
Dan apa yang dibilang Arka sebelumnya memang benar adanya.
Hari-hari berikutnya dia selalu menemani kemana Tania pergi. Bukan Tania yang ingin, tapi Arka sendiri selalu ingin berada dekat sang istri. Karena rasa pusing dan mual akan kembali terasa kala Tania tak berada dalam jangkauannya.
Seperti pagi itu, Tania yang akan mengajukan permohonan ijin menikah Arkan ke pihak lapas dan juga pengadilan.
Tentu saja Tania akan wira wiri ke kedua tempat itu.
Tapi tetap saja Arka tak mau ditinggal. Sudah seperti anak pertama Tania yang malah ikut ke mana sang mama pergi.
Sungguh kadang Tania dibuat gemas oleh ulah Arka Danendra.
"Yank, tungguin" kata Arka yang melihat sang istri sudah beranjak dari duduknya selepas sarapan.
"Lanjutin dulu saja. Aku mau ke Arditya sebentar" tukas Tania.
"Tungguin" tetap saja Arka tak mau ditinggal.
Malah Arditya masuk dari halaman, didorong mba Mirna baby sitternya naik stroller.
"Tuh Arditya datang" ujar Arka.
"Habis kah mba, bubur untuk Arditya?" tanya Tania.
"Habis kok nyonya. Beberapa hari ini makannya adik nggak sulit" jelas mba Mirna.
Tania memutuskan untuk menghentikan ASI setelah tau dirinya hamil.
Meski diperbolehkan tetap memberikan ASI, tapi dengan persetujuan sang suami Tania tetap menghentikan pemberian susu Arditya darinya.
Dengan kesibukan yang luar biasa ratenya menjadi salah satu pertimbangan. Tania takut asupan gizi Arditya dan janin yang dikandungnya akan terganggu kalau dirinya egois tetap memberikan ASI nya kepada Arditya.
"Sayang, mama akan sibuk hari ini. Jadi jangan rewel ya sama mba" kata Tania menghampiri sang putra.
Bahkan bayi yang belum genap setahun itu seakan tahu kalau mau ditinggal oleh mama nya, meraih-raih tangan Tania.
Tania ambil Arditya dari stroller dan akan digendongnya.
"Ikut papa aja, kasihan mama ntar kena perutnya sayang" sela Arka menghampiri anak istrinya.
Arditya malah memeluk erat Tania seakan tak mau lepas.
Semenjak mamanya hamil, Arditya semakin manja kepada sang mama. Dan seperti hari ini, Arditya menjadi rewel kala Tania pamitan akan pergi kerja. Dan tak mau diganti oleh papanya.
"Nggak papa yank, biar sama aku aja" kata Tania.
"Arditya gemukan loh yank" tukas Arka.
"Ntar kalau capek, aku taruhnya di sofa ruang tengah" beritahu Tania.
Dengan rewelnya Arditya, Tania kembali meluangkan waktu untuk buah hatinya.
Hampir setengah jam Tania bermain dengan Arditya. Dan Arditya mulai lah mengantuk.
"Mba, ajak Arditya ke kamar" suruh Tania.
"Baik nyonya"
Karena sudah mengantuk, Arditya tak rewel lagi kala diajak ke kamar oleh mba Mirna.
"Sudah siap? Ayo berangkat" kata Arka beranjak dari duduk kala Tania sudah terlihat di depan matanya.
"Heemmmm" gumam Tania.
Arka yang selalu ingin berada dekat Tania, tentu saja membuat Pandu kalang kabut mengatur jadwal kerja sang bos.
Pandu selalu berkoordinasi dengan Angel istrinya tentang jadwal bos berdua.
Jika Tania ada kesibukan, maka Pandu akan mengosongkan jadwal Arka. Begitu juga sebaliknya, jika Arka ada jadwal yang tak bisa ditinggalin maka Tania akan dikosongkan jadwalnya oleh Angel. Sungguh membuat repot para asisten masing-masing.
Tania terlebih dahulu ke pengadilan. Mengajukan surat tertulis untuk ijin menikah Arkan dengan Davina.
"Sudah ada janji nyonya?" tanya orang yang sepertinya sekretaris hakim yang menangani kasus Arkan.
"Heemmmmm" Tania mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah. Tunggu sebentar. Silahkan duduk" imbaunya. Dan Tania kembali mengangguk mengiyakan.
"Silahkan masuk" ucapnya mempersilahkan Tania.
Arka ikutan beringsut kala Tania melakukan hal yang sama.
"Aku tak akan lama, duduk di sini aja kenapa sih?" kata Tania.
"Enggak, aku ikut. Janji dech, nggak akan ikut campur. Sueerrrrr" tukas Arka.
"Issshshhhhh" gerutu Tania. Tapi tetap saja Arka mengikuti Tania masuk ke ruang hakim.
Setelah mendapat ijin, Tania pamit dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
"Sebentar nyonya" sela hakim itu.
"Iya tuan" Tania menghentikan langkah.
"Apa laki-laki yang bersama anda ini bernama Arka Danendra?" tanya pak hakim.
Tania menautkan alis, tanda penasaran. Ada hubungan apa hakim ini dengan sang suami.
"Benar, dia suamiku tuan" beritahu Tania dan Arka mengangguk.
"Benar saya Arka Danendra. Apa anda mengenal saya?" tukas Arka.
"Aku Nizar, apa kamu lupa?" kata nya menerangkan.
Arka seperti mengingat sesuatu.
"Nizar teman sekelas aku dulu???" tanya Arka, karena dia terlupa dengan wajah temannya.
"Iya, aku yang duduk di belakang kamu" ujarnya.
"Ooooo...ternyata dunia itu sempit juga ya" kata Arka sembari terbahak.
"Kamu pengacara juga, kok ngikutin aja kemana istrimu pergi?" tanya Nizar heran.
"Bukan. Aku dokter" imbuh Arka tanpa menjelaskan statusnya sebagai CEO Panapion.
Tania berdehem, karena Arka dan Nizar terus saja ngobrol.
"Tuan-tuan, sudah selesai belum reuniannya?" sela Tania di sela obrolan.
"He...he... Sampai lupa kalau istri kamu nungguin" kata Nizar menimpali.
.
"Ternyata hakim ketua nya teman kamu" kata Tania memulai pembicaraan saat mereka berdua di mobil.
"Iya sih. Tapi mana aku tahu, saat kamu sidang aku tak pernah ikut kamu" protes Arka.
"Terus ngapain sekarang ikut terus?" sahut Tania.
"He...he...kalau nggak lihat kamu, pusing mualku datang sayang" seperti biasa Arka memberikan alasan yang sama.
Tapi memang itu lah kenyataannya, pernah Tania meninggalkan Arka karena buru-buru pergi.
Nyatanya dia juga yang akhirnya direpotkan oleh Arka yang mengalami mual-mual seharian dan berujung mendapatkan infus.
Tania menghadap kepala lapas untuk menyampaikan surat ijin dari pengadilan.
Kepala lapas itupun membuka amplop yang dibawa oleh Tania.
Karena Davina telah selesai menjalankan program rehabilitasi, maka rencana akad nikah Arkan dan Davina akan dilaksanakan di tempat Arkan ditahan.
Boy lah asisten Arkan yang akan menangani semua sesi acara.
"Baik nyonya Tania. Berhubung ijin dari pengadilan telah diserahkan kepadaku, maka akan dengan senang hati lapas kami mantu" kata kepala lapas itu bercanda.
"Ha...ha...tuan bisa saja bercandanya" sahut Tania ikutan tertawa.
"Saya haturkan terima kasih karena lapas ini mau menyediakan tempat untuk acara" Tania pun menyalami kepala lapas untuk pamit pergi karena setelah ini dia akan menemui Arkan sebentar untuk memberitahukan ijin yang telah dikantongin.
Arkan telah menunggu di ruangan seperti biasanya saat Tania membesuknya.
__ADS_1
Arkan heran dengan kedatangan Arka yang ikut bersama Tania.
"Tumben suami loe ngikut aja kemana loe pergi. Apa dia pengangguran sekarang?" olok Arkan.
"Sialan loe" meski sedang hamil, Tania susah banget ngilangin kebar-barannya.
"Justru suami gue tambah kaya bos, makanya meski dia tak kerja uang sudah ngejar dengan sendirinya" kata Tania sombong.
Ngomong dengan Arkan tak perlu merendah. Kalau tak ingin berujung bullyan Arkan.
Arka masih diam melihat interaksi terdakwa dan kuasa hukum itu.
Begaimana mereka bisa cocok di persidangan? Padahal kalau ketemu bagai Tom Jerry begitu? Batin Arka.
"Hai Arka, apa kabar?" sapa Arkan yang lebih memilih tak mendebat Tania sekarang.
"Seperti yang kamu lihat. Aku baik" jawab Arka.
"Syukurlah" tukas Arkan.
"Aku ke sini tadi cuman mau bilang kalau ijin buat loe nikah sudah keluar. Sekarang tinggal loe suruhan Boy untuk ngatur semuanya" ucap Tania menjelaskan.
"Siap nyonya. Terima kasih ya...he...he..." Arkan tertawa puas karena kesigapan Tania mengatur semua demi dirinya dan Davina.
"Bonus loe, ntar sore biar ditransfer Boy" bilang Arkan.
"Kamu sukses menikah dengan Davina aja aku turut senang" ujar Tania menimpali.
"Oke Arkan, aku balik. Tugasku hari ini selesai" imbuh Tania beringsut dari duduk diikuti oleh Arka.
"Tubuh kamu semakin berisi aja Tania?" tanya Arkan begitu saja.
Alhasil tatapan tajam dari Arka didapat oleh Arkan.
"Ha...ha...sori...sori...aku lupa keposesifan suami kamu. Aku nggak ada maksud apa-apa bos. Pisss" Arkan terbahak karena rasa cemburu Arka.
Tania meninggalkan Arkan yang masih saja tertawa kala Tania dan Arka keluar ruangan.
.
Saat di mobil, ponsel Arka berdering.
"Dari rumah sakit? Jangan-jangan kecelakaan beruntun lagi? Hari ini aku kan off" gumam Arka.
"Ijin dok, ini dari bedah sentral. Mau konfirmasi" suara di ujung telpon Arka.
"Iya, sampaikan saja" pinta Arka.
"Dok, cuman info saja. Itupun kalau dokter bisa. Dokter Beni mau oper jam operasi untuk besok bisa nggak ya dok? Dokter Beni main pagi, anda yang agak siang?" bilang orang yang sepertinya perawat yang bertugas jaga.
"Setengah jam lagi aku kabarin, aku lihat jadwalku yang lain" bilang Arka.
"Baik dok. Kita tunggu kabarnya" tukas sang penelpon dan menutup telpon.
Untuk selanjutnya Arka menelpon Pandu untuk mengirimkan semua jadwalnya besok.
Dan ternyata Arka akan sibuk setelah makan siang, jadi pagi agak longgar.
"Oke Pandu, makasih" ucap Arka memutus panggilan ke Pandu.
"Gimana?" sela Tania.
"Tolong kirimin pesan ke nomor yang tadi yank, aku oke dengan perubahan jadwal operasi nya" pinta Arka.
Saat Tania sedang asyik mengetik pesan di ponsel Arka, Arka kembali melajukan mobil pelan keluar area lapas.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
π