
"Sayang hari ini kita ke dokter Robinson" kata Arka saat mereka sedang menikmati sarapan di kamar.
"Apa sudah dibalas pesan kamu kemarin?" Tania berhenti menyuapkan makanan ke mulut.
"Nih, barusan aja membalas" ujar Arka.
"Baiklah. Kalau itu termasuk salah satu usaha kita. Yang penting ikhtiar kan?" tukas Tania.
"Hemmm...begitulah" sahut Arka.
.
Arka dan Tania mendatangi sebuah klinik. Suasana nya tak begitu ramai.
"Kok sepi yank? Beneran ini dokter yang direkomkan?" telisik Tania.
"Iya..bener kok" imbuh Arka.
Dalam bayangan Tania, kalau dokter recomended pasti prakteknya ramai. Sampai ngantuk-ngantuk malah nunggu antrian.
"Sepi amat" seloroh Tania.
"Emang di sini, dokter juga membatasi jumlah pasiennya sayang. Agar pasien bisa konsultasi dengan tenang dan betah" jelas Arka.
"Oòooooo, makanya kok sepi" timpal Tania.
Arka mendatangi bagian customer service sekaligus mendaftar untuk sang istri.
Arka memberi tahu jika sudah ada janji temu dengan dokter Robinson.
Setelah melalui pandaftaran, Tania dan Arka diantar ke ruangan ujung untuk menunggu sebentar. Karena dokter Robinson masih ada satu pasien.
"Ruang per ruangnya bagus ya yank?" sela Tania.
"Bagus juga kalau kamu buka klinik di samping ruko yang kupakai kantor itu" seloroh Tania.
"Ha...ha...tawaran Bara aja belum kuiyain" tukas Arka.
"Beneran boleh buka klinik? Resikonya aku bisa nggak pulang loh yank?" kata Arka dengan maksud mengerjai sang istri.
Tania menimang sesuatu, "Nggak jadi aja dech" ungkap Tania membuat Arka terkekeh.
"Ceritanya mengaku kalah sebelum bertanding nih???" seloroh Arka.
Tania mengangguk.
Sebuah panggilan atas nama Tania, dipersilahkan masuk ke ruang periksa.
Ternyata dokter Robinson masih muda sangat, cute lagi.
Tania yang terpesona mendapat senggolan dari Arka.
"Abis cakep banget sayang dokternya" Tania ngaku dengan jujur membuat Arka sewot.
"Tapi tenang, tetap suamiku yang paling ganteng seantero andromeda" lanjut Tania membuat Arka tak jadi ngambek.
Arka menceritakan riwayat Tania dengan bahasa Inggris yang fasih. Hanya kata-kata tertentu yang bisa ditangkap oleh Tania, tapi dia masih bisa menemukan benang merah apa yang diungkapkan oleh Arka kepada dokter Robinson.
Dokter Robinson mengangguk tanda mengerti.
Seperti Arka sebelumnya, Tania pun musti menjalankan tes. Mulai dari ada tidaknya kebuntuan di saluran telur, cek perkembangan sel telur dan juga yang lain.
Kebetulan Tania datang di waktu yang tepat untuk mengevaluasi sel telurnya.
Arka pun demikian, dia disarankan untuk memeriksakan kualitas dan kauntitas sperm4nya. Bagiamana kekuatannya untuk berhasil menemukan sel telur Tania.
"Sayang, ini bisa sampai tiga hari loh kita ngejalanin pemeriksaaan semua" beritahu Arka.
"Nggak apa-apa. Nanggung dong kalau nggak dituntaskan sekalian. Apapun hasilnya" ujar Tania semangat.
Arka pun senang atas tanggapan sang istri.
__ADS_1
Apapaun saran dokter Robinson diiyakan saja oleh Arka.
.
Dan benar saja setelah tiga hari berkutat dengan cek mengecek laborat, hari ini tibalah penyampaian semua hasil.
Tania sudah menyiapkan hati untuk apapun hasil yang akan keluar.
Arka menggenggam erat tangan sang istri.
Dokter Robinson menyampaikan semua hasil dengan cara yang humble, sehingga Tania sedikit tenang.
Semua pemeriksaan untuk Tania menyatakan normal, hanya satu yang menurut dokter Robinson menjadi masalah.
"What this dok?" tanya Arka. Tania memandang serius ke arah dokter Robinson.
"Motilitas tuba fallopii, very little movement" jelasnya.
"What is it that causes ektopik pregnant?" tukas Arka.
"Heemmmmm" hanya gumaman dokter Robinson yang didapati oleh Arka.
Arka menanyakan apa yang Tania perlu mendapat pengobatan untuk itu.
Tapi hanya gelengan kepala dari dokter Robinson.
"Why?" lanjut Arka.
Dokter Robinson menjelaskan bahwa tak ada sakit yang diderita oleh Tania, tapi menurut analisanya pergerakan saluran telur Tania yang lambat hanya karena faktor dari lahir.
Dokter Robinson menyarankan untuk alami saja selama tahun pertama pernikahan. Dengan resiko bisa berulang kejadian yang kemarin.
Arka dan Tania saling berpandangan.
"Is there no other alternative?" ujar Arka bertanya.
"Insemination" tegas dokter Robinson.
Genggaman erat Arka sudah memberikan jawaban bagi Tania.
"Kenapa begitu rumit yank?" ujar Tania dengan mata berkaca-kaca.
"Heeiiii...kenapa kau menangis yank? Masih ada yang di Atas. Apapun kehendakNya itu pasti terbaik buat kita" kata Arka untuk menguatkan sang istri. Meski dirinya sendiri juga mempunyai mental yang rapuh. Nyatanya untuk menghilangkan memori nyeri yang dialaminya saja sampai sekarang belum bisa teratasi.
"Go fighting" ujar dokter Robinson menyemangati mereka berdua.
"Makasih dok, kami akan melanjutkan di Indo saja" tegas Arka.
"It's Okey" imbuhnya.
.
"Besok kita pulang aja ya?" pinta Tania.
"Kenapa? Masih kepikiran yang tadi?" ucap Arka dan dijawab anggukan Tania.
Arka mendekat.
"Masih panjang proses yang akan kita lalui. Nggak usah mikir berat-berat. Kita jalanin aja yang ada di depan mata" tukas Arka.
"Mumpung aku ada waktu, kita jalanin liburan ini dengan happy" lanjut Arka.
Tania memeluk erat sang suami. Bersyukur menemukan belahan jiwanya di saat yang tepat.
"Kok jadi mellow gini sih? Kemana Tania yang easy going yang kukenal?" canda Arka.
Alhasil cubitan Tania mendarat di pinggang Arka.
.
Dua hari yang tersisa mereka pakai untuk menikmati kota New York. Bahkan Tania juga minta ke patung Liberty, mumpung berada di sana.
__ADS_1
"Bisa nggak sih mahkotanya dibawa pulang?" Tania bergumam.
"Mahkota apa?" sela Arka.
"Tuh" tunjuk Tania ke atas.
"Hah?" Arka menyentuh kening sang istri.
"Aku nggak demam tau" ulas Tania membuat Arka tertawa. "Aneh-aneh saja permintaan kamu yank" imbuh Arka.
Ponsel Arka berdering.
"Dengar nada deringnya aja, aku tahu kalau itu Pandu" sela Tania membuat Arka mengacak-acak rambutnya yang dikuncir kuda seperti biasa.
"Tebakanmu selalu tepat yank" jawab Arka dengan mata genitnya.
"Halo Pandu, apa gajimu mau kupotong? Telpon jam segini" tegas Arka.
"Maaf tuan, ada hal urgen yang ingin kusampaikan" jelas Pandu.
"Cepatlah!" suruh Arka.
Pandu masih terdiam di sana.
"Pandu" panggil Arka supaya Pandu lekas bicara.
"Aku menemukan anak buah tuan Smith yang mencuri data keuangan perusahaan" beritahu Pandu.
Arka menepuk jidat.
"Bagaimana kau bisa kecolongan Pandu?" kata Arka dengan nada marah.
"Orang itu ternyata ahli IT yang hebat tuan" imbuh Pandu.
"Panggil Arga secepatnya ke perusahaan untuk back up data, dan segera selesaikan masalah ini. Aku akan percepat kepulanganku" ujar Arka.
"Jangan kau biarkan lepas orang itu" suruh Arka.
Tanpa banyak kata, Arka menggandeng Tania.
"Sayang, ada apa?" tanya Tania.
"Kita harus secepatnya balik yank, orang suruhan Smith telah mencuri data keuangan perusahaan" terang Arka.
"Terus kenapa harus buru-buru? Lagian kita tak bisa melewati pintu doraemon yang secepat kilat sampai rumah" ujar Tania menimpali ucapan Arka.
"Biarkan Arga menyelesaikan masalah, kita bisa memantau dari sini. Kalau kau terbang, yang ada kamu tak bisa pantau selama dua puluh empat jam ke depan" saran Tania.
"Yang tenang, aku rasa orang itu belum sukses menyabotase semua datanya" kata Tania yakin.
Arka menatap sang istri, "Bagaimana kau begitu yakin?"
"He...he...datamu sangat banyak. Bukankah butuh banyak waktu untuk mengcopy semua. Tapi kan sudah keburu diketahui Pandu" kata Tania enteng.
"Dan sebaiknya kau rekrut orang itu, beri data yang dia dapat untuk diberikan ke Arkan dan Smith. Beri dia tawaran yang menggiurkan" usul Tania.
Arka merasa aneh atas usulan sang istri.
"Suruh dia curi data perusahaan Smith. Impas kan" lanjut Tania.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
💝
__ADS_1