Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Ulat Bulu


__ADS_3

"Kau sudah datang sayang?" sambut Arka saat Tania masuk ruangan.


"Sudah selesai rapatnya?" Tania malah balik tanya.


"Barusan selesai" tukas Arka.


"Apa tadi juga rapat dengan tuan David?" tanya Tania sesudahnya.


Arka yang sedang beberes meja menatap Tania.


"Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" tanya Arka memicingkan mata.


"Nggak kok" Tania menatap tempat lain. Pasti dia sedang bohong. Tebak Arka.


"Sayang tatap aku" pinta Arka dengan mimik serius. Dia pegang kedua bahu Tania. Tania pun melakukan apa yang diminta oleh Arka.


"Sayang, yakinlah. Apapun itu, aku tak akan berpaling" jelas Arka seakan tahu jalan pikiran Tania.


"Cinta pertamaku adalah cinta terakhirku" tandas Arka.


"Gosip-gosip di sini pun sudah diberesi oleh Pandu. Apapun masa lalu kita, kita tak bisa merubah. Kita tatap masa depan bersama. Are you ready?" peluk Arka ke Tania.


Tania menyandarkan kepala ke bahu Arka. Sungguh ucapan tuan David di depan tadi sedikit membuat dirinya insecure.


"Sudah jangan dipikirin. Katanya mau minta traktir bakso depan kantor kamu. Ayo kita ke sana" ajak Arka menggandeng Tania keluar kantor CEO.


"Pandu, aku keluar dulu" kata Arka saat mereka papasan dengan Pandu.


"Baik tuan" tukas Pandu.


"Emang jawaban kamu nggak ada yang lain selain baik tuan dan siap tuan?" ledek Tania.


Pandu tersenyum simpul menanggapi ucapan Tania.


"Simpan senyum kamu untuk wanita lain, jangan wanitaku" hardik Arka. Otomatis senyum Pandu langsung terhenti membuat Tania terbahak melihatnya.


"Oh ya sayang, bagaimana kau bisa menebak kalau pelakunya Arkan?" tanya Arka saat mereka sudah berada dalam mobil.


"Hanya asal tebak aja" seloroh Tania.


"Nggak mungkin begitu" elak Arka.


"Kau ingat tuan Smith?" toleh Tania ke arah Arka.


"Heemmm" Arka hanya bergumam.


"Ini hanya feelingku aja sih. Semoga aja benar. Sepertinya perusahaan yang dia miliki juga ada kaitannya dengan Arkan" tebaknTania.


"Kau yakin?" tandas Arka.


"Feeling aja" tukas Tania.


"Kau suruh Arga saja, bukannya dia jago untuk mendapat informasi begituan" seloroh Tania.


"Yang kutahu Arkan hanyalah parasit di rumah papa, semenjak nyonya Gaby ditahan dia tak pernah lagi muncul di kediaman papa" jelas Arka.


"Terus dia dapat uang darimana? Kau ingatkan penggrebekan yang dilakukan petugas kemarin ke kontrakannya?" tanya Tania dan Arka mengangguk.

__ADS_1


"Kontrakan mewah untuk kelas pengangguran seperti Arkan. Aneh nggak sih?" celetuk Tania.


"Iya...ya..." sahut Arka bergumam membenarkan kata-kata Tania.


Arka menelpon Arga, "Halo bos! Pasti ngasih kerjaan lagi kan?" seloroh Arga di ponsel.


"Nggak, aku mampir ke bengkel siang ini" ucap Arka menjawab Arga.


Semenjak menjadi CEO, Arka jarang datang ke bengkel. Biasanya hampir tiap hari dia ke sana. Bengkel yang didirikan bersama Arga, dengan modal dan tenaga sendiri awalnya. Dan sekarang telah menjadi sebuah bengkel besar. Yang menjadi langganan orang-orang kaya yang ingin buang duit, karena ingin memodif mobil yang mereka punya.


"Kita makan dulu aja sebelum ke Arga. Aku yakin di sana pasti nggak ada apa-apa kecuali minuman bersoda" ajak Arka sambil terkekeh.


"Kayaknya resto dekat kampus kedokteran itu enak dech yank?" beritahu Tania.


"Pernah coba?" tanya Arka.


"Pernah sih, kadang-kadang aja. Harganya lumayan sih" kata Tania tersenyum kecut.


"Oke, kalau gitu traktiran baksonya kuganti ke resto itu aja ya? Anggap impas" seloroh Arka bercanda.


"Idih, CEO nggak mau rugi" tangkis Tania.


"Harus dong...ha...ha...canda sayang, mukanya biasa aja lah" elus sayang tangan Arka ke rambut Tania yang tergerai.


Tania menunggu Arka yang sedang cari tempat parkir.


Tak lama Arka menghampirinya, "Sori, dapat tempat di ujung sono noh" tunjuknya ke bawah pohon besar yang rindang.


"Nggak papa, biar mobilnya nggak kepanasen...he...he..." timpal Tania.


Dia tak mau memanfaatkan apa yang dipunya oleh Arka, meski telah menyandang status seorang tunangan Arka Danendra.


"Heeiiii, kau Arka kan?" tanya seorang wanita cantik yang feminin menghampiri keberadaan mereka.


'Siapa lagi orang ini???' gerutu Tania dalam hati.


Arka menatap wanita yang menyapanya, "Maaf, siapa ya?" tanya Arka yang memang susah mengenal orang-orang dari masa lalunya.


"Aku Davina, putri tuan David. Papaku kan juga bekerja di Panapion" terangnya.


Mendengar bahwa dia adalah putri tuan David membuat Tania merenung. Dia memang cantik, feminin, anggun dan kelihatan berkelas. Tidak seperti diriku yang bar-bar. Ah, masa bodoh. Aku tak mau merubah image hanya karena punya pesaing. Perang batin Tania.


"Oooo...Davina. Apa kabar?" ucap Arka berusaha ramah. Tapi melihat Tania yang terdiam, Arka pun mengenalkan Tania ke Davina.


"Kenalin Tania Fahira, tunanganku" kata Arka dengan jelas.


Nampak ekspresi kaget yang begitu kentara dilihatkan Davina, tapi sejenak dia seperti bisa menguasai keadaaan.


Mereka saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.


"Boleh gabung?" tanya Davina, seolah mengambil kesempatan.


'Dasar ulat bulu' gerutu Tania. Tania yang diam membuat Arka bingung. Pasti Tania sedang dalam mode singa sekarang, sehingga tak mau bicara dan hanya ingin menyeruduk mangsa di depannya.


Arka yang diam demikian juga Tania, "Kok saling diam? Kuanggap kalian setuju" imbuh Davina dengan duduk di samping Arka.


Kesal...tentu saja.

__ADS_1


"Nona cantik...oh ya Nona Davina, maaf kita sudah kenyang. Jadi kalau pesanan kami datang, abiskan saja!" Tania beringsut berdiri meninggalkan meja. Arka dibuat kalang kabut oleh Tania yang pasti sedang berada dalam mode taring terbuka.


Arka pun mengekori Tania setelah membayar bill pesanan tadi.


Di sana, di meja nya tadi. Davina tersenyum smirk. Lihat saja nanti. Gumamnya.


Baru segini saja, emosimu sudah meledak. Oh Tania. Apa yang akan kau lakukan jika aku berhasil merebut Arka Danendra tunangan kamu. Batin Davina.


Arka dibuat kalang kabut oleh mode diam Tania sekarang. Tak ada kata terucap dari bibir mungilnya saat mobil melaju ke bengkel tempat Arga.


"Sayang, aku kan juga nggak tahu kalau dia tak menghampiri duluan" akhirnya seutas kalimat keluar dari bibir Arka.


"Kenal juga nggak, kalau dia tak nyebutin namanya" lanjut Arka.


Tania masih terdiam. Memang tak sepenuhnya salah Arka. Tapi salahnya Arka adalah kenapa dia begitu tampan dan juga punya jabatan mentereng. Padahal nggak punya semua itu aja, Tania sudah takhluk dibuatnya.


Akhirnya dengan bonus nya Arka pasti akan banyak digilai oleh wanita. Itu yang membuat Tania belum siap.


"Sayang, ingat janjiku tadi. Pertama dan terakhir. Ingat kan?" Arka tak tahu lagi harus merayu seperti apa. Jurusnya telah habis. Karena dia juga bukan pria romantis...he...he....


"Janji ya????" Tania akhirnya mengeluarkan suara emasnya.


"Walaupun ada seribu wanita seperti Davina, kau tak akan berpaling" ucap Tania.


"Heemmmmm" gumam Arka dengan mengangguk.


"Hemmmm apa? Yang jelas dong" sergah Tania.


"Masih tak percaya? Besok langsung ke penghulu saja biar kau percaya" imbuh Arka.


"Yang ada nenek akan kerepotan dengan semua acara dadakan yang kamu buat" kata Tania.


"Lha mau gimana lagi, yang penting kamu percaya" tulas Arka terbahak.


Cubitan manja mendarat di lengan Arka.


"Love you Tania" tukas Arka dengan jari membentuk saranghae seperti di drakor.


Mereka pun terbahak bersama.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini. Makasih juga yang sudah kasih kopi, vote, bunga, like dan komen.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Vote...vote...vote...


Klik juga iklannya


💝


Salam sehat buat semua 🤗


Berusaha nyentuh keyboard di bawah selimut tebal 🥶

__ADS_1


__ADS_2