
Setelah basa basi sebentar dengan Sebastian dan Dewa, Tania dan Angel akan berangkat menuju tempat Arkan.
Angel yang datang dengan naik taksi online akhirnya ikutan dengan mobil Tania yang lengkap dengan sopir.
"Beneran nih, loe nolak makan siang di sini" kata Sebastian saat Tania hendak pergi.
"Bungkusin aja, kalau perlu sekalian resto nya. Sebagai bonus atas suksesku barusan" tukas Tania.
"Bilang aja mau morotin gue terang-terangan" jawab Sebastian mengejek Tania.
"Nah itu loe tahu. Tapi jangan khawatir, tetep aku tolak kok kalau kamu emang beneran kasih aku resto" imbuh Tania.
"Sialan loe" umpat Sebastian kali ini.
Tania tertawa menanggapi Sebastian yang kadang gokilnya juga kelewatan. Sekali-kali balas dia kan nggak dosa.
"Gue pergi. Ayo Angel" ajak Tania ke asisten setianya itu.
"Oh ya, jangan lupa Wa. Transferan loe. Awas saja kalau siang ini nggak masuk!" ancam Tania sembari kakinya melangkah keluar ruangan Sebastian.
"Huh, dia benar-benar morotin gue" gerutu Sebastian.
"Tapi keuntungan bos lebih banyak daripada bayaran Tania. Dan siang ini sekalian bonusku juga akan kutransfer sendiri ya bos. Mumpung transfer punya Tania" timpal Dewa.
"Loe juga mau morotin gue" ujar Sebastian menatap Dewa.
"Kalau bos ridho dan ikhlas hati sih" imbuh Dewa menimpali.
Sementara Tania dan Angel sudah berada di jalan menuju tempat Arkan berada.
Berdasar info yang didapat dari Boy, rencana Arkan akan dipindah ke lapas yang berbeda. Dengan alasan kejahatan Arkan termasuk kelas berat, jadi harus masuk kelas lapas yang kapasitasnya lebih besar.
"Jangan-jangan hanya permainan untuk melakukan sesuatu kepada Arkan Non" kata Angel saat Tania menunjukkan pesan dari Boy kepadanya.
"Aku curiga begitu" tukas Tania.
Seperti biasa, Arkan telah menunggu di ruangan saat Tania dan Angel datang.
"Sudah lama nungguin?" tanya Tania basa basi.
"Sudah, sejak aku nelpon tadi pagi" tukas Arkan santai.
"Apa kamu memanggilku karena kaitan kepindahan kamu?" tanya Tania.
"Heemmmm" Arkan mengangguk.
"Terus?" sela Tania.
"Aku akan membayar beberapa petugas agar aku tak dipindahkan" terang Arkan.
"Itu suap Arkan" tukas Tania.
"Jelas lah. Anak kecil pun tahu kalau itu suap" sahut Arkan.
"Tapi kenapa tetap kamu lakukan?" tanya Tania yang tak habis pikir dengan kelakuan Arkan. Buang-buang uang hanya demi tak mau pindah lapas. Bukannya lapas di mana saja sama. Membatasi kebebasan seseorang.
"Kasih alasan logis buat aku" lanjut Tania.
"Kamu tahu Anderson dititip di mana?" tanya Arkan.
"Lapas kota" terang Tania.
"Nah, itu kamu tahu. Lantas apa kamu tahu aku akan dipindah ke mana?" tanya Arkan.
Tania menggeleng.
"Lapas yang sama di mana Anderson berada" jelas Arkan.
"Whatttt?" mata Tania melotot tajam ke arah Arkan.
"Biasa aja nyonya. Kondisikan tuh mata kamu" canda Arkan seperti biasa.
"Makanya, akan bahaya jika aku pindah ke sana" lanjut Arkan.
"Tak banyak anak buahku yang di sana. Beda dengan yang di sini" Arkan kembali menjelaskan.
"Baiklah, akan aku ajukan penolakan kamu. Tapi kamu harus kasih alasan logis Arkan" ucap Tania.
"Sebentar. Aku masih memikirkan alasannya" kata Arkan menimpali.
Repot juga jika berhadapan dengan para mafia kelas wahid. Ternyata di kalangan mereka hanya ada saling serang, saling sikut, saling menjatuhkan. Bahkan nyawa pun bisa melayang jika tak hati-hati.
Berdasar info dari Arga dan beberapa anak buah Arka yang ikut meringkus Anderson di rumah sakit, Anderson punya backing pejabat tinggi yang saat ini akan Arkan gulingkan.
"Kenapa sih loe nggak fokus sama kasus kamu aja? Cepat sidang, cepat putusan, kelar masalah loe" ungkap Tania.
"Daripada cari masalah dengan yang lain" lanjut Tania.
"Yang cari masalah itu siapa? Aku juga inginnya seperti yang loe bilang barusan. Cepat kelar masalah" imbuh Arkan.
"Masalahnya jika aku diam, bisa mati sia-sia aku. Kalau mau tobat, sekalian aja tumpas semua. Kalaupun aku harus mati, aku bisa mati dengan bahagia. Jelas nyonya?" Arkan menatap Tania.
"Masalahnya sekarang, alasan apa yang akan kamu pakai jika tak mau dipindahkan?" terang Tania.
__ADS_1
"Makanya kamu kuminta ke sini, kita bahas soal itu" sambung Arkan menimpali.
"Bagaimana kalau mengajukan penolakan pemindahan dengan alasan sidang masih berlangsung? Ketok palu kan belum terjadi" kata Angel mengusulkan.
Tania masih nampak berpikir.
"Heemm, kita coba aja. Kalau musti dipindah, kamu juga harus bersiap Arkan" bilang Tania.
Arkan masih diam saja.
"Gimana Arkan?" tanya Tania. Karena pemindahan tahanan sudah menjadi hak penuntut sampai sidang diputuskan.
"Oke lah. Kalau memang jalan terakhir dipindah. Gue harus siapin juga anggota gue di tempat yang baru" ucap Arkan.
"Non, aku ada cara. Kita buat pemindahan tuan Arkan menjadi viral aja. Biar netizen yang budiman juga ikut mengawal kasus ini. Pertobatan seorang penjahat kelas kakap aku yakin akan menarik simpati publik" saran Angel.
"Lantas? Lewat akun siapa?" sela Tania.
"Tak mungkin juga pakai akun aku" imbuh Tania.
Arkan berpikir kembali.
"Tak mungkin juga aku suruh anak buah aku" ucap Arkan menegaskan.
"Hhhmmmm...ahli beginian tuh si Arga" celetuk Tania begitu saja.
"Benar...benar" tukas Angel.
"Suami loe penggeraknya" sela Arkan.
"Jangan bawa-bawa suami gue dong" kata Tania.
"Kamu ingatkan, bagaimana suami loe memviralkan gue waktu itu" lanjut Arkan.
"Heemmmm" Tania mengangguk.
"Oke non, fix. Kita buat netizen seakan-akan tak setuju untuk pemindahan ini" kata Angel.
"Sepertinya cara ini riskan dech, terlalu beresiko. Jejak digital bisa ditelusuri" Tania kasih petimbangan.
"Ya udah, balik aja ke rencana awal loe. Pangajuan aja. Sekiranya aku dipindah, aku akan koordinasi dengan Boy. Kalau mereka pakai cara licik, aku bisa lebih dari itu" timpal Arkan.
"Jangan menambah kesalahan yang berujung dakwaan tambahan buat kamu. Ingat musuhmu sebagian tak terlihat" Tania mengingatkan.
"Iya memang, musuh-musuhku kan setan, iblis dan rekan-rekannya" tukas Arkan.
"Dan kamu dulu masuk golongan mereka. Tak kasat mata" ledek Tania.
"Sialan, apapun yang kuucapin ujungnya pasti nggak enak di gue. Pinter sekali loe ngolah omongan" kata Arkan kepada Tania.
"Apa?" Arkan
"Ngolah makanan" jawab Tania sembari terbahak.
"Percaya. Modelan seperti loe, aku yakin tak bisa memasak makanan. Masak air aja gosong" ledek Arkan menimpali.
Tania mengerucutkan bibir tanda sebal.
"Sudahlah. Gue pulang. Surat keberatan biar dibuatkan Angel. Smoga aja disetujuin" kata Tania sambil beranjak dari duduk.
"Jangan lupa, besok jadwal sidang kasus ke dua loe. Senpi" terang Tania.
"Siap" jawab Arkan ikutan beranjak.
.
Di perjalanan pulang, "Angel, lapar kali aku" keluh Tania.
"Nggak ada yang lain kah Non? Saben hari kok selalu mengeluh sama. Lapar" ledek Angel.
"Mau gimana lagi?" Tania mengangkat kedua bahu.
"Tadi aja ditawarin tuan Sebastian dan tuan Dewa nggak mau" ucap Angel.
"He..he...tadi bawaannya kenyang. Sekarang baru terasa laparnya" terang Tania.
"Eh ngomong-ngomong kok belum ada notif M-banking ya" ujar Tania memeriksa ponselnya.
"Sialan Dewa" umpat Tania kepada Dewa yang sampai sekarang belum terima transfer darinya.
Tania tekan dengan gemas nomer kontak Dewa.
"Jangan bilang loe lupa bayarin gue" cerocos Tania kala panggilan baru saja tersambung.
"Ha...ha...dasar lintah darat loe" olok Dewa di seberang.
"Cepetan, gue tungguin. Buat beli popoknya Arditya nih" tukas Tania begitu saja.
"Suami loe udah bangkrut ya, beli popok aja nunggu transferan dari gue" Dewa masih saja meledek.
"Enggak lah. Cuman gue takut kalau pakai kartu hitam, penjualnya nggak ada kembalian" kata Tania serampangan. Mana ada kembalian untuk sebuah kartu hitam.
"Ha...ha..." Dewa terbahak, kehabisan kata untuk membalas kata Tania.
__ADS_1
"Jangan ketawa aja, kutungguin" ucap Tania.
"Siap bosque" kata Dewa masih saja tertawa.
Dan benar saja, tak lama setelah itu sebuah notif M Banking masuk.
"Oke Ngel, cussss kita ke mall" ucap Tania.
"Pak, mall Dirgantara" suruh Tania ke pak sopir.
Pak sopir mengiyakan apa yang jadi perintah Tania.
Tania masih saja repot dengan ponsel yang dia pegang. Dan di waktu bersamaan, ponsel Angel pun bunyi.
Wajah senang nampak sekali di muka Angel.
"Makasih Non. Semoga Non sehat dan selalu dimudahkan rejekinya" kata Angel karena barusan dapat transferan dari Tania.
"Aamiin" tukas Tania.
Dengan asyik Tania membuka akun sosmed, yang entah sudah berapa lama tak dia buka.
Terakhir kali di buka waktu rapat persiapan sidang di kantornya.
"Wah, follower ku makin nambah aja" ucap Tania tak percaya.
"Mana Non?" tanya Angel. Dan Angel dibuat berdecak kagum dengan semakin banyaknya follower Tania.
"Dengan akun ini, apa yang sekiranya bisa dibuat agar bermanfaat buat orang banyak?" ujar Tania.
"Heemmmm" Angel pun berpikir seperti sang bos.
"Aaahhhhaaaa...aku tahu Non" kata Angel seakan menemukan sesuatu.
"Apa?" tanya Tania.
"Pembelajaran hukum Non, tapi buat bahasa yang mudah dipahami awam" usul Angel.
"Benar juga ya. Follower aku ini kan sebagian besar pasti tahu lah kalau aku orang hukum" celoteh Tania.
"Makanya Non. Buat seru-seruan aja, tapi tetap ada manfaat buat orang" tandas Angel.
"Heemmmm" Tania bergumam sambil manggut-manggit seolah saran Angel bisa masuk.
"Bentar-bentar...terus yang ngelola siapa. Kalau aku sendiri, pasti dijamin tuh. Banyak malesnya" terang Tania.
"Aku juga bisa" sela Angel.
"Nggak menjamin gue. Kerjaan loe sekarang aja kadang masih keteteran" tolak Tania.
Mereka berdua termangu memikirkan siapa yang akan dijadikan admin di akun sosmed Tania.
Ponsel Tania berdering saat mobil memasuki area mall.
"Mama Rosa?" gumam Tania.
"Halo Mah" sapa Tania kala panggilan dari mama telah dia angkat.
"Arditya rewel nih. Kalau sudah selesai, sebaiknya pulang cepat deh" kata mama Rosa.
"Iya Mah" tukas Tania mematikan panggilan mama nya.
"Pak, nggal jadi. Kita putar balik dan pulang" perintah Tania.
"Loh, nggak jadi belanja dong?" seru Angel.
"Kamu belanja sendiri aja" timpal Tania.
"Gagal gue dapat gratisan" gerutu Angel sembari bergumam.
Dan sekali lagi ponsel Tania berdering.
"Repot juga dengan orang sibuk, ponsel selalu saja berdering" gumam Angel.
"Halo sayang" sapa Tania kembali.
"Sudah di rumah? Nyusup Panapion bentar gimana?" kata Arka.
"Ngapain?" telisik Tania. Akhir-akhir ini Tania sampai dibuat geleng karena kadar kemesuman sang suami.
"Ada dech" jawab Arka penuh modus sepertinya.
"Maaf ya, kamu keduluan Arditya" ledek Tania.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
๐