juga sih" balas Tania.


"Beli aja. Nunggu mama memasak keburu lapar akunya" kata Arka menambahi.


Tania menunjukkan arah suatu tempat yang diketahui olehnya.

__ADS_1


"Perempatan depan itu belok kiri sayang. Di sana aja yang jual bebek goreng yang super lezat. Sambelnya aja wowwww....luar biasa" terang Tania yang sudah membayangkan kelezatannya.


Arka melajukan mobil sesuai permintaan sang istri.


Sebelum turun, Arka melepas jas dan melipat lengan baju.


"Beneran di sini?" tanya Arka untuk memperjelas.


"Heemmmm..." tukas Tania dan menggandeng Arka yang nampak ragu.


"Pak, bebek goreng tiga" pesan Tania.


"Eh Non Tania. Lama kali nggak mampir non" sapa sang penjual yang sepertinya kenal dengan istri Arka itu.


"Iya pak. Pura-pura sibuk ini" gurau Tania.


"Kok pesennya tiga sih yank?" Arka yang barusan duduk.


"He...he...satu untuk kamu dan dua untuk aku" celetuk Tania tanpa rasa bersalah.


"Non, pacarnya cakep bener" gurau abang penjual itu.


"Bukan pacar lagi pak, tapi sudah jadi mantan" jelas Tania.


"Loh, jadi mantan? Tapi kok akur banget?" seloroh si abang sambil menggoreng bebek yang dipesan oleh Tania.


"Akur banget lah bang" imbuh Tania tanpa menjelaskan lagi lanjutannya.


"Kenapa nggak bilang aja kalau aku suami kamu sih, ribet amat" bisik Arka.


"Yeeeiiiiii...serah gue dong. Kan biar abangnya penisirin" ucap Tania menirukan seorang host terkenal di tv. Arka hanya terbahak menanggapi.


Dan saat pesanan datang, Arka mencoba mengambil..."Awh panasnya" tiup Arka ke jari jemarinya.


"Hati-hati dong sayang" Tania pegang jemari Arka yang kepanasan dan dia tiupin. Arka yang melihat malah terpingkal dibuatnya.


"Apa yang kau lakuin? Tanganku sudah nggak apa-apa. Ayo makan!!!" tukas Arka.


Ponsel Tania berdering. Tapi belum sempat terangkat ponsel itu kembali hening. Panggilan berakhir.


"Siapa sih? Gangguin orang lagi makan aja" kata Tania.


"Makan dulu, ntar aja nelponnya" saran Arka.


Tania mengikuti saran sang suami. Dua porsi bebek goreng telah pindah di perut Tania. Nasi uduk yang menjadi pendamping si bebek pun telah tandas juga.


Arka yang tak membolehkan sang istri minum manis, segera mengambilkan air mineral dingin dari kulkas di sampingnya.


"Kenyangnya" ucap Tania sambil mengusap perut sesaat setelah cuci tangan.


"Gimana nggak kenyang, makan seperti orang kalap gitu" ledek Arka.


"He...he....abis enak buanget yank" balas Tania terkekeh.


"Gimana, mau kugendong apa jalan sendiri ke mobil?" Arka terus saja meledek Tania.


Saat mereka akan balik ke mobil, bertemulah mereka dengan pasangan Maura Hadinoto dan Benzema Abimanyu.


"Selamat malam tuan Arka, Tania" sapa mereka berdua.


Tak ada lagi keangkuhan yang tersisa di keduanya.


"Malam" singkat saja Arka menjawab.


"Apa kabar kalian?" tanya Maura sok ramah.


"Seperti yang kau lihat, kita baik" ulas Tania menimpali.


Benzema tak mungkin berani macam-macam sekarang. Tanpa campur tangan Arka untuk menolong dirinya, Benzema tak akan bertahan di Panapion sampai dengan sekarang.

__ADS_1


Maura pun begitu, semenjak tuan Hadinoto ditahan. Dia hanyalah seorang pengangguran.


Banyak klien papanya yang berpindah, karena rasa tak percaya terhadap biro hukum yang dipercayakan ke Maura.


"Di mana anak kalian? Kok nggak diajak?" tanya Tania, yang telah melihat perut Maura yang sudah langsing.


"He..he...dititipin sama Mama" ujar Maura terkekeh.


"Oke baiklah silahkan dilanjut. Kita pergi dulu" tukas Tania.


"Tania...makasih atas semuanya. Aku minta maaf atas perbuatanku di masa lalu" kali ini Maura sepertinya tulus mengucapkan.


"Sama-sama. Makasih juga, karena perbuatan kalian akhirnya aku mendapatkan orang ini...he...he..." Tania terkekeh dan langsung merangkul pinggang sang suami.


"Saranghae, suamiku" mata Tania mengerjap genit ke Arka Danendra.


Arka pun mengusap lembut kepala sang istri.


"Andai aku tak disuruh puasa sama Om Abraham, habis kau malam ini" bisik Arka dan mengecup puncak kepala sang istri.


Tania terkekeh saja mendengarnya.


"Kita duluan ya" pamit Arka.


"Silahkan tuan" balas Benzema.


Entah apa yang akan mereka bicarakan, yang penting Tania sekarang hatinya senang karena suaminya telah berada di sisi.


Apapun masalah yang akan datang, ada Arka hati akan tenang. Batin Tania.


Ponsel Tania kembali menandakan ada notif pesan masuk.


"Ponsel kamu hari ini laris banget yank, sedari tadi bunyi terus" ledek Arka.


"Arga nih, yang kirim pesan" beritahu Tania.


"Arga?" sela Arka.


"Heemmm, katanya mau curhat" balas Tania.


"Curhat?" Arka langsung menepikan mobil.


"Pinjam ponselnya" bilang Arka dan langsung menelpon Arga pake ponsel Tania.


Sepertinya dia dalam mode cemburu. Batin Tania.


"Halo, ngapain pake curhat-curhat segala ke istriku?" berondong tanya Arka saat panggilan tersambung.


"Ha...ha...ha..." Arga malah tergelak. Ponsel yang dalam mode loudspeaker membuat Tania ikut mendengar suara Arga.


"Apa kau cemburu? Hei bosss pantang bagiku menikung. Apalagi teman sendiri" Arga masih saja tergelak di sana.


"Aku cuman mau curhat tentang mama ku. Nggak ada yang lain" imbuhnya.


Arka cuman terdiam.


"Besok aja Ga, datang ke kantor. Angel juga ada kok" timpal Tania.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


💝

__ADS_1


__ADS_2