Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Analitik Arga


__ADS_3

Menurut Arga sengantuk-ngantuknya orang kalau kendaraan yang dikemudikan menubruk sesuatu pengemudi pasti reflek menginjak rem dalam. Tapi ini tidak dilakukan oleh sopir itu. Aneh.


"Pak boleh tahu, truk box yang kecelakaan semalam dari perusahaan apa ya? Sepertinya kok isinya sabun semua" tanya Arga menghampiri salah seorang tukang becak yang dilihatnya semalam juga berada di sana.


"Sabunnya yang merek 'Lax' itu lho tuan. Kalau nama perusahaannya mana paham bapak" tukasnya.


"Saat kejadian, bapak ada di sini?" tanya Arga ikutan duduk dan pesan kopi di warung sebelah.


"Tuan siapa? Jangan bilang kalau tuan teman petugas yang di sana" telisiknya.


"Emang kenapa pak kalau aku teman mereka. Memang aku tampang seperti intel ya pak?" celetuk Arga terkekeh.


"Ya baguslah tuan, kalau tuan teman-teman bapak yang di sana" imbuhnya.


Tukang becak itu lama terdiam.


"Aku bukan salah satu dari mereka kok pak" tukas Arga selanjutnya.


"Beneran tuan?" tukas bapak tukang becak.


"Bapak namanya siapa? Kok sepertinya siang malam mangkal di sini?" tanya Arga.


"Panggil pak Sarmin aja tuan. Rejekinya kan datangnya nggak peduli siang atau malam. Jadi bismillah aja" ucapnya bijak.


"Kok tuan tau aku di sini siang dan malam?" tanyanya pada Arga.


"Iya kebetulan aku lewat semalam. Dan berhenti sebentar karena melihat kendaraan bekas kecelakaan yang belum sempat dievakuasi" terang Arga.


"Aku ke sini lagi karena berita kecelakaan itu viral, jadi ikut penasaran dech" celoteh Arga.


"Eh tuan, tahu nggak. Kasihan tuh pengemudi mobil sedan mewah itu" ucap tiba-tiba pak Sarmin.


"Kenapa emangnya pak?" umpan telah ditangkap. Batin Arga. Semoga ada info berarti yang diberikan oleh pak Sarmin.


"Untung saja pengemudinya punya reflek bagus dan membanting setir ke kiri. Dan untungnya lagi di sebelah kiri mobil mewah itu tidak ada kendaraan lain" terangnya.


Arga manggut-manggut menanggapi.


"Pak Sarmin tahu pasti?" sela Arga.


"Iya tuan. Kejadian itu begitu cepat tuan, dan melihat cara mengemudinya sopir truk itu sepertinya sengaja menubruk mobil sedan itu dech" beritahu pak Sarmin.


"Kok pak Sarmin bilang begitu?" tukas Arga.


"Truk itu berhenti di sana sebentar, seperti ancang-ancang begitu loh tuan. Dan saat lampu sebelah sana hijau dan mobil sedan itu lewat, truk sudah meluncur dengan kekuatan penuh seolah-olah tak punya rem" tangan pak Sarmin sambil menunjukkan arah-arah yang dimaksud.


Faktor kesengajaan. Pikir Arga.


"Bu, kopi-kopi bapak ini berapa semua?" tanya Arga ke ibu pemilik warung.


"Semuanya tuan?" tanyanya dijawab anggukan Arga.

__ADS_1


"Kopi enam, sama gorengan sepuluh biji totalnya lima puluh lima ribu tuan" jawabnya.


Arga menyerahkan uang seratus ribuan, "Kembaliannya buat ibu saja" seloroh Arga.


"Makasih tuan, semoga selalu dilancarkan rizkinya" Arga tersenyum. Pemberian yang tak seberapa sudah mendapatkan doa tulus dari orang-orang di sana.


Arga memasuki mobil dan melajukannya. Di tengah perjalanan, Arga menelpon Pandu.


"Pandu, apa kau di kantor?" tanya Arga.


"Iya pastinya. Tau sendiri kalau tuan Arka nggak ada, bagaimana repotnya diriku tuan" jawab Pandu.


"Kau mau curhat?" tukas Arga.


"Ya nggak begitu juga tuan" imbuh Pandu.


"Emang ada apa? Tumben nelpon di jam-jam prime time begini" seloroh Pandu.


"Prime time, emang sinetron?" sahut Arga.


"Kalau di kantor kan sekarang sedang tayang dengan kerjaan masing-masing tuan" jelas Pandu.


"Beri aku rekaman cctv kantor saat aku sama Arka pulang semalam" suruh Arga.


"Untuk?" tanya Pandu.


"Isshhhhh kau ini. Jangan banyak nanya dulu. Kirim aja" tegas Arga.


"Oke, wait" jawab Pandu menutup panggilan.


Sebuah rekaman cctv sudah dikirimkan Pandu kepadanya.


"Wah lumayan cepet juga sekarang si Pandu" gumam Arga.


Arga menepikan mobil dan mulai melihat rekaman yang dikirim oleh Pandu barusan.


Dia teringat, saat keluar kantor suasana Panapion telah lengang. Bahkan di lantai di mana ruangan Arka berada sudah tak ada orang satupun.


Arga mulai menyusuri lantai demi lantai. Barulah di lantai paling bawah atau lebih tepatnya lobi, Arga menemukan salah satu karyawan sedang terburu dan menelpon seseorang. Tepat saat itu Arka dan Arga berjalan keluar kantor dengan posisi membelakangi orang itu.


Arga mengezoom muka orang ini dan mengambil gambar tangkapan layar. Dan selanjutnya mengirimnya ke Pandu.


"Bisa kau info siapa dia? Divisi apa di Panapion?" ketik Arga.


Hampir lima menit Arga menunggu, tapi tak juga kunjung dibalas oleh Pandu.


Akhirnya Arga kembali menelpon Pandu.


"Halo tuan Arga, kapan aku kerja kalau harus menjawab telpon kamu" celetuknya.


"Mau kulaporin Arka" ancam Arga dengan bercanda.

__ADS_1


"He...he...ya enggaklah tuan" jawab Pandu. Mana berani dia melawan Arka.


"Makanya kalau dikirimin pesan tuh baca, jadi aku nggak perlu nelpon kamu" ketus Arga.


"Emang ada pesan darimu tuan?" tukas Pandu.


"Baca dan jawablah!" kata Arga sambil menekan icon merah di ponsel.


"Namanya Agus, staf dari divisi yang dipegang tuan David" balas Pandu lewat pesan.


"Hari ini dia nggak masuk, ijin sakit" lanjut Pandu mengetik pesan.


Arga menautkan alis, apa orang ini yang menjadi informannya? Pikir Arga.


"Tolong kirimi alamat Agus" pinta Arga.


"Wait, aku hubungi bagian HRD dulu" balas Pandu.


Tak berapa lama Arga menunggu, sebuah alamat telah dikirimkan oleh Pandu. Bahkan profil dari Agus dikirimkan juga ke Arga.


Arga kembali melanjutkan perjalanan ke alamat yang dikirim oleh Pandu barusan.


Arga menyusuri gang untuk mencari alamat yang diberikan Pandu.


Setelah sempat bertanya ke beberapa orang, Arga berhenti di depan kontrakan kecil yang suasanya nampak lengang.


Saat ada orang lewat, Arga bertanya tentang keberadaan Agus.


"Oh, tuan mencari pak Agus? Tadi pagi dia mendadak pulang kampung. Bilangnya sih istrinya sakit" terang tetangga pak Agus.


Arga mengusap rambutnya kasar. Mencari orang satu saja, nggak selesai dalam satu hari. Batinnya.


"Pak, apa bisa aku nanya alamat nya pak Agus?" tanya Arga.


"Ada masalah apa ya tuan? Apa pak Agus punya hutang juga ke anda? Karena banyak sekali yang mencari pak Agus sejak seminggu kemarin" beritahunya.


"Ooooo...begitu ya pak" sahut Arga.


"Kalau untuk alamat kampung halaman, mendingan tuan saya antar ke pak RT. Ntar tuan bisa nanya" imbuhnya.


Setelah mendapat informasi jelas dari pak RT, Arga pun menggeber kendaraannya kembali.


Dia mencari SPBU, dengan tujuan mengisi bahan bakar mobil sekaligus ingin istirahat sebentar. Karena mulai dari kemarin Arga belum memejamkan matanya sama sekali.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.

__ADS_1


Klik juga iklannya


πŸ’


__ADS_2