
Tania dan Arka mencari keberadaan Arkan di tempat yang diberitahukan oleh Boy barusan.
Dilihatnya Arkan duduk lunglai di sana dengan sosok seorang MUA di dekatnya.
"Kenapa kak? Kok nggak jadi didandanin mempelai lakinya?" tanya Tania.
"Tuan Arkan menolak nyonya. Katanya menunggu mempelai wanita datang terlebih dahulu" bilang MUA itu.
Tania menghampiri Arkan yang sedang termenung. Tak biasanya Arkan jadi pendiam kala Tania datang.
"Arkan, apa yang kamu tungguin. Semua telah siap di depan" ujar Tania.
Arkan masih diam tak merespon.
"Arkan" Tania menepuk bahu laki-laki itu.
Arkan mendongak, "Eh, kamu ternyata" tukasnya.
"Gimana sih? Aku sedari tadi di sini loh. Kamu anggap angin?" ucap Tania.
Arkan hanya diam. Tania menilai Arkan tak seperti biasanya.
"Ayolah Arkan, kamu musti bersiap. Apa kamu tak kasihan jika sampai di sini Davina akan menunggumu lagi" kata Tania.
"Dia tak akan datang" kata Arkan lemas.
"Apa maksud kamu?" pertegas Tania.
"Nih" Arkan menyerahkan ponsel yang selalu dia titipkan ke sipir. Ponsel yang sama, yang selalu dia pakai untuk menghubungi Tania.
Tania pun membuka ponsel yang tak terpasword itu.
Alangkah terkejutnya Tania, kala di layar ponsel manampakkan video di mana mobil pengantin yang ditumpangi Davina jungkir balik beberapa kali.
Dan video berikutnya menampakkan Davina yang berlumuran darah karena terpental beberapa meter dari dalam mobil.
"Sudah tahu kan, kenapa aku tak segera bersiap?" Arkan memandang Tania dengan wajah muram.
"Musuh-musuhku ingin membalas atas semua yang kulakukan Tania" ucap Arkan lirih.
"Lantas bagaimana keadaan Davina sekarang?" tanya Tania. Dan gelengan kepala Arkan diterimanya.
Tania langsung menelpon Boy untuk segera bertindak. Saat ini Arkan tak bisa diandalkan untuk memikirkan langkah selanjutnya.
Anak buah yang disiapkan Boy untuk mengiringi dan menjaga keamanan Davina pun habis dibantai oleh orang-orang yang menjadi musuh Arkan. Musuh yang mana, saat ini Arkan juga belum tahu.
"Boy, keadaan Davina bagaimana?" tanya Tania saat Boy sudah berada di dekatnya.
"Aku masih kesulitan mendapatkan kabar nona Davina. Anak buah yang kusiapkan untuk menjaga keamanan Nona Davina sampai sekarang pun sulit dihubungi" jelas Boy.
Arka hanya duduk di kursi pojokan mengamati semua yang dilakukan sang istri.
Notif pesan di ponsel yang tersilent, dan kebetulan Arka melihatnya.
Sebuah pesan dari Arga.
"Davina meninggal di tempat kejadian" ketik Arga untuk memberi tahu Arka.
"Issshhh dia selalu saja up to date" gumam Arka.
Mau kasih tahu sang istri saat ini nggak mungkin, karena Tania sedang berbicara dengan Arkan.
Arka melanjutkan duduknya mengamati keadaan. Suasana di lapas masih kondusif seolah tak terjadi apa-apa.
Ponsel Arkan yang dipegang Tania kembali berbunyi, "Ada pesan masuk nih" bilang Tania.
"Buka aja" Arkan sepertinya sudah bisa menebak apa isi pesannya.
"Davina meninggal???" ucap Tania lirih.
Tubuh Arkan lemas lunglai terduduk di lantai. Inilah yang ditakutinya selama ini. Davina pergi sebelum dia bisa melindunginya.
__ADS_1
Arkan menangis. Ya, seorang mafia ataupun gangster ataupun penjahatnya penjahat ternyata masih punya hati nurani.
"Aku tak bisa melindungi Davina" kata Arkan lirih.
"Semua sudah berusaha yang terbaik Arkan, tapi ternyata Tuhan lebih menyayangi Davina" hibur Tania.
Arkan berteriak, memporak porandakan semua yang ada di dekatnya. Meluapkan emosi yang ada di dada.
"Percuma aku jadi orang baik Tania, percuma" teriaknya.
Arka menarik lengan sang istri agar mendekat padanya.
Beberapa petugas lapas langsung meringkus Arkan yang mengamuk. Teriakan-teriakan Arkan yang menyayat hati di telinga Tania.
Kali ini akan sangat sulit tentunya untuk memperbaiki Arkan. Rasa kehilangan orang yang disayang, tentu memukul harga diri Arkan.
Arkan yang sejatinya ingin bertobat, malah semakin banyak musuh yang mendekat padanya. Hingga akhirnya tewas nya Davina diduga karena sabotase musuh Arkan. Meski itu belum terbukti kebenarannya.
Berita meninggalnya Davina, selebgram yang terkenal karena kasus obat terlarang yang berujung di rehabilitasi menjadi trending topik. Meninggal karena kecelakaan tunggal.
Komen-komen sedih banyak juga yang mampir di akun Davina. Bahkan ada juga komen yang seakan merasa senang atas perginya sang selebgram yang gosipnya sedang hamil di luar nikah itu.
Tania menghampiri kepala lapas untuk membubarkan semua, karena acara akad nikah batal dengan meninggalnya mempelai wanita.
Maura dan Angel menghampiri Tania, "Non, ada apa?" tanya Angel.
"Davina meninggal" ujar Tania.
"Hah?" Angel dan Maura bengong berjamaah.
"Lihat sosmed kalian. Pasti beritanya sudah viral sekarang" suruh Tania.
Mereka berdua kompak melakukan apa yang diminta Tania.
"Kecelakaan tunggal? Sampai begitu hebat efeknya. Mobil bahkan sampai terguling beberapa kali?" Angel sampai terperangah melihat video kejadian itu.
Tapi yang aneh di kecelakaan itu, hanya Davina yang meninggal. Sopir yang mengantar Davina ke tempat acara sampai sekarang malah dikabarkan menghilang dari lokasi kejadian.
"Dia shock pastinya" jawab Tania.
"Arkan diamankan petugas lapas sekarang. Mungkin karena mengamuknya barusan tak menutup kemungkinan dia akan ditaruh di sel isolasi" imbuh Tania.
"Pertobatan seorang penjahat pun ternyata banyak sekali cobaannya" sela Angel mengulas keadaan Arkan.
"Benar juga" imbuh Maura.
Ketiga pasangan itu pun meninggalkan lapas, karena acara akad batal diadakan.
"Langsung pulang?" tanya Arka.
"Kita ke danau aja yuk" ajak Tania.
"Ngapain? Panas yank" kata Arka. Karena sekarang memang matahari sedang terik-teriknya.
"Ingin ngadem aja di sana. Kita teduh di bawah pohon rindang" kata Tania menanggapi.
"Yank, apa kamu yakin akan terus menjadi kuasa hukum Arkan?" tanya Arka tiba-tiba.
Tania mengangguk.
"Perkiraan aku, setelah ini Arkan pasti akan menggila" tandas Arka.
"Apa maksud kamu?" sela Tania.
"Kehilangan sosok yang amat disayangi pasti menjadi alasan baginya untuk membalas dendam lagi" jelas Arka.
"Tidak semua begitu" Tania menolak analisa Arka.
"Lihat aja ntar" seru Arka penuh keyakinan.
Arka melajukan mobil ke arah danau seperti yang diminta sang istri yang tengah hamil enam bulan itu.
__ADS_1
"Parkir sebelah sana aja" pinta Tania agar Arka menghentikan mobil tepat di bawah pohon rindang.
"Heemmmm, segarnya" ucap Tania sembari menarik nafas panjang kala dirinya turun dari mobil.
Pikiran Tania pasti ikut kalut, karena gagalnya acara Arkan. Tebak Arka. Makanya sang istri kekeuh mengajaknya kemari. Duduk di tepian danau, mengamati air yang tenang adalah yang biasa Tania lakukan untuk menenangkan pikiran.
Arka menjauh membiarkan sang istri untuk duduk sendiri sebentar menuju sebuah kedai yang menjual minuman hangat di sana.
"Jahe hangat dua bang" seru Arka.
"Lama tak kemari tuan" sapa sang penjual yang ternyata hafal dengan Arka yang dulu juga lumayan sering kemari.
"He...he...iya pak. Masih hafal aja" jawab Arka terkekeh.
"Nganterin istri apa sendiri?" tanyanya.
"Tuh, dia di sana" tunjuk Arka ke arah Tania yang sepertinya sedang melempar sesuatu ke arah danau.
Arka balik mendekat ke arah sang istri.
"Nih, minumlah" Arka menyodorkan segelas minuman hangat yang dipesannya.
"Jangan terlalu dipikirkan" saran Arka.
"Arkan sudah dewasa untuk memilih jalan hidup mana yang akan dia lewati. Kamu hanya sebatas kuasa hukum yang mendampinginya dalam sidang" terang Arka.
"Selama ini dia berubah menjadi baik, salah satunya karena saran-saran dariku. Tapi menjadi baik, membuatnya semakin banyak musuh. Dan endingnya dia malah kehilangan orang yang sangat disayangi olehnya" kata Tania.
"Aku ikut merasa bersalah padanya" imbuh Tania.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirin. Kita juga tak bisa meraba apa yang sesungguhnya terjadi. Kita lihat apa hasil investigasi penyidik akan hal itu" jelas Arka serius.
"Jangan terlalu membebani hatimu dengan rasa bersalah kamu itu" saran Arka.
Tania pun mengangguk mengiyakan apa yang menjadi nasehat suaminya barusan.
Tania meneguk minuman hangat yang disodorkan Arka barusan.
"Hufft...masih panas ternyata" ujar Tania sembari menjulurkan lidah yang nampak kemerahan karena terkena air panas dari minuman yang dibawa Arka.
"Ha...ha...hati-hati dong sayang" Arka terbahak melihat ekspresi lucu yang ditunjukin Tania.
"Kamu sih, bilangnya hangat tadi" ujar Tania sewot.
"Kok aku sih? Aku memang pesannya hangat bukan panas" bela Arka pada dirinya sendiri.
Tania kembali memandang ke danau dan Arka pun melakukan hal yang sama.
Mereka tersadar dari lamunan, kala ponsel masing-masing berbunyi tanda ada panggilan.
"Tumben, ponsel kita kompak?" seloroh Tania membuat Arka pun ikutan ketawa.
"Siapa?" tanya Arka.
"Kamu juga, siapa?" tanya Tania sama seperti yang ditanyakan Arka.
"Pandu" jawab Arka.
"Angel" beritahu Tania akan siapa yang menelpon.
Dan sesama asisten yang sekarang menjadi pasangan suami istri itupun kompak menelpon sang bos berdua.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
π