
"Ke mall Dirgantara nih?" tanya Arka saat mereka berdua sudah berada dalam mobil.
"Heemmm" gumam Tania.
"Butik yang direkom Mutia kan?" lanjut Arka.
"Bentar, aku hubungin Mutia dulu. Cerita nya sih butik itu milik mendiang istri sahabatnya Sebastian" cerita Tania.
"Iya kah?"
Tania mengangguk.
"Halo Mutia, sori nih. Aku nagih janjinya mendadak. Bisa anterin ke butik Yasmine nggak?" sapa Tania dan langsung saja menodong Mutia.
"Iya kak, kebetulan aku juga lagi di Dirgantara sama anak-anak dan juga Dena. Daddynya bentar lagi nyusul" ucap Mutia.
"Oke" jawab singkat Tania dan mengakhiri panggilan.
"Gimana, Mutia bisa?" telisik Arka.
"Bisa. Kebetulan dia sudah ada di mall" jawab Tania.
Arka terdiam.
Masuk lobi mall Tania kembali menelpon Mutia. Memberitahu kalau dirinya langsung ke butik.
Dan Mutia memberitahu akan menyusul ke sana.
Arka kaget saat ada yang menepuknya dari belakang, dia pun menoleh.
"Kau Arka Danendra kan?" tanya nya.
Arka menautkan alis, mencoba mengingat.
"Aku Bara, Bara Saputra. Temen SMP tapi beda kelas" beritahunya.
"Wah, sudah ngumpul ternyata?" Sebastian barusan gabung.
"Jangan nanya Bang Arka. Dia pasti lupa" tukas Sebastian.
Arka masih berusaha mengingat.
"Makanya bang, kalau sekolah tuh cari teman. Jangan suka menyendiri" canda Dewa.
Arka hanya garuk-garuk kepala, karena masih belum ingat.
"Eh bang, dia ini juga dokter loh. Pemilik rumah sakit malah" beritahu Sebastian menepuk Bara.
"Rumah Sakit Suryo Husada" lanjut Sebastian.
"Ooooooo....jadi kau Bara putra om Suryo" sahut Arka karena baru ingat.
"Tian, ternyata dia masih ingat...ha...ha..." seloroh Bara.
"Ngomong-ngomong kalian kok kompak ke sini? Pada mau ngeborong nih?" celetuk Bara.
"Heemmm...jiwa bisnis CEO Dirgantara mulai meronta tuh" sindir CEO Blue Sky.
"Bara, bang Arka ini juga dokter loh. Ajaklah gabung di rumah sakit kau" Sebastian mulai mengobrol.
"Bisa dipikirkan. Asal cocok aja" imbuh Arka.
"Ha...ha....CEO Panapion juga perhitungan ternyata" ketiganya terbahak bersama.
"Ambil apa?" tanya Bara.
"Ortho"
"Wah pas dong, Suryo Husada baru ada dokter Beni. Secepatnya aja kau urus" ucap Bara.
__ADS_1
Sementara Tania dibawa masuk untuk melihat gaun-gaun pesta mewah yang ada di galeri butik itu.
"Kak, nggak kau ajak bang Arka?" tanya Mutia.
"He..he..sampai lupa. Dia kan yang mau bayarin" canda Tania.
"Sayang, sini bentar" panggil Tania ke arah Arka yang sedang ngobrol.
"Bentar ya, gue ke sana dulu" Arka bergegeas nyusul Tania.
Sebastian, Dewa dan juga Bara ngelanjutin ngobrolnya.
"Iya juga sih, aku juga baru dengar CEO Panapion barusan diganti" kata Bara menyambung omongan Tian dan Dewa.
"Jodoh kali ya mereka, dipertemukan dengan cepat" lanjut Bara.
.
Sementara di dalam, Arka menjelaskan detail gaun yang ingin dipesan olehnya langsung kepada desainer yang bekerja di butiknya Bara.
"Saya ingin bulan depan minggu ketiga sudah selesai ya" harap Arka.
"Baik tuan, akan kami usahakan" kata desainer itu.
"Makasih atas bantuannya" Arka dan Tania menyalami sang desainer.
"Mumpung di sini, yuk sekalian nonton. Pas nih sudah bawa pasangan masing-masing" usul Arka saat mereka kembali gabung dengan Tian dkk.
"Wah sori nih, aku kebetulan ada janji sama istri. Mau nganter imunisasi anakku" tolak halus Bara.
"Oke lah dimaafkan. Tapi lain kali musti hadir loh" tukas Arka.
"Sippp" tukas Bara mengacungkan jempol tanda setuju.
Mutia menghampiri putra putrinya yang sedang berada di area permainan, pamit bik Inem untuk nonton.
Anak buah Sebastian, seperti biasa tetap disebar di area game zone. Padahal area itu telah dibooking seluruhnya oleh Tian. Jadi hanya ada Langit dan adiknya saja.
"Untuk anak-anak dan istri harus dipastikan aman semua. Nanti bang Arka pasti akan melakukan itu juga, meski tau kalau istrinya jago gulat" tukas Tian.
"Kau" hardik Tania dengan pelototan tajam ke arah Tian.
"Bang, calon istrimu mau menganiayaku" goda Tian.
"Mutia, bilang suami kamu. Jangan main-main dengan Tania Fahira" ketus Tania.
"Sudah punya pawang, galaknya masih saja ada" sela Dewa.
"Apa? Kau mau ikut-ikutan bos kamu?" sela Tania.
"Sudah...sudah...kita langsung ke gedung tiga saja. Di sana sudah kupesan" beritahu Arka.
"Wah, bebas nih pilih judul film" kata Tian. Dan Mutia tahu suaminya pasti akan pilih genre action.
Kalau untuk itu, Tian Dewa dan Tania kompaknya tak ada tandingan.
"Action pasti" tukas Dewa.
"Setuju" timpal Tania seperti mendapat dukungan dari kedua sahabatnya.
Bahkan mereka saling menepukkan telapak tangan tanda kekompakan.
"Aku yang pesan, aku yang nentuin dong" sela Arka di antara obrolan ketiga sahabat itu.
"Romance" seloroh Arka.
"Yeeeiiiiii....setuju" teriak Mutia dan juga Dena.
"Eh, kalian kok malah kebalik sih? Tania suka action, bang Arka malah suka romance?" ucap Dena.
__ADS_1
"Hobi nggak bisa dipaksa dong" imbuh Tania.
"Bener tuh" sambung Tian dan Dewa.
"Nggak ada penolakan, kali ini Romantic genrenya" kata Arka.
Ketiga orang yang bersahabat itu tetap menonton film, tapi awalnya ngedumel bagai sarang lebah yang ratu lebahnya hendak bertelur...he...he.... Emang lebah bertelur ya? Serius nanya.
Sampai di tengah film, terdengar suara tangisan. Semua menengok ke arah Tania.
"Sayang, kenapa? Apa kamu sakit?" bisik Arka yang berada di dekatnya.
"Nggak kok" tapi tangan Tania menunjuk ke arah layar lebar di depannya, di mana tokoh utama sedang menangis tergugu karena ditinggal orang tersayang.
Arka hanya bisa menahan senyum, lucu juga melihat Tania yang sangat menghayati film yang terputar.
Dia mellow juga. Batin Tania.
Film selesai, lampu ruangan telah menyala.
"Hei, kau menangis?" selidik Tian melihat Tania keluar dengan muka merah.
"Enggak" elak Tania.
"Idih, tingkah aja seperti preman. Tapi hati loe bagai perawan...eh salah ya?" Dewa garuk kepala. Ragu dengan kalimat pengandaiannya barusan.
"Langit sini!" panggil Sebastian ke arah putranya yang masih asyik bermain.
"Nggak capek?" tanya Mutia mengelus rambut sang putra.
"Bunda, laper nih" seloroh anak kecil itu.
"Kenalin dulu. Tuh Uncle Arka" bilang Mutia, karena Langit sudah mengenal Tania sebelumnya.
Langit memberi salam ke Arka.
"Eh Tian, anakmu bagai fotokopian kamu ya?" tutur Arka karena melihat Sebastian versi kecil.
"Semuanya bang. Bunda nya nggak dikasih bagian apa-apa" sambung Mutia.
Semua terkekeh mendengar celetukan Mutia.
"Senang juga menjadi bagian dari kalian" ucap Arka.
"Betewe, makasih Tian Dewa atas bantuan kalian kemarin" kata Arka dengan tulus.
"Gimana? Sudah tuntas bang?" tanya Tian.
"Masih di penyidik" jelas Arka.
"Tania, apa kau tetap akan di firma hukum itu?" tanya Dewa mulai serius.
"Belum kupikirkan" jawab lugas Tania.
"Dia akan menjadi ketua tim legal di perusahaan saja dan tidak di tempat lain" jelas Arka.
Tania hanya sewot menanggapi ucapan Arka, posesifnya mulai lagi. Batinnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
__ADS_1
💝
Salam sehat buat semua 🤗