Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Kasak Kusuk


__ADS_3

Pagi hari bangun tidur, Tania sudah dikagetkan dering suara panggilan telpon di ponsel miliknya.


"Siapa sih yank? Gangguin pagi-pagi" tanya Arka yang belum membuka mata sambil memeluk pinggang sang istri.


"Mana aku tahu yank. Aku juga belum melihatnya" tukas Tania.


Hendak beranjak tapi ditahan oleh Arka.


"Biarin saja lah. Ntar kan bisa ditelpon balik" imbuh Arka malah mempererat pelukannya.


Tania yang sebenarnya juga enggan beranjak kembali mengeratkan pelukan sang suami.


Tania yang merasa nyaman jika dipeluk Arka. Pinggangnya yang kadang terasa tak nyaman, akan hilang jika sudah diusap oleh tangan lembut sang suami.


Belum sampai mata terpejam kembali, ponsel Tania kembali berdering.


"Isssshhhh, siapa sih?" gerutu Tania pagi-pagi.


Matahari saja masih enggan menampakkan diri, tapi ponsel Tania tak mau diajak bernegosiasi.


"Halo" kata Tania tanpa melihat siapa yang menelpon.


"Halo...!!!" Tania menyapa ulang, karena tak ada sahutan dari penelpon.


"Sialan, iseng aja loe" umpat Tania kala tak ada sahutan setelah beberapa detik dia menyapa.


"Siapa?" sela Arka.


"Tau...nggak ada suaranya" bilang Tania.


Arka menggeliat, "Jam berapa nih?" tanyanya.


"Hhmmm baru jam empat yank" beritahu Tania setelah melihat jam yang tergeletak di nakas sampingnya.


"Bangun aja yuk, kita tunaikan kewajiban dulu. Saatnya kamu rajin jalan pagi sayang" jelas Arka.


"Tapi dingin yank" kata Tania beralasan, karena dia masih enggan untuk bangun.


"Ayolah, kamu ingin lahiran lancar seperti lahirnya Arditya kan?" tukas Arka.


"Iya lah. Senang aja kalau kamu lagi yang akan merasakan semuanya" kata Tania terkekeh.


"Idih maunya. Kali ini kita bagi. Aku setengah kamu setengah" ujar Arka sembari menyunggingkan senyum.


"Emang ada seperti itu? Atau itu hanya akal-akalan kamu aja yank?" tukas Tania.


"Ha...ha...makanya kita tunaikan kewajiban dulu. Setelah itu kita jalan pagi di taman kompleks" imbuh Arka.


"Baiklah" ujar Tania yang akhirnya menyetujui ajakan sang suami.


Arka dan Tania tengah bersiap untuk jalan, baju olahraga dan sepatu couple telah nangkring manis di badan mereka masing-masing.


"Kalian mau ke mana?" tanya nenek yang sudah berada di dapur pagi itu.


"Ngajakin Tania jalan nek, biar nanti lahirannya lancar" terang Arka.


"Bagus itu" kata nenek mengacungkan kedua jempolnya.


"Udara pagi juga sangat bagus loh" imbuh nenek.


"Oke nek, kita pergi dulu. Nitip Arditya ya nek" pamit Tania.


Bahkan Arka dan Tania kompak tak membawa ponsel.


"Jauh nggak sih yank tamannya?" karena belum pernah sekalipun Tania mengitari kompleks perumahan itu dengan berjalan kaki.


"Sebenarnya sih nggak jauh, cuman aku ngajak jalannya muter. Biar kamu juga kenal sama tetangga-tetangga lah" ucap Arka.


"Mana bisa kenal tetangga, temboknya aja setinggi pohon kelapa semua" jawab Tania untuk menyanggah Arka.


Memang benar apa yang dikatakan oleh istri Arka Danendra itu.

__ADS_1


Orang yang tinggal di kompleks perumahan ini tentunya tak sembarangan. Karena yang bisa beli pastilah orang golongan atas. Masing-masing rumah lengkap dengan gerbang dan penjaga. Hanya mansion Arka dan mansion Sebastian saja yang pagarnya tak begitu tinggi. Itupun yang berhadapan langsung. Selebihnya tembok yang mengelilingi tetap sama dengan yang lain, tinggi menjulang.


Arka dan Tania sampai taman dan situasi masih lengang.


Tania mengelilingi taman itu beberapa kali putaran.


"Yank, haus" keluh Tania.


Arka yang juga lupa membawa minuman untuk ibu hamil, akhirnya menghampiri sosok penjual minuman yang hanya menggelar dagangannya di sebuah tikar.


"Pak, minumannya dua ya" ucap Arka sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.


"Untuk bapak aja kembaliannya" ujar Arka menambahi.


"Terima kasih tuan. Semoga istrinya lancar saat melahirkan" doa sang penjual untuk istri Arka.


"Aamiin. Makasih pak doanya" ujar Arka dan sejenak kembali mendekat ke Tania yang masih fokus jalan bolak balik.


"Nih minumnya" Arka menyodorkan sebotol air mineral.


"Aman kan ini?" tanya Tania sambil meneliti botol minuman yang dipegangnya.


"Isssshhhhh kamu ini. Pasti aman lah. Tak sembarang penjual bisa masuk kompleks ini sayang" terang Arka.


"Owh...gitu ya" jawab Tania sambil membuka tutup botol yang telah dikendurkan tutupnya oleh Arka.


"Heemmmm" gumam Arka.


"Gimana? Jalan lagi?" sambung Arka menawari Tania.


Semakin terang, pejalan kaki di sekitaran taman semakin ramai.


Beberapa penjual makanan mulai menggeber beberapa dagangannya.


"Aku lapar" Tania mengeluh lagi.


Ibu hamil ini semakin dituruti maka akan semakin menjadi.


"Pulang aja kalau gitu. Nenek kan sudah buatin kita sarapan" tukas Arka. Dia tak ingin istrinya makan menu sembarangan apalagi sedang hamil.


"Heemmmmm, ngidam kamu itu selain bubur ayam kenapa sih yank? Antrinyaaaaaa" kata Arka.


Tania malah menangis karena keinginannya ditolak Arka, hanya karena antrian yang panjang.


"Iya...iya...aku beliin. Tapi antrinya lama nggak apa-apa kan?" imbuh Arka.


Melihat istrinya yang mengangguk, maka Arka segera beranjak mendekati penjual bubur ayam.


"Dan ngidamnya hampir sama dengan saat hamil Arditya. Hobi menyuruh suami yang ganteng ini untuk mengantri makanan" gumam Arka bermonolog.


Terdengar oleh Arka obrolan ibu-ibu di depannya. Ibu-ibu yang sepertinya dari kompleks sebelah.


"Eh Nyah, penjahat yang kadang sidangnya di live in itu namanya siapa sih?" tanya ibu pertama.


"Owwwhhhhh, Arkan maksud kamu?" jawab yang dibelakangnya.


"Iya. Kok aku sampai lupa nama penjahat ganteng itu" imbuh yang lain.


"Emang ada apaan sih?" tanya ibu yang memberitahu nama Arkan.


"Makanya lihatin berita dong" sergah ibu yang tepat di depan Arka untuk mengantri.


"Ada apa? Cerita dong. Aku kok jadi penasaran" sela yang lain lagi.


Karena mereka sedang membicarakan Arkan, membuat Arka menajamkan pendengarannya.


"Arkan, si ganteng itu melarikan diri" beritahu ibu pertama.


"Tuan Arkan melarikan diri?" Tanya yang lain.


Arka menghela nafas panjang. Setelah mendapatkan giliran memesan, Arka pun meminta dua porsi bubur ayam.

__ADS_1


"Bapak kenal ibu-ibu yang tadi?" tanya Arka ke sang penjual.


"Owhh, mereka dari kampung di belakang kompleks ini tuan" beritahu sang penjual bubur.


Setelah mengantri cukup lama, Arka membawa dua mangkok bubur ayam untuk sang istri.


"Nih yank" ujar Arka menyerahkan yang semangkok untuk Tania.


"Yank, ntar boleh nambah?" tanya Tania yang belum menyendok bubur yang barusan diterima.


"Boleh, kalau perlu nanti bapak penjualnya tak suruh parkir di depan mansion kita bersama penjual-penjual yang lain. Ntar kamu juga bisa buat konten yank" ledek Arka.


Tania mencebikkan bibir.


"Loh beneran lho yank tawaranku" seulas senyum nampak tersungging di bibir Arka.


"Pikirin nanti aja, yang penting makan" ujar Tania dan dengan lahap menyantap bubur ayam yang masih hangat itu.


"Oh ya yank, kamu tadi lihat ibu-ibu kompleks yang pesan di depanku tadi kan?" tanya Arka dan Tania pun mengangguk.


"Ibu-ibu biang gosip itu kan?" sambung Tania. Kali Arka gantian yang mengangguk.


"Heemmmm" gumam Arka.


"Emang ada apaan?" tanya Tania penasaran.


"Berdasar gosip yang mereka ucapkan, pagi ini Arkan tak ditemukan lagi di sel isolasi nya" cerita Tania.


"Hah? Melarikan diri?" tanya Tania karena tak percaya jika Arkan akan melakukan hal bodoh.


"Aku belum periksa kebenarannya" imbuh Arka menjelaskan.


Karena masing-masing tak bawa ponsel mana bisa memeriksa kebenarannya.


Tania makan dengan cepat seperti biasanya.


"Yank, aku sudah selesai. Ayo balik" ajak Tania.


"Sudah kenyang aja, langsung minta balik" ledek Arka.


"He...he...penasaran dengan berita klienku" jawab Tania sambil bersendawa. Arka sampai dibuat geleng akan ulah sang istri.


Tania baru teringat akan ponsel yang beberapa kali berdering tadi, kala Arka membicarakan berita Arkan.


"Pulang sekarang?" tandas Arka. Setelah menyelesaikan suapan terakhir, Tania mengangguk menyetujui pertanyaan Arka.


"Yank, jangan-jangan tadi Arkan yang menghubungi aku?" kata Tania saat mereka berjalan menuju mansion.


"Nggak mungkin lah. Apa iya mau melarikan diri kok pakai ijin sama kamu. Nggak lucu" imbuh Arka.


"Iya juga sih" tukas Tania sambil garuk kepala.


"Terus siapa tadi yang nelponin?" sambung tanya Tania.


"Ntar sampai rumah langsung lihatin tuh ponsel. Pasti ketahuan siapa yang nelponin kamu" canda Arka.


"Nggak lucu ah" ucap Tania sewot.


Saking penasarannya, Tania sampai tak sadar jika melewati sang putra yang tengah berjemur mencari sinar mentari pagi.


Arka menghentikan langkah mendekati Arditya dan membiarkan sang istri menemukan jawaban atas pertanyaan sepanjang perjalanan balik ke mansion ini tadi.


Melihat ponsel.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.

__ADS_1


Klik juga iklannya


πŸ’


__ADS_2