Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Tuan David


__ADS_3

Orang-orang Arga bekerja sama dengan pihak berwajib berhasil menghadang kepergian tuan David di bandara.


Awalnya tuan David menolak untuk dibawa dan mengelak semua kesalahan yang ditimpakan kepadanya. Tetapi setelah ditunjukkan bukti, dia tak bisa mengelak lagi.


Ternyata dugaan Arga tak ada yang meleset. Bahwa ada kerjasama di antara tuan David dengan Arkan dan juga Smith.


"Gimana Arka? Skalian kau tumpas si Arkan atau kau biarkan dia begitu saja" ulas Arga.


"Semua bukti bukannya belum mengarah ke dirinya?" tukas Arka.


"Iya juga sih. Tapi kita bisa buat tuan David mengakuinya" sela Arga.


"Keterlibatan Smith dan Arkan di masalah ini belum begitu terlihat Arga. Jikalau mereka berdua saat ini ikut ditangkap, paling hanya penjara 6 bulan vonisnya. Belum jika mereka membayar mahal pengacara, bisa-bisa malah bebas mereka" terang Arka.


"Pelik juga masalah loe...ha...ha..." canda Arga.


"Problem loe malah lebih berat Ga" seloroh Arka menimpali.


"Ha...ha...berat kalau wanita tua itu datang lagi" lanjut Arga.


"Jangan sadis-sadis bagaimanapun surga di bawah telapak kaki ibu" ujar Arka.


"Iya kalau ibunya seperti mama kamu. Tapi kalau ibuku?" sergah Arga sambil mengangkat kedua bahunya.


"Sudahlah nggak usah bahas begituan lagi. Males aku nanggepinnya" kata Arga meneruskan.


"Oke lah kalau begitu" Arka ikutan apa yang dimau oleh Arga.


Berita penangkapan seorang ayah dari selebgram terkenal, menjadi trending sore ini.


Davina banyak dikejar oleh pemburu berita.


Arka dan Arga sangat menikmatinya.


"Lucu juga ya wanita itu menanggapi penangkapan papa nya" kata Arga yang melihat Davina sedang memberikan tanggapan.


"Papah saya itu orang baik. Pasti ada kesalahan atas kasus yang menimpa papa saya. Di perusahaan papa saya punya saham besar. Dan jika papa saya menarik sahamnya, maka perusahaan itu pasti akan gulung tikar" ucap Davina penuh percaya diri.


"Perusahaan nenek moyang loe?" celetuk Arga.


"Ha...ha...ngapain loe tanggepin? Dia saja tak mendengar apa yang loe ucapin" Arka terpingkal melihat Arga yang gemas pada omongan Davina.


Ponsel Arka kebetulan berdering saat dia menertawakan Arga.


"Halo, dengan Arka. Ada yang bisa dibantu" sapa Arka saat melihat ada nomor tak dikenal masuk.


"Hei, apa kabar? Aku Bara. Kapan nih kamu terima tawaranku? Dokter Arka Danendra spesialis Orthopedi" ucap sang penelpon yang ternyata Bara, CEO Dirgantara Grub.


"Kirain siapa...ha...ha... Gimana yach, kali ini aku masih fokus ke promil dulu" jelas Arka.


"Heemmmmm...rumah sakit aku lagi butuh banget nih. Kebetulan dokter satunya keluar karena mau pindah kota. Please dech Ka" paksa Bara.


"Kalau untuk promil, kan kalian baru juga menikahnya" tukas Bara.

__ADS_1


Karena kalau promil, biasanya baru dilakukan setelah pernikahan melebihi setahun. Tapi itu dikembalikan ke pribadinya masing-masing sih.


"Ada something yang tak bisa aku katakan by phone. Oh ya Bar, kau punya kenalan sejawat dokter yang recomended untuk insem?" tanya Arka.


"Ada, nanti kukirim lewat pesan aja skalian nomer kontak personnya" imbuh Bara.


"Oke, makasih ya. Kapan-kapan aku mampir ke Suryo Husada lagi dech" kata Arka menimpali.


"Jangan janji kosong doang, tapi beneran loh kutunggu gabungnya" ucap Bara menutup panggilan.


"Siapa?" tanya Arga dengan jiwa kepo yang meronta.


"Oh, teman sekolah yang kebetulan dokter juga" jelas Arka.


"Oooooo..." Arga hanya ber 'ooooo' ria.


Kali ini gantian Sebastian yang menelpon.


"Halo bang, kapan ada waktu nih?" sapanya.


"Sekarang juga ada waktu" terang Arka.


"Besok ada waktu?" sambungnya.


"Heemmm, kalau besok gimana ya? Aku takut Tania masih lelah. Kalau lusa gimana?" timpal Arka.


"Mentang-mentang baru pulang honeymoon, kecapekan" canda Sebastian.


"Emang ada apaan sih?" tanya Arka penasaran.


"Hah? Kau salip terus aja aku nih" kata Arka menirukan logat Batak.


"Ha...ha...semoga Tania lekas ketularan bang" sambung Sebastian.


"Aamiin" timpal Arka cepat.


"Besok, usahain datang ya" kata Sebastian mengulangi undangannya.


"Oke, ntar pulang kusampaikan istriku" kata Arka menyambung ucapan Sebastian.


Arka menghela nafas panjang, setelah menutup panggilan telpon dari Sebastian.


"Smoga saja istriku tak bersedih mendengar berita kehamilan Mutia" gumamnya.


"Yang penting ikhitar bro, urusan hasil pasrahkan ke yang di Atas" Arga menyela di antara gumaman Arka.


"Doanya ya" tukas Arka.


"Pasti lah"


"Loe nggak pulang?" tanya Arka ke Arga yang masih betah di kantornya.


"Tumben loe betah di sini" gurau Arka.

__ADS_1


"Ha...ha...karena ada wanita tua yang sedang menyatroni bengkel" tandas Arga.


"Nih lihat" seloroh Arga sambil menunjukkan layar ponsel ke arah Arka.


Beberapa kamera cctv yang tersambung ke ponsel Arga menunjukkan keberadaan wanita setangah tua yang notabene mengaku sebagai mamanya Arga.


"Kenapa nggak kau temuin? Bisa saja kan dia akan memberi tahu kamu sesuatu hal yang penting" ucap Arka.


Arga menggeleng, tak menyetujui ucapan Arka barusan.


"Ya udah kalau gitu. Tidur aja di sini" Arka beringsut dari duduk dan hendak pulang.


"Beneran boleh, di kamar itu?" tunjuk Arga memastikan.


"Ya enggak lah. Tapi tidur aja, noh di sana" tunjuk Arka ke arah kursi panjang yang biasanya dia pakai untuk nemui tamu.


Arga sewot menanggapinya, "Mendingan pulang" kata Arga.


Orang hidup dengan masalah sendiri-sendiri. Dan Arka menyadari akan hal itu. Hubungan Arga dengan ibunya yang belum berujung. Arka dengan trauma masa lalunya dan juga masalah promil dengan Tania.


Karena Pandu sedang menyelesaikan urusan tuan David di kantor penyidik, Arka pulang dengan menyetir sendiri.


Saat dia keluar dari ruangan, suasana kantor memang sudah lengang.


"Aku pulang aja ah, kantor kamu menyeramkan juga kalau sendirian" Arga menyusul langkah Arka.


"Mau kuanterin??? Kau ke sini kan sama Pandu" tawar Arga.


"Nggak ah, aku nyetir sendiri ajah" tolak Arka.


"Oke bos, hati-hati" kata Arga dan sedetik kemudian telah berjalan ke arah mobilnya.


Demikan juga Arka, dia melangkah ke arah mobil mewahnya terparkir.


Arka melajukan mobil perlahan, dan sesuai batas kecepatan rata-rata.


Di sebuah perempatan yang kebetulan lampu menunjukkan hijau, Arka tak berhenti dan terus melajukan mobil.


Tiba-tiba saja, dari arah kanan yang kebetulan jalannya curam. Sebuah truk box melaju cepat menerobos lampu yang seharusnya merah dan duaaaarrrrrr...


Trux box itu pun menghantam mobil yang dikemudikan oleh Arka Danendra.


*Sabotase atau murni kecelakaan, kepoin di part selanjutnya ya guyssss.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya

__ADS_1


πŸ’


__ADS_2