Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Ketemu Nenek (2)


__ADS_3

"Heh, bukannya kau dari keluarga Rahardjo???" telisik Sebastian yang memang punya ingatan tajam.


Arka menoleh.


"Kau kenal dengan Arka?" telisik Tania.


"Ya kenal lah, siapa tak kenal keluarga Rahardjo...ha...ha..." ucap Sebastian.


"Kapan kau kenal sama dia?" tanya Sebastian menatap Tania.


"Beberapa hari yang lalu" jawab jujur Tania.


"Kau kenal dengan Sebastian?" tanya Tania dan dijawab gelengan kepala Arka.


Karena sudah lama Arka tinggal di luar negeri. Bahkan semenjak sekolah lanjutan atas, Arka meneruskan di luar negeri.


"Aku adik kelas kamu waktu sekolah menengah pertama. Tapi benar kau Arka kan?" Sebastian memastikan.


Arka menyalami Sebastian, "Arka Danendra" sebutnya.


Arka coba mengingat, karena ingatan masa lalu sepertinya banyak yang terhapus.


"Arka, cowok yang suka menyendiri di belakang sekolah. Yang sering kau usilin bos?" sela Dewa.


"Yaappppp" tukas Sebastian.


"Dunia ternyata tak seluas daun kelor...he...he..." sanggah Tania.


"Ujung-ujungnya nggak jauh circle-nya sama kalian berdua" Tania menepuk jidat.


"Lantas, ceritain dong gimana kalian bisa tunangan?" tanya Dewa penasaran.


"Kepo" tandas Tania.


"Arka, yuk pulang aja. Daripada kena bully mereka berdua" ajak Tania.


"Bang, belum ingat dengan kita?" sela Tian.


"Belum" jawab Arka.


"Kau payah bang, seperti orang pikun aja" canda Sebastian.


"Mutia, aku pamit dulu ya. Betewe selamat sekali lagi buat kalian berdua" ucap Tania.


"Acara kapan, jangan lupa undang kami?" celetuk Dewa.


"Siappppp" sahut Tania tertawa lepas saat pamitan.


Meninggalkan rasa penasaran Sebastian dan Dewa, bagaimana Tania bisa mengenal pewaris tunggal Rahardjo itu.


.


"Kita mampir ke rumah, nenek Gemmy sudah menunggumu" kata Arka saat mereka berdua sudah dalam perjalanan.

__ADS_1


"Heemmm, aku kabarin mama Rosa dulu" jawab Tania.


"Oke"


Tania mengirim pesan ke mama Rosa, memberitahukan kalau dia akan mampir dulu ke tempat Arka.


"Sudah lama kenal sama kedua laki tadi?" tanya Arka.


"Keduanya punya nama tahu" seloroh Tania.


"Iya aku tahu, Sebastian dan Dewa kan?" tukas Arka.


"Itu kamu tahu"


"Jelaskan dulu, sejak kapan kau kenal mereka?" ulang Arka.


"Sejak kuliah" jelas Tania.


"Lama juga ya" celetuk Arka.


"Hanya keduanya yang dekat denganku" ucap Tania.


"Terus mantanmu itu?" tengok Arka.


"Eh iya, itu juga termasuk sih. Meski sekarang sudah tidak lagi" ada nada kesal di ucapan Tania.


"Terus anak laki sombong yang pernah kau ceritakan itu, apa salah satu di antara mereka?" tanya Arka penasaran.


"Kok begitu?" kejar Arka.


"Ya nggak tahu, dia tiba-tiba menghilang" sahut Tania.


"Terus namanya?"


"Kau ini kenapa sih? Aku lupa siapa namanya. Yang kuingat, dia hanyalah anak sombong. Sudah ditolong, ditanya nama aja nggak jawab. Apalagi bilang terima kasih" cela Tania.


"Jadi kau pun tak tahu siapa dia?" telisik Arka.


"Ya nggak lah" tandas Tania.


"Terus kenapa kau begitu ingat sama dia?" Arka terus saja bertanya.


"Karena dua kali aku tolong tuh cowok, aku selalu sial" jelas Tania.


Dahi Arka mengkerut.


"Kejadian pertama, dia dibully oleh anak-anak cowok di sekolah dan hanya diam saja. Aku saja yang cewek gemas melihatnya, dia malah terima-terima aja. Pusing dech gue. Akhirnya aku hajar saja cowok-cowok yang ngebuli dia" kata Tania.


Dan Arka terkekeh mendengarnya. Ternyata bakat bar-barnya sudah sedari kecil. Batin Arka.


"Kejadian kedua, kebetulan aku lewat saat ada kebararan di suatu rumah. Dan lagi-lagi cowok itu malah melamun saja saat ada atap yang akan menimpa dirinya. Kudorong dia sekuat tenaga. Dan hampir saja aku yang kena reruntuhan" jelas Tania.


"Nih, lenganku aja masih ada bekasnya" tunjuk Tania melihatkan bekas luka bakar yang ada lengan atas dan tertutup lengan baju.

__ADS_1


"Dasar cowok aneh" umpat Tania.


"Terus bagaimana kau bisa selamat?" Arka seperti menemukan serpihan ingatannya. Arka seperti pernah mengalami kejadian seperti yang diceritakan Tania.


"Ada yang menarikku dari lokasi. Saat aku sudah aman, kucoba cari anak itu. Dia seenaknya saja menghilang" imbuh Tania mengakhiri cerita.


Arka hanya terdiam. Banyak tanda tanya dalam benaknya. Kenapa aku sulit sekali mengingat masa kecilku? Batin Arka.


.


Sampai di rumah, nenek Gemmy ternyata sudah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


"Nek, aku mandi dulu aja" kata Arka saat baru masuk ke ruang tengah.


"Iya, Tania biar ngobrol sama nenek"


"Tania sayang, sambil nunggu Arka duduk sini dulu" pinta nenek Gemmy agar Tania duduk di dekatnya.


"Baik Nek"


"Lancar sidang hari ini?" tanya Nenek.


"Berkat doa nenek" jawab Tania.


"Tania, aku harap kau bisa menerima cucuku apa adanya" harap nenek Gemmy.


"Kalau itu mah kebalik nek, harusnya cucu nenek yang harusnya bisa menerima aku apa adanya" kata Tania sedikit bergurau.


Tania merasa insecure melihat kehidupan Arka Danendra yang nampak sempurna di matanya.


"Apa Arka sudah menceritakan semua masa lalu nya?" tatap nenek serius.


"Belum Nek, malah aku disuruh nanya ke nenek. Aneh nggak sih nek?" kata Tania yang sudah akrab dengan nenek meski mereka bertemu baru kali kedua.


Nenek Gemmy menghela nafas panjang. Seperti menahan sebuah beban berat di hati.


"Nek" panggil Tania setelah menunggu beberapa lama nenek Gemmy belum juga bersuara.


"Maaf membuatmu menunggu"


Nenek Gemmy pun mulai menceritakan masa lalu Arka.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir.


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Klik juga dong iklannya


💝

__ADS_1


__ADS_2